Our Community

Our Community
Forum Lingkar Pena Depok

Our Event

Our Event
Depok Dalam Puisi

Our Training Program

Our Training Program
BATRE

Our Family

Our Family
Want to be one of us?

Mau Daftar? Klik Gambar Ini!

Mengubah Dongeng atau Cerita Rakyat

Senin, 03 Mei 2010

Oleh Denny Prabowo Siapa yang tak kenal dengan si Kancil? Kecerdikannya teresohor dari zaman ke zaman. Diceritakan dari mulut ke mulut. Trik ngapusi-nya hampir tak pernah gagal. Bahkan ketika ia nyaris dikalahkan oleh kecerdikan Pak Tani, yang melumuri orang-orangan sawahnya dengan getah. Tangan dan kaki si Kancil pun lengket pada orang-orangan sawah itu. Namun, ia masih berhasil melarikan diri dari kurungan, setelah membohongi anjing piaraan Pak Tani dengan mengatakan, “Aku dikurung di tempat ini karena akan dinikahkan dengan anak Pak Tani yang cantik!”. Tentu saja, anjing yang diam-diam naksir dengan anak Pak Tani itu, langsung setuju waktu si Kancil menawarkan untuk menggantikan posisinya itu. Dan keesokan harinya, Pak Tani harus kecewa karena gagal menikmati sate daging kancil. Yup, begitu terkenalnya dongeng si Kancil. Namun, bagaimana jadinya jika ketenaran dongeng itu justru membuat siapa pun mengetahui tipu muslihat si Kancil? Sehingga dapat dipastikan tak ada seorang pun atau sehewan pun yang bisa ditipunya lagi!
Sudahlah, Cil, tak usah cerita macam-macam, aku sudah tahu rancangan Juru Dongeng itu. Kau mau dijadikan sate dan bukan menantu. Iya, kan? Dan karenanya tentu saja aku tidak mau menggantikan tempatmu. Anjing itu sudah juga mengetahui rancangan Juru Dongeng! Dan aku mendapat firasat bahwa tak akan mungkin lepas kali ini sebab anjing kudisan itu tampaknya tak peduli pada nyawa binatang lain. Mungkin ia pikir besok akan mendapat bagian tulang kancil setelah dagingku dibikin sate. Aku harus tinggal di dalam kurungan itu semalaman, membayangkan macan, buaya, ular yang ternyata juga sudah tahu taktik tipuanku. (Damono, 2006: 6)
Begitulah cerpen berjudul “Dongeng Kancil” yang ditulis oleh Sapardi Djoko Damono. Menulis cerita adalah proses pengandaian. Mencari variasi-variasi latar, tokoh, dan peristiwa dari sebuah cerita yang sudah ada. Seperti yang dilakukan oleh Sapardi, ia berhasil menulis “versi lain” dari dongeng si kancil yang sangat terkenal. Di Kalimantan Tengah beredar cerita rakyat tentang “Anjing Menjadi Manusia”. Dikisahan dalam dongeng itu tentang seorang kepala suku bernama Bagalah. Ia memiliki seekor anjing istimewa. Pada suatu hari anjing itu mengejar babi sampai ke tepi danau Sambuluh yang membatasi kampung Bagalah dengan tanah pantangan. Babi itu terjun ke sungai menyeberang ke tanah pantangan. Si anjing tak berani mengejar. Sesampai di seberang babi itu berubah jadi batu dan anjing Bagalah berubah jadi manusia. Di tepi danau Sambuluh, di tempat yang mula-mula tanah pantangan itu, menjadi sebuah kampung dan penduduknya. Pergilah Bagalah ke sana. Kepala kampung itu bernama Rendan Tingang. Ia memiliki seorang anak lelaki dan seorang anak perempuan. Suatu hari Raden Tingang membetulkan atap rumah. Bagalah memukul-mukul tepi piring makan anjingnya. Tiba-tiba, Raden Tingang melompat dari atap memburu piring makan itu dan berubah menjadi seekor anjing. Berdasarkan ingatan akan cerita rakyat itu, Seno Gumira Ajidarma menulis sejudul cerpen, “Legenda Wongasu”. Ia memindahkan latarnya ke tengah kota Jakarta dengan tokohnya bernama Sukab. Sejak di-PHK, Sukab berburu anjing-anjing liar untuk dijual ke warung-warung yang menghidangkan masakan daging anjing. Lama-lama kepala Sukab dan keluarganya berubah jadi kepala anjing. Dan orang-orang pun mulai menyebutnya Wongasu. Suatu kali keluarga Sukab diangkut petugas tramtip. Sukab pun berjongkok di bekas gubuknya dan melolong. Lolongan itu membuat ketakutan orang-orang di pinggir kali.
“Mereka membantai Sukab,” ujar tukang cerita itu, dan para pendengar menahan nafas. “Dibantai bagaimana?” “Ya dibantai, kalian pikir bagaimana cara kalian membantai anjing?” “Terus?” “Mereka pulang membawa daging ke gubug masing-masing.” “Terus?” “Terus! Terus! Kalian pikir bagaimana caranya mendapat gizi dalam krisis ekonomi berkepanjangan?” (Ajidarma, 2004: 80)
Cerita ini ditutup dengan sangat mengesankan. Perhatikan paragraf akhir cerpen SGA ini:
Pertunjukan akhirnya benar-benar selesai, tukang cerita itu memasukkan kembali wayangnya ke dalam kotak. Para penonton yang semuanya berkepala anjing itu pulang ke rumah, dengan pengertian yang lebih baik tentang asal-usul mereka sendiri. Guk!
Apakah bunda dan nenekmu suka mendongeng? Atau barangkali ayah dan kakekmu gemar bercerita? Josip Novakovich (2003: 22) berangan-angan bisa mendapatkan sebuah cerita klasik seperti Odyssey dari seorang rakyat biasa. Menurut Novakovich, sungguh kebiasaan yang baik untuk mendengarkan orang berbicara dan apa yang mereka bicarakan karena tukang dongeng yang terbaik seringkali bukan pengarang. Bagi mereka, berkomuniksi dengan para pendengar adalah sesuatu yang sangat berharga saat mendongeng, dan karena itu, mereka lebih senang bercerita langsung daripada menulikannya. Barangkali, kita termasuk yang sangat beruntung, karena dongeng-dongeng dan cerita rakyat banyak dituliskan dalam sebuah buku. Sehingga kita tak perlu berburu ke daerah-daerah terpencil sekadar untuk mendapatkan sebuah dongeng. Yang perlu kamu lakukan hanya mencari buku tentang dongeng dan membacanya untuk kemudian mengajukan pertanyaan: bagaimana jika... agar kamu mendapat variasi lain dari dongeng tersebut dengan mengubah latar, tokoh, atau peristiwanya. Tentu kamu pernah mendengar cerita Malin Kundang yang dikutuk menjadi batu karena durhaka kepada ibunya. Bagimana jika sebaliknya, ibunya Malin Kundang yang durhaka? Suatu kali, ketika ingin mementaskan sandiwara tujuh belasan, Rasidin belum mendapatkan cerita untuk dipentaskan. Ia pun mengajak para pemain menyusun cerita sebagamana yang dipesan Buya Nauman.
“Mengapa tidak cerita Malin Kundang saja?” Oh, itu dongeng anak-anak. Sedang kita perlu cerita orang dewasa.” “Bagaimana caranya?” tanya Rasidin lagi, menyela di antara suara yang berebutan mengusul. “Kalau ceritanya cerita orang dewasa, hukum apa yang akan diberikan pada anak durhaka itu?” Anis yang biasanya menjadi wakil sutradara ikut bicara. “Dikutuk.” “Jadi batu.” “Mengapa tidak jadi hantu?” “Oh, jangan. Nanti para penonton tidak berani pulang malam. Takut ketemu hantu di balik pintu.” “Mengapa cerita itu tidak dijadikan sungsang?” usul Anis pula. “Sungsang bagaimana?” “Si ibu yang durhaka, dikutuk oleh anaknya.” (Navis, 2001: 114)
Yup, dalam cerpen A.A. Navis yang berjudul “Malin Kundang Ibunya Durhaka” itu, dongeng Malin Kundang dibuat sungsang. Bukan Malin Kundang yang durhaka, melainkan ibunya. Jika A.A. Navis menyungsangkan dongeng Malin Kundang itu, teman saya, Lubis Grafura, seorang pengarang yang mendirikan Bengkel Imaji di Universitas Negeri Malang, justru melogiskan cerita dongeng itu. Malin Kundang tidak pernah dikutuk jadi batu. Batu karang yang mirip orang bersujud di tepi pantai itu, merupakan patung belum jadi yang dipahat oleh Malin sebelum ia pergi berlayar menyusul sahabatnya. Patung itu diletakan oleh ibunya di tepi pantai agar Malin Kundang tak lupa jalan pulang. Baca contoh cerpen di bawah ini: Dongeng Kancil karya Sapardi Djoko Damono Hikayat Malin Kundang karya Lubis Grafura Pelangi Senja karya Denny Prabowo Legenda Wong Asu karya Seno Gumira Ajidarma

1 komentar:

mocodelova mengatakan...

khem...lumayan menarik materi kali ini, dan tentunya materi2 yang kemarinpun tidak kalah menariknya.
mengubah dongeng....khem!
pasti bisa

9 Mei 2010 07.45

Posting Komentar

Video Pelatihan