Our Community

Our Community
Forum Lingkar Pena Depok

Our Event

Our Event
Depok Dalam Puisi

Our Training Program

Our Training Program
BATRE

Our Family

Our Family
Want to be one of us?

Mau Daftar? Klik Gambar Ini!

Hikayat Malin Kundang

Minggu, 03 Mei 2009

Cerpen Lubis Grafura Sumber: Sinar Harapan, Minggu 17 September 2007 Tak pernah tercatat oleh lembaran-lembaran sejarah, seorang ibu mengutuk anaknya menjadi batu. Ibu hanyalah ibu. Hanyalah perempuan yang melahirkan manusia dari tetesan peluh yang dipintal doa. Aku sering menggendongnya ketika mencari kayu. Menelusuri lereng Gunung Padang beserta perbukitan yang mengitarinya. Lalu menyeberangi Sungai Batang Arau yang menyimpan kedalaman di balik arusnya yang tenang. Sampailah kami pada Pantai Air Manis. Pantai yang nyiur dengan pasir seperti butiran gula. Terdapat batu-batu karang tempat ombak melampiaskan seluruh kisah yang dipintal dari perantauan-perantauannya di negeri seberang. Karena sering kugendong inilah, akhirnya orang kampung menjuluki Malin sebagai kundang: Malin Kundang, yaitu Malin yang suka dikundang atau digendong. Malin gemar sekali mengejar ayam lalu memukulnya dengan kayu atau sapu. Suatu kali, aku cemas mencari Malin yang hilang dari pengawasanku. Aku menyesal meninggalkannya sendiri, sementara aku sibuk mencari kayu bakar. Saat kutemukan, ia tengah memegang tangan kanannya yang berdarah. Ia terjatuh saat mengejar ayam. Kutatap sepasang matanya yang berkaca. “Buyung,” kataku sambil memegang lengannya, “kalaupun kau terjatuh, betapapun sakitnya itu, kau harus bangkit dan melanjutkan pengejaranmu.” Malin lebih suka menunggu Moda mentatah batu untuk membuat patung daripada bermain dengan teman sebayanya. Ia tertarik dengan pekerjaan Moda. Mentatah batu menjadi patung, lalu menjual kepada perahu yang sedang berlabuh. Suatu hari, Malin remajaku memutuskan untuk tidak lagi belajar membuat patung. Mulanya, kuanggap ia hanya kesepian ketika kehilangan teman baiknya membuat patung. Moda telah kembali ke negeri seberang. Semenjak saat itu ia sering menyendiri. Datanglah hari itu, saat Malinku memutuskan untuk pergi berlayar seperti halnya ayahnya dahulu. Ada perasaan cemas seorang ibu melihat darah dagingnya bertaruh nyawa di atas sampan maut. Aku pula yang tak bisa membiarkan Malinku hidup menderita dengan kemiskinan. Biarlah ia merangkai sendiri kalimat-kalimat hidup yang diperoleh dari perantuan-perantauannya.
***
Malam ini entah malam yang keberapa semenjak Malinku meninggalkan kamarnya. Batu-batu yang dulu pernah dipahatnya diam menunggu. Sementara tatah yang pernah dihadiahkan Moda, masih terselempit di dinding kayu. Kalau rinduku pada Malin tak terbendung, aku akan pergi ke pantai Air Manis. Tempat terakhir Malin mencium telapak tanganku. Tubuh rentaku kupaksa mendaki lereng Gunung Padang, menyeberangi Sungai Arau. Seolah pohon-pohon masih menyimpan gelak tawa Malin kecilku dan kalimat-kalimat perpisahan kami. “Emak, Malin berjanji akan kembali suatu hari. Malin hanya butuh doa dari Emak. Malin akan membelikan Emak baju dan rumah.” “Emak tak butuh semua itu, Malin. Emak hanya ingin kau kembali dengan selamat. Jangan lupa pesan Emak untuk sembahyang” Seusai itu, seiris jantungku pergi. Ia mencium telapak kakiku lalu tanganku. Ada peluh yang sengaja kutahan agar tak menetes. Aku tak ingin Malin melihatku bersedih. Karena air mata perpisahan hanya akan menjadi rantai yang membebani. Dan aku tak mau itu terjadi. Biarlah ia berlayar dengan penuh ketenangan hati. Lantas, ombak menarik kapal menjauh. Aku melihat Malin berdiri di ujung belakang kapal melambaikan tangan. Aku pun membalasnya. Mata yang rabun nan tua ini kupaksa menunggu kapal menghilang dari pandang. Dan saat itulah air mataku tumpah tak tertahan. Jatuh di atas air laut. “Malin, biarkan air mata emak bersatu dengan air laut. Agar senantiasa menemanimu.” Sudah beberapa hari ini aku menahan rindu. Mungkin penyakit demamku ditimbulkan oleh perasaan itu. Batuk di tenggorokanku sudah mulai surut ketika kuramu kecap dan jeruk purut. Namun, demam ini makin malam makin menjadi. Malam ini tubuhku sangat panas, hingga membuat tenggorokanku kering. Aku seolah hampir tak mampu berdiri. Tanah yang kupijak seperti hendak runtuh. Seperti berjalan di atas kayu. Kuambil sebuah gelas dan kutuangkan air dari kendi. Tetapi sebelum sempat kureguk, tanah ini makin bergerak dan aku tak merasakan apa-apa selain mendengar dentingan gelas pecah. Tubuh rentaku terkulai lemah di atas tanah.
***
“Cepat bereskan pecahan gelas itu!” Seorang pemuda buru-buru menjumputi pecahan gelas yang berserakan di geladak kapal. Ini bukan yang pertama baginya dibentak. Pemuda itu sudah tak peduli berapa kali ia dibentak. Mandor yang baru saja memerintahnya adalah lelaki berwajah bengis yang sering menjilat kepada tuan pemilik kapal. Jika ia sedang kesal, ia akan membanting apa saja yang berada di depannya. Tetapi pemuda yang tak tahu pasti duduk perkaranya itu hanya bisa diam. Ia sadar bahwa hidup bagaikan berlayar di atas kapal. Ada yang memimpin dan ada yang dipimpin. Dan karena perbedaan itulah kapal dapat berlayar. Ketika kapal berlabuh, pemuda itu pun tak pernah ikut turun. Ia hanya bertugas membersihkan geladak kapal. Ia tidak tahu lagi ke mana saja kapal pernah berlabuh. Karena hampir sebagian hidupnya dihabiskan di geladak kapal. Malamnya, pemuda itu tidak bisa tidur. Ia memutuskan untuk pergi ke atas memandang bintang. Dan itulah yang sering dilakukannya. Mengobati keresahan dan kesepian. Memandangnya. Bermain teka-teki ilusi merangkai rasi bintang hingga membentuk gambar kuda, kapal, layangan, bahkan wajah seseorang. Langkah pemuda itu tiba-tiba terhenti pada sebuah ruang yang pintunya sedikit terbuka. Di sebuah ruangan itu terdapat lima orang. Salah satunya adalah mandor yang suka membentaknya. Ia memiliki firasat yang tidak baik. “Kita bunuh saja majikan dan membuat seolah kapal ini dibajak,” usul salah satu dari mereka. “Bagaimana kalau penghuni kapal yang lain tahu?” “Kita bunuh mereka semua. Sisanya dibuang ke laut, yang tertinggal hanya mayat. Berarti jejak kita juga tak terlacak” Semuanya tertawa. Bulu kuduk pemuda itu merinding. “Simpan cerita ini untuk Muslah, tapi kenapa ke toilet saja ia lama sekali?” Pemuda itu memutuskan untuk pergi. Ia lebih baik tak di sini. Namun ketika ia hendak melangkah, jantungnya berdetak sebegitu cepat dan darahnya berdesir. Ubun-ubunnya terasa hangat. Sepasang tangan telah mencengkram bahunya.
***
“Bahu ibu masih sakit?” Aku menggelengkan kepala. Sakit demam yang membuatku jatuh beberapa minggu lalu kurasakan sudah lebih baik. Aisnah, seorang gadis kampung ini sudah kuanggap seperti anakku sendiri. “Ais,” kataku menasihati, “lebih baik kau segera mengakhiri lajangmu, tak baik seorang gadis menunda perkawinan. Sejujurnya, Emak akan senang, jika Malin yang melamarmu.” Gadis itu melonggarkan pijatannya. Terbayang olehku ia akan tertunduk sambil tersenyum pada paras langsatnya. Aku menoleh kepadanya, benar betul apa yang kubayangkan. Wajah itu sebegitu teduh. “Saya kan belum tahu Malin, Emak. Lagi pula, siapa tahu ia sudah menikah” Aku menggelengkan kepala. Kurapikan helai-helai rambut di telinganya. Makin tampak cantiklah gadis di depanku. Aku yakin Malin pasti akan jatuh cinta melihat gadis secantik dia. “Dua hari lagi akan ada kapal yang berlabuh di Pantai Manis. Kata orang yang pernah merantau, mereka melihat Malin berada di sebuah kapal besar dan mewah.” Perempuan itu tak dapat berkata-kata. Berita gembira ini memang sengaja kusimpan, karena aku ingin membuat kejutan. Ia makin tertunduk, dan aku tak sabar ingin bertemu anakku. Dan segera menikahkannya. Melanjutkan detak jantungku yang masih berdetak hanya pada jantung Malin.
***
Kapal besar dan mewah telah berlabuh di Air Manis. Semua orang berduyung datang. Tidak sedikit dari mereka yang mengucapkan selamat kepadaku. Akupun membuatkan acara sambutan sederhana. Aku dan Ais menuju pantai, kami melihat kapal sebesar Jong Java mirip kapal milik orang pesisir Jawa yang besarnya melebihi separo kampung ini. Tiang-tiangnya terbuat dari kayu pilihan, yang niscaya kapal yang mendekat pasti akan hancur seperti dilempar ke batu karang. Penduduk kampung berduyun-duyun datang melihat, aku pun mencoba mendekat. Kulihat sepasang pemuda dan pemudi dengan baju kurung yang terbuat dari sutera. Muka Ais tampak sedih melihat Malin yang tengah menggandeng seorang perempuan cantik. “Malin, ini Emak.” Pemuda di depanku itu berhenti. Memandangku dengan penuh tatapan aneh. Aku pun mencoba memastikan apakah pemuda di depanku ini benar-benar anakku. Sudah sepuluh tahun aku tak bertemu dengannya. Terbesit keraguan, tetapi pemuda di depanku itu keburu mendorongku hingga aku jatuh ke tanah. Ais membantuku duduk. “Kalau kau butuh sumbangan aku akan memberikan sejumlah yang kau butuhkan, tetapi jangan sekali-kali kau mengakui aku sebagai anakmu untuk menguasai hartaku. Ada berapa Malin di dunia ini? Aku bukan Malin anakkmu!” Air mataku meretas, seiring dengan langkah pemuda di depanku. Aku sangat malu di hadapan begitu banyak orang. Malamnya aku menangis di kamar Malin ditemani Ais. Aku menatap patung yang pernah di pahat Malin. Patung itu menyerupai seorang anak yang bersujud kepada ibunya. Itulah patung terakhir yang pernah dibuat oleh Malin. “Dia bukan Malin, Ais. Percayalah, dia bukan Malin. Aku lihat itu dari sudut matanya. Tetapi aku merasakan sesuatu tak asing di kapal itu.” Seorang pemuda di atas kapal meneteskan air mata. Entah karena apa. Ia tidak takut dengan maut yang barangkali akan segera menjemput, atau ancaman yang pernah dia dapatkan ketika ia mengetahui ada pengkhianatan. Ia menangis karena ia merasa ada ikatan batin dengan pulau itu. Ada udara yang begitu akrab di hidungnya. Angin yang berhembus, semuanya sebegitu dekat. Pemuda itu berdiam diri menatap pulau yang dijauhi kapal. Kabut makin menebal menelan kerlip-kerlip lampu yang membentuk garis memanjang horisontal. Tiba-tiba Malin merasakan tetes dari langit. Kilatan petir. Kemudian terjadilah hujan yang deras. Kapal terombang-ambing. Ombak menerobos masuk ke dalam kapal. Banyak barang-barang terampas air, mengapung di atas ombak. Kapal pun pecah menabrak karang.
***
Gubug dari kayu itu ramai oleh orang-orang kampung. Seorang perempuan tua telah menjemput ajalnya sebelum ia melihat anaknya pulang. Seorang gadis menangis karena ia kehilangan sosok perempuan tua yang hidup berbalut derita. Dan berita tentang kutukan itu merunut dari mulut ke mulut. Banyak penduduk kampung yang berduyung melihat patung berbentuk seorang lelaki muda yang bersujud seolah memohon ampun dan pecahan-pecahan kapal di Pantai Air Manis. Seorang perempuan menangis di kamarnya semenjak ia bersama beberapa orang tadi malam merampungkan pesan almarhumah: menaruh batu yang pernah dipahat Malin di Pantai Air Manis, agar kelak jika perahu Malin berlabuh ia ingat tentang pulau kelahirannya. Namun, penduduk kampung telah memilih kisah anak durhaka yang menjadi patung daripada mendengar kisah sebenarnya. “Anakku,” kata perempuan tua sebelum menjemput maut, “ia bukan Malin. Luka di tangan kanannya bukan akibat goresan pedang, tetapi luka karena jatuh. Lelaki itu bukanlah Malin. Ibu akan terus berdoa untuk Malin agar cepat kembali. Tunggulah, anakku.” Sementara jauh di seberang sana, seorang pemuda dengan luka di tangan kanannya belum juga sadar ketika Subuh tadi ditemukan penduduk kampung terdampar di pinggir pantai. Bengkel Imaji Malang, November 2006 Lubis Grafura adalah mahasiswa pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pada tahun 2005, 4 judul cerpennya masuk nominasi sayembara menulis cerpen yang diadakan oleh Menpora (bekerja sama dengan CWI). Ia merupakan pendiri komunitas sastra Bengkel Imaji di Malang.

1 komentar:

mas Nug mengatakan...

Keren....

9 Februari 2012 07.11

Posting Komentar

Video Pelatihan