Our Community

Our Community
Forum Lingkar Pena Depok

Our Event

Our Event
Depok Dalam Puisi

Our Training Program

Our Training Program
BATRE

Our Family

Our Family
Want to be one of us?

Mau Daftar? Klik Gambar Ini!

Tampilkan postingan dengan label Fiksi Dewasa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Fiksi Dewasa. Tampilkan semua postingan

Perempuan Penyusu

Minggu, 22 Mei 2011

Cerpen Hamzah Puadi Ilyas Dimuat di Tribun Jabar, Ahad 15 Mei 2011 PEREMPUAN itu bernama Gendis Murniati. Sesaat setelah ia melahirkan bayi laki-laki, suaminya pergi entah ke mana. Kabar angin mengatakan wajah bayi itu tidak mirip dengan wajah suami Gendis. Tapi ketika beberapa tetangga menanyakan hal ini pada Gendis, ia tidak mengiyakan atau membantah. Ia hanya berkata lelaki pengecut dan berjiwa kerdil memang selalu kabur dari masalah.

Sebulan kemudian bayi Gendis meninggal. Setelah bayi dikubur, Gendis terlihat murung selama lima minggu, lalu ia terus menangis beberapa bulan berikutnya. Setiap keluar rumah para tetangga dekat pasti mendengar Gendis menangis, begitu juga orang-orang yang lewat di depan rumahnya. Banyak tetangga yang datang untuk menghibur Gendis sambil membawa buah-buahan. Namun tak satu pun yang mampu menghentikan tangisannya. Tangisan menyayat hati dan penuh rintihan kepedihan.

Gendis baru menghentikan tangisannya tepat pada saat ada tetangga yang melahirkan bayi perempuan rupawan. Sayang, payudara perempuan yang melahirkan itu tidak mengeluarkan air susu. Bentuknya juga kempes, tidak kembung seperti milik seorang wanita yang baru melahirkan. Ibu-ibu ramai membicarakan hal itu, terutama ketika sedang membeli sayuran di muka rumah. Mereka juga kasihan karena perempuan itu tidak mampu membeli susu kaleng.

"Biarlah aku yang menyusui bayi itu." Tiba-tiba Gendis keluar rumah. Orang- orang terkesima, sesaat serupa tugu. Aneh, Gendis masih terlihat sama seperti saat baru melahirkan. Payudaranya terlihat kembung. Yang berubah hanyalah matanya. Di mata itu seperti masih ada genangan air. Sebagian orang menganggapnya buta karena terlalu lama mengucurkan air mata.

Kesediaan Gendis untuk menyusui dilaporkan pada perempuan yang baru melahirkan itu. Pada awalnya ia tidak setuju karena mendengar kabar tentang mata Gendis yang terlihat aneh, tapi karena ia tidak mampu lagi membeli susu, akhirnya ia bersedia bayinya disusui Gendis. Beberapa orang yang semula meragukan apakah payudara Gendis masih mengeluarkan air susu terbukti salah. Malah susu dari payudara Gendis melimpah ruah. Bayi itu menyusu dengan sangat lahap. Bila tiba waktunya untuk menyusu, bayi itu selalu dibawa oleh orang tuanya kepada Gendis. Selama dua tahun bayi itu disusui Gendis hingga tiba waktunya untuk disapih. Bayi itu tumbuh menjadi anak yang sehat dan cerdas.

Kabar itu cepat menyebar. Maka datanglah beberapa perempuan yang memiliki bayi. Bukan hanya para perempuan dengan payudara yang tak mampu menghasilkan susu, tetapi juga sebaliknya. Mereka menginginkan bayi mereka sehat seperti bayi sebelumnya, dan mereka rela antre di depan rumah Gendis selama berjam-jam. Rumah Gendis tak pernah sepi dari tangisan bayi.

Dengan senang hati Gendis menyusui bayi-bayi itu. Terbukti mereka tumbuh menjadi anak-anak sehat. Anehnya, payudara Gendis tidak pernah menyusut dan susunya tidak habis-habis meski sudah puluhan bayi yang disusuinya. Hanya kedua matanya yang semakin mengecil. Makin banyak orang yang menganggap Gendis buta sehingga beberapa orang datang dengan sukarela untuk membantu Gendis mengurus rumah karena sepanjang hari ia sibuk menyusui. Malah seorang pria bernama Bejo mengatakan akan mengabdikan dirinya pada Gendis. Bagi Bejo, Gendis adalah sebuah keajaiban.

Rumah Gendis makin ramai. Beberapa tetangga memanfaatkan kesempatan itu dengan membuka warung. Mereka menjual apa saja yang bisa dimakan. Sisa-sisa makanan mengundang beberapa ekor kucing untuk datang. Di antara kucing-kucing itu ada yang kawin dan melahirkan empat ekor anak. Namun sayang, induk kucing mati.

Mengetahui hal itu, Gendis berkata pada Bejo. "Bawalah anak-anak kucing itu ke sini. Akan aku susui mereka." Bejo terkejut, tapi ia tidak berani membantah. Ia segera mengambil keempat ekor anak kucing itu dan membawanya kepada Gendis. Gendis segera menyusui mereka dan meminta Bejo untuk merawat bayi-bayi kucing yang mungil itu. Dua kali sehari Gendis menyusui mereka, bergantian dengan bayi- bayi manusia yang mengantre untuk disusui. Anehnya, anak-anak kucing itu pun menjadi sehat dan siap untuk dilepas.

Kabar tentang Gendis yang tidak hanya menyusui anak manusia cepat tersebar. Lalu berdatanganlah orang-orang ke rumah Gendis dengan membawa berbagai jenis binatang peliharaan mereka yang sakit. Bejo sempat bingung. Ia lalu bertanya pada Gendis, "Ibu, banyak orang yang datang ke sini dengan membawa binatang peliharaan mereka untuk disusui. Mereka sudah gila, Ibu."

"Bejo, tidak apa-apa. Biarlah mereka mengantre. Akan aku susui binatang- binatang itu. Mereka juga makhluk ciptaan Tuhan yang perlu kita sayangi." Kata Gendis dengan suara lembut. Matanya berkedip-kedip. Genangan air masih terlihat di sana. Kadang orang yang melihat matanya dengan cukup lama bagai melihat lautan.

Maka sejak itu Gendis tidak hanya menyusui anak manusia dan kucing, tetapi juga anak anjing, monyet, orang utan, siamang, kambing, rusa, gorila, bahkan bayi harimau. Seperti yang sudah-sudah, binatang-binatang itu juga menjadi sehat.

Dalam waktu yang tidak terlalu lama, Gendis semakin dikenal. Bahkan beberapa orang menjulukinya manusia sakti dan keturunan wali. Pemujanya juga terus bertambah. Suatu ketika, seorang wanita paruh baya datang ke rumah Gendis, tetapi bukan untuk meminta Gendis menyusui bayinya atau binatang peliharaannya, melainkan mengadukan masalah keluarga. Ia datang sambil bercucuran air mata.

Wanita itu mengatakan bahwa ia memiliki seorang anak lelaki yang kecanduan narkoba. Kuliah si anak berantakan dan wanita itu telah menjual rumah satu-satunya peninggalan suami untuk biaya menyembuhkan anaknya. Mereka sekarang tinggal di rumah kontrakan yang kecil pada gang sempit. Ia tak tahu lagi apa yang harus dilakukan.

"Tolonglah, Ibu Gendis."

"Bawalah anak laki-lakimu ke sini," kata Gendis.

"Bawa ke sini, Ibu?"

"Iya. Akan aku susui dia."

"Baik, Ibu."

Keesokan harinya wanita itu membawa anaknya. Gendis menyuruh Bejo menyiapkan satu kamar kosong. Di kamar itulah pecandu narkoba itu ditempatkan. Pintu dikunci agar pada saat sakaw ia tidak kabur. Setiap lima jam sekali Gendis menyusui pecandu itu. Tiga hari pertama ia muntah-muntah. Semua racun yang telah ditenggaknya keluar bersama muntah berwarna kelam. Hari berikutnya pecandu itu menyusu seperti bayi yang kelaparan. Dua minggu berikutnya ia telah sembuh dari kecanduan narkoba.

Kabar tentang Gendis Sang Perempuan Penyusu terus menyebar. Predikatnya pun makin banyak. Orang-orang yang sangat memujanya memberinya nama-nama pujian. Kini orang-orang yang menyusu padanya bukan hanya pecandu narkoba, tetapi juga tokoh-tokoh politik yang ingin menjadi pemimpin, pejabat yang ingin cepat naik pangkat, pengusaha yang ingin cepat kaya, penyanyi yang goyangannya dilarang, artis yang dianggap melecehkan agama, perempuan dan pria yang susah mendapat jodoh dan pekerjaan, pelajar dan mahasiswa yang ingin cepat lulus, dan masih banyak lagi.

Tapi di balik kemasyhuran Gendis ada beberapa orang yang membencinya. Ia dituduh menyebarkan maksiat dan klenik. Sekelompok orang berpakaian putih-putih datang dan berdemo di depan rumah Gendis. Gendis diminta untuk menghentikan kegiatannya menyusui orang dan binatang. Kalau tidak, rumahnya akan dibakar.

Gendis tidak pernah peduli dengan segala omongan orang dan demo-demo yang menentangnya. Ia terus saja menyusui makhluk hidup apa pun yang datang kepadanya. Ia berkeyakinan selama itu demi kebaikan orang lain dan tidak merugikan pihak mana pun, ia akan terus menyusui hingga akhir hayat.

Keteguhan Gendis membuat beberapa orang membelanya. Terutama mereka yang telah merasakan manfaat menyusu pada Gendis. Makin hari makin banyak saja orang yang mendukungnya sehingga terbentuklah aliansi pendukung Gendis yang siap mati jika keberadaan Gendis terus diusik. Mereka membubuhkan sidik jari dengan tinta darah. Ia juga dirangkul oleh partai politik yang menentang penguasa.

Gendis berubah menjadi sebuah fenomena. Ia bahkan terkenal hingga ke mancanegara. Orang-orang yang datang untuk menyusu padanya bukan hanya dari dalam negeri. Beberapa kali ia malah diundang ke berbagai negara. Tentu saja ia selalu ditemani oleh Bejo yang kini juga ikut menikmati kemasyhuran.

Pada suatu ketika Gendis akan menghadiri pertemuan. Sang penguasa menganggap pertemuan itu akan mengusik kekuasaannya. Maka dibuatlah rencana untuk membunuh Gendis dengan memberikan racun pada minumannya. Antek-antek penguasa yang telah sangat lihai dan mendapat pelatihan di luar negeri selama bertahun-tahun ditugaskan dalam misi ini. Entah bagaimana mereka bekerja, akhirnya di depan Gendis ada gelas berisi air putih yang telah diberi racun.

Pada saat Gendis hendak minum, tiba-tiba gelas itu pecah. Gendis tidak mati. Peristiwa yang dianggap langka itu diliput televisi. Para pendukungnya sangat yakin bahwa ada sesuatu di minuman itu. Nama Gendis malah semakin masyhur. Pengikutnya menjadi berlipat-lipat. Sang penguasa harus gigit jari karena kini pengikut Gendis telah melimpah ruah. Itu berarti akan sangat sulit untuk menyingkirkannya, dan jika mencalonkan diri menjadi pemimpin, ia pasti menang. Para pemujanya menjuluki Gendis orang suci.

Kiprah Gendis semakin berkibar. Ia kini bukan hanya menyusui, tetapi juga menentang tindakan main hakim sendiri dalam membela keyakinan. Jurang perbedaan antara sekelompok orang dengan Gendis semakin curam. Bentrokan antara pengikut Gendis dengan sekelompok orang itu tak lagi bisa dihindarkan.

"Tangkap Gendis. Ia telah memilih jalan sesat dan menyesatkan." Begitu kata pemimpin kelompok itu.

"Aku tak akan pernah gentar. Bila ingin menindas orang, langkahi dulu mayatku," jawab Gendis yang kemudian dikutip berbagai media massa. "Aku menyusui karena aku memiliki air susu yang melimpah ruah, dan sangat banyak makhluk yang membutuhkannya. Ini bukan porno dan maksiat, namun suatu bentuk pelayanan pada Sang Pencipta."

Tahun-tahun terus berlalu. Gendis makin tua. Kesehatannya semakin memburuk. Ke mana-mana ia harus didorong dengan menggunakan kursi roda. Tapi ia tetap tak pernah menolak siapa pun yang datang kepadanya untuk menyusu. Anehnya, buah dadanya bukannya makin kempis, tetapi makin berisi, meskipun tubuhnya sudah sangat lemah.

"Aku akan terus menyusui siapa pun yang membutuhkan. Cuma itu yang bisa kulakukan dalam hidup ini di sisa-sisa umurku. Hanya Tuhan yang bisa menghentikan tindakanku. Aku ingin dikenang sebagai Perempuan Penyusu dan menjadi rahmat bagi sekalian alam." Begitu kata Gendis sebelum akhirnya ia menutup mata untuk selama-lamanya. Jutaan orang mengantarkan Gendis ke pembaringannya yang terakhir. Mata mereka tergenang air, persis seperti mata Gendis pada saat tangisan terakhirnya reda. Salah satu dari mereka adalah anak perempuan yang berumur enam tahun. Jika diperhatikan dengan saksama, mata anak itu seperti lautan. Ruh Gendis telah menyusup melalui ubun-ubunnya. Kelak ia akan menjadi perempuan penyusu berikutnya.

Sang Penulis

Minggu, 17 April 2011

Cerpen Noor H. Dee Dimuat di Koran Tempo, 17 April 2011

PENULIS itu mencopot kedua tangannya dan membuangnya ke tempat sampah. Kedua tangannya menggelepar sebentar lantas diam seperti tangan orang pingsan.

Ia mencopot kedua tangannya begitu saja. Tidak dengan pisau dan semacamnya. Tak ada darah yang membuncah dan semacamnya. Tak ada luka yang menganga dan semacamnya. Ia memperlakukan tubuhnya seperti lego yang dapat dicopot dan dibuang semaunya.

Ada kegetiran yang begitu abstrak, yang tak bisa ia katakan, dan ia mengerti bahwa sejak dahulu kata-kata memang seperti itu: tidak pernah bisa diandalkan untuk menjelaskan segala hal. Kata-kata hanyalah sebuah usaha untuk mendekati kebenaran, tapi selalu berhenti di titik hampir. Ia mengerti sekali akan hal itu.

Ia sudah bertahun-tahun menjadi penulis. Setiap detik ia selalu bergumul dengan kata-kata yang tidak pernah setia: menemukannya, mendedahnya, membongkarnya, dan meragukannya. Itu sebabnya ia tidak tahu mesti berkata apa ketika menyaksikan kedua tangannya teronggok di tempat sampah. Seperti kesedihan tapi bukan itu, seperti kebahagiaan tapi itu pun masih kurang tepat. Entahlah. Ia hanya bisa diam, dan ia merasa betapa diam ternyata masih lebih baik dari segala macam kata yang pernah manusia temukan. Alasan mengapa ia membuang kedua tangannya ke tempat sampah cukup sederhana: ia tidak ingin menulis lagi.

Sebenarnya sudah lama sekali ia ingin berhenti menulis. Pena dan kertas telah ia buang, laptop-nya telah ia hibahkan kepada kekasihnya yang gemar berkata-kata kotor, dan buku-buku yang sekiranya dapat membangkitkan gairah menulis sudah ia bakar di halaman belakang dengan menggunakan beberapa batang korek api dan setengah liter minyak tanah. Tidak lupa, hampir setiap malam ia juga selalu memohon kepada Tuhan yang selama ini sering ia khianati, agar bakat menulisnya segera dicabut sampai ke akar-akarnya. Dan, hasilnya adalah setiap malam ia harus menderita sakit kepala.

Ia kesal karena seluruh usahanya selalu gagal. Ia masih tetap terus menulis. Ia menulis di pintu kulkas, di layar telepon genggam, di bak kamar mandi, di bantal, di cermin, di lipatan baju, di kalender, di meja makan, di sepatu, di kantung celana, di permukaan piring, dan di kaca jendela yang jarang sekali terbuka. Bahkan ketika sedang tertidur pun ia masih mampu menyelesaikan dua buah cerita pendek di selimut tebal tempat ia biasa bersembunyi dari dinginnya malam. Ia juga tidak tahu mengapa semua itu bisa terjadi. Ia tidak mengerti mengapa ia masih terus saja menulis. Karena bingung mesti berbuat apa lagi, sedangkan kegiatan menulisnya tidak juga kunjung berhenti, tanpa pikir panjang lagi ia langsung mencopot kedua tangannya untuk kemudian membuangnya ke tempat sampah.

Ia berhenti menulis karena ia merasa menulis adalah perbuatan yang percuma. Ia sudah menulis ribuan puisi, ratusan cerita pendek, dan puluhan novel. Belum lagi ditambah dengan beberapa artikel dan essai yang pernah dimuat di beberapa majalah dan surat kabar nasional. Banyak orang yang kemudian mengidolakannya, memborong semua karya-karyanya, bahkan ada yang sampai tergila-gila begitu rupa kepadanya. Ia memang hanya penulis, tapi popularitasnya sudah hampir sama dengan para selebritas. Setiap kali ia meluncurkan buku baru, berbagai jenis manusia dari berbagai jenis penjuru berbondong-bondong memadati ruangan acara itu. Semula ia memang jumawa dengan semua itu. Namun akhirnya ia sadar, bahwa ternyata semua itu adalah percuma.

Semua itu bermula dari pertanyaan sederhana yang terlontar dari mulut seorang gadis pada saat acara peluncuran bukunya sedang berlangsung, “Apa artinya menulis jika tulisan kita tidak mampu mengubah apa pun?” Pertanyaan sederhana itu ia jawab dengan lancar.

“Menulis adalah semacam katarsis, yang dapat membebaskan kita dari kejumudan.” Ia juga mengatakan bahwa seorang penulis bukanlah nabi, yang diutus Tuhan untuk mengubah suatu kaum. “Tugas seorang penulis,” ujarnya melanjutkan, “bukanlah untuk mengubah keadaan, melainkan hanya ingin mengabarkan tentang segala hal yang sedang terjadi di depan mata kita secara apa adanya.”

Semua yang hadir dalam acara itu mengangguk-angguk, merasa takjub, untuk kemudian bertepuk tangan bersama-sama.

Tidak ada yang tahu bahwa sesampainya ia di rumah, ketika ingin beranjak tidur, pertanyaan itu masih terus membututinya: apa artinya menulis jika tulisan kita tidak mampu mengubah apa pun? Keesokan harinya pertanyaan itu kembali terngiang di benaknya. Di hari-hari berikutnya pun demikian. Sampai akhirnya penulis itu lelah, dan mulai merasa gelisah.

Apa artinya menulis jika tulisan kita tidak mampu mengubah apa pun?

Penulis itu gelisah bukan kepalang. Semula ia tidak peduli dengan pertanyaan sepele itu. Semula ia menganggap bahwa tugas seorang penulis ya hanya menulis saja.Titik. Tidak lebih dari itu. Tapi, entah kenapa, akhirnya ia sepakat bahwa ternyata dirinya adalah seorang penulis yang tiada berguna.

Ia sudah banyak menerbitkan buku, tapi ia sama sekali belum bisa mengubah apa pun. Sebenarnya ia juga tidak tahu apa yang mesti diubah, tapi ia sadar bahwa keadaan memang masih tetap begini-begini saja. Ia sering mengangkat tema tentang kemiskinan dalam setiap cerpen-cerpennya, tapi sampai sekarang kemiskinan itu masih ada dan tak pernah berubah. Ia sering mengangkat tema tentang kerusakan alam di setiap sajak-sajaknya, tapi sampai sekarang masih banyak saja orang-orang yang tidak peduli dengan alam, malah lebih parah dari sebelumnya. Ia juga sering mengangkat tema tentang kemunafikan manusia di setiap novel-novelnya, tapi hingga detik ini kemunafikan itu belum juga hilang.

Begitulah. Akhirnya penulis itu memutuskan untuk berhenti menulis dan membuang kedua tangannya ke tempat sampah.

“Selesai sudah,” gumam penulis itu sambil menjatuhkan tubuhnya ke ranjang. Lebih baik tidak usah menulis sama sekali, ujarnya dalam hati, dari pada menulis tapi tidak pernah dihiraukan sama sekali.

Tidak lama kemudian, penulis itu tertidur.

PENULIS itu terbangun dari tidurnya dan terkejut bukan main. Ia melihat dinding kamarnya sudah dipenuhi dengan tulisan. Begitu pula dengan lemari baju, permukaan piring, sepatu, sampai atap rumahnya pun telah dipenuhi tulisan. Ada yang berupa puisi, cerita pendek, seloka, gurindam, pantun, haiku, dan ada pula yang hanya berupa sekumpulan kata-kata yang tersusun secara acak tanpa bisa diketahui apa maknanya. Penulis itu kembali menderita sakit kepala. Ia yakin betul bahwa semua tulisan itu adalah tulisannya. Bukan tulisan orang lain. Ia tidak tahu kalau pada akhirnya akan menjadi sesulit ini. Ia juga tidak tahu bagaimana ia bisa membuat tulisan-tulisan itu, padahal sepasang tangannya telah teronggok di tempat sampah. Mungkinkah ia menulis dengan kakinya? Atau mulutnya? Atau telinganya? Atau dengan pikirannya? Ia tidak tahu. Kepalanya benar-benar ingin pecah.

“Mengapa jadi sulit begini, padahal aku hanya ingin berhenti menulis? Ah, sepertinya lebih baik aku mati saja!” ujarnya sambil bangkit dari rebahnya, berjalan mendekati lemari pakaiannya yang tertutup, dan susah payah menarik pintu lemari itu dengan gigi depannya.

Di dalam lemari itu tampak sebuah pistol yang mengilat. Ia tersenyum. Ya, lebih baik aku mati saja, ujarnya dalam hati.

Namun seketika itu pula ia terdiam. Ia tidak tahu bagaimana cara menembakkan pistol ke dalam mulutnya. Sebab, ia baru ingat, kedua tangannya telah berada di dalam tempat sampah! (*)

Mantra Penyadap Nira

Rabu, 09 Maret 2011

Cerpen Hamzah Puadi Ilyas Dimuat di Tribun Jabar, Minggu, 6 Maret 2011 | 14:25 WIB HANYA Tuminah seorang di seluruh Lumajang, bisa jadi di seluruh Pulau Jawa atau bahkan Indonesia, yang memiliki mantra penyadap nira. Mantra itu membuat pemiliknya tidak merasa sakit bila jatuh dari pohon aren saat menyadap nira meskipun pohon itu menjulang hingga menyamai puncak Bromo. Bila jatuh, si pemilik mantra akan bangun kembali seperti orang bangun dari bersila. Mantra itu diwariskan oleh kakek Tuminah yang bernama Mbah Ketip. Menurut Mbah Ketip, mantra penyadap nira tidak bisa diwariskan dari ayah ke anak, hanya dari kakek ke cucu. Pada mulanya Mbah Ketip tidak ingin mewariskan mantra itu kepada Tuminah karena ia perempuan. Mbah Ketip masih menunggu dan berharap suatu saat menantunya hamil lagi dan melahirkan anak laki-laki. Tapi pada suatu hari, setelah bersemadi di bekas kandang kambing sambil puasa mutih selama dua hari dua malam, Mbah Ketip merasa umurnya tidak lama lagi. Ia akhirnya mewariskan mantra itu pada Tuminah. Mbah Ketip berpesan pada Tuminah bahwa mantra penyadap nira, seperti juga manusia, ada umurnya. Suatu saat mantra itu bisa lenyap. Tidak ada yang tahu pasti kapan terjadinya. Tapi menurut perkiraan, ketika tempat tinggal mereka, Desa Kalibendo, Kecamatan Pasirian, Kabupaten Lumajang, tidak lagi dikelilingi pepohonan dan persawahan. Begitulah yang diketahui Mbah Ketip dari kakeknya. "Maka dari itu, Tuminah, cucuku, berhati-hatilah engkau setiap kali memanjat pohon aren. Bisa saja saat itu mantramu lenyap, dan dedemit penunggu pohon sedang usil, lalu menyentil tubuhmu. Engkau bisa celaka." "Iya, Kakek," jawab Tuminah, yang waktu itu kelas empat SD. Entah karena pengaruh mantra atau warisan sifat sang ayah, Tuminah tumbuh seperti anak laki-laki. Menjelang selesai sekolah dasar, ia sudah mulai memanjat pohon aren untuk menyadap nira. Nira itu nantinya akan dibuat gula oleh keluarganya. Memang Tuminah tidak seperti laki-laki dewasa yang bisa memanjat sepuluh sampai lima belas kali dalam sehari untuk menyadap nira, tapi keberaniannya membuat banyak orang kagum. Awalnya ayahnya melarang. Anak perempuan tidak usah memanjat pohon aren, cukuplah membantu ibunya memasukkan gula yang telah mengental ke dalam dakon, cetakan. Tapi pada satu waktu, ketika tiba-tiba Tuminah sudah berada di puncak pohon aren dengan membawa pisau dan jeriken yang diikatkan ke pinggang, ayahnya sadar bahwa Tuminah memang bukan anak perempuan sembarangan. Ayahnya sempat berpikir mungkin Tuminah adalah penjelmaan keinginannya dulu yang mengharapkan anak laki-laki. Tuminah, yang kemudian tidak melanjutkan pendidikan setelah tamat SD, selalu memegang teguh amanat kakeknya tentang mantra penyadap nira. Ia tidak boleh bercerita kepada siapa pun. Ia hanya boleh bercerita pada cucunya kelak ketika hendak menurunkan mantra tersebut. "Bila kamu bercerita, dalam waktu enam jam mantra itu akan hilang." "Kenapa bisa begitu, Kek?" tanya Tuminah. "Karena itu menunjukkan engkau telah jadi orang takabur." Tuminah mengangguk. Umur sembilan belas tahun, Tuminah jatuh cinta kepada Pardi yang tiga tahun lebih tua. Keluarga Pardi lebih miskin, tetapi kulitnya putih. Jarang sekali ada orang berkulit putih di desa itu, apalagi laki-laki. Sama seperti Tuminah, Pardi juga hanya tamat sekolah dasar. Ayahnya telah tiada ketika ia baru bisa merangkak. Pardi tinggal di rumah bambu bersama ibunya. Sehari-hari mereka membuat gula aren milik orang lain. Untuk satu kilogram gula aren yang dijual kepada pengepul seharga 6.500 rupiah, Pardi dan ibunya mendapat 1.000 rupiah. Bila sedang tidak sibuk, Pardi biasanya mencari belut di sawah pada sore hari. Hasil tangkapannya seringkali dijual sebagai tambahan biaya dapur keluarga. Suatu saat, ketika sedang berada di pohon aren, Tuminah membayangkan dirinya bersanding dengan Pardi. Kebahagiaan datang bersama bulir-bulir angin. Kepulannya yang melegakan rasa membuat Tuminah semakin nyaman. Mata terpejam, dan biru langit seolah dalam gapaian. Ia merasa terbang, melayang di antara gumpalan awan putih berserakan bersama Pardi. Tuminah baru sadar ketika ada teriakan. Orang-orang berdatangan. Ibunya menangis sambil memeluknya. Ayahnya segera membopongnya ke rumah. Sesaat Tuminah bingung mengapa begitu banyak orang yang mengirinya. Sesampainya di rumah ia didudukkan di bale bambu. Ayah dan ibunya meraba-raba sekujur badannya. "Kamu tidak apa-apa, Tuminah?" Tuminah masih terlihat bingung. Tapi beberapa detik kemudian ingatannya muncul. Ia ingat telah berada di puncak pohon aren. Segera ia menggeleng dan turun dari bale bambu. Muncul wajah Mbah Ketip di pikirannya. Ternyata mantra itu memang manjur. Sekarang orang-orang yang mengelilinginya yang tampak bingung. Sebulan kemudian Tuminah benar-benar bersanding dengan Pardi. Kisahnya seperti ini: ketika jatuh dari pohon aren, Tuminah mengucapkan kata "Pardi" beberapa kali. Karena penasaran dan takut ada apa-apa, ayah dan ibu Tuminah lalu memutuskan untuk mendatangi Pardi dan menanyakan apakah mereka sudah saling kenal. Ibu Pardi yang menjawab dengan mengatakan bahwa sebenarnya sudah sejak lama ia ingin melamar Tuminah, tapi karena takut ditolak ia menunda keinginan tersebut. Mengetahui hal itu, ayah Tuminah akhirnya menikahkan mereka. Tahun berganti tahun. Orang-orang tua telah berpisah dari anak, menantu, serta cucu. Sore itu hujan rintik-rintik baru saja berhenti. Dedaunan masih kedinginan. Pardi duduk dengan kaki menjulur di bale bambu. Telah sekian kali ia memborehkan minyak gosok cap tawon pada pergelangan kaki yang terkilir. Dua anak perempuannya sedang bermain boneka plastik di sudut ruangan. Tuminah, sambil menggendong anak ketiga yang berkelamin laki-laki, tampak gelisah. Sesekali ia menengadahkan wajah ke langit yang masih semburat suram. "Sudah, menyadap niranya besok saja," kata Pardi. "Pohon aren licin, barusan hujan." "Kalau tidak membuat gula aren hari ini, lusa kita sudah tidak punya uang untuk membeli beras dan minyak tanah." "Nanti aku cari pinjaman." Tuminah diam. Ia menatap wajah anaknya sambil menggerak-gerakkan gendongan agar tidurnya lebih lelap. Wajah anak itu mirip Mbah Ketip, terutama hidungnya yang sedikit mengendap ke dalam. Suara anak-anak di luar rumah terdengar. Tuminah menyingkap tirai jendela dan melongok ke luar. Langit telah cerah. Tuminah meletakkan anaknya yang pulas di samping Pardi. Setelah pamit pada Pardi dan berpesan agar menjaga anak-anak, ia keluar sambil membawa pisau dan jeriken. Kain telah berganti celana gombrang lusuh. Dengan langkah cepat ia menuju kebun yang ditumbuhi pohon-pohon aren. Satu pohon telah tumbang tersambar petir tiga bulan lalu. Jarak kebun dari rumahnya sekitar setengah kilometer. Begitu memasuki kebun terlihat pohon aren tertinggi. Dari pohon itu juga ia dulu pernah jatuh. Entah sudah berapa ratus kali pohon itu dipanjat. Menyentuh batangnya saja telah membuatnya bangga. Hanya ia wanita di Desa Kalibendo yang pandai memanjat pohon aren untuk menyadap nira. Selesai merapalkan mantra, ia segera memanjat. Dalam sekejap, tubuh kurusnya telah mencapai puncak pohon. Dari atas Tuminah bisa melihat rumah-rumah berbaris rapi. Rumah-rumah orang kaya, pikirnya. Dulu di tempat itu terbentang persawahan milik penduduk asli. Kini setengahnya telah menghilang. Sebagai gantinya, hampir di semua rumah warga Kalibendo terdapat televisi, bahkan sepeda motor. Setelah merasa cukup, Tuminah turun. Hujan ternyata menyisakan jentik-jentik air di beberapa legokan batang aren, membuatnya sedikit licin. Pada pijakan ketiga, kaki Tuminah menyentuh permukaan yang licin itu. Di saat yang bersamaan, tangannya berpegangan pada sisa pelepah tua yang rapuh. Pelepah yang telah dipangkas ujungnya itu tercerabut, dan tubuh Tuminah langsung meluncur. Ada bunyi gedebuk, lalu hening. Tuminah tidak tahu berapa lama. Yang ia tahu ia berada di tanah dalam posisi bersila, kemudian bangkit. Mantra dari Mbah Ketip memang luar biasa. Dilihatnya jeriken masih utuh berisi nira. Tidak lagi di pinggang, melainkan di atas tanah. Seperti ada yang meletakkannya. Pisau masih terselip di sabuk yang mengikat erat pinggangnya. Tuminah menuju rumah. Langit temaram. Makin dekat ke rumah, langkahnya terasa semakin ringan. Begitu juga jeriken yang ditentengnya. Seperti membawa kapas. Tiba-tiba ia teringat ketiga anaknya. Ada perasaan kangen dan bersalah. Ingin rasanya ia memeluk si bontot. Langkahnya semakin dipercepat. Dari kejauhan terlihat rumahnya sangat ramai. Semua tetangga ada di sana. Pasti ada apa-apa dengan si bungsu. Ia berlari, merasakan kakinya seolah tidak menyentuh tanah. Sesampainya di depan rumah, ia berteriak menanyakan apa yang terjadi. Namun tak satu pun orang yang menoleh, apalagi menyahut. Tuminah menyelinap di antara kerumunan orang. Dia tidak lagi peduli, semua yang menghalanginya ditabrak, tapi tetap tak ada yang bergerak. Sampai akhirnya ia berada di pusat lingkaran. Benar saja, ada jasad terbaring tertutup kain. Beberapa orang mengelilingi jasad itu sambil membaca kitab suci. Pardi terlihat sedih di pojok ruangan, sesekali menyeka air mata. Dengan cepat Tuminah menyingkap kain penutup mayat. Ia ingin melihat wajah anak kesayangannya. Ternyata, ia melihat wajahnya sendiri, putih dan pucat. Ada kapas yang menutup kedua lubang hidung. Satu per satu tulang belulang di tubuhnya remuk. Ia semakin ringan, lalu perlahan membubung menembus atap.

Perempuan Kampung Karampuang

Minggu, 28 November 2010

Cerpen Emil Akbar

Sumber: kolomkita.com

Malam ini purnama sedang penuh. Bulan benderang begitu bundar. Bercahaya menyinari seperti lindungan ibu dalam dekapan yang menjelma dewi malam dan aku memperoleh restu di wajahnya yang bulat. Membuat langit hitam tak begitu gelap. Dalam rindang hutan pekat melarut lewat hembusan angin yang dingin. Bukan gulita sebab mataku masih bisa melihat. Hanya lindap dan kudapati kunang-kunang berkerlip, mengganti bintang yang tiada.

Aku menantimu di batas Dusun Karampuang. Kau belum juga muncul padahal aku sudah lama menunggu di sini. Aku takut dan cemas. Itu sebabnya mataku terpaku pada ujung aspal yang menghilang seperti ingin menerobos malam yang teduh, mencari bayanganmu yang berkelebat, dan sesekali aku menengok ke belakang membaca situasi.

Rustam, tahukah kau? Di dalam sana, sunyi bukan berarti tidak ada bunyi walau tadi mereka sembunyi karena aku tak peduli. Bunyi hewan malam, nyanyian serangga, suara berdesis-desis yang bukan ular, kicau kao-kao yang mengerikan di rimbun daun di dalam hutan yang senyap, berbondong-bondong mengerubungi telingaku. Berdenting serupa dawai, mengalun dan merambati udara, dan bakal meninggalkan luka di hatiku bila kau tidak jadi menjemputku malam ini. Maka hadirlah di ujung jalan itu seperti dilahirkan oleh kabut yang merayap. Jangan sampai aku menjadi batu di sini karena gigil atau habis karena dimakan angin dan kau harus tahu jiwaku mulai beku meski sebenarnya kepalaku ingin meledak karena bosan. Aku tidak mungkin kembali setelah ingkar.

”Sepertinya lelaki itu tidak akan datang.”

Seseorang memegang bahuku dari belakang. Aku tersentak kaget dan terlonjak bangkit dari tugu batu yang kududuki. Aku gemetar gugup mengetahui siapa yang menegur.

”La Gole! Sedang apa kau di sini? Kau mengikutiku?” Sontak aku menjauhinya.

”Jubaedah, pulanglah sebelum terlambat. Masih ada kesempatan dan aku akan membantumu,” ujarnya sembari duduk di tugu batu yang kutinggalkan.

Dalam gelap aku tahu ia menatapku tajam, seruncing jarum yang pernah menusuk tanganku. Batinku tertohok mengingat ia adalah mata-mata Puang Gella, pemangku yang sering menghukum bila ada orang yang melanggar di kawasan dusun, meski ia temanku sejak kecil dan beberapa waktu silam aku menyimpan hati untuknya. Namun ia menunjukkan sikap yang tidak kusuka. Ia bukan lelaki tangguh, pengecut yang tidak berani mengajakku kawin lari.

”Benar kau akan menolongku?” tanyaku pura-pura ragu.

”Kau tidak percaya padaku?” La Gole menghampiriku begitu dekat hingga bisa kuhirup bau badannya yang belum disentuh sungai. Aroma napasnya purba.

”Baiklah kalau begitu. Ijinkan aku menunggu Rustam sebentar lagi,” pintaku. Lalu kedua kakiku tak mau diam karena gelisah.

”Jika dia tidak muncul?”

”Kau boleh membawaku pulang!” jawabku sedikit kesal.

”Sepakat.”

Agak lama kami saling diam seolah jiwa kami raib meninggalkan raga yang kikuk, menguak hutan dengan lesat untuk menemukanmu dengan tujuan yang berbeda. Kuperhatikan La Gole sedang duduk bersila sambil mempermainkan parang bersarung yang biasanya terlilit di pinggangnya. Tidak kutahu apa maksudnya, tapi membuatku bergidik membayangkan kulitmu robek dan menumpahkan darah jika badik itu keluar dari sarangnya. Kau pasti akan kalah sebab La Gole bekerja dengan otot sedangkan kau lebih suka berpikir.

”Apa yang kalian lakukan jika sudah bertemu? Apakah kau akan lari dengannya?” La Gole mengajukan tanya yang menyelidik, memecah hening. Posisi duduknya sudah berubah, satu kakinya berdiri dengan lutut menekuk.

”Tidak melakukan apa-apa. Aku hanya mau mengatakan sesuatu?” balasku berbohong sebab ia sudah curiga.

”Apa itu?”

”Kau tidak perlu tahu. Kenapa kau bertanya-tanya?”

”Ingin tahu saja. Bagaimanakah perasaanmu padanya?”

”Itu bukan urusanmu!” teriakku nyaris menuding, membuatnya bungkam.

Aku berbalik arah membelakanginya menahan amarah, antara jengkel dan putus asa. Kusandarkan kepalaku pada pohon yang tak bisa kurangkul. Aku mencabut-cabuti kulit keringnya yang berlumut dan memang sudah terkelupas, membuang geram. Mataku terasa panas bagai diperciki biji lombok. Pedih memerih.

Sekarang aku tidak ingin kau datang sebab itu akan mengantarkan nyawamu. Namun aku juga butuh kau datang membawaku pergi dari sini, jangan biarkan aku berkalung rantai. Aku tidak mau menjadi perawan tua! Bagaimana ini? Aku galau.

Tetapi tunggu. Mataku yang melirik menangkap bayangan sekilas, bersijingkat dan menunduk mirip gerak-gerik babi hutan, berpindah dengan cepat ke semak-semak. Apakah itu kau? Tidak sebentar aku terpana, dadaku berdesir dengan degupnya. Aku merasakan firasat tak baik. Aku mesti bersiasat.

”Aku menyerah. Seperti katamu, Rustam tidak datang. Mari pulang.” Sebisa mungkin kukulum senyum ini dan menampakkan muka murung agar tidak ketahuan, supaya kau dapat mengikutiku dari jarak jauh. Aku akan mengecohkan perhatiannya.

”Aku masih setia menemanimu menunggu jika kau mau?” Aku tahu ia mengejekku.

”Tidak usah! Barangkali dia pecundang yang lebih darimu.”

”Bagus kalau kau sadar. Orang kota memang tidak bisa dipegang janjinya!” timpalnya tak mau kalah.

Aku tidak lagi menyahut dan berjalan lebih dulu. Rustam, susul aku di puncak bukit!

***

Jubaedah, kau adalah gadis sunyi. Semerbak harum bunga desa, wangi menebarkan angan di setiap kepala jantan muda sepertiku. Aku menemukanmu bagai mutiara diantara ribuan kerikil bebatuan yang terserak di tepi kali. Namun ada yang hilang di wajahmu yang bulat langsat. Laksana embun pagi yang tak ada lagi, saat matahari tak bisa lagi disebut mentari. Aku seperti pangeran yang menemukan bidadari.

Di batas Dusun Karampuang jalanan beraspal terputus seperti lorong buntu. Terdapat daun kelapa yang diikat merintang di atas jalan. Mobil dinas kuparkir di luar kawasan adat karena dilarang masuk. Lagi pula hanya ada jalan setapak yang sempit. Tanahnya berdebu di musim kemarau dan licin berlumpur di musim penghujan. Banyak bebatuan. Di hari-hari biasa dusun ini begitu sepi bak kampung yang bisu.

Awal bulan November aku kembali. Aku sudah menjadi pegawai negeri di kabupaten. Setahun yang lalu aku datang di kampung ini untuk menyusun skripsiku mengenai adat Karampuang. Setelah lulus kuliah tak mampu kutahan hasrat hatiku, ingin kembali menggapaimu. Masihkah kau menjadi perawan suci yang tidak boleh dijamah?

Kutinggalkan semua yang berbau teknologi dan barang yang terkesan mewah di mobil sebelum memasuki kawasan adat yang dikeramatkan ini, lantaran pamali. Menurut keyakinan orang sini, segala yang datang dari luar lebih banyak merusak dan akan mengubah tatanan tradisi yang mereka jaga selama berabad-abad, turun temurun. Itu sebabnya aliran listrik tidak bisa masuk karena kaum adat menolak. Sungguh dilema, mengingat aku memegang proyek dari Pemda untuk menjadikan Karampuang tempat wisata, yang mungkin bakal melunturkan kebiasaan dan kepercayaan penduduk di dusun ini meski dengan maksud memberdayakan masyarakat.

Aku masih terkenang ketika pertama kali datang di kampung ini. Aku disambut dengan ramah. Tidak kurang isi baki sudah ditambah, belum setengah isi gelas sudah diimbuh. Aku yang mengetuk pintu bukanlah orang lain, malah dianggap keluarga sendiri. Sebab mereka memandang tamu itu membawa rezeki. Saat itu aku menumpang tidur di rumah ayahmu di luar kawasan adat, di dusun tetangga. Lantaran aku butuh listrik buat menyalakan laptopku, menulis hasil riset yang kudapat. Pernah aku menginap di rumah seorang warga. Alat penerangnya berupa lampu minyak yang mereka sebut sulo. Semalam suntuk aku menulis di lembar kertas. Pulang pagi-pagi. Kau berada di depan pintu. Tergelak tawamu melihatku. Suaramu renyah.

”Ada yang lucu?”

Kau tidak menjawab tapi memberikan isyarat. Kau pegang hidungmu yang mungil dan bangir. Aku mengikuti. Astaga, cuping hidungku dipenuhi asap hitam. Aku lekas pergi ke belakang membasuh muka.

Seminggu dalam sebulan, kita bertemu. Kau melepas masa haidmu di rumah. Parasmu demikian sendu seperti tidak terima seperti terpaksa, saat kau mengatakan sedang menuntut ilmu untuk kelak menjadi seorang sanro di rumah adat Karampuang. Rumah panggung yang merupakan simbol sosok perempuan. Dari jauh kediaman yang sakral itu memang tampak anggun. Atapnya dari anyaman daun nyiur berbentuk segitiga sama kaki. Tangganya terletak di tengah di kolong rumah.

”Tangga naik ke dalam rumah adalah kelamin perempuan,” jelas La Gole, temanmu.

Ia pemandu yang baik, meladeni keingintahuanku dan bahkan memuntahkan semua yang ia tahu. Pemuda yang bersemangat meski entah kenapa diam-diam ia sering menatapku dengan pandangan menghunus seperti tidak suka seperti menaruh curiga. Ia membicarakan tubuh perempuan dengan sangat biasa.

Membuka pintunya pun harus ditolak ke atas biar bergeser. Aku menebak pasti ini selaput dara kemaluan, sebab dibutuhkan sedikit usaha untuk membukanya. Ada batu bundar yang menindih.

”Arah dapur adalah rahim. Dan dua dapur di belakang itu adalah buah dada sebagai sumber kehidupan.”

Rumah ini tak bersekat, hanya ruang. Lantai dan dinding terbuat dari bambu. Ada loteng yang lumayan luas seperti layak untuk dijadikan kamar, tempat persimpanan kebutuhan pokok terutama padi. Bahkan ada padi yang berumur seabad.

”Semua warga sehabis panen tanpa diminta menyimpan sebagian padinya di sini untuk digunakan bersama jika terjadi gagal panen. Padi ini tidak boleh di jual.”

Aku ingin sekali mengabadikan apa yang aku lihat. Namun lelaki yang terbiasa bertelanjang dada saat bekerja di sawah ini melarangku dengan tegas. Badannya yang berotot dengan kulit secoklat kayu itu langsung tegap menantang.

”Jangan coba-coba bawa kamera. Itu kesepakatan kita dari awal. Boleh jadi kau yang melanggar, kami sekampung yang kena malapetaka. Kalau kau mau lama di sini hormati adat kami!”

Belum sempat aku minta maaf, La Gole sudah berlalu. Kulihat punggungnya digerogoti jamur, bercak-bercak putih.

Ketika kuceritakan penjelasan La Gole kepadamu, kau tersenyum simpul membenarkan. Pipimu merona seperti lembayung yang memerah bagai senja yang membakar langit. Aku jatuh hati.

Upacara Mappugau Sihanua sepertinya sudah dimulai. Selama tujuh hari tujuh malam. Aku berjalan santai menikmati pagi yang mau pergi. Sepanjang jalan yang berkelok kulewati rumah penduduk yang kadang saling berjauhan. Tak jarang aku berpapasan dengan warga yang masih kukenal. Di kiri kanan diselingi tanaman sayuran, pohon pisang, pohon kopi dan pohon kakao, serta hamparan sawah yang tidak rata, berundak-undak dengan garis pematang meliuk, sejauh mata memandang. Ada sumur tua berdinding susunan batu, aku menyebutnya kolam karena dangkal. Bila airnya lagi penuh, penduduk memandikan anaknya dan bayi yang baru lahir, biar mendapat berkah. Air mengalir khas pegunungan terdengar jernih menggelitik kesegaran. Hutan lebat dan belukar liar tampak rimbun di puncak bukit, hijau nian seperti belum pernah disinggahi. Jubaedah, secantik apa kau sekarang?

***

Lelaki itu masih gagah. Badannya berisi dan kulitnya bersih seperti pasir laut, seperti belum pernah dicubit matahari. Kini aku yakin kau makin terpikat, melirik pakaiannya yang sewarna kulit sapi. Lelaki idaman yang menggiurkan bunga desa sepertimu. Dan aku terhempas ibarat hati yang terbuang. Sebab cintaku sedang cemburu.

Ah, lelaki bernama Rustam itu terlalu mau tahu tentang adat kita dan ia sebarkan ke mana-mana. Aku tidak menyukainya karena itu, dan sebab ia mencuri hatimu dariku. Lebih dari itu, ia juga mencuci otakmu hingga pikiranmu telah kota walau disebabkan juga karena kau pernah sekolah sampai SMA di kabupaten. Kau pernah menjadi guru di dusun sebelah, mengajari kami baca tulis di usia kami yang sudah berkumis.

Kabarnya, Rustam akan mendirikan pasar rakyat dan penginapan di sekitar kampung ini. Makin ramai saja orang datang ke sini. Melihat kami sebagai tontonan. Melihat upacara kami sebagai pesta. Oh, Karampuang bagaimana nasibmu nanti? Ketika kebiasaan orang kota meracuni adat kami, menjarah apa yang kami jaga, yang kami miliki. Aku ingin sekali mengumpat, mereka tidak beradab karena mereka biadab!

Mungkin kelak tidak ada lagi yang namanya gotong royong. Seperti yang pernah dihimbau orang dulu, ”Hai sekalian anakku, kasih mengasihilah, rebah saling membangkitkan, hanyut saling mendamparkan, berkata saling mengiyakan, dan berbuat saling bantulah. Khilaf saling mengingatkan, satu kata dengan perbuatan, bagaimana di dalam begitu pula di luar, tegakkanlah yang keramat, sandarkanlah yang tabu, dan dudukkanlah yang makruh.”

Sekarang banyak yang mengerjakan sawah dengan cara bagi hasil, tidak lagi yang punya hajat memberi makan untuk disantap bersama. Begitu pula saat membangun rumah, menggunakan tenaga upah. Mengumpulkan puing-puing harta sehingga saling mencekik. Serakah sehingga saling menutup pintu.

Oh, Tomatoa! Hanya kamu yang murni. Kami akan teguh, tidak akan memasang paku tetap memakai tali rotan untuk menyusun kerangkamu. Mengganti tiangmu yang lapuk dengan menebang pohon bertuah di rimba melalui upacara madduik, menarik kayu bersama di hutan, wujud satu rasa. Tidak dipikul, sebab dipundak tanda mau menang sendiri. Oh, Tomatoa, kamu perempuan luhur yang kami puja. Dan kau, Jubaedah adalah perempuan Kampung Karampuang yang dijunjung. Darahmu adalah darah To Manurung. Mulia atas nama adat. Dan adat mengajarkanku tentang hidup, tidak mungkin kukhianati. Aku mencintaimu sebagaimana aku memegang adat. Disela itu terselip keinginan, yakni memilikimu yang tak boleh. Mencintai dan menginginkan itu serupa tapi tidak sama. Mengertikah, kau?

***

Aku bukanlah Maryam dan kenapa pula sejarah harus berulang? Tuhan, bolehkah aku mengeluh sebab sudah lama aku berpeluh? Aku tidak bangga dilahirkan sebagai makkunrai, perempuan. Tubuhku menyiksaku. Aku dibelenggu.

Ayah dan Ibu yang berbuat, mengapa aku yang harus jadi tumbal? Apakah memang dibutuhkan orang lain untuk menebus dosa? Lantas, salahkah mereka? Kau bisikkan di telinga Arung, tetua adat kami yang jarang bicara itu, untuk menentukan garis hidupku yang mesti kujalani. Menjadi perempuan suci, perempuan yang terkunci supaya tetap perawan. Jangan sampai sesuatu yang asing menyelinap masuk sebab akan melunturkan tradisi. Titah yang tak terbantahkan kecuali kalau aku cacat moral. Karena nanti warga juga yang akan memilih. Dan Ayah, Ibu, tak pernah membelaku. Ia wafat dengan patuh meski ia tak patut dipanggil Ayah, sebab tak pernah risau atau tak mau tahu jeritan hati anak gadisnya. Ayah memilih diam sampai ia menutup usia. Ayah hanya melihatku tumbuh.

Dan aku memilih, berontak seperti ibu. Ibu yang mati karena melahirkanku. Ibu yang kawin dengan kaum pendatang dan dikucilkan di desa tetangga. Ibu yang dipaksa bernazar, jika bayinya perempuan akan diambil sebagai penggantinya. Dan Kau, Tuhan, mengabulkannya…

Tetapi tidak! Sebagai anak aku merasa berkewajiban melanjutkan perjuangannya. Memang Puang Sanro telah renta, sudah layak istirahat. Perlu diganti. Tetapi mengapa harus aku? Tidak bolehkah orang lain? Aku selalu ingin bertanya kepada Puang Sanro tapi aku urung dalam hati, apakah ia memendam apa yang aku pendam? Ah, tentu tidak. Sebab aku tahu dari orang-orang, Puang Sanro adalah perempuan yang tidak laku.

”Dalam darahmu mengalir darah To Manurung, Anakku. Ikutilah takdirmu sebagaimana air yang mengalir,” ucapnya bernasihat ketika aku sedang malas meramu obat.

”Betapa menyenangkannya membantu orang, Anakku. Itu akan membuatmu menjadi ada,” lanjutnya berpesan di hari yang lain saat aku enggan mempelajari mantra-mantra.

Ketika menolong, haruskah berkorban? Cukup! Aku tak mau mendengar lagi. Aku mau tuli saja, sambil dalam benak ini bertekad, aku akan melawan arus. Aku mesti berupaya meski tangis mendahului.

Ya, sebab aku hanyalah perempuan biasa meski aku adalah perempuan yang cantik. Kusadari itu karena banyak yang merayuku semasa SMA dulu. Tapi aku tak hanyut. Aku mesti hati-hati meniti sebelum salah melangkah. Maka kutambatkan cintaku pada sahabat kecilku, La Gole. Aku sering memperhatikannya sampai-sampai aku tak sadar tubuhnya telah perkasa. Jika kami sedang berjalan beriringan aku senantiasa mendongak untuk melihatnya berbicara. Telingaku akan mendengar suara beratnya yang menentramkan. Andaikan aku dipeluk, pasti aku akan tenggelam dalam bahunya yang lebar. Saat kulit cokelat legamnya berkeringat, aku mencium bau khas manusia. Pernah juga ia menggenggam tanganku erat, sesaat tapi kurasakan kehangatan yang kokoh hingga jiwaku melambung. Hanya lidahku yang belum menafsirkan apa-apa. Namun ia tidak punya nyali, sikapnya terlalu lugu tak sebanding dengan badannya yang garang.

”La Gole, kau ada hati denganku?”

“Ya. Aku sayang kamu.”

“Kalau begitu bawa aku pergi dari sini.”

“Aku tidak punya kampung selain dusun ini.”

“Tinggal di hutan pun tak apa, asal bersamamu.”

“Tidak bisa. Tanah ini adalah orangtuaku.”

“Ah, kau tidak mencintaiku sebab cinta itu perlu bukti.”

”Aku tidak perlu membuktikannya karena cinta soal hati, dan itu cukup buatku.”

”Bagiku tidak. Kau bohong! Aku membencimu.”

Aku gigit jari. Aku kecewa dan patah hati.

Lalu muncul dia. Lelaki dari kota. Hadir dengan senyumnya yang menawan memberi harapan. Kulitnya harum dan langsat sepertiku. Kerap kubayangkan bila kami menyatu tak ada yang tahu bahwa kami berdua, bukan satu tubuh. Dan tentu saja ia hangat, antara panas dan lembap. Ia lapar dan aku haus, di hubungan kami yang sempat terjeda. Cukup lama hingga rindu mendera.

Kini malam sungguh malam karena awan yang menenteng air berlayar di langit kelam. Mengaburkan cahaya ibu di atas sana hingga buram. Lepas maghrib, pelita rumah penduduk memang sudah padam. Obor La Gole yang menuntun jalan juga telah redup. Kami tiba di sekitar rumah adat Karampuang.

”Kau tunggu di sini sebentar.” La Gole pergi menengok, mencari cara agar aku tidak terlacak sudah kabur.

“Jangan Lama,” kataku setelah ia agak menjauh, pura-pura khawatir.

Ah, lelaki itu memang baik tapi aku harus pamit mengejarmu. Berangkat diam-diam. Aku berlari dengan kain terangkat mengangkangi tanah yang kupijak, kendati sesekali terjungkal karena kesandung akar pohon yang mencuat. Hujan mengejarku seperti mengutuk.

Rustam, kau sudah berada di puncak bukit itu. Banyak peti batu berundak-undak di tempat ini, makam nenek moyang kami yang luhur. Kau basah kuyup sama denganku oleh derai hujan. Ada senter di tanganmu. Ternyata di atas sini tidak terlalu gelap seperti temaram. Paling tidak aku dapat melihat bayanganmu. Sementara jarum-jarum langit masih menyerbu, mengguyur deras, jatuh merintik terdengar menitik dan menerabas. Angin bertiup meliuk sangat kencang. Kau segera memelukku.

“Maafkan aku, datang tidak tepat waktu. La Gole mencegat dan mengancamku sebelum masuk desa. Karena aku, kita terjebak di sini.”

“Tak apa. Bukan salahmu.”

“Sekarang aku siap membawamu pergi.”

“Tidak. Jangan sekarang, di bawah sana begitu rawan. Di sini kita aman.”

”Lalu kau mau kita menunggu di sini sampai pagi?”

”Mungkin. Rustam, aku meminta sesuatu.”

”Apa itu? Akan kupenuhi.”

”Wisuda aku menjadi perempuan seutuhnya, malam ini juga.”

Apakah rasa sakit itu? Bila hasrat terjerembap, ketika birahi yang terpendam peka pada setiap ransangan. Melelehkan kebekuan dan meruntuhkan kekakuan. Aku gigil oleh getar. Di gubuk tua itu, tempat biasanya sesajian di letakkan, aku rebah menerimamu. Sesajen yang baru tadi siang, berhamburan karena ulah kita. Aku ingin perbuatan ini sakral seperti kematian. Rinai-rinai bersenandung seperti berkisah. Aku adalah hikayat perempuan tanpa biduk yang terdampar setelah lelah mengarungi duka. Kini aku luka dan hina. Tak perlu airmata sebab akan kutanggung semuanya.

”Terima kasih,” ucapku setelah usai.

Dan sudah kuduga. Semua makhluk punya mata. Senang mengintip yang terlarang. Lantaran nista mengusik siapa pun sebab baunya tercium tajam. Di kejauhan terlihat obor berkeliaran serupa kunang-kunang. La Gole muncul menaruh mata badik di lehermu. Mukanya murka. Aku mendorongmu supaya terhindar dan langsung melindungimu. Kita berjalan mundur menuju tebing.

***

Puang Sanro pernah meramalkan. Jika perempuan tidak kembali ke dapur, lebih senang keluyuran atau suka berkumpul, maka rentan berbuat dosa. Dan kau, Jubaedah sudah melakukan lebih dari itu. Kau telah haram di hatiku yang meradang. Ah, sebetulnya aku ingin menabur benih di pucukmu yang kuncup. Di tanahmu yang subur bakal tumbuh tanaman berbuah, darah dagingku. Kau memandikan bayi kita di sumur tua yang berkah itu supaya kelak menjadi anak yang patuh. Aku membajak sawah, menanam dan menuai padi, anak kita yang mengembala ternak, dan kau datang membawa makanan. Seandainya saja kau tahu angan-anganku yang sederhana ini, yang tak mungkin terwujud. Dan segalanya sirna saat kudapati pakaianmu berceceran ke mana-mana.

”Bangsat kau, Rustam. Kubunuh kau!”

”Berani menyentuhnya, aku lompat dalam jurang.”

Kau mengancam dan aku masih hirau. Aku merintih dalam amuk saat kau menyuruh Rustam hengkang dari kampung ini tanpa dijera. Kulempar lelaki durjana itu dengan sekepal batu hingga ia tersungkur, lalu bangkit tersaruk-saruk. Kau telah mendurhakai tanah keramat ini, sadarkah kau? Argh! Jubaedah, wajahmu yang bersinar dalam balutan pakaian putih yang menyejukkan hari-hariku kala memandangmu telah berubah busuk bagai bangkai. Kelak, kau dianggap tidak pernah ada.

Hari berganti, begitu pun bulan berlalu, dan tahun terus bertambah. Sejak peristiwa malam itu, namamu tak pernah lagi disebut nyaris dilupakan. Kau dikurung di rumah adat Karampuang di atas loteng untuk dikuduskan kembali entah sampai kapan. Tidak seorang pun diperkenankan menemuimu dan tak ada yang tahu bagaimana rupamu sekarang. Hingga pada suatu pagi, kami dikejutkan oleh kehadiran seorang bocah yang belum pernah kami lihat sebelumnya, muncul begitu saja, turun dari tangga rumah adat Karampuang bagai baru dilahirkan. Melihat dunia luar dengan muka gembira. Berlari lincah, berkeliaran seperti ingin mencari ayahnya.

***

Depok, 270908

(Kutulis ketika merindukan kampung halaman)

Catatan:

Karampuang: dusun yang terletak di puncak bukit 1000 meter dari permukaan laut, di Desa Tompobulu kecamatan Bulupoddo kabupaten Sinjai, Sulawesi Selatan. Masih memegang adat kuno dan alergi dengan teknologi. Rumah adatnya menyimbolkan sosok perempuan yang harus dijaga kehormatannya.

Mappugau Sihanua: Setiap tahun di pekan pertama bulan November diadakan pesta sebelum bercocok tanam setelah menikmati panen melimpah sebagai tanda syukur, tujuh hari tujuh malam.

Puang: kata sandang untuk orang yang dituakan atau yang dihormati.

Gella: pemangku yang melaksanakan hukum yang berlaku di Karampuang.

Arung: ketua adat atau raja yang jarang bicara tapi sekali bicara adalah tuah yang tak terbantahkan. Hidup matinya Karampuang ada di tangannya.

Sanro: pemimpin spritual di setiap prosesi adat yang harus dijabat oleh perempuan atau lebih tepatya disebut dukun.

To Manurung: nenek moyang orang Karampuang berwujud perempuan.

Tomatoa: nama rumah adat Karampuang.

Mengejar Kupu-kupu

Cerpen Noor H. Dee Sumber: Kupu-Kupu dan Tambuli. Jakarta: Dewan Kesenian Jakarta, 2008 Usia pagi masih belia. Matahari baru saja merangkak dari balik ranting-ranting pepohonan. Mega-mega bersepuh susu berarak lambat melintasi cakrawala. Terlihat Aryani berlari-lari kecil mengejar kupu-kupu di halaman rumahnya yang rumputnya sangat terpelihara. Papanya sedang duduk di beranda membaca koran. Mamanya sedang berada di dalam kamar menonton televisi. Aryani mengejar kupu-kupu. Aryani mengejar kupu-kupu dan rambutnya yang dibiarkan tergerai itu melambai-lambai ke sana-ke mari mengikuti gerak-gerik tubuhnya yang saat itu terlihat begitu lincah dan gemulai. Ia berlari-lari, melompat-lompat, dan sesekali hampir terjatuh karena semangatnya yang menggebu-gebu itu membuat ia lupa untuk mempedulikan keseimbangan tubuhnya. Tetapi, setiap kali ia ingin terjatuh, dengan cepat dan cekatan ia langsung menyeimbangkan gerakannya itu, sehingga ia tidak sampai terjatuh. Kedua tangannya yang mungil itu terlihat begitu gemulai menggapai-gapai udara, mencoba meraih kupu-kupu. Kupu-kupu genit. Kupu-kupu centil. Kupu-kupu bersayap biru. Terbang rendah di atas kepala Aryani. Kupu-kupu bersayap biru itu terus melayang-layang dengan kepakan sayapnya yang anggun, seperti sengaja menggoda Aryani supaya terus mengejarnya. Kupu-kupu itu melayang-layang, berputar-putar, terkadang harus melesat dengan cepat setiap kali ingin terenggut oleh jari-jari kecil Aryani, yang walaupun kecil tetap saja bisa meluluh-lantakkan kedua sayapnya yang meskipun indah tetap saja begitu rapuh dan mudah hancur. Aryani mengejar kupu-kupu. Aryani mengejar kupu-kupu dengan pandangan mata berbinar-binar. Mulutnya menganga. Ia terus mengejar. Kupu-kupu melayang ke kiri. Aryani ikut berlari ke kiri. Kupu-kupu melesat ke kanan. Aryani terus membuntuti. Kupu-kupu berputar-putar. Aryani melompat-lompat. “Aku tangkap kamu. Aku tangkap kamu,” ujar Aryani sambil terus memburu. Aryani tidak tahu dari mana kupu-kupu itu berasal. Kupu-kupu itu hadir begitu saja, tanpa permisi, di luar jendela ketika ia sedang asik bermain boneka sendirian di dalam kamar. Ketika melihat kupu-kupu itu, ia langsung berseru,”Kupu-kupu! Kupu-kupu!”, dan ia langsung mengejar. Boneka yang saat itu berada di genggamannya langsung ia lemparkan begitu saja ke atas tempat tidur. Kedua orang tuanya tidak ada yang tahu kalau anaknya yang mungil itu kini sudah berada di halaman rumah sedang mengejar kupu-kupu bersayap biru. Papanya masih asik membaca koran di beranda. Mamanya masih setia menonton televisi di dalam kamar. Dan, tibalah Aryani di depan pintu pagar rumahnya yang terbuka lebar. Sekejap ia terdiam. Langkah-langkah lari kecilnya terhenti. Ia melihat kupu-kupu itu melayang-layang di depan pintu pagar rumahnya. Kupu-kupu itu membalikkan tubuhnya, menghadap ke arah Aryani. Mereka berdua saling beradu tatap. Kupu-kupu itu terlihat seperti menggoda. Di telinga Aryani, kupu-kupu itu seperti mengeluarkan suara. “Coba tangkap aku kalau memang kamu mampu! Coba tangkap aku!” Aryani masih terdiam. Angin berembus. Daun-daun kering berjatuhan. Rambutnya yang dibiarkan tergerai itu bergerak-gerak halus. Ia menatap pintu pagar rumahnya yang terbuka lebar, seperti memang mempersilakan dirinya untuk terus mengejar. Setelah itu, ia menolehkan kepalanya ke belakang. Terlihat Papanya masih asik membaca koran. Ia mengalihkan pandangannya, menatap ke sebuah jendela yang gordennya tersibak. Di dalam kamar itu, ia melihat Mamanya masih setia menonton televisi. Tidak ada yang memperhatikan dirinya. Kemudian ia kembali menatap kupu-kupu itu. Kupu-kupu itu masih berada di situ, di depan pintu pagar rumahnya. Tidak kemana-mana. Kupu-kupu itu cuma melayang-layang di tempat, seperti sedang menuggu Aryani agar segera kembali mengejarnya. Aryani berfikir sejenak. Kejar. Tidak. Kejar. Tidak. Kedua telinganya kembali mendengar kupu-kupu itu seperti mengeluarkan suara. “Coba tangkap aku kalau memang kamu mampu! Coba tangkap aku!” Kejar! Teriak Aryani dalam hati. Tetapi, sebelum mengejar, ia kembali menoleh ke belakang. Kedua orang tuanya masih tetap seperti tadi. Papanya sedang membaca koran. Mamanya sedang menonton televisi. Karena merasa tidak ada yang memperhatikan dirinya, ia langsung berjalan ke luar rumah untuk kemudian segera kembali mengejar kupu-kupu bersayap biru itu. “Aku akan menangkapmu! Aku pasti akan mampu menangkapmu!” Dan, kini Aryani sudah berada di luar pagar rumahnya. * Aryani mengejar kupu-kupu. Aryani mengejar kupu-kupu bersayap biru yang terus melayang-layang di dekat kepalanya. Ia berlari dengan laju yang tidak begitu cepat. Para tetangga yang melihatnya langsung bertanya. “Kamu sedang mengejar apa, Aryani? Mengapa kamu berlari-lari seperti itu?” “Aku sedang mengejar kupu-kupu. Aku ingin menangkap kupu-kupu.” “Kupu-kupu? Mana kupu-kupunya, Aryani?” “Itu! Itu! Kupu-kupu bersayap biru.” “Mana? Kok, kami tidak melihatnya?” “Aku melihatnya! Aku melihatnya!” Orang-orang menatap Aryani dengan pandangan mata bertanya-tanya. Mereka sama sekali tidak melihat seekor kupu-kupu yang kata Aryani bersayap biru itu. “Apakah kamu melihat seekor kupu-kupu yang sedang dikejar-kejar oleh Aryani itu?” tanya seseorang kepada seseorang yang lain. “Tidak. Aku tidak melihatnya.” “Aku juga.” “Aku juga.” “Kupu-kupu? Mana kupu-kupunya?” “Entah.” Orang-orang tidak ada yang melihat seekor kupu-kupu. Mereka hanya melihat Aryani, gadis mungil berusia delapan tahun, yang berlari-lari kecil dengan kedua tangan mungilnya yang menggapai-gapai udara, yang matanya berbinar, yang mulutnya menganga, yang rambutnya dibiarkan tergerai. “Aryani, jangan berlari terlalu jauh. Nanti kamu tersesat!” teriak seorang tetangga kepada Aryani. Tapi, Aryani tidak mendengarnya. * Aryani mengejar kupu-kupu. Aryani mengejar kupu-kupu dan gaunnya yang berwarna kuning dengan motif bunga-bunga itu terus berkibar-kibar setiap kali kaki-kakinya menghentak-hentak permukaan aspal. Rambutnya melambai-lambai. Matanya berbinar-binar. Ah, ah, ah, mengapa matanya bisa begitu berbinar-binar padahal cuma menatap seekor kupu-kupu? Kupu-kupu yang sedang diburunya itu memang tidak dapat dipungkiri lagi keindahannya. Tetapi, bukankah kupu-kupu memang selalu seperti itu? Memang indah, memang anggun, memang aduhai—meskipun memang ada juga kupu-kupu buruk rupa yang bersayap kelabu. Tetapi, kupu-kupu yang bisa dikatakan indah itu memang selalu seperti itu, bukan? Sama seperti yang sedang dikejar-kejar oleh Aryani. Tidak ada yang aneh. Bukan sesuatu hal yang perlu diistimewakan. Namun, mengapa mata Aryani bisa terlihat begitu berbinar-binar? Selain keindahannya, keistimewaan apakah yang dimiliki kupu-kupu itu? Aryani mengejar kupu-kupu. Kini ia sudah berada jauh dari rumahnya. Ia berlari di atas trotoar, tanpa peduli dengan asap-asap hitam yang menyembur dari lubang knalpot dan mengganggu pernafasannya. Sesekali ia terbatuk, tetapi ia tidak peduli. Dari matanya yang berbinar itu, tidak tampak secuil pun tanda-tanda untuk berhenti. Meskipun sudah berpuluh-puluh peluh mencuat dari dalam pori-pori dan menyelimuti segenap tubuhnya, ia masih saja terus berlari-lari, terus melompat-lompat, dengan kedua tangan menggapai-gapai udara, mencoba meraih kupu-kupu bersayap biru itu. Aryani mengejar kupu-kupu. Aryani mengejar kupu-kupu dan tubuhnya yang mungil itu telah diselimuti peluh. Orang-orang yang sedang berada di pinggir jalan menatapnya dengan pandangan mata bertanya-tanya. “Lihat, gadis kecil itu seperti sedang mengejar sesuatu.” “Lihatlah, mata gadis kecil itu berbinar-binar.” “Ih, orang tua macam apakah yang membiarkan anak gadisnya bermain di pinggir jalan? Kasihan gadis itu. Kasihan.” “Bisa tertabrak ia nanti.” “Tetapi, gadis kecil itu sedang mengejar apa, ya?” “Barangkali ia sedang mengejar sesuatu.” “Sesuatu apa?” “Entah.” Tidak ada yang tahu kalau Aryani sebenarnya sedang mengejar kupu-kupu bersayap biru. Aryani mengejar kupu-kupu. Kini ia berada di tengah jalan. Lalu lintas menjadi kacau. Sebuah sedan berhenti tiba-tiba ketika Aryani melintas. Seorang sopir taksi membanting setirnya dan seorang penumpang di belakangnya berteriak sambil beristighfar. Seorang pengendara sepeda motor yang merasa tidak punya cukup waktu untuk menginjak rem, dengan terpaksa manabrak taksi tersebut. Orang-orang yang berada di pinggir jalan sebagian besar menutup matanya karena tidak tega melihat bagaimana tubuh pengendara sepeda motor itu melayang-layang di udara dan kemudian tersungkur ke aspal dengan posisi kepala di bawah. Jalan raya menjadi macet. Klakson-klakson berbunyi memekakkan telinga. Orang-orang yang berada di dalam mobil langsung mendekatkan kepalanya ke jendela. Beberapa pengendara sepeda motor menghentikan lajunya dan melepas helmnya. Semua orang penasaran ingin mengetahui apa yang sebenarnya telah terjadi. Dan, terlihatlah Aryani sedang berlari-lari seperti sedang mengejar sesuatu. Aryani mengejar kupu-kupu. Aryani mengejar kupu-kupu dengan peluh bercucuran dan membasahi gaunnya. Berpuluh-puluh jembatan telah ia seberangi. Berpuluh-puluh kelokan telah ia lalui. Namun kupu-kupu itu belum juga berhasil ia raih. Kupu-kupu itu begitu lincah. Aryani belum memutuskan untuk menyerah. Tiba-tiba, kupu-kupu itu berhenti. Entah mengapa. Dengan sisa tenaga, Aryani langsung melompat dengan tangan terjulur ke depan. Hap! Aryani berhasil. Kupu-kupu itu kini sudah berada di dalam genggamannya. Karena takut terlepas, Aryani menguatkan genggamannya. Aryani membuka telapak tangannya dengan sangat hati-hati. Dan tampaklah seekor kupu-kupu yang mengerikan. Sayapnya yang biru itu kini rusak dan patah-patah. Tubuhnya gepeng dan mengeluarkan cairan entah apa. “Hiii...” Aryani membuang kupu-kupu itu dengan perasaan jijik. Tetapi, kupu-kupu itu tak dapat terlepas dari telapak tangannya. Kupu-kupu itu menjadi lengket, merekat, semakin merekat. Aryani merasakan kupu-kupu itu merasuk ke dalam tubuhnya. Tiba-tiba tubuh Aryani mengeluarkan sinar. Putih. Amat putih. Menyilaukan. Setelah itu, sinar itu menghilang dan Aryani berubah menjelma seekor kupu-kupu. Aryani yang telah menjadi seekor kupu-kupu itu pun melayang-layang di udara, mencari jalan untuk pulang. Dalam terbangnya ia menangis. * Aryani sang kupu-kupu kini sudah berada di depan rumahnya. Ia melihat Papanya masih membaca koran di beranda. Mamanya masih asik menonton televisi di dalam kamarnya. Aryani sang kupu-kupu menangis. Kedua orang tuanya tidak ada yang mengetahui bahwa anaknya yang mungil itu telah berubah menjelma seekor kupu-kupu. Dengan perasan yang begitu terluka, ia memasuki halaman rumahnya dan terbang menghampiri jendela kamarnya. Tetapi, di dalam kamarnya itu ia melihat dirinya sedang bermain boneka, yang tiba-tiba saja langsung menatap ke arahnya. Ia melihat dirinya menunjuk-nunjuk ke arahnya, sambil berteriak. “Kupu-kupu! kupu-kupu!”

Seribu Kunang-Kunang di Kaki Arjuna

Kamis, 19 Agustus 2010

Cerpen Hafi Zha Pagi. Udara dingin menusuk tulang. Kabut masih menutup jalan. Linda masih kelihatan mengantuk, wajahnya kusut dengan rambut panjangnya yang acak-acakan. Matanya setengah terpejam ketika seorang laki-laki separuh baya duduk di sampingnya. ”Permisi, Nak.” ”Oh, monggo[1] Pak.” Segera Linda merapikan dirinya. Tak ingin ia kelihatan kumal di hadapan seorang bapak yang berpakaian rapi dengan peci bertengger di kepalanya. Linda melemparkan senyum ke bapak yang telah duduk di sampingnya. Bapak itu pun membalas senyum Linda. ”Nyuwun sewu[2], Pak. Bapak ke Surabaya juga?” Linda membuka percakapan. Ia berusaha untuk ramah dengan orang yang baru dikenalnya. Ini bisa jadi pelajaran pertama buatku di hari ini, pikir Linda dalam hati. ”Inggih[3], Nak. Nak sendiri?” ”Sama, Pak. Kerja.” ”Cah bagus....” Linda menunggu lanjutan kata-kata bapak itu namun tak kunjung ia dengar. Ia pandangi wajah laki-laki itu yang sekarang berubah muram, seakan ada awan mendung yang menyelimutinya dan siap menurunkan hujan. Linda begitu tertarik untuk terus memandangi wajah yang tidak lagi muda itu, namun ada sesuatu yang tersembunyi di balik gurat-gurat wajah itu. Linda tak meneruskan niatnya, tak sopan pikirnya. Linda mengalihkan matanya ke bawah, mengamati sepatu bututnya yang setia menemaninya pergi kerja. Diliriknya kaki yang ada di sebelahnya. Hitam legam karena sering tersengat matahari dengan urat-urat yang nampak. Bapak ini mestlah seorang pekerja keras. Linda merasakan kerinduan yang membuncah tiba-tiba kepada ayahnya. Tersentak Linda dari lamunannya ketika mendengar laki-laki di sampingnya menghembuskan nafas seakan-akan ada beban yang menghimpit dirinya. Linda kembali menoleh kepada bapak tersebut. ”Cah bagus. Andai saja anakku kayak kamu, Le. Bapak pasti bahagia tenan... la iki cah iku ndak bisa....” Kata-katanya kembali terputus. Bapak itu yang semula tenang menjadi emosi. Linda bingung ketika Bapak tersebut tertunduk dan terisak. Pastilah ada beban yang begitu berat yang disimpan Bapak ini sampai menangis seperti ini. Laki-laki pantang untuk menitikkan air mata di hadapan orang, ayah Linda berpesan kepadanya. ”Pak, Pak, sudah Pak...setiap masalah pasti dikasih jalan keluar sama Gusti Allah.” Linda memberanikan diri menyentuh pundak bapak yang sedang terisak tersebut. Ia heran sendiri ketika ia bisa berkata seperti itu kepada orang yang jauh lebih tua darinya. Aku ini kok sok bijaksana to, pikir Linda. Ia terus berusaha untuk menenangkan bapak di sampingnya. Bayangan ayahnya berkelebat di benak Linda. Inikah yang dulu ayah alami waktu dulu. Suara derum bis mengiringi isakan Bapak yang terus memegang mukanya berusaha untuk menutupi wajahnya yang kelam. Tidak seperti tadi dimana penumpang masih sepi, bis sudah penuh dengan orang-orang yang punya kesibukan masing-masing di hari ini. Remaja putri berseragam putih biru cekikikan bersama teman-temannya, asyik dengan obrolan mereka. Kondektur bus yang berteriak,”Suroboyo, Suroboyo....”. Wanita dengan rok mininya dan make up-nya yang tebal baru saja naik, melempar senyum pada Linda yang memang persis duduk dekat pintu masuk bis. Linda tak membalas karena ia jengah dengan wanita yang berdandan seronok seperti itu. Ah, mungkin itu adalah tuntutan kerjanya tapi mbok ya jangan berlebihan, Linda membatin. Linda kembali menekuri Bapak yang di sampingnya yang isaknya mulai berkurang, mungkin karena sadar ia berada di tempat umum dan setiap saat orang bisa memperhatikannya. ”Maaf, Le. Bapak kebawa perasaan. Bapak ingat anak Bapak, mungkin seumuran kamu, Le.” Linda menghela nafas, barulah dia mengerti apa yang sedang dialami Bapak dihadapannya sekarang. Kembali ia teringat kata-kata ayahnya. ”Kowe iki, cah lanang siji-sijine, ora iso diatur. Ayah Ibumu didik kowe biar dadi wong apik. Ayah iki wis tua, Da, sudah dekat dengan kematian. Sopo sing neruskan usaha Ayah jika Ayah mati, yo kowe, Le.” Malam yang takkan pernah Linda lupakan. Ibu menangis ketika Linda tak jua mau mendengarkan kata-kata Ayah. Srikandi, adik perempuannya juga turut menangis. Terasa hawa rumah membara, siap untuk meledak karena penghuninya saat itu tak ada yang mau mengalah. Linda tetap dengan keinginannya untuk hidup dengan gunung-gunungnya, cintanya pada tempat yang yang tinggi di atas bumi. Linda ingin bebas, hidup dengan impiannya sendiri tanpa ingin diusik dengan urusan-urusan yang mengikat dirinya, termasuk meneruskan usaha meubel Ayahnya. Malam itu juga, Linda memutuskan untuk angkat kaki dari rumahnya. Meninggalkan tangis Ibu dan Srikandi serta nasihat-nasihat Ayahnya. Linda ingin bebas walau ia harus mengorbankan orang-orang dicintainya demi gunung-gunung yang tegak menjulang di muka bumi. Seminggu, dua minggu, sebulan, enam bulan Linda berkelana dari satu gunung ke gunung lain. Hingga sampailah ia di gunung Arjuna. Di sinilah pengembaraan Linda berakhir. Ia serasa menemukan tempat kelahirannya. Linda Arjunaswara bertekuk lutut di kaki Arjuna. Ia tak merasa kalah. Namun sebaliknya ia menemukan kemenangan di sini. Ia mendapat arti hidup yang sebenarnya. Slamet, Gede, Salak, Merapi tak mampu mengantarkannya pada dunia yang tak pernah ia sentuh. Cahaya yang datang menyinari hatinya yang gulita, setitik air yang menyiram kegersangan hatinya, kerinduannya pada Ibu dan Srikandi. Semuanya terobati ketika ia mengenal bidadari di Arjuna. Wulan, wanita yang mampu meruntuhkan tembok kekerasan yang membentengi hati Linda. Wulan yang mengenalkannya pada kedamaian hakiki. Ah, Wulanku, kau bidadariku, penyelamatku. ”Dia ora iso diatur, dinasihati mendhal kabeh. Bapak kepengen dia dadi wong apik. Kerja sing bener. Ora nongkrong-nongkrong lupa waktu, dolin ae... Joko, Joko... saiki ora ngerti cah iku dimana. Bapak wis nyerah nuturi, Le,” Kata-kata Bapak itu terpotong oleh kernet yang berteriak pada penumpang. ”Nusa Dua, Nusa Dua...yo Nusa Dua!” Bis berhenti menurunkan penumpang yang turun di Nusa Dua, termasuk wanita yang berpenampilan seronok tadi. Kembali wanita itu melemparkan senyum kepada Linda, Linda membuang muka. Ia ingat wajah Wulan yang ayu nan lembut di rumah. ”Bapak bangga kalo punya anak kayak kamu. Biar pun dari penampilan rodo sangar tapi mau nyambut gawe, pagi-pagi wis berangkat kerja.” Linda merasa tersindir mendengar kata-kata bapak itu tapi ada perasaan bahagia karena usahanya dihargai. Andai Ayah masih hidup tentu juga bangga melihat aku yang sekarang, pikir Linda. ”Bapak terlalu membesarkan. Saya mesti kerja buat ngasih makan anak istri saya, Pak.” ”O, dadi wis duwe istri to? Yen wis berkeluarga yo mesti tanggung jawab, nyambut gawe. Kerja napa, Le?” “Usaha meubel, Pak. Neruskan usaha Ayah.” “Bagus, bagus….Bapak doakan moga lancar usahane.” “Amin, matur suwun, Pak.” Linda dan Bapak tua terdiam. Sibuk dengan pikirannya masing-masing. Kondektur terus meneriakkan tempat yang dituju oleh penumpangnya. Bis menderu di antara kendaraan-kendaraan lainnya. Membelah arus lalu lintas yang mulai padat. Bis sudah hampir sampai di terminal Bungurasih. Tiba-tiba bapak tua itu menyentuh pundak Linda. ”Bapak turun duluan yo, Le. Hati-hati. Matur suwun mau mendengarkan cerita Bapak. Assalamu’alaikum.” “Sama-sama, Pak. Wa’alaikumsalam.” Bapak itu pun turun bersama penumpang lainnya sebelum bis sampai di Bungurasih. Linda menghembus nafas. Ada kelegaan yang ia rasa. Ia masih sempat menemukan jalan untuk kembali. Jalan kembali menuju harapan-harapan ayah ibunya. Walau tak sempat ayah melihatku yang sekarang, tentu ayah bangga di alam sana. Bis sudah masuk Bungurasih. Hampir jam sembilan, terminal sudah ramai. Penuh dengan penumpang yang masuk dan keluar Bungurasih. Para pedangang asongan, loper koran, calo-calo simpang siur. Di antara laki-laki, perempuan, anak kecil, tentulah para copet sedang bersiap untuk melancarkan aksi mereka. Di sini memang rawan kalau tidak berhati-hati, waspada. Sudah berapa kali bis keluar masuk, suara mesinnya yang membisingkan telinga ditambah dengan musik dangdut koplo yang diputar penjual VCD di emperan terminal, bikin telinga jadi pekak. Lekas Linda mengayunkan langkah menuju angkot yang ia tuju. Salah satu rutinitas yang harus ia lalui tiap pagi sebelum tiba di tempat usahanya. Aku sih betah tinggal di rumah, memandangi Wulan yang makin hari makin cantik, apalagi sekarang Wulan mengandung anak kami yang pertama. Pikiran nakalku main. Ah piye to Linda, kowe mesti nyari duit buat Wulan dan anakmu yang mo lahir. Cepat-cepat Linda naik angkot yang sudah hendak berangkat. Sekali lagi ia merasakan kelegaan. Sore hari. Sehari sudah terlewati oleh Linda. Ia bersemangat untuk segera sampai di rumah. Bertemu dengan Wulan dan kembali mengusap-ngusap perut Wulan. Selepas ashar, Linda sudah berada kembali di dalam bis. Udara sore hari membuat Linda merasa nyaman. Ia hirup dalam-dalam hingga paru-parunya terisi penuh dengan udara yang sejuk. Sama seperti pagi tadi, ia dapat menempati tempat duduk yang duduk dekat jendela. Tempat yang strategis karena ia bisa menikmati pemandangan yang disuguhkan di sepanjang perjalanan pulangnya, di sore hari. Linda kembali teringat Bapak yang ia temui di bis pagi tadi. Tak sempat ia menanyakan alamatnya. Jika aku tahu alamatnya tentu sekali waktu aku bisa datang berkunjung, sekedar menghibur beliau. Bis telah masuk Lawang. Linda terpaku pada pemandangan alam di luar bis. Ia lirik arloji yang menempel di pergelangan kirinya, lima lima belas. Sebentar lagi lukisan alam akan disuguhkan kepadanya. Linda hafal benar kapan pemandangan itu akan tampil penuh dengan pesona. Cahaya itu menghidupkan hatinya. Tingginya mengingatkan ia terhadap kuasa Tuhan. Keindahannya membuat ia tak henti bersyukur. Saat ini belum ia temukan suguhan yang sebenarnya. Sebentar lagi...ya sebentar lagi. Dan... Ya akhirnya, lukisan alam kini terhampar di depan matanya, ia lihat seutuhnya. Cahayanya yang tersebar di kakinya. Berkelap-kelip seolah-olah kunang-kunang yang hinggap di hijaunya batang pohon yang besar. Berkelap-kelip di kaki Arjuna. Arjuna, tempat ia menemukan cahaya yang sesungguhnya, tempat ia menemukan belahan hatinya, tempat ia merasa terlahir kembali dengan nama yang ia bangga menyandangnya, Linda Arjunaswara. Beberapa saat Linda terhanyut dalam keasyikannya menikmati Arjuna dengan kelap-kelip kunang-kunang di kakinya. Tiba-tiba pundaknya ditepuk dengan sangat lembut dari samping. Tersentak Linda dari keasyikannya. Menoleh ke sumber tepukan tadi. ”Pa Kabar, Nak?” Bapak yang tadi pagi? Linda menjerit dalam hati. Kapan beliau naik, rasanya bis tidak berhenti menaikkan penumpang. ”Eh...Bapak, saya kira sapa, Pak.” Bapak itu tersenyum Senyumnya kali ini tampak lebih lepas. Pecinya masih bertengger rapi di kepalanya. Sorot matanya tak lagi menyiratkan kegelisahan. Linda kembali merasa lega. ”Alhamdulillah, baek, Pak.” ”Alhamdulillah....” ”Bapak badhe wangsul?” Linda merasa kikuk mendapatkan tatapan lembut Bapak tua itu. Kembali ia teringat Ayahnya. Bapak tua itu mengangguk pelan dengan senyum yang terus menghias wajah keriputnya. ”Ya, Le. Wangsul. Bapak lega, Le. Kepulangan Bapak pasti ditunggu istri Bapak. Bapak senang bisa kumpul lagi dengan istri Bapak. Sudah setahun kami ndak bersama-sama.” Linda mengernyitkan dahi. Tidak berkumpul selama setahun, emangnya istrinya dimana? Linda merasa ada kejanggalan tapi ia tak bernai bertanya lebih lanjut. Takut mencampuri urusan pribadi orang. ”O.... Memang, Pak, seharian ndak ktemu ma istri dadi kangen, Pak.” Keduanya tertawa. Linda sempat melihat perempuan yang duduk di depannya menoleh padanya. Tatapan matanya aneh. Begitu juga dengan laki-laki yang duduk paling depan, turut menatapnya dengan heran. Linda tak mengacuhkan mereka. Kembali ia berbicara dengan Bapak tua. ”Bapak turun dimana?” ”Di depan, sebentar lagi.” Linda kebingungan melanjutkan percakapannya dengan Bapak tua. Seolah-olah mengerti apa yang ada dibingungkan oleh Linda, Bapak itu kembali berceloteh. ”Dari tadi Bapak perhatikan, kamu ngliatin Arjuna trus. Pernah ke sana to?” Linda tertegun. Darimana Bapak ini tahu kalau aku sedang memperhatikan Arjuna? Rasanya belum sampai lima menit Bapak ini duduk di sini. Aneh. Linda menepis rasa penasarannya. Sempat ia lirik jam di tangannya, hampir pukul enam. Adzan maghrib pun sudah dikumandangkan. ”Oh...dulu pernah, Pak. Di sanalah saya ktemu dengan istri saya.” ”Oalah...makane serius tenan ngliatin Arjuna.” Bapak itu kembali tersenyum. Sungguh sangat berbeda dengan sosoknya yang dijumpai Linda tadi pagi. Tapi, Linda menangkap ada hal yang aneh dari sosok laki-laki di hadapannya. Sedari tadi memang Bapak itu tersenyum dan wajahnya tampak bahagia, namun semua itu tidak menutupi kepasiannya. Wajahnya putih pasi. Seakan disinari oleh cahaya yang entah darimana datangnya. Seperti cahaya kunang-kunang di kaki Arjuna, Linda betah untuk menerima cahaya yang memancar dari wajah Bapak tua itu. ”Nyuwun sewu, Bapak sakit? Wajah Bapak pucat.” Bapak itu tetap tenang, tak lupa senyumnya masih bertengger di bibirnya yang hitam. Tiba-tiba Bapak itu mengarahkan telunjuknya ke arah Arjuna. Kontan Linda mengikuti arah yang ditunjuk oleh Bapak itu. Dilihat oleh Linda, Arjuna tampak semakin gagah. Di keremangan cahaya senja, Arjuna menjadi misterius. Senja yang indah dengan kelap-kelip cahaya lampu neon dari rumah di kaki Arjuna. Seratus, lima ratus, tujuh rarus, atau bahkan seribu cahaya yang menghias Arjuna. Kunang-kunang yang indah, membuat Arjuna semakin indah. Linda takjub, seakan ia menyatu dengan apa yang terhampar di depannya sekarang. Ia adalah bagian dari semua itu. Akan ia ceritakan sesampainya di rumah kepada istrinya tentang apa yang dilihatnya sekarang ini. Khusyuk Linda terusik oleh teriakan kernet, bis berhenti menurunkan penumpang. Yang turun adalah seorang perempuan. Linda lantas berpaling hendak berbicara kepada Bapak tua. Namun, Bapak tua tak ada lagi di sampingnya. Linda terkaget, kapan beliau turun? Linda melihat ke sekelilingnya, mungkin saja Bapak tua itu pindah tempat duduk yang lebih nyaman. Tidak ada. Linda hanya mendapati kembali tatapan aneh dari laki-laki yang duduk di depannya. ”Napa, Mas? Wis sadar ta? Dari tadi saya liat Mas ngomong dhewe...Sudah saya tegur tapi Mas ndak merhatiin.” Laki-laki itu geleng-geleng kepala, tersenyum seakan menertawakan kebodohan Linda. Ngomong sendiri? Linda semakin bingung, dia tadi sedang bercakap-cakap dengan Bapak tua itu, kenapa dia dianggap ngomong sendiri. ”Saya ndak ngomong sendiri kok, Pak. Tadi ada Bapak tua ngobrol-ngobrol ma saya. Mosok Bapak ndak liat?” “Mas iki ojo ngawur to? Capek yo capek, Mas, tapi ojo dadi wong sing ndak waras.” “Bener, Mas. Mas dari tadi ngomong sendiri. Saya juga dah negur Mas...eh tapi ndak digubris.” Perempuan yang juga tadi melihat Linda dengan tatapan aneh ikut memberikan penjelasan kepada Linda. Linda semakin tidak mengerti. Ia merasa benar-benar sedang bercakap-cakap dengan Bapak tua itu. Lalu bapak itu kemana sekarang. Apa memang benar aku ngomong sendiri yo? Linda merasa ia terbawa perasaannya, rindu terhadap sosok ayahnya yang terwakili dengan hadirnya Bapak tua tadi. Itulah yang ada di benak Linda sekarang. Ia tak habis pikir, kenapa ia menjadi seperti ini. Dua orang yang mengatakannya berbicara sendiri. Apakah tidak cukup kuat untuk membuktikan itu semua. Linda menggeleng-gelengkan kepalanya. Menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Ia membuang muka ke jendela. Arjuna sudah tak kelihatan lagi. Di luar hari semakin gelap. Dengan rasa penasaran yang masih tersimpan di kepalanya. Arjuna bangkit dari tempat duduknya. Ia akan turun di depan. Sebelum beranjak, laki-laki yang tadi berpesan kepadanya, ”Hati-hati, Mas. Ojo nglamun ae...engku kesambet.” Linda tersenyum kecut padanya. Linda berdiri dekat sang kernet dan memberi isyarat agar bis berhenti di depan. Namun, bis direm mendadak oleh si sopir. Linda terkejut, untung pegangannya cukup kuat pada palang besi. ”Oalah...ono kecelakaan ning ngarep.” Si sopir berbicara keras. Sengaja agar penumpang tahu apa yang mengakibatkannya mengerem bis tiba-tiba. ”Turun di sini saja, Mas. Daripada turun di depan.” Akhirnya Linda turun sebelum tempat dimana seharusnya ia turun. Linda berjalan menyisiri jalan yang lumayan macet gara-gara ada kecelakaan tersebut. Polisi sibuk mengatur lalu lintas agar tidak bertambah macet. Orang-orang ikut-ikutan meramaikan kemacetan itu. Mereka penasaran dengan korban yang ternyata masih ada di sana. Linda heran kenapa orang-orang tidak merasa ngeri, mereka malah mencari-cari tahu si korban yang telah ditutupi koran. Tabrak lari. Laki-laki tua ditabrak kijang yang ngebut. Selintas Linda mendengarnya sembari ia terus berjalan menuju perhentian angkot di depan. Linda tidak terlalu menghiraukan situasi itu, ia terus berjalan sembari mengingat-ingat kejadian di bis tadi. Langkahnya terhenti ketika ia melihat sebuah peci hitam. Peci yang tergeletak di pinggir jalan, tak jauh dari tempatnya berdiri. Ia langsung teringat bapak tua dengan pecinya. Ia berlari kembali ke tempat korban kecelakaan yang sudah ia lalui. Terlambat. Korban mulai diangkat ke ambulance. Di tengah desakan orang-orang, Linda menangkap wajah korban yang kainnya tersingkap. Tidak jelas memang. Tapi wajah itu disinari cahaya yang entah darimana datangnya. Wajah yang ia dapati tadi di bis.
Jombang di siang hari, 12 Juni 2006
Footnote [1] silahkan [2] permisi [3] iya

Sepasang Mata untuk Cinta yang Buta

Selasa, 10 Agustus 2010

Cerpen Noor H. Dee Dimuat dalam buku Sepasang Mata untuk Cinta yang Buta (Lingkar Pena Publishing House, 2008) Seperti biasa, setiapkali aku datang, mereka selalu memintaku untuk bercerita. Kali ini mereka menyuruhku untuk membawakan sebuah cerita yang tidak masuk akal. Alasannya apa, aku tidak tahu. “Ceritakanlah kepada kami tentang sesuatu yang tak dapat diterima oleh akal.” Begitu pinta mereka tadi. Maka aku pun bercerita tentang Cinta yang buta.
*
Cinta lahir tanpa mata. Itu sebabnya Cinta tidak pernah tahu seperti apa rupa cahaya. Hanya kegelapan yang selalu menyertai kehidupannya. Pagi, siang, senja, malam, baginya sama saja. Gulita. Tetapi, seiring dengan berjalannya sang waktu, akhirnya Cinta mengerti juga betapa pagi dan malam tidaklah sama. Cinta mengetahui hal itu melalui semesta suara. Suara-suara di pagi hari amatlah berbeda dengan suara-suara yang didengarnya di malam hari. Cinta memang buta, tetapi Cinta masih memiliki kedua telinga untuk mendengar segala jenis suara. Cinta mengetahui banyak hal dengan mendengar. Cinta melihat dunia dengan kedua telinga. Cinta adalah seorang gadis yang buta. Rambutnya sebahu, hitam, dan bergelombang. Hidungnya mancung dan bibirnya berwarna merah, semerah buah tomat. Kulit tubuhnya halus dan putih, seputih sekumpulan awan-gemawan yang selalu bergulung-gulung melintasi cakrawala. Belum lagi leher, dada, dan kakinya yang terlihat begitu indah dan menakjubkan untuk dimiliki oleh seorang gadis seusianya. Seandainya, ya, seandainya saja ada seorang laki-laki yang tanpa sengaja menyaksikan tubuh gadis tuna-netra itu tanpa busana, tentu laki-laki itu dengan sekejap bisa lupa diri dan akan langsung menggarap tubuh Cinta yang indah dan menakjubkan itu dengan begitu rakus, begitu maruk, begitu membabibuta tanpa sempat berpikir tentang dosa dan neraka. Cinta memang cantik. Cinta memang memiliki tubuh yang bisa dikatakan hampir sempurna. Tetapi, apakah itu masih begitu penting bagi dirinya yang tidak memiliki mata? Cinta tidak pernah bisa tahu secantik apa wajahnya. Cinta tidak pernah bisa tahu sesempurna apa tubuhnya. Meskipun sejuta cermin sudah berdiri tegak mengelilinginya, mengepung tubuhnya dari berbagai sudut penjuru, Cinta tetap tidak pernah mampu untuk menatap wajah dan tubuhnya sendiri. Jangankan untuk menatap wajahnya sendiri, untuk sekadar melirik setitik cahaya yang berada di ujung kegelapan pun Cinta tidak pernah sanggup. Itu sebabnya Cinta sering merasa sedih setiap kali Ratih, wanita yang sangat dikasihinya itu, memuji kecantikannya. “Kamu cantik, Cinta.” “Sudah ratusan kali kamu berkata seperti itu, Ratih. Terus terang aku sudah tidak terhibur lagi. Aku sedih setiap kali kamu berkata seperti itu. Katakanlah itu kepada mereka yang memiliki mata.” “Tapi kamu memang cantik, Cinta. Sungguh, aku tidak berbohong.” “Percuma, Ratih. Aku tidak akan pernah bisa mengetahuinya. Aku kira kamu hanya ingin menghibur hatiku saja. Kamu tahu aku memiliki kekurangan, kamu tahu aku cacat, lantas kamu merasa iba kepadaku. Kamu bilang wajahku cantik, agar aku bisa sedikit melupakan kecacatan diriku, bukan? Kamu hanya menghiburku, Ratih. Kamu hanya ingin menghiburku.” “Astaga! Mengapa kamu sampai berpikir seperti itu, Cinta?” “Entahlah, aku juga tidak tahu mengapa.” “Kamu cantik, Cinta. Kamu cantik dan aku tidak berbohong akan hal itu.” “Ah, seandainya aku juga tahu…” “Cinta.” “Hmm.” “Aku mencintaimu, Cinta.” Tentu saja Cinta juga mencintai Ratih. Dari bibir Ratih, Cinta jadi tahu lebih banyak tentang dunia. Setiap hari Ratih memang selalu bercerita. Ada kalanya Ratih bercerita tentang laut, rembulan, matahari, dan bintang. Ada kalanya juga Ratih bercerita tentang gunung, hutan, bunga, dan rerumputan. Melalui kisah-kisah yang diutarakan Ratih itulah akhirnya Cinta bisa tahu bahwa gajah adalah binatang bertubuh besar yang memiliki telinga lebar dan berhidung panjang. Gara-gara cerita dari Ratih itulah akhirnya Cinta bisa menduga-duga seperti apa rupa kupu-kupu, semut, kucing, dan segala jenis fauna lainnya. Cinta mencintai Ratih dalam kegelapan. Dalam kegulitaannya itulah Cinta merasa betapa Ratih begitu berharga bagi dirinya. * Cinta lahir tanpa mata. Itu sebabnya Cinta terkurung di dalam kamarnya. Kedua orangtuanya adalah sepasang manusia yang menuhankan kesempurnaan. Kehadiran Cinta di dalam keluarga tentu saja tidak diharapkan. Meskipun Cinta lahir sebagai bayi yang cantik, lucu, dan menggemaskan, tetap saja ada sebongkah kekecewaan di dalam hati kedua orangtuanya. Cinta lahir tanpa mata, sehingga kedua lubang matanya itu tampak kosong serupa lorong hampa yang gulita. Bayi yang lahir tanpa mata adalah bayi yang tidak sempurna. Tidak sempurna adalah cacat. Cacat adalah aib, dan aib itu tentu saja memalukan. Itu sebabnya Cinta selalu dikurung di dalam kamarnya tanpa di beri kebebasan. Kedua orangtuanya tidak dapat membayangkan apa jadinya jika ada masyarakat yang mengetahui bahwa mereka memiliki anak yang cacat. Waktu terus merambat. Cinta yang sejak bayi tidak pernah merasakan air susu ibunya itu pun akhirnya menjadi seorang gadis remaja. Cinta besar di dalam kamar. Terpasung seperti seorang gadis gila yang celaka. Cinta yang sebelumnya menganggap bahwa dunia ini hanyalah semesta kegelapan, lambat laun akhirnya Cinta mengerti juga betapa dunia ini sebenarnya tidaklah gelap, melainkan penuh warna. Cinta tahu itu dari Ratih yang setiap hari selalu membantu keperluan dirinya: memberikan makan dan minum, membereskan pakaiannya, dan mengantarkannya ke toilet jika Cinta ingin buang air besar maupun kecil. “Mengapa aku tidak bisa melihat, Ratih?” tanya Cinta kepada Ratih. “Karena kamu tidak memiliki mata,” jawab Ratih. “Apakah kamu memiliki mata, Ratih?” “Ya, aku memiliki mata.” “Kamu bisa melihat?” “Ya, aku bisa melihat.” “Mengapa aku tidak memiliki mata, Ratih? Mengapa aku tidak bisa melihat?” Saat itu Ratih tidak menjawab apa-apa. Ratih hanya bisa memeluk tubuh Cinta dengan begitu erat, sambil membisikkan sesuatu di telinga kanan milik Cinta, ”Semua ini sudah ada yang mengatur, Cinta. Kita tidak akan bisa berbuat apa-apa lagi selain menjalaninya.”. Begitulah. Cinta pun tumbuh menjadi seorang gadis remaja yang selalu ingin banyak tahu. Setiap kali Cinta mendengar sesuatu, kicau burung misalnya, Cinta selalu bertanya kepada Ratih: suara apakah itu? Seperti apa bentuknya? Mengapa suaranya seperti itu? Lantas, Ratih akan menjawab panjang lebar, terkadang ditambah dengan sedikit lelucon segar yang selalu saja membuat Cinta tertawa atau setidaknya tersenyum riang. Ratih memang pandai bercerita. Setiap kali Cinta bertanya, Ratih selalu menjawab. Setiap ada sesuatu hal yang Cinta tidak mengerti, Ratih selalu menjelaskan. Begitulah selalu. Dari waktu ke waktu. Sehingga, entah mengapa, pada akhirnya Cinta dan Ratih pun saling menyukai dan ingin saling memiliki.
*
Cinta mencintai Ratih dalam kegelapan. Dalam kegulitaanya itulah akhirnya Cinta merasa tersiksa. Itu sebabnya, pada suatu malam yang anginnya terasa begitu dingin menggigilkan tulang, Cinta mengatakan kepada Ratih betapa dirinya ingin sekali memiliki sepasang mata. “Berikan aku sepasang mata, Ratih.” Sejenak Ratih terdiam. Tentu saja Ratih tidak bodoh, sehingga Ratih tidak menanyakan alasan apa Cinta ingin memiliki sepasang mata. Tentu saja agar bisa melihat. Ratih tahu itu. Ratih hanya bisa bertanya, “Kapan?” Cinta menjawab, “Sekarang. Aku sudah jenuh dengan kebutaan mataku, Ratih. Aku juga ingin melihat dunia yang kamu lihat. Aku ingin melihat rembulan dan bintang gemintang. Aku ingin melihat kupu-kupu, kucing, dan gajah yang katamu berhidung panjang itu.” Ratih tersenyum. “Hanya itu?” tanya Ratih kemudian. Cinta mengangkat kedua telapak tangannya, meraba-raba udara, mencari-cari letak wajah Ratih yang sedang berada di hadapannya. Disentuhnya wajah Ratih itu dengan amat lembut dan perlahan. Ada yang bergerak-gerak di dalam dada Ratih ketika merasakan kedua telapak tangan Cinta yang halus itu meraba-raba kedua pipinya. “Tentu saja aku juga ingin melihat wajahmu, Ratih. Aku ingin tahu seperti apa bentuk matamu, kupingmu, juga rambutmu.” “Aku juga ingin kamu bisa melihat wajahku, Cinta. Aku ingin kamu tahu seperti apa bentuk mataku, kupingku, juga rambutku.” “Itu sebabnya, berikan aku sepasang mata.” “Agar bisa melihat dunia?” “Agar bisa melihat dunia.” “Agar bisa melihatku?” “Agar bisa melihatmu.” “Cinta…” “Hmm.” “Akan aku berikan sepasang mata untukmu.” “Kapan?” “Sekarang. Saat ini juga.” “Sungguh?” “Apakah aku pernah tidak bersungguh-sungguh kepadamu?” Cinta menggelengkan kepalanya. “Sepasang mata milik siapakah yang akan kamu berikan untukku, Ratih?” tanya Cinta kemudian. “Milikku.” Cinta terdiam. Cinta menarik nafas dalam-dalam. Cinta merasa segalanya menjadi begitu lengang. “Mengapa kamu terdiam, Cinta? Adakah yang salah dengan ucapanku?” “Mengapa kamu rela mengorbankan sepasang matamu itu untukku?” Ratih tidak langsung menjawab. Dengan perlahan, Ratih mencongkel bola mata kirinya dengan jari telunjuknya. Astaga! Tidak ada setetes darah pun yang keluar dari lubang matanya itu. Ajaib! “Aku rela memberikan mataku ini untukmu, karena aku mencintaimu, Cinta.” Ratih membuka kelopak mata Cinta, lantas memasukkan bola mata kirinya ke lubang mata kiri Cinta yang kosong itu dengan amat perlahan. Setelah berhasil, Ratih buru-buru menutup kembali kelopak mata Cinta. “Jangan kamu buka dulu matamu sebelum keduanya terpasang.,” ujar Ratih lembut. Cinta mengangguk. Kemudian, Ratih mencongkel bola mata kanannya dengan jari telunjuknya. Kali ini Ratih amat hati-hati. Seperti tadi, tidak ada setetes darah pun yang mengalir. Setelah bola mata kanannya berhasil dicongkel, Ratih pun menjadi buta. Kegelapan menyelimuti dirinya. Untung saja Ratih sudah tahu seperti apa seharusnya letak bola mata itu ditaruh, sehingga Ratih tidak keliru ketika memasukkan bola mata kanannya itu ke dalam lubang mata Cinta. Sepasang mata milik Ratih pun akhirnya berhasil pindah tempat ke lubang mata milik Cinta. Dengan letak dan posisi yang sempurna. “Sekarang, coba buka kedua matamu dengan perlahan,” pinta Ratih dengan suara yang amat halus. Cinta menarik nafas dalam-dalam. Cinta membuka kedua matanya dengan perlahan. “Bagaimana? Apakah kamu bisa melihat wajahku?” tanya Ratih kemudian. Cinta tidak menjawab apa-apa.
*
“Tamat,” ujarku, sambil membenarkan letak topi hijauku. Sejenak mereka terdiam. Mereka menatapku dengan pandangan mata bertanya-tanya. “Apakah akhirnya Cinta bisa melihat?” tanya mereka dengan raut wajah penasaran. Aku mengambil sebatang rokok dari dalam saku jaketku, menyelipkannya di antara celah bibirku, lantas membakarnya. Sekepul demi sekepul asap membumbung di udara. “Menurut kalian, bagaimana?” tanyaku kemudian, sambil berdiri dan beranjak pergi.
Depok, Februari-Maret 2006

Kisah Tentang Seekor Burung Pipit

Selasa, 29 Juni 2010

Cerpen Noor H. Dee disadur dari An old father, son and a sparrow. Directed by Constantin Pilavios. Screenplay by Nikos Pilavios and Constantin Pilavios Tadi pagi, seorang bapak berkisah kepada saya tentang seekor burung pipit. Begini ceritanya: Sore itu terlihat seorang pemuda dan bapaknya sedang berada di halaman rumahnya. Si pemuda terlihat sedang serius membaca koran sambil duduk di kursi kayu, sedangkan si bapak sedang asyik menyapu halaman. Tiba-tiba seekor burung pipit hinggap di pintu pagar rumahnya. Sang bapak melihat burung pipit itu sejenak, kemudian bertanya kepada anaknya yang sedang membaca koran. “Lihat, Nak. Apa itu?” Si pemuda mengangkat kepalanya dan melihat apa yang sedang ditunjuk oleh bapaknya. “Pipit!” jawab si pemuda yang kemudian kembali membaca Koran. Burung pipit itu kemudian terbang dan hinggap di ranting pohon yang berada di dalam halaman rumah. Sang bapak menyaksikan burung itu sejenak, kemudian kembali bertanya kepada anaknya. “Apa itu, Nak?” Si pemuda menghela napas panjang, agak jengkel dengan pertanyaan tersebut. “Pipit!” jawabnya ketus. Kemudian burung pipit itu terbang dan hinggap di atap rumah tetangganya yang berada tepat di depan rumahnya. “Apa itu?” tanya sang bapak lagi. Si pemuda mulai merasa jengkel. “PIPIT! MASA BURUNG PIPIT AJA NGGAK TAHU?!” Sang Bapak menatap anaknya dalam-dalam. Si Pemuda itu kembali membaca korannya sambil menggerutu sendiri. Tak lama kemudian sang bapak masuk ke dalam rumah, mengambil buku catatan pribadinya yang mulai kusam dan menguning, dan kemudian menghampiri anaknya. “Coba kau baca tulisanku ini. Baca yang keras,” ujar si bapak. Sang pemuda agak kaget, kenapa tiba-tiba disuruh baca buku harian milik bapaknya? Namun, ia mengambil buku harian milik bapaknya itu, membuka halamannya, dan membacanya dengan suara keras. “Pada suatu sore aku dan anakku tercinta sedang berada di halaman rumah. Anakku adalah anak yang sangat lucu. Aku begitu mencintainya. Setiap sore kami memang selalu bersama-sama, menikmati pemandangan sekitar atau hanya sekadar bersenda gurau. Asal tahu saja, anakku ini ingin tahunya besar sekali. Apa pun yang ia lihat, ia selalu tanyakan kepadaku. Seperti sore ini, misalnya. Tadi ketika kami sedang bermain, tiba-tiba seekor burung pipit hinggap di pintu pagar rumahku. Anakku melihat burung pipit itu dan bertanya kepadaku. ‘Lihat, apa itu, Ayah?’ ‘Itu pipit, Anakku,’ jawabku sambil membelai rambutnya. “Lantas burung pipit itu terbang dan hinggap di dahan-dahan pepohonan. ‘Apa itu, Ayah?’ ‘Pipit,’ jawabku sambil tersenyum. ‘Itu apa, Ayah?’ ‘Pipit.’ ‘Apa itu, Ayah?’ ‘Pipit.’ “Aku selalu menjawab pertanyaan-pertanyaan itu sambil memeluk anakku. Aku ingat, ia bertanya seperti itu sebanyak 21 kali, dan aku selalu menjawabnya. Aku senang sekali mendengar pertanyaan-pertanyaan yang meluncur dari mulut anakku itu.” Setelah membaca tulisan sang bapak, si pemuda itu segera memeluk bapaknya sambil meminta maaf berkali-kali. Air mata menetes di kedua pipinya. Selesai. Saya terharu mendengar cerita itu, kemudian saya tuliskan di sini, untuk kemudian saya perlihatkan kepada kamu. Siapa tahu kamu juga suka. Sumber: http://www.facebook.com/notes/noor-h-dee/kisah-tentang-seekor-burung-pipit/406376616573

Video Pelatihan