Our Community

Our Community
Forum Lingkar Pena Depok

Our Event

Our Event
Depok Dalam Puisi

Our Training Program

Our Training Program
BATRE

Our Family

Our Family
Want to be one of us?

Mau Daftar? Klik Gambar Ini!

Tampilkan postingan dengan label Hafi Zha. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hafi Zha. Tampilkan semua postingan

Penutup Cerita

Rabu, 24 November 2010

Oleh Hafi Zha & Denny Prabowo Thomas Fuller mengatakan, “Menulis pembuka adalah keahlian yang hebat, tetapi yang lebih hebat lagi adalah menulis penutup.” Kebanyakan pengarang pasti setuju, menutup cerita jauh lebih sulit dari membukanya. Hal ini disebabkan dalam pembuka kita masih belum tahu apa yang harus cocok dengan cerita, sehingga semuanya tampak bisa diterima. Namun dalam penutup, segala sesuatunya haruslah pas dengan kebutuhan cerita, semua hal harus saling berkaitan. Sekar Ayu Asmara, dalam sebuah diskusi mengatakan, “Saya tak pernah stuck dalam menulis cerita, sebab sejak awal saya telah menemukan endingnya.” Pernyataan ini sejalan dengan apa yang disampaikan oleh, David Lodge dalam The Art of Novel, “Bisa dikatakan bahwa cerpen pada hakikatnya haruslah ‘mengarah pada penutupnya’. Oleh karena itu, kita mulai menulis cerpen dengan harapan akan segera sampai pada penyelesaiannya.” Baik dalam menulis novel maupun cerpen, ketika cerita Anda telah sampai pada penyelesaian masalah, segeralah akhiri cerita itu. Atau apabila Anda tidak menemukan penyelesaian, maka tutuplah cerita Anda saat semuanya sudah menjadi jelas. Ada beberapa cara yang bisa Anda pilih dalam menutup cerita: 1. Penutup yang Mengejutkan
Aryani kini sudah berada di depan rumahnya. Ia melihat Ayahnya masih membaca koran di beranda. Mamanya masih asik menonton televisi di dalam kamarnya. Aryani menangis. Kedua orang tuanya tidak ada yang mengetahui bahwa anak gadisnya itu sudah menjelma seekor kupu-kupu. Dengan perasaan terluka ia memasuki halaman rumahna dan terbang menghampiri jendela kamarnya. Tetapi, di dalam kamarnya ia melihat dirinya sedang bermain boneka yang tiba-tiba saja langsung menatap ke arahnya. Ia melihat dirinya menunjuk-nunjuk ke arahnya, sambil berteriak. “Kupu-kupu! Kupu-kupu!” (Mengejar Kupu-kupu karya Noor H. Dee)
Cerita ini ditutup dengan sebuah kejutan bagi pembacanya. Ariyani yang telah menjelma kupu-kupu ternyata melihat dirinya masih berada dalam kamarnya. Lalu apakah yang sebenarnya terjadi dan siapakah yang asli, ataukah hanya sebuah fantasi? Kita terkejut dan penasaran dengan penutup cerita ini. Kelebihan teknik ini adalah jalinan cerita sebelum penutup akan terasa lebih kuat dengan ending kejutan seperti ini. Kita akan berpikir dan memutar balik otak kita untuk mencerna lebih seksama cerita yang disajikan. 2. Penutup yang Memperdaya
Gadis berkepang dua itu berhanti. Matanya yang tajam menembus malam. “Jadi kamu mau bilang kenapa kamu pengin jadi tentara? “Iya, tapi aku harus membisikkannya di telingamu.” Sukab mendekatri Ratri dan membisikkan sesuatu. Hanya Ratri yang tahu, kenapa Sukab ingin jadi tentara. (Sukab ingin Jadi Tentara karya Seno Gumira Ajidarma)
Sejak dari awal cerita, cerpen ini membangun rasa ingin tahu pembaca, akan motivasi dari tokoh Sukab yang ingin menjadi tentara. Sepanjang cerpen ini, pembaca diajak menduga-duga mengapa Sukab yang meski ditentang oleh ayahnya, tetap ngotot mau jadi tentara. Kengototan Sukab itu membuat orang-orang terdekatnya bertanya-tanya, termasuk Ratri, kekasihnya. Setelah didesak oleh Ratri dan diancap akan diputus cintanya, Sukab pun mengungkapkan motivasinya kepada tokoh Ratri. Dan cerpen ini ditutup dengan kalimat yang ‘memperdaya’ pembaca: Hanya Ratri yang tahu, kenapa Sukab ingin jadi tentara. Mungkin pembaca akan merasa ‘dikerjai’, tapi percayalah, pembaca akan terus mengingat kalimat penutup itu. 3. Penutup yang Merangkum
Tidak berapa lama kemudian, seorang pejuang yang tidak berprasangka apapun, yang menyukainya karena ketabahannya, dan yang kemudian mencintainya apa adanya, menikahinya dan menjadikannya seorang wanita terhormat. (Mademoiselle Fifi karya Guy de Maupassant)
Cerita ini berkisah tentang seorang pelacur yang tidak tahan saat dipermalukan oleh seorang tentara Prusia. Dia menikamnya hingga tentara itu mati, lalu kabur dan menyembunyikan diri. Seluruh peersitiwa ini disajikan dengan dramatis, tetapi akhir cerita dirangkum seperti di atas. Peristiwa dramatis utama memakan waktu beberapa jam, jadi akhir cerita ini dibuat narasi dalam bentuk rangkuman. Dalam kasus seperti ini, strategi ini lebih baik daripada terus bercerita bertele-tele. Namun, sebuah rangkuman cenderung menyebabkan cerita menjadi mirip dongeng. Banyak film yang menggunakan teknik ini, sebagai cara untuk keluar dari bingkai peristiwa yang diceritakan dalam film, tanpa harus bertele-tele dan memperlambat film itu sendiri sehingga teknik ini tampak sudah sangat kita kenal dengan baik. Namun, karena sudah jarang digunakan dalam fiksi, penutup rangkuman bisa menjadi salah satu pilihan yang baik. 4. Penutup yang Terbuka
Perempuan itu masih berdiri di muka jendela kamarnya. Menatap kegelapan di luar sana. Seperti berharap malam tak segera berlalu, dan hari urung berganti pagi. Cakrawala masih menyisakan warna senja yang begitu tua. Sesaat lagi kelambu malam siap dibentangkan. Dia pasti datang! Begitu hati Tambuli menengahi keresahannya. Lelaki itu sudah berjanji akan menjemputnya. Dia tak mungkin dua kali menuangkan muntah ke dalam guci berisi air yang telah dicampur gula putih dan gula merah itu, untuk menunda prosesi pengesahan pernikahannya dengan lelaki tujuh puluh yang telah pula memiliki keluarga. Dia pasti datang! Sekali lagi hati Tambuli berucap. Lalu sebuah ketukan dipintu. Tambuli ragu membuka. Sesosok bayang menerobos pekat malam baru saja tertangkap ujung matanya, bergerak mendekat ke arah jendela kamarnya. (Tambuli, Perempuan yang Berdiri di Muka Jendela karya Denny Prabowo)
Banyak pengarang berkeberatan dengan penutup yang manis karena sepertinya bertentangan dengan kehidupan sehari-hari, yang akan terus berlangsung saat sebuah peristiwa sudah “berakhir”, dan pantulan peristiwa itu akan terulang kembali dalam berbagai pengalaman baru. Teknik penutup cerita yang terbuka adalah solusinya. Tutuplah cerita saat aksi masih sedang berlangsung. Banyak yang telah dikemukakan tentang pembuka in medias res (di tengah narasi atau plot), tetapi Anda juga bisa keluar di tengah-tengah sebuah kejadian. Dalam cerita di atas, seorang perempuan bernama Tambuli tengah menanti seseorang di suatu senja. Seorang itulah yang akan menolongnya dari keterhimpitan situasi pernikahannya yang dipaksakan oleh keluarganya. Tambuli yang berbadan dua kehilangan pertanggungjawaban dari laki-laki yang telah mengambil kehormatannya. Seseorang yang dinantinyalah yang akhirnya bersedia bertanggung jawab. Di tengah-tengah harapan dalam penantiannya, Tambuli mendengar dan mendapati kedatangan seseorang dari jendela kamarnya. Tetapi, pengarang dengan pasti menutup ceritanya dengan terbuka. Pembaca diserahi keputusan untuk menduga-duga siapa yang datang, apakah memang seseorang yang tengah dinanti Tambuli ataukah orang lain yang akan menggagalkan rencana untuk lari dari pernikahan paksanya. Pembaca dibuat penasaran dengan akhir cerita seperti ini tapi memang menarik.
***
Demikianlah beberapa teknik penutup cerita yang bisa kamu coba. Penutup cerita merupakan salah satu elemen yang akan menentukan, apakah sebuah cerita akan selalu diingat oleh pembaca atau akan segera dilupakan. Penutup cerita adalah kesan terakhir, maka buatlah pembaca selalu mengingat ceritamu. Selamat mencoba!

Pembuka Cerita

Kamis, 28 Oktober 2010

Oleh Hafi Zha dan Denny Prabowo Karya Fiksi ibarat hidangan dalam sebuah jamuan pesta yang disajikan berurutan. Apabila Anda menghidangkan makanan pembuka yang tidak enak, maka bisa dipastikan para undangan akan kehilangan selera makannya. Kalau sudah begitu, mereka akan merasa enggan untuk melanjutkan ke menu utama. Gabriel Garcia Marquez menghabiskan waktu berhari-hari hanya untuk menggarap paragraf pertamanya, dan ketika dia telah mampu menyelesaikannya, sisanya akan mengalir dengan lancar. Setelah judul, bagian pembuka adalah kesan, atau mungkin lebih tepat dikatakan ungkapan, yang pertama kali Anda tunjukkan kepada pembaca. Dalam psikologi sosial, kita mengetahui bahwa kesan pertama sering kali merupakan hal terpenting. Karena pengertian semacam inilah, banyak pengarang berusaha keras menuliskan pembuka ceritanya, agar bisa membuat ceritanya menjadi memukau. Ada beberapa cara untuk memulai sebuah cerita. Ada baiknya Anda mencontoh seorang pecatur yang tidak hanya mengandalkan satu macam pembuka saja. Pembuka yang berbeda-beda akan mendorong Anda menuliskan dengan berbagai macam cara pula. 1. Penggambaran Latar
Di pantai yang nyaman di Franch Riviera, kira-kira di tengah-tengah antara jarak Marseilles dan perbatasan Italia, berdirilah sebuah hotel yang besar, kukuh dan berwarna merah muda. Beraneka pohon palem memberikan keteduhan di teras hotel yang mewah itu, dan di depannya terhampar pantai yang memesona. Belakangan ini, hotel tersebut menjadi persinggahan orang-orang terpandang yang modis… (Tender is The Night karya F. Scott Fitzgerald)
Cerita di atas dibuka dengan penggambaran tempat yang runtut. Dimulai dari lokasi hotel itu berada. Lalu dilanjutkan dengan deskripsi bentuk dan warna hotel tersebut. Tidak ketinggalan juga hal-hal yang membuat hotel tersebut menarik dipaparkan, seperti adanya pohon palem dan pantai yang mempesona. Pada kalimat berikutnya, terdapat hubungan sebab akibat, yaitu hotel yang besar dan mewah itu dikunjungi orang-orang terpandang. Hubungan logis inilah yang menjadi pendukung kuatnya pembuka cerita di atas. Ketika membaca pembuka cerita ini, kita akan lebih mengetahui dan mengenal tempat (setting) kejadian cerita. Hal ini akan menjadi suatu tantangan bagi penulis untuk bisa mendeskripsikan latar peristiwa sehidup-hidupnya dan setampak-tampaknya. Akibatnya, kita akan bermain dengan pencitraan dalam dirinya, baik penglihatan, penciuman, perabaan, dan pendengaran. Menarik bagi pembaca yang memang suka terhadap cerita yang kuat akan deskripsi latar. Seperti dalam pembuka cerita di atas, penulis tidak terburu-buru untuk masuk ke dalam peristiwa yang dialami tokoh. Kita akan merasa penasaran untuk melanjutkan membaca, untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi di hotel mewah itu atau apakah ada misteri dalam hotel itu. Satu hal yang perlu di catat ketika menggunakan penggambaran latar untuk membuka cerita, yaitu jangan terlalu panjang dalam penceritaan latar. Cukup dua atau tiga paragraf awal sebagai pengantar, bahkan tiga paragraf pun sebenarnya sudah terlalu melelahkan untuk pembaca yang tidak sabar. 2. Penggambaran Fisik Tokoh
Dari dahinya yang lebar dan sangat menonjol ke depan itu bisa ditebak kalau lelaki muda yang bernama Panut itu pasti berotak cerdas. Akan tetapi entah apa bentuk mulutnya juga ikut mendukung kefasihan dan kepintaran bicaranya. Menurut teman-teman yang lain tubuhnya yang pendek menandai dia selalu ngotot dan tak mau kalah kalau sedang bicara. (Randu Alas karya Agus Vrisaba)
Cerita ini mengisahkan tentang lelaki muda, Panut, yang cerdas dan pintar bicara. Semua sifat tersebut tidak secara langsung diceritakan oleh penulis, tetapi diceritakan melalui penggambaran fisik tokoh. Informasi-informasi yang kita dapat tentang Panut yang cerdas dimulai dari pengaitan bentuk dahi yang lebar dan menonjol. Penulis memakai kebiasaan yang memang berkembang dalam masyarakat bahwa jika ada orang yang dahinya lebar menandakan orang itu cerdas. Pembaca akan memakai pengalamannya ketika membaca cerita ini untuk menangkap gambaran Panut yang cerdas. Selanjutnya, penulis memberi penguatan gambaran Panut dengan pemakaian pendapat teman-teman Panut tentang tubuh Panut yang pendek. Jadi, penulis tidak terus-terusan memakai sudut pandangnya ketika bercerita tentang Panut tetapi memakai tokoh teman-teman Panut. Kekurangan penggunaan pembuka cerita dengan teknik ini adalah diperlukan waktu beberapa lama sebelum aksi dimulai, yaitu kita akan melalui sebuah ringkasan dengan berbagai macam pikiran dan gambaran-gambaran umum sebelum sebuah adegan dimulai. Kelebihannya adalah kita langsung sampai pada si tokoh: tahu bagaimana sifatnya, tahu apa yang dilakukannya, melihat gambaran fisiknya, mendengar suaranya. Kelebihannya mungkin lebih besar daripada kekurangannya karena ketika aksi mulai ditampilkan, kita telah siap menghadapinya. Kita sudah mengenal tokoh yang merupakan pusat perhatian utama dan tema cerita. 3. Penggambaran Karakter tokoh
Tetangga saya orangnya terkenal baik. Suka menolong orang. Selalu memaafkan. Apa saja yang kita lakukan terhadapnya, ia dapat mengerti dengan hati yang lapang, bijaksana, dan jiwa yang besar. Setiap kali ia mengambil putusan, saya selalu tercengang karena ia dapat melakukan itu dengan kepala yang kering, artinya sama sekali tidak ketetesan emosi. Tidak hanya terhadap persoalan yang menyangkut orang lain, untuk setiap persoalan pribadinya pun ia selalu bertindak sabar dan adil. Banyak orang menganggapnya sebagai orang yang berhati agung. (Pencuri karya Putu Wijaya)
Cerita ini dibuka dengan menceritakan karakter seorang tetangga yang berkarakter positif. Mulai dari pernyataan dia adalah orang baik, suka menolong, selalu memaafkan, dan seterusnya. Kita digiring untuk memercayai apa-apa yang dikisahkan oleh Putu Wijaya. Hal ini akan membentuk suatu kepercayaan dan dukungan kepada tokoh cerita yang berkarakter bak malaikat. Di sinilah letak kekuatan cerita dengan teknik pembuka ini. Putu Wijaya memberikan kesempatan kepada kita untuk mengenal tokoh atas tuturannya. Kita akan merasa mengenal dan mempercayai kalau tokoh itu memang benar-benar orang baik. Teknik pembuka seperti ini ketika telah masuk ke dalam aksi tokoh tentunya akan memberikan kejutan kepada kita. Siapa tahu tetangga yang baik itu ternyata adalah pencuri atau sorang pembunuh. Dalam diri kita tentu terbentuk dua sisi ata tokoh tersebut ketika telah masuk ke dalam aksi, mendukung aksi tokoh atau menolak aksi tokoh. Kekurangan teknik ini hampir sama dengan teknik penggambaran fisik tokoh. Kita akan berlama-lama dengan gambaran karakter tokoh dari penulis sebelum aksi dimulai. Tentunya akan membuat kita menjadi tidak sabar untuk melewatkannya. 4. Memulai dengan Pertanyaan
“Di manakah aku bisa bertemu dengan Tuhan?” (Seribu Majid yang Kudirikan karya Denny Prabowo)
Sebagian besar motivasi untuk terus membaca datang dari sebuah pertanyaan. Membaca adalah proses pencarian jawaban. Jadi, mengajukan pertanyaan adalah cara yang paling langsung untuk mengajak pembaca agar terus menyertai Anda. Kelebihan dari teknik ini adalah karena pertanyaan yang berada dalam dialog membaca kita langsung ke dalam adegan. Kita terjun ke tengah-tengah aksi di mana pada kalimat pertama sesuatu telah terjadi. Akan tetapi, hal ini bisa pula menjadi sesuatu yang tidak menguntungkan karena kita belum mengenal si pembicara, atau pun tempat dia berbicara, dan menyajikan latar belakang setelah pertanyaan akan tampak tersendat-sendat. Meskipun demikian, hal ini masih bisa menjadi pembuka yang efektif karena sangatlah penting bagi pembaca untuk memiliki pertanyaan dalam benaknya. 5. Menampilkan Aksi
Gelas yang telah kosong itu dibantingnya di depan dirigen, serpihan belingnya mengenai celananya, wul hitam pekat. Ketika dirigen itu mencoba beranjak dari kursinya, seketika ia dikepung oleh sejumlah pemain-pemainnya. Tak mampu berkutik sedikit pun, ia cuma mengucurkan keringat di kening, berlelehan seperti seorang petinju. (Simfoni Melompat Jendela karya Danarto)
Mata kita bisa dengan cepat mengenali adanya gerakan. Mengawali cerita dengan sebuah aksi bisa menangkap perhatian pembaca. Seperti cerita di atas yang mengisahkan seorang dirigen yang kena amukan para pemainnya. Kita mampu melihat gerakan-gerakan yang dilakukan oleh “nya”, dirigen, dan para pemain. Kelebihannya memang terletak di situ, pembaca langsung mengetahui aksi yang dilakukan tokoh. Akan tetapi, pembaca belum mengenal siapa sebenarnya dirigen dan tokoh “nya” yang membanting gelas tersebut. 6. Menampilkan Peristiwa
Lima belas tahun yang lalu, terataknya didatangi seorang laki-laki kasar, memperkosanya lalu pergi ke gunung. Anak yang lahir sepuluh bulan kemudian adalah gadis cilik yang setiap pagi buta kudengar bersama ibunya bernyanyi-nyanyi kecil memunguti buah-buah asam jawa yang berjatuhan dari pohon-pohonnya sepanjang jalanan kota kecilku. (Tanggapan Merah-jambu Tentang Revolusi karya Iwan Simatupang)
Peristiwa biasanya merupakan gabungan antara aksi, setting, dan tokoh. Dalam cerita di atas mengandung ketiga unsur tersebut. Aksi yang dilakukan adalah bernyanyi-nyanyi kecil memunguti buah-buah asam jawa. Setting tempatnya di bawah pohon asam jawa panjang jalanan kota kecil. Tokohnya adalah seorang gadis cilik dan ibunya. Kelebihan dari teknik adalah sebuah aksi akan berlangsung saat kita bergabung; kita melompati persiapan. Kita langsung melompat ke tengah-tengah cerita. Namun, tidak seperti dalam pembuka yang memiliki kail yang umum, belum ada hal yang luar biasa terjadi di sini sehingga kehebohan aksi akan meningkat dan bukannya menurun. 7. Pikiran Tokoh
Begitulah, belakangan ini aku selalu merasa seperti punya musuh, perasaanku seperti orang berperang—tapi aku tak tahu siapa musuhku (Klandestin karya Seno Gumira Ajidarma)
Kita berada dalam kepala si tokoh, tempat yang mungkin diinginkan pembaca. Memang masuk akal untuk langsung berada dalam kepala si tokoh, terutama dalam novel psikologi. Kekurangan cara ini adalah bahwa pikiran bersifat abstrak, kita belum bisa melihat apa pun. Namun, pikiran orang memang menarik dan cukup paradoks sehingga bisa membuat kita penasaran. 8. Gagasan
“Nah, yang kuinginkan sekarang adalah fakta. Ajarilah anak-anak ini hanya fakta. Faktalah yang kita inginkan dalam kehidupan. Tidak usah menanamkan hal lainnya, dan singkirkan hal lainnya. Anda hanya bisa membentuk pikiran binatang berdasarkan fakta: hal lain takkan berguna bagi mereka...” (Hard Time karya Charles Dickens)
Jika Anda membuka sebuah cerita dengan sebuah gagasan, Anda mungkin mengambil risiko karena bagian ini mungkin akan terkesan terlalu pintar, kering, dan terlalu bernuansa esai. Namun, sering kali gagasan, terutama jika dinyatakan dengan sudut pandang orang pertama atau dalam dialog (atau monolog), menampilkan beberapa tujuan, seperti yang Anda lihat dalam cerita di atas. Gagasan bahwa fakta adalah segalanya secara tidak langsung menggambarkan si pembicara (kepala sekolah) dan sebuah tempat (sekolah berasrama). Dan gagasan ini menjadi tema, sesuatu yang diulang-ulang dalam novel tersebut. Sampai sejauh ini, dari abstraksi yang kering, sebuah gagasan bisa memberikan hasil seperti citra yang dipilih dengan baik. 9. Sensasi yang Kuat
Plastik-plastik terapung, lumpur pekat kecoklatan, perkakas penyok, bangkai anjing dengan perut gembung, lalat hijau, sampah busuk. Amat biasa bahkan bagus buat dinikmati. Manakala air Kali Comberan meluap membentuk harmoni alam yang kelewat simetris dengan ilustrasi deretan gubuk primitif mirip kandang babi. (Lampor karya Joni Ariadinata)
Sensasi dengan cepat mengajak pembaca untuk mulai menyelami narasi dan karena itu banyak pengarang lebih suka memilih pembuka yang mengarah pada sensasi, seperti cerita di atas. Pembuka di atas mungkin menampilkan terlalu banyak sensasi, tetapi hasilnya cukup baik. Pembaca menerima kesan yang kuat tentang latar yang disajikan. Pendahuluan ini menjawab pertanyaan di mana yang langsung diberikan dengan penggambaran latar tempat sebagai atmosfer indriawi. Sebuah sensasi tunggal yang kuat membuka jalan mulus bagi khayalan kita untuk memasuki cerita itu. Kita tidak harus mulai berpikir saat itu juga, untuk mencoba membayangkan citra yang kompleks. Kita langsung berada dalam adegan itu, ikut mengalami tanpa harus memutuskan indra mana yang harus digunakan. Tidak perlu membujuk-bujuk pembaca untuk bisa mencapai suasana itu. 10. Motif Tokoh
Sejak melihat betis Ken Dedes, istri Pak Bupati, dalam sebuah arak-arakan keliling kota itu, Ken Arok tidak pernah bisa memejamkan mata denganh tenang lagi. Betis yang mulus bagai telur itu memancarkan sinar yang dalam benak Ken Arok sama persis dengan berbagai dongeng dari Parsi mengenai cahaya yang memancar dari tubuh putri-putri yang disimpan raja-raja kaya raya dalam Kaputren. Pemuda ingusan, yang oleh teman mainnya sekampung dijuluki koboi cengeng itu, berjanji jauh dalam hatinya untuk mendapatkan istri Bupati itu—dengan cara apa pun. (Hikayat Ken Dedes karya Sapardi Djoko Damono)
Kita bisa segera tahu apa yang diinginkan tokoh dalam cerita di atas. Kita juga mengetahui apa-apa yang menyebabkan keinginan itu timbul. Hal inilah yang bisa memicu para tokoh dan pembaca. Motif tokoh akan membuat pembaca tertarik mengikuti peristiwa-peristiwa yang mungkin terjadi. Ketika membaca paragraf ini, pembaca akan langsung ‘meraba’ jalan cerita. Semakin tak terduga alur yang disajikan, semakin pembaca akan merasa penasaran. Demikianlah 10 tekhnik pembuka cerita yang bisa kamu coba. Selamat mencoba!

Seribu Kunang-Kunang di Kaki Arjuna

Kamis, 19 Agustus 2010

Cerpen Hafi Zha Pagi. Udara dingin menusuk tulang. Kabut masih menutup jalan. Linda masih kelihatan mengantuk, wajahnya kusut dengan rambut panjangnya yang acak-acakan. Matanya setengah terpejam ketika seorang laki-laki separuh baya duduk di sampingnya. ”Permisi, Nak.” ”Oh, monggo[1] Pak.” Segera Linda merapikan dirinya. Tak ingin ia kelihatan kumal di hadapan seorang bapak yang berpakaian rapi dengan peci bertengger di kepalanya. Linda melemparkan senyum ke bapak yang telah duduk di sampingnya. Bapak itu pun membalas senyum Linda. ”Nyuwun sewu[2], Pak. Bapak ke Surabaya juga?” Linda membuka percakapan. Ia berusaha untuk ramah dengan orang yang baru dikenalnya. Ini bisa jadi pelajaran pertama buatku di hari ini, pikir Linda dalam hati. ”Inggih[3], Nak. Nak sendiri?” ”Sama, Pak. Kerja.” ”Cah bagus....” Linda menunggu lanjutan kata-kata bapak itu namun tak kunjung ia dengar. Ia pandangi wajah laki-laki itu yang sekarang berubah muram, seakan ada awan mendung yang menyelimutinya dan siap menurunkan hujan. Linda begitu tertarik untuk terus memandangi wajah yang tidak lagi muda itu, namun ada sesuatu yang tersembunyi di balik gurat-gurat wajah itu. Linda tak meneruskan niatnya, tak sopan pikirnya. Linda mengalihkan matanya ke bawah, mengamati sepatu bututnya yang setia menemaninya pergi kerja. Diliriknya kaki yang ada di sebelahnya. Hitam legam karena sering tersengat matahari dengan urat-urat yang nampak. Bapak ini mestlah seorang pekerja keras. Linda merasakan kerinduan yang membuncah tiba-tiba kepada ayahnya. Tersentak Linda dari lamunannya ketika mendengar laki-laki di sampingnya menghembuskan nafas seakan-akan ada beban yang menghimpit dirinya. Linda kembali menoleh kepada bapak tersebut. ”Cah bagus. Andai saja anakku kayak kamu, Le. Bapak pasti bahagia tenan... la iki cah iku ndak bisa....” Kata-katanya kembali terputus. Bapak itu yang semula tenang menjadi emosi. Linda bingung ketika Bapak tersebut tertunduk dan terisak. Pastilah ada beban yang begitu berat yang disimpan Bapak ini sampai menangis seperti ini. Laki-laki pantang untuk menitikkan air mata di hadapan orang, ayah Linda berpesan kepadanya. ”Pak, Pak, sudah Pak...setiap masalah pasti dikasih jalan keluar sama Gusti Allah.” Linda memberanikan diri menyentuh pundak bapak yang sedang terisak tersebut. Ia heran sendiri ketika ia bisa berkata seperti itu kepada orang yang jauh lebih tua darinya. Aku ini kok sok bijaksana to, pikir Linda. Ia terus berusaha untuk menenangkan bapak di sampingnya. Bayangan ayahnya berkelebat di benak Linda. Inikah yang dulu ayah alami waktu dulu. Suara derum bis mengiringi isakan Bapak yang terus memegang mukanya berusaha untuk menutupi wajahnya yang kelam. Tidak seperti tadi dimana penumpang masih sepi, bis sudah penuh dengan orang-orang yang punya kesibukan masing-masing di hari ini. Remaja putri berseragam putih biru cekikikan bersama teman-temannya, asyik dengan obrolan mereka. Kondektur bus yang berteriak,”Suroboyo, Suroboyo....”. Wanita dengan rok mininya dan make up-nya yang tebal baru saja naik, melempar senyum pada Linda yang memang persis duduk dekat pintu masuk bis. Linda tak membalas karena ia jengah dengan wanita yang berdandan seronok seperti itu. Ah, mungkin itu adalah tuntutan kerjanya tapi mbok ya jangan berlebihan, Linda membatin. Linda kembali menekuri Bapak yang di sampingnya yang isaknya mulai berkurang, mungkin karena sadar ia berada di tempat umum dan setiap saat orang bisa memperhatikannya. ”Maaf, Le. Bapak kebawa perasaan. Bapak ingat anak Bapak, mungkin seumuran kamu, Le.” Linda menghela nafas, barulah dia mengerti apa yang sedang dialami Bapak dihadapannya sekarang. Kembali ia teringat kata-kata ayahnya. ”Kowe iki, cah lanang siji-sijine, ora iso diatur. Ayah Ibumu didik kowe biar dadi wong apik. Ayah iki wis tua, Da, sudah dekat dengan kematian. Sopo sing neruskan usaha Ayah jika Ayah mati, yo kowe, Le.” Malam yang takkan pernah Linda lupakan. Ibu menangis ketika Linda tak jua mau mendengarkan kata-kata Ayah. Srikandi, adik perempuannya juga turut menangis. Terasa hawa rumah membara, siap untuk meledak karena penghuninya saat itu tak ada yang mau mengalah. Linda tetap dengan keinginannya untuk hidup dengan gunung-gunungnya, cintanya pada tempat yang yang tinggi di atas bumi. Linda ingin bebas, hidup dengan impiannya sendiri tanpa ingin diusik dengan urusan-urusan yang mengikat dirinya, termasuk meneruskan usaha meubel Ayahnya. Malam itu juga, Linda memutuskan untuk angkat kaki dari rumahnya. Meninggalkan tangis Ibu dan Srikandi serta nasihat-nasihat Ayahnya. Linda ingin bebas walau ia harus mengorbankan orang-orang dicintainya demi gunung-gunung yang tegak menjulang di muka bumi. Seminggu, dua minggu, sebulan, enam bulan Linda berkelana dari satu gunung ke gunung lain. Hingga sampailah ia di gunung Arjuna. Di sinilah pengembaraan Linda berakhir. Ia serasa menemukan tempat kelahirannya. Linda Arjunaswara bertekuk lutut di kaki Arjuna. Ia tak merasa kalah. Namun sebaliknya ia menemukan kemenangan di sini. Ia mendapat arti hidup yang sebenarnya. Slamet, Gede, Salak, Merapi tak mampu mengantarkannya pada dunia yang tak pernah ia sentuh. Cahaya yang datang menyinari hatinya yang gulita, setitik air yang menyiram kegersangan hatinya, kerinduannya pada Ibu dan Srikandi. Semuanya terobati ketika ia mengenal bidadari di Arjuna. Wulan, wanita yang mampu meruntuhkan tembok kekerasan yang membentengi hati Linda. Wulan yang mengenalkannya pada kedamaian hakiki. Ah, Wulanku, kau bidadariku, penyelamatku. ”Dia ora iso diatur, dinasihati mendhal kabeh. Bapak kepengen dia dadi wong apik. Kerja sing bener. Ora nongkrong-nongkrong lupa waktu, dolin ae... Joko, Joko... saiki ora ngerti cah iku dimana. Bapak wis nyerah nuturi, Le,” Kata-kata Bapak itu terpotong oleh kernet yang berteriak pada penumpang. ”Nusa Dua, Nusa Dua...yo Nusa Dua!” Bis berhenti menurunkan penumpang yang turun di Nusa Dua, termasuk wanita yang berpenampilan seronok tadi. Kembali wanita itu melemparkan senyum kepada Linda, Linda membuang muka. Ia ingat wajah Wulan yang ayu nan lembut di rumah. ”Bapak bangga kalo punya anak kayak kamu. Biar pun dari penampilan rodo sangar tapi mau nyambut gawe, pagi-pagi wis berangkat kerja.” Linda merasa tersindir mendengar kata-kata bapak itu tapi ada perasaan bahagia karena usahanya dihargai. Andai Ayah masih hidup tentu juga bangga melihat aku yang sekarang, pikir Linda. ”Bapak terlalu membesarkan. Saya mesti kerja buat ngasih makan anak istri saya, Pak.” ”O, dadi wis duwe istri to? Yen wis berkeluarga yo mesti tanggung jawab, nyambut gawe. Kerja napa, Le?” “Usaha meubel, Pak. Neruskan usaha Ayah.” “Bagus, bagus….Bapak doakan moga lancar usahane.” “Amin, matur suwun, Pak.” Linda dan Bapak tua terdiam. Sibuk dengan pikirannya masing-masing. Kondektur terus meneriakkan tempat yang dituju oleh penumpangnya. Bis menderu di antara kendaraan-kendaraan lainnya. Membelah arus lalu lintas yang mulai padat. Bis sudah hampir sampai di terminal Bungurasih. Tiba-tiba bapak tua itu menyentuh pundak Linda. ”Bapak turun duluan yo, Le. Hati-hati. Matur suwun mau mendengarkan cerita Bapak. Assalamu’alaikum.” “Sama-sama, Pak. Wa’alaikumsalam.” Bapak itu pun turun bersama penumpang lainnya sebelum bis sampai di Bungurasih. Linda menghembus nafas. Ada kelegaan yang ia rasa. Ia masih sempat menemukan jalan untuk kembali. Jalan kembali menuju harapan-harapan ayah ibunya. Walau tak sempat ayah melihatku yang sekarang, tentu ayah bangga di alam sana. Bis sudah masuk Bungurasih. Hampir jam sembilan, terminal sudah ramai. Penuh dengan penumpang yang masuk dan keluar Bungurasih. Para pedangang asongan, loper koran, calo-calo simpang siur. Di antara laki-laki, perempuan, anak kecil, tentulah para copet sedang bersiap untuk melancarkan aksi mereka. Di sini memang rawan kalau tidak berhati-hati, waspada. Sudah berapa kali bis keluar masuk, suara mesinnya yang membisingkan telinga ditambah dengan musik dangdut koplo yang diputar penjual VCD di emperan terminal, bikin telinga jadi pekak. Lekas Linda mengayunkan langkah menuju angkot yang ia tuju. Salah satu rutinitas yang harus ia lalui tiap pagi sebelum tiba di tempat usahanya. Aku sih betah tinggal di rumah, memandangi Wulan yang makin hari makin cantik, apalagi sekarang Wulan mengandung anak kami yang pertama. Pikiran nakalku main. Ah piye to Linda, kowe mesti nyari duit buat Wulan dan anakmu yang mo lahir. Cepat-cepat Linda naik angkot yang sudah hendak berangkat. Sekali lagi ia merasakan kelegaan. Sore hari. Sehari sudah terlewati oleh Linda. Ia bersemangat untuk segera sampai di rumah. Bertemu dengan Wulan dan kembali mengusap-ngusap perut Wulan. Selepas ashar, Linda sudah berada kembali di dalam bis. Udara sore hari membuat Linda merasa nyaman. Ia hirup dalam-dalam hingga paru-parunya terisi penuh dengan udara yang sejuk. Sama seperti pagi tadi, ia dapat menempati tempat duduk yang duduk dekat jendela. Tempat yang strategis karena ia bisa menikmati pemandangan yang disuguhkan di sepanjang perjalanan pulangnya, di sore hari. Linda kembali teringat Bapak yang ia temui di bis pagi tadi. Tak sempat ia menanyakan alamatnya. Jika aku tahu alamatnya tentu sekali waktu aku bisa datang berkunjung, sekedar menghibur beliau. Bis telah masuk Lawang. Linda terpaku pada pemandangan alam di luar bis. Ia lirik arloji yang menempel di pergelangan kirinya, lima lima belas. Sebentar lagi lukisan alam akan disuguhkan kepadanya. Linda hafal benar kapan pemandangan itu akan tampil penuh dengan pesona. Cahaya itu menghidupkan hatinya. Tingginya mengingatkan ia terhadap kuasa Tuhan. Keindahannya membuat ia tak henti bersyukur. Saat ini belum ia temukan suguhan yang sebenarnya. Sebentar lagi...ya sebentar lagi. Dan... Ya akhirnya, lukisan alam kini terhampar di depan matanya, ia lihat seutuhnya. Cahayanya yang tersebar di kakinya. Berkelap-kelip seolah-olah kunang-kunang yang hinggap di hijaunya batang pohon yang besar. Berkelap-kelip di kaki Arjuna. Arjuna, tempat ia menemukan cahaya yang sesungguhnya, tempat ia menemukan belahan hatinya, tempat ia merasa terlahir kembali dengan nama yang ia bangga menyandangnya, Linda Arjunaswara. Beberapa saat Linda terhanyut dalam keasyikannya menikmati Arjuna dengan kelap-kelip kunang-kunang di kakinya. Tiba-tiba pundaknya ditepuk dengan sangat lembut dari samping. Tersentak Linda dari keasyikannya. Menoleh ke sumber tepukan tadi. ”Pa Kabar, Nak?” Bapak yang tadi pagi? Linda menjerit dalam hati. Kapan beliau naik, rasanya bis tidak berhenti menaikkan penumpang. ”Eh...Bapak, saya kira sapa, Pak.” Bapak itu tersenyum Senyumnya kali ini tampak lebih lepas. Pecinya masih bertengger rapi di kepalanya. Sorot matanya tak lagi menyiratkan kegelisahan. Linda kembali merasa lega. ”Alhamdulillah, baek, Pak.” ”Alhamdulillah....” ”Bapak badhe wangsul?” Linda merasa kikuk mendapatkan tatapan lembut Bapak tua itu. Kembali ia teringat Ayahnya. Bapak tua itu mengangguk pelan dengan senyum yang terus menghias wajah keriputnya. ”Ya, Le. Wangsul. Bapak lega, Le. Kepulangan Bapak pasti ditunggu istri Bapak. Bapak senang bisa kumpul lagi dengan istri Bapak. Sudah setahun kami ndak bersama-sama.” Linda mengernyitkan dahi. Tidak berkumpul selama setahun, emangnya istrinya dimana? Linda merasa ada kejanggalan tapi ia tak bernai bertanya lebih lanjut. Takut mencampuri urusan pribadi orang. ”O.... Memang, Pak, seharian ndak ktemu ma istri dadi kangen, Pak.” Keduanya tertawa. Linda sempat melihat perempuan yang duduk di depannya menoleh padanya. Tatapan matanya aneh. Begitu juga dengan laki-laki yang duduk paling depan, turut menatapnya dengan heran. Linda tak mengacuhkan mereka. Kembali ia berbicara dengan Bapak tua. ”Bapak turun dimana?” ”Di depan, sebentar lagi.” Linda kebingungan melanjutkan percakapannya dengan Bapak tua. Seolah-olah mengerti apa yang ada dibingungkan oleh Linda, Bapak itu kembali berceloteh. ”Dari tadi Bapak perhatikan, kamu ngliatin Arjuna trus. Pernah ke sana to?” Linda tertegun. Darimana Bapak ini tahu kalau aku sedang memperhatikan Arjuna? Rasanya belum sampai lima menit Bapak ini duduk di sini. Aneh. Linda menepis rasa penasarannya. Sempat ia lirik jam di tangannya, hampir pukul enam. Adzan maghrib pun sudah dikumandangkan. ”Oh...dulu pernah, Pak. Di sanalah saya ktemu dengan istri saya.” ”Oalah...makane serius tenan ngliatin Arjuna.” Bapak itu kembali tersenyum. Sungguh sangat berbeda dengan sosoknya yang dijumpai Linda tadi pagi. Tapi, Linda menangkap ada hal yang aneh dari sosok laki-laki di hadapannya. Sedari tadi memang Bapak itu tersenyum dan wajahnya tampak bahagia, namun semua itu tidak menutupi kepasiannya. Wajahnya putih pasi. Seakan disinari oleh cahaya yang entah darimana datangnya. Seperti cahaya kunang-kunang di kaki Arjuna, Linda betah untuk menerima cahaya yang memancar dari wajah Bapak tua itu. ”Nyuwun sewu, Bapak sakit? Wajah Bapak pucat.” Bapak itu tetap tenang, tak lupa senyumnya masih bertengger di bibirnya yang hitam. Tiba-tiba Bapak itu mengarahkan telunjuknya ke arah Arjuna. Kontan Linda mengikuti arah yang ditunjuk oleh Bapak itu. Dilihat oleh Linda, Arjuna tampak semakin gagah. Di keremangan cahaya senja, Arjuna menjadi misterius. Senja yang indah dengan kelap-kelip cahaya lampu neon dari rumah di kaki Arjuna. Seratus, lima ratus, tujuh rarus, atau bahkan seribu cahaya yang menghias Arjuna. Kunang-kunang yang indah, membuat Arjuna semakin indah. Linda takjub, seakan ia menyatu dengan apa yang terhampar di depannya sekarang. Ia adalah bagian dari semua itu. Akan ia ceritakan sesampainya di rumah kepada istrinya tentang apa yang dilihatnya sekarang ini. Khusyuk Linda terusik oleh teriakan kernet, bis berhenti menurunkan penumpang. Yang turun adalah seorang perempuan. Linda lantas berpaling hendak berbicara kepada Bapak tua. Namun, Bapak tua tak ada lagi di sampingnya. Linda terkaget, kapan beliau turun? Linda melihat ke sekelilingnya, mungkin saja Bapak tua itu pindah tempat duduk yang lebih nyaman. Tidak ada. Linda hanya mendapati kembali tatapan aneh dari laki-laki yang duduk di depannya. ”Napa, Mas? Wis sadar ta? Dari tadi saya liat Mas ngomong dhewe...Sudah saya tegur tapi Mas ndak merhatiin.” Laki-laki itu geleng-geleng kepala, tersenyum seakan menertawakan kebodohan Linda. Ngomong sendiri? Linda semakin bingung, dia tadi sedang bercakap-cakap dengan Bapak tua itu, kenapa dia dianggap ngomong sendiri. ”Saya ndak ngomong sendiri kok, Pak. Tadi ada Bapak tua ngobrol-ngobrol ma saya. Mosok Bapak ndak liat?” “Mas iki ojo ngawur to? Capek yo capek, Mas, tapi ojo dadi wong sing ndak waras.” “Bener, Mas. Mas dari tadi ngomong sendiri. Saya juga dah negur Mas...eh tapi ndak digubris.” Perempuan yang juga tadi melihat Linda dengan tatapan aneh ikut memberikan penjelasan kepada Linda. Linda semakin tidak mengerti. Ia merasa benar-benar sedang bercakap-cakap dengan Bapak tua itu. Lalu bapak itu kemana sekarang. Apa memang benar aku ngomong sendiri yo? Linda merasa ia terbawa perasaannya, rindu terhadap sosok ayahnya yang terwakili dengan hadirnya Bapak tua tadi. Itulah yang ada di benak Linda sekarang. Ia tak habis pikir, kenapa ia menjadi seperti ini. Dua orang yang mengatakannya berbicara sendiri. Apakah tidak cukup kuat untuk membuktikan itu semua. Linda menggeleng-gelengkan kepalanya. Menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Ia membuang muka ke jendela. Arjuna sudah tak kelihatan lagi. Di luar hari semakin gelap. Dengan rasa penasaran yang masih tersimpan di kepalanya. Arjuna bangkit dari tempat duduknya. Ia akan turun di depan. Sebelum beranjak, laki-laki yang tadi berpesan kepadanya, ”Hati-hati, Mas. Ojo nglamun ae...engku kesambet.” Linda tersenyum kecut padanya. Linda berdiri dekat sang kernet dan memberi isyarat agar bis berhenti di depan. Namun, bis direm mendadak oleh si sopir. Linda terkejut, untung pegangannya cukup kuat pada palang besi. ”Oalah...ono kecelakaan ning ngarep.” Si sopir berbicara keras. Sengaja agar penumpang tahu apa yang mengakibatkannya mengerem bis tiba-tiba. ”Turun di sini saja, Mas. Daripada turun di depan.” Akhirnya Linda turun sebelum tempat dimana seharusnya ia turun. Linda berjalan menyisiri jalan yang lumayan macet gara-gara ada kecelakaan tersebut. Polisi sibuk mengatur lalu lintas agar tidak bertambah macet. Orang-orang ikut-ikutan meramaikan kemacetan itu. Mereka penasaran dengan korban yang ternyata masih ada di sana. Linda heran kenapa orang-orang tidak merasa ngeri, mereka malah mencari-cari tahu si korban yang telah ditutupi koran. Tabrak lari. Laki-laki tua ditabrak kijang yang ngebut. Selintas Linda mendengarnya sembari ia terus berjalan menuju perhentian angkot di depan. Linda tidak terlalu menghiraukan situasi itu, ia terus berjalan sembari mengingat-ingat kejadian di bis tadi. Langkahnya terhenti ketika ia melihat sebuah peci hitam. Peci yang tergeletak di pinggir jalan, tak jauh dari tempatnya berdiri. Ia langsung teringat bapak tua dengan pecinya. Ia berlari kembali ke tempat korban kecelakaan yang sudah ia lalui. Terlambat. Korban mulai diangkat ke ambulance. Di tengah desakan orang-orang, Linda menangkap wajah korban yang kainnya tersingkap. Tidak jelas memang. Tapi wajah itu disinari cahaya yang entah darimana datangnya. Wajah yang ia dapati tadi di bis.
Jombang di siang hari, 12 Juni 2006
Footnote [1] silahkan [2] permisi [3] iya

Jalan Kupu-kupu Helvy Tiana Rosa

Senin, 03 Mei 2010

Esai Hafi Zha bunda, engkaulah yang menuntunku ke jalan kupu-kupu Demikian bait puisi Abdurrahman Faiz, putra sulung Helvy Tiana Rosa (HTR). Chamamah-Soeratno mengatakan dalam Sangidu[1] bahwa manusia sebagai homo significans, dengan karyanya akan memberi makna pada dunia nyata atas dasar pengetahuannya. Pemberian makna dilakukan dengan cara mereka dan hasil karyanya berupa tanda. Sebagai tanda, karya sastra merupakan dunia dalam kata yang dapat dipandang sebagai sarana komunikasi antara pembaca dengan pengarangnya. Karya sastra bukan merupakan sarana komunikasi biasa. Oleh karena itulah, karya sastra dapat dipandang sebagai gejala semiotik (Teeuw, 1984: 43). Melalui “Jalan Bunda” Faiz seolah ingin memasang tanda sebagai alat komunikasi dengan pembaca mengenai sosok bunda, yang dalam puisi tersebut dikatakann telah menuntun Faiz ke jalan kupu-kupu. Sehingga penafsiran terhadap karya ini akan mungkin mengantarkan kita pada pengungkapan sosok HTR yang menjadi subjek dalam puisi Faiz tersebut. Menurut teori Pierce setiap tanda tentu memiliki dua tataran, yaitu tataran kebahasaan dan tataran mitis. Tataran kebahasaan disebut sebagai penanda primer yang penuh, yaitu tanda yang telah penuh dikarenakan telah mantap acuan maknanya[2] karena Penanda, Petanda, dan Tanda dalam tataran ini masuk wilayah denotatif yang mengacu pada makna leksikal atau makna dalam kamus. Tanda pada tataran kebahasaan itu berubah menjadi Penanda dalam tataran mitis[3]. Atau, dengan kata lain, penanda-penanda pada wilayah konotatif dibentuk dari tanda-tanda yang ada di wilayah denotatifnya[4]. Sehingga tiada termungkinkan bagi pembaca menafsirkan Petanda pada tataran mitis yang masuk wilayah konotatif, tanpa mengacu pada makna leksikalnya. Kata bunda dalam larik pertama puisi ini tentu mengacu pada ibu dari Faiz, yaitu HTR. Begitu juga kata engkaulah dalam larik kedua merupakan pronomina dari kata bunda dalam larik pertama. Sedangkan makna leksikal dari kata menuntun dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (2005: 1227) memiliki arti: menunjuk (mengarahkan) ke jalan yg benar. Jalan yang oleh Faiz disebut sebagai jalan kupu-kupu. Dalam KBBI (2005: 452) lema jalan memiliki pengertian: cara (akal, syarat, ikhtiar, dsb) untuk melakukan (mengerjakan, mencapai, mencari) sesuatu. Sedangkan lema kupu-kupu dalam KBBI (2005: 615—616) ada dua: (1) kupu-kupu yang berarti serangga bersayap lebar, umumnya berwarna cerah, berasal dari kepompong ulat, bisa terbang, biasanya sering hinggap di bunga untuk menghisap madu; (2) kupu-kupu yang bermakna pohon yang kayunya kuat dan halus, biasanya dibuat hulu keris. Apabila kita merujuk pada lema kupu-kupu yang pertama, maka jalan kupu-kupu dalam larik ketiga puisi Faiz bisa bermakna cara mencapai mimpi, cita-cita, atau harapan. Atau dapat juga dimaknai sebagai cara yang dilakukan untuk memetamorfosa aku lirik yang dalam puisi ini merujuk pada pengarangnya, dari no body menjadi some body. Namun, jika kita memilih lema kupu-kupu yang kedua, maknanya adalah cara yang dilakukan untuk menjadikan aku lirik sebagai pohon yang kuat. HTR selain dikenal sebagai sastrawan dan lektor susastra di Universitas Negeri Jakarta, ia juga dikenal sebagai salah satu pendiri organisasi pengaderan penulis terbesar di seluruh dunia, yaitu Forum Lingkar Pena, yang oleh Taufiq Ismail dikatakan sebagai anugerah untuk bangsa Indonesia. Sedangkan Abdurrahman Faiz, sempat tercatat dalam rekor Muri sebagai penyair tercilik yang menerbitkan buku pada usia 8 tahun. Dengan demikian tak salah jika kita memaknai puisi “Jalan Bunda” ini sebagai sebuah usaha HTR dalam mengarahkan Faiz untuk meraih cita-citanya agar ia tumbuh menjadi some body yang seperti pohon kupu-kupu melalui dunia literasi. Hurlock (1993: 202) mengatakan, “Sikap orang tua tidak hanya mempunyai pengaruh yang kuat pada hubungan di dalam keluarga tetapi juga pada sikap dan perilaku anak. Kebanyakan orang yang berhasil setelah dewasa berasal dari keluarga dengan orang tua yang bersikap positif dan hubungan antara mereka dan orang tua sehat.” “Jalan Bunda” yang telah dirintis oleh HTR terbukti telah menghasilkan generasi sehebat Abdurrahman Faiz. Lalu bagaimana dengan kita?
Kapuasdua, 15 April 2010
Daftar Pustaka Hurlock, Elizabeth B.1993. Pekembangan Anak. Jakarta: Erlangga Santosa, Drs. Puji. 1990. Ancangan Semiotika dan Pengkajian Susastra. Bandung: Angkasa Pusat Bahasa. 2005. Kamus Besar Bahasa Indonesia edisi Ketiga. Jakarta: Balai Pustaka Sangidu. Ikan Tunggal Bernama Fadhil karya Syaikh Hanzah Fansuri: Analisis Semiotik. Humaniora volume XV, No. 2/2003

Chairil dalam Sajak Aku

Rabu, 27 Januari 2010

Esai Hafi Zha
SAJAK “Aku” pernah mengalami perubahan. Dalam Kerikil Tajam judulnya “Semangat” kemudian judul “Aku” dipakai dalam Deru Campur Debu. Kata-kata dalam sajak “Aku” pun ada yang mengalami perubahan, yaitu kata “ku tahu” pada baris kedua bait pertama, diganti “ku mau”. Mengapakah Chairil Anwar mengganti kata-kata itu? Ada beberapa alasan, di antaranya dalam kata “semangat” itu terkandung arti perasaan yang menyala-nyala, terasa ada sifat propagandis atau perasaan yang bombastis (berlebih-lebihan). Sedangkan dalam kata “aku” terkandung perasaan yang menunjukkan kepribadian penyair dan semangat individualistisnya. Ditinjau dari sudut ini, kata “aku” lebih tepat daripada “semangat” untuk judulnya. Selain itu, puisi-puisi Chairil yang bersifat individualis sulit lolos sensor di masa Jepang. Untuk itu, Chairil memakai judul “Semangat” untuk mengelabui sensor. Sedangkan kata “ku tahu” menunjukkan perasaan pesimis dan rasa keterpencilan. Bila sajak itu dideklamasikan maka nadanya rendah dan melankolik. Hal ini tidak sesuai dengan bait-bait berikutnya yang penuh semangat. Karena itu, kata “ku tahu” tidak tepat dan diganti dengan kata “ku mau” yang lebih menunjukkan kemauan pribadi yang kuat. Sajak “Aku” menceritakan jika meninggal, si aku ingin tak ada seorang pun yang bersedih (“merayu”). Si aku ini binatang jalang yang lepas bebas, yang terbuang dari kelompoknya: ia merdeka tak mau terikat oleh aturan-aturan yang mengikat, bahkan meskipun ia ditembak peluru menembus kulitnya, si aku tetap berang dan memberontak terhadap aturan­aturan yang mengikat tersebut. Si aku mau hidup seribu tahun lagi sebuah kiasan yang bermakna bahwa yang hidup seribu tahun lagi adalah semangat, pikiran, dan karya­karyanya. Si aku, Chairil Anwar, adalah manusia yang terasing. Keterasingannya ini memang disengaja sebagai pertanggungjawaban pribadi: Ku mau tak seorang kan merayu/ Tidak juga kau. Hal ini karena si aku adalah manusia bebas yang tidak mau terikat kepada orang lain: Aku ini binatang jalang/ Dari kumpulannya terbuang. Dan si aku ini menentukan “nasibnya” sendiri, tidak mau terikat oleh kekuasaan lain: Aku mau hidup seribu tahun lagi. Pengakuan dirinya sebagai binatang jalang dan penentuan nasib sendiri: Aku mau hidup seribu tahun lagi merupakan sikap revolusioner terhadap paham dan sikap atau pandangan para penyair yang mendahuluinya (Pujangga Baru) (Pradopo, 1987: 171). Dalam sajak ini intensitas pernyataan dinyatakan dengan sarana retorika berupa hiperbola, dikombinasi dengan ulangan, serta diperkuat oleh ulangan bunyi vokal /a/ dan /u/. Hiperbola tersebut: Aku ini binatang jalang Dari kumpulannya terbuang Biar peluru menembus kulitku Aku tetap meradang menerjang Aku mau hidup seribu tahun lagi Gaya tersebut disertai dengan ulangan bunyi /i/ yang lebih menambah intensitas: Luka dan bisa kubawa berlari. Berlari Hingga hilang pedih peri ... peduli ... lagi Dengan hiperbola tersebut penonjolan pribadi tampak nyata. Menurut Pradopo (1987: 173), sajak “Aku” menimbulkan banyak tafsir, bersifat ambigu. Hal ini karena ketidaklangsungan ucapan dengan cara bermacam-macam. Chairil memang ingin menarik perhatian dan untuk menimbulkan pemikiran. Dalan sajak “Aku” dipergunakan penyimpangan arti (distorsing) (Riffaterre dalam Pradopo, 1987: 173): kalau sampai waktuku dapat berarti kalau aku mati; tidak perlu sedu sedan itu dapat berarti tak ada gunanya kesedihan itu; tidak juga kau dapat berarti tidak juga engkau anakku, istriku, atau kekasihku. Ambiguitas arti memperkaya makna. Dalam sajak ini juga banyak digunakan metafora penuh dan implisit. Metafora penuh seperti: Aku ini binatang jalang, maksudnya si aku seperti binatang jalang yang bebas lepas tidak terikat oleh ikatan apapun (Pradopo, 1987: 172). Metafora implisit di sini: peluru, luka dan bisa, pedih peri. “Peluru” untuk mengiaskan serangan, siksaan, halangan ataupun rintangan. Meskipun si aku tertembus peluru: mendapat siksaan, rintangan, serangan, ataupun halangan­-halangan, ia tetap akan meradang menerjang: melawan dengan keras, berbuat nekat demi kebenarannya. “luka dan bisa” untuk mengiaskan penderitaan yang didapat. “Pedih peri” mengiaskan kesakitan, kesedihan, atau penderitaan akibat tembusan peluru di kulit si aku (halangan, rintangan, serangan, ataupun siksaan). Untuk menyatakan semangat menyala-nyala digunakan kiasan: “Aku mau hidup seribu tahun lagi”. Jadi, di sini kelihatan gambaran bahwa si aku penuh vitalitas. Dalam sajak ini dikemukakan ide kepribadian bahwa orang itu harus bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri: Ku mau tak seorang kan merayu (bersedih). Orang lain hendaknya jangan campur tangan terhadap nasib si aku, baik dalam suka maupun duka, maka Tak perlu sedu sedan itu. Dari analisis di atas, pembaca dapat menyimpulkan bahwa Aku dalam sajak tersebut adalah Chairil. Menurut Asrul Sani (dalam Ismail, 1999: 8), sajak Aku merupakan sebuah pamitan yang getir oleh Chairil kepada ayahnya yang mencoba membujuknya kembali ke Medan. Memang secara tak langsung sajak Aku menggambarkan seorang Chairil yang berpendirian teguh, yang menolak bujukan dari ayahnya sendiri. Tidak salahlah jika dalam , sajak Aku, tersimpan semangat Chairil Anwar yang penuh vitalitas, menyala-nyala dan membara. Sumber: Majalah Sabili No.14 Th.XIV 25 Januari 2007/6 Muharam 1428

Simbolisme Penyair dan Bulan

Esai Hafi Zha Seorang pengarang memiliki kemampuan untuk memotret kenyataan hidup di sekelilingnya ke dalam cerpen. Dengan daya imajinasinya, kenyataan hidup di dalam cerpen telah menjadi dunia baru. Dunia baru yang ditawarkan kepada pembaca untuk dinikmati, direnungkan, dan diambil hikmahnya. Dunia di dalam cerpen boleh jadi dibangun oleh penyair dengan tidak mengubah keasliannya di dalam dunia nyata. Unsur tokoh, tempat, dan suasana tetap dipertahankan sebagaimana adanya. Akan tetapi, tak semua pengarang memiliki kebebasan untuk berapresiasi dengan kenyataan hidup secara lugas. Walhasil, ia pun memilih untuk menggunakan simbol-simbol dalam cerpennya untuk mewakili realitas yang dipotretnya. Cerpen karya Riyono Pratikno dengan judul Penyair dan Bulan, menceritakan tentang seorang penyair yang keletihan menuju pondokannya di malam yang larut. Matanya yang memberat karena kantuk membawa kakinya menuju ke sebuah taman. Ia lalu tiduran di bangku taman. Sembari memandang bulan penuh di antara dedaun pohon. Antara tidur dan jaga, Penyair melihat bulan mendekat kepadanya. Hingga akhirnya ia mendapatkan bulan jatuh di pangkuannya. Hatinya sungguh senang. Ia pun membawa bulan untuk dibagikan kepada kawan-kawan yang sependeritaan dengannya. Berkumpullah mereka dan dipotonglah bulan dengan adil dan rata. Masing-masing membawa potongan bulan yang masih tetap bersinar. Di tengah perjalanan, berubahlah potongan bulan menjadi gadis cantik. Penyair teramat senang hatinya karena belum pernah merasakan kenikmatan hidup seperti malam itu. Diajaklah Penyair oleh gadis cantik ke tempat yang becek di daerah kali yang baru meluapkan airnya. Lama-lama ia menghirup bau yang tak sedap dari kali itu. Ia juga mulai melihat dengan terang segala kekotoran yang ada dalam kebecekan itu. Ia tidak marah kepada gadis cantik. Sebaliknya, ia berterimakasih. Ternyata, kawan-kawan Penyair juga mendapatkan ilham dan pikiran-pikiran baru dari gadis-gadis bulan. Cerita lantas ditutup dengan bersatunya gadis-gadis cantik menjadi bulan dan kembali terbang ke langit sewaktu matahari hendak lahir. Mengapa bulan? Jika kita telisik lebih dalam cerpen Riyono, akan kita temukan tafsiran berharga. Lebih dari sekadar memaknainya sebagai cerpen khayal tentang bulan sebagai benda langit yang jatuh di pangkuan seorang penyair, kemudian berubah menjadi gadis cantik. Bulan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (2005) bermakna benda langit yang mengitari bumi, bersinar pada malam hari karena pantulan sinar matahari. Juga dimaknai sebagai masa atau jangka waktu perputaran bulan mengitari bumi dari mulai tampaknya sampai hilang kembali. Dari pemaknaan tersebut kita dapati bahwa bulan adalah benda langit yang sebenarnya tak mampu memancarkan cahaya. Ia mendapat pantulan dari sinar matahari sehingga mampu bersinar di malam hari. Keindahan bulan dengan sinarnya di malam hari (apalagi bulan penuh) dipuja banyak orang, termasuk oleh tokoh di dalam cerpen Riyono. Penyair perasaannya bergetar memandang bulan. Sebentar itu segala kesukaran-kesukaran hidupnya yang begitu pahit hilang lenyap, dan ia semakin senyum memandangnya. Tangannya berganti-ganti menjadi bantal bagi kepalanya, dan pandangnya bertambah gairah. Riyono mengajak kita untuk ikut menyelami pikiran dan perasaan penyair sebagai tokoh cerita. Ia tengah dilanda keletihan atas kesukaran-kesukaran hidupnya yang begitu pahit. Semacam kecemasan dan kegelisahan akan hidup. Di sisi lain ia menemukan penghiburan dengan melihat bulan. Selanjutnya, dengan tidak berbasa-basi, Riyono memberikan kebahagiaan yang lebih kepada tokoh ceritanya dengan menjatuhkan bulan di atas pangkuannya, lalu berubah menjadi gadis cantik. Gadis bulan yang cantik inilah yang membawa pemaknaan baru terhadap cerpen Riyono. Selain membawa kebahagiaan tersendiri bagi Penyair, gadis bulan memberikan ilham (pikiran baru) kepadanya. Seolah-olah gadis bulan menjadi kunci yang membuka kesadarannya. Ia tiada marah pada gadis cantik di sampingnya oleh penunjukan tempat yang sebobrok itu, malahan ia berterimakasih sepenuh hati, karena telah membuka pikiran-pikiran baru. Gadis bulan dalam cerpen ini mencoba menyentuh kepekaan Penyair terhadap lingkungan yang ia anggap tak indah lagi. Selain itu, gadis bulan meruntuhkan pandangan Penyair terhadap keindahan bulan yang biasanya ada di langit malam, tiba-tiba turun ke bumi. “Mengapa kita mesti duduk di sini? Sedangkan tempat-tempat yang indah masih banyak lagi lainnya,” tanya Penyair. Bulan dengan wajah menggoda menjawab: “Benar-benarkah kau tidak lagi menemui keindahan di sini?” Penyair menggelengkan kepalanya. “Tahukah engkau apa sebabnya? Karena bulan malam ini tidak ada. Bulan malam ini turun ke bumi, dan karena itu tidak kau dapati bayangnya mengaca di kali serta tanah-tanah becek ini. Karena itulah hilang pandangan keindahanmu terhadapnya.” Dari pembahasan di atas, dapat kita maknai bahwa bulan di dalam cerpen Riyono merupakan keindahan yang semu. Dengan turunnya bulan ke bumi lalu berubah menjadi gadis cantik yang menemani si penyair, membuat apa yang ada di bumi kehilangan keindahannya. Selain itu, bulan (gadis bulan) telah membuka mata batin si Penyair bahwa keindahan sesuatu yang tampak oleh mata belum tentu benar-benar indah. Bahkan ia bisa saja menyimpan kebobrokan dan kekotoran di balik keindahannya itu. Kesadaran penyair juga digugah bahwa tak selamanya inspirasi (ilham) berada jauh dengan memandang ke atas langit. Akan tetapi, bisa ditemukan dekat dengannya, di lingkungannya sendiri. Sementara itu, secara simbolik Riyono juga telah menampilkan sosok tokoh si Penyair yang mengalami kepahitan hidup yang pada hakikatnya sama dengan situasi yang dialami masyarakat dengan hidup yang sukar tetapi mengangankan kenikmatan. Di dalam simbolisme dunia nyata sekadar perlambang dari dunia yang tidak tampak. Jassin mengatakan simbolisme serumpun dengan surealisme.[1] Persamaannya dengan surealisme ialah bahwa keduanya hanya mempergunakan realisme sebagai batu loncatan kepada dunia di belakang realisme, dunia cita. Riyono membuka cerpen ini dengan tindak lakuan yang merupakan bagian dari realisme sampai pada paragraf berikut ini: Penyair perasaannya bergetar memandang bulan. Sebentar itu segala kesukaran-kesukaran hidupnya yang begitu pahit hilang lenyap, dan ia makin senyum memandangnya. Tangannya berganti-ganti menjadi bantal bagi kepalanya, dan pandangnya bertambah gairah. Waktu ia berada antara tidur dan jaga, maka betapa terkejutnya ia waktu dilihatnya, bulan makin mendekat jua padanya. Peristiwa yang terjadi setelah Penyair berada dalam kondisi antara tidur dan jaga ini merupakan realitas pikiran atau seperti kata Jassin, dunia di belakang realisme. Namun, cerpen ini belum dapat dikatakan sebagai cerpen surealis karena tindak laku dan tindak pikir berlangsung secara kronologis, sementara surealisme menghendaki keseluruhan dan kesewaktuan (simultan).[2] Apa yang dilakukan dan apa yang dipikirkan, hadir bersama-sama dalam satu peristiwa sehingga kita sulit menemukan hubungan antarperistiwanya. Meski demikian, cerpen ini jelas menunjukan gejala sebagai cerpen surealis. Kapuasdua,14 Juli 2009 [1]Lihat Tifa Penyair dan Daerahnya. “Surrealisme”. Jakarta: Gunung Agung, 1953, hlm. 26 [2] Ibid, hlm. 22

Di Ambang Pintu Dua Dunia

Senin, 16 Maret 2009

Cerpen Hafi Zha

Malam ini, aku kan tidur sendiri lagi. Dia masih saja berkutat dengan dunianya. Tanpa peduli apa yang kuinginkan.

***

Aku berada di ambang pintu, memperhatikan laki-lakiku yang tengah sibuk dengan dunianya. Dunia yang ia cintai. Dunia yang berujar bahwa kata adalah senjata utamanya, pedang yang lebih tajam daripada lidah. Dunia dimana bisa membuat laki-lakiku betah untuk duduk di depan layar monitor, menekan tuts-tutsnya, bercerita tentang segala hal. Dan aku...aku di sini, di ambang pintu, pintu yang memisahkan dunia kami. Aku tak mampu melangkah mundur ataupun masuk ke dunianya. Setiap kali aku mencoba untuk masuk, aku ditarik oleh kekuatan dari duniaku yang entah darimana datangnya. Berkali-kali aku berada di tengah-tengah, antara duniaku dan dunianya. Mungkinkah apa yang dulu kutakutkan akan terjadi. Bayangan yang menghantuiku saat aku menerima dia menjadi laki-lakiku, suamiku.

***

”Makanannya sudah siap, Mas,” Aku mendekatiku laki-lakiku yang duduk di depan komputernya. Musik klasik menyemarakkan ruangan kerjanya yang bernuansa biru langit. Aku betah di dalamnya apalagi bersama dengan laki-lakiku. ”Sebentar, sayang. Lagi tanggung nih,” Dia memandangku sembari tersenyum padaku. Aku berhenti untuk membujuknya makan. Laki-lakiku takkan bisa diganggu ketika dia sedang bercerita pada komputernya. Aku mengambil duduk di sampingnya. Kupandangi dia dari samping dan kutemukan keseriusannya dengan tulisan-tulisannya di layar monitor. Lama kupandangi wajahnya. Aku tersentak, apakah ini hanya perasaanku saja atau memang inilah yang sedang terjadi. Dia tak menghiraukanku. Dia tak bereaksi ketika aku berada di dekatnya. Dia tak mengucapkan sepatah kata pun, tak jua melirikku. Kami seolah-olah tak pernah mengenal satu sama lainnya. Dia tenggelam dalam keasyikannya. Lama ini berlangsung dan tak ada yang berubah di antara kami. Kebekuan itu ada. Aku tak mampu memecahkan bongkahan es yang kini berada di masing-masing diri kami. Aku beranjak pelan dari dudukku, tetap ia tak menghiraukanku. Aku terhempas dalam kegamanganku, beringsut dari ruangannya menuju pintu untuk keluar dari dunianya. Aku sempat melihatnya yang tak jua menoleh kepadaku. Istrinya yang rindu belaiannya. *** Aku berada di kamar kami, yang dulu tempat kami berbagi kisah. Kami betah untuk berlama-lama di sini, menghabiskan malam-malam kerinduan kami. Waktu dimana sang surya bersinar kami takkan bisa menumpahkan rindu kami. Hanya di malam hari, kami bisa berkumpul. Dia takkan henti-hentinya menggodaku, memuji setiap hal yang ada dalam diriku. Kami berdua seperti anak kecil yang tengah asyik bermain di dalam taman milik kami. Aku pura-pura merajuk padanya, aku bermanja-manja padanya. Kebahagiaan di awal-awal pernikahan kami. Kini, kamar yang sekarang aku tempati sepi. Sunyi, tak ada derai tawa ataupun sekedr kata yang terucap. Dinding-dinding kamar merekam semuanya, peristiwa yang aku dan laki-lakiku lalui. Aku di sini, di kamar kami, mungkin sekarang adalah kamarku karena laki-lakiku sudah jarang untuk tidur bersamaku di sini. Dia lebih betah berada di kamar kerjanya, di sebelah kamar ini, bercerita pada komputernya hingga tertidur di atas meja kerjanya. Meninggalkan aku di sini, tidur diantarkan oleh cerita yang direkam oleh benda-benda yang ada di sini. Juga, buku harianku yang setia menampung segala keluh kesahku. Malam ini, aku kan tidur sendiri lagi. Dia masih saja berkutat dengan dunia dalam katanya. Tanpa peduli apa yang kuinginkan. Aku bertahan dalam keadaan seperti ini. Mencoba mengerti akan apa yang menjadi kesenangannya – serta pekerjaannya – bahkan kini telah menjadi sainganku. Dunianya telah menenggelamkan laki-lakiku hingga melupakanku, istrinya. Suamiku yang dulu tempat aku mencurahkan perasaanku, yang betah mendengar cerita-ceritaku, telah memiliki dunianya sendiri. Aku tak ingin mengganggunya, tapi sampai kapan aku berada dalam keadaan seperti ini. Aku merindukannya, namun aku tak sanggup untuk berkata ketika melihatnya tengah asyik dengan dunianya. Aku merindukanmu, laki-lakiku.

***

Aku kembali berada di dekatnya malam ini. Sama seperti malam-malam dahulu, dia tengah tekun dengan cerita-ceritanya, yang jika kuhitung mungkin sudah beratus-ratus jumlahnya. Laki-lakiku berhasil di dunianya. Cerita-ceritanya beberapa kali mendapatkan penghargaan nasional hingga internasional. Suamiku menjadi sosok yang terkenal. Ia dihormati karena cerita-ceritanya. Ia dianggap sebagai pahlawan yang mempunyai pedang yang tajam, kata-kata yang takkan pernah habis untuk mengkritik apa yang terjadi di sekitarnya, memotret kehidupan sosial politik ekonomi ke dalam cerita-ceritanya. Suamiku menemukan dunianya yang selama ini dia perjuangkan untuk mencapainya. Suamiku berbahagia. Ia berbahagia ketika apa yang diinginkannya dulu tercapai sudah kini. Aku merasakan kebahagiaannya. Namun kebahagiaan yang hambar kurasa. Aku kembali terhempas dalam kegamanganku, kesunyianku. Aku tak menemukan suamiku yang dulu. Aku kini sendiri. Seperti saat ini, walau aku dan laki-lakiku berada dalam satu ruangan, duduk berdekatan, seolah tak ada tali yang menghubungkan hati kami. Aku tertunduk menarik nafasku yang sesak memenuhi dadaku. Aku terhimpit dalam kerinduan yang aku pendam kepadanya, laki-laki yang duduk di sampingku yang sibuk menekan tuts-tuts keyboard komputernya.

Aku memberanikan menyentuh pundaknya. Kupandangi wajahnya yang juga tengah memandangiku. Kumencoba mencari kerinduan di matanya, tak kutemukan. Ataukah aku telah terbungkus dalam kerinduan yang membuatku tak dapat merasa. Entah, bagaimana dia menemukan wajahku saat ini...kesedihankah yang tampak ataukah kelegaan karena dapat memandang wajahnya. ”Ada apa, sayang? Wajahmu tampak pucat dan matamu bersinar redup,” Aku baru tahu kalau wajahku ternyata tak mampu menyembunyikan kesedihanku. Aku menggeleng, bibirku tak mau untuk berucap mengungkapkan perasaanku padanya. ”Kamu tidur duluan saja, aku masih belum menyelesaikan ceritaku. Ya, sayang?” Ya, aku akan tidur, tidur dalam kesendirianku, laki-lakiku. Kau akan tidur di duniamu, tidak di duniaku atau di dunia kita. Kau tak pernah bisa mengakhiri ceritamu karena cerita itu akan terus bersambung. Sedang cerita di antara kita berdua? Cerita kita berdua terhenti, menggantung. Aku tak bisa menyelesaikannya dan kau juga seolah-olah tak mau mengutak-atiknya. Aku kembali beranjak seperti malam-malam terdahulu. Namun ada yang membedakannya, kali ini aku diantar oleh tatapan laki-lakiku yang kurasa menusukku dari belakang karena saking rindunya aku padanya. Kututup pintu kamar menuju dunia laki-lakiku dan kulihat ia kembali menekuni komputernya.

***

Diriku selalu bertanya, apa yang telah merubahmu hingga kini kau menjadi pendiam. Ataukah ada yang telah merubah kita berdua?

Kau adalah wanita yang kucintai, kusayangi sepenuh hatiku. Dalam dirimu kini ada misteri, suatu rahasia, yang kau sembunyikan rapat-rapat dariku. Berkali-kali kau datang ke sini, duduk di sampingku, berlama-lama memandangiku. Diriku diam, menunggu kata-kata keluar dari bibir mungilmu. Menunggu kau bercerita. Namun, kau tetap diam dan terus memandangiku. Lalu kau beranjak dari sisiku, yang sebenarnya kuinginkan kau terus menemaniku, meninggalkanku dengan kepala penuh tanda tanya. Apa yang telah terjadi padamu?

***

Pertanyaan itu terus menghantui diriku. Aku tak pernah bisa lagi lancar dalam bercerita di depan komputer. Wanitaku tengah bersedih, diriku merasakan itu. Di dalam kamar kerjaku, sesaat kau pergi meninggalkanku, aku berhenti bercerita. Kubuka album pernikahan kita, salah satu hal yang belakangan sering kulakukan, dan mungkin kautak mengetahuinya. Diriku terhanyut di masa-masa awal pernikahan kita. Kita pernah bercengkarama di sini, kau bermain-main seperti anak kecil yang haus kasih sayang dan kuturuti segala apa yang kaumau saat itu. Aku merindumu, wanitaku. Kemana keceriaan yang selalu menghiasi wajahmu, kemanjaanmu yang sering kautunjukkan di depanku, kemana sayang?

Diriku tak pernah bisa menahanmu agar tetap berada di sini. Diriku pengecut. Kulihat kelelahan menggelayut di wajahmu, kelelahan karena menanggung sesuatu yang tiada kauungkapkan padaku. Mungkin benar kau lelah sayang. Beberapa hari ini diriku menemukanmu sibuk dengan daftar-daftar nilai mahasiswamu. Diriku tak ingin mengusikmu, sayang. Kubiarkan kau istirahat karena esok kau akan kembali berkutat dengan tugasmu mengajar. Diriku kini kehabisan kata-kata. Entah apa yang harus kuceritakan pada komputerku sedang aku tak lagi mendapatkan istriku tersenyum ceria. Ada apa denganmu wanitaku? Ceritakanlah padaku seperti aku bercerita pada halaman catatan harianku, tentang apa yang kurasakan saat ini. Namun, diriku tak jua mampu. Tak mampu sekedar bertanya padamu. Tak mampu meruntuhkan dinding egoku karena diriku adalah laki-laki. Diriku ingin kaulah yang sekarang memulai, bukan suamimu ini.

***

Tengah malam, saat diriku merasakan kesepian di kamar kerjaku. Kau mungkin telah tidur nyenyak di kamar kita. Diriku ingin sekali berada di sampingmu. Kulangkahkan kaki keluar menuju kamar kita, tempat dimana kau tertidur. Pelan-pelan kubuka pintu kamar kita, kutemukan dirimu berbaring membelakangi pintu. Bidadariku tengah tidur pulas, kupikir. Diriku tak berani untuk menghampirimu. Dinding egoku begitu kokoh kuat berdiri. Kau tentu besok akan disibukkan kembali dengan mahasiswa dan persiapan ujian tesismu. Ah...diriku merindumu, bidadariku.

Kututup pintu, pintu yang memisahkan tempat dimana diriku dan kau berada. Lama kuberdiri di depan pintu. Bimbang, apakah tetap berada di sini atau masuk menemani dirimu tidur. Wanitaku...sungguh diriku tak mengerti apa yang sebenarnya telah terjadi di antara kita berdua. Apa yang dulu pernah kau khawatirkan kini terjadi? Diriku tertegun. Cukup lama kita bersama, setidaknya tentu kau mengerti diriku juga duniaku. Seperti aku mengerti bagaimana kau berjuang menimba ilmu dan memberikan ilmu pada mahasiswa-mahasiswamu. Jangan pernah kauragu akan rasa sayangku. Sayangku tak pernah berkurang. Kau tentu juga tahu, aku melakukan ini semua untuk kita berdua, masa depan kita, tidak untuk diriku sendiri. Keberhasilanku sekarang berkat dirimu sayang, kau yang membuka jalan bercerita padaku. Semua penghargaan yang kudapat tiada berarti jika tak ada dirimu di sampingku. Diriku menjadi orang yang bodoh saat ini. Hanya bisa bertanya-tanya sendiri, bicara dengan hati kecilku. Semua yang kukatakan takkan pernah bisa kaudengar karena tak ada kata yang keluar di depanmu. Kau telah tidur sayang. Tidur tanpaku.... Kembali di kamar kerjaku, aku terdiam. Di siang hari waktu kita untuk berkumpul sedikit sekali. Hanya di malam hari kita bisa berdua, bertemu dalam ruang rindu yang kita bangun dengan penuh sayang. Kini, siang atau pun malam hari tak ada bedanya. Diriku tak menemukanmu ada di sampingku. Kau selalu beranjak dari sisiku. Menghilang di balik pintu kamar kerja meninggalkan bayangan semu untukku. Diriku tak pernah lagi bercerita tentang masalah-masalah sosial atau dunia luar yang tak langsung aku alami. Diriku menghabiskan berhalaman-halaman word hanya untuk menuliskan ceritaku sendiri, cerita yang kini kita alami. Kutumpahkan semua yang kurasa, kerinduanku, kemarahanku, kepengecutanku, keegoanku di sana. Seandainya kau membacanya, apakah kau kembali seperti dulu kala? Apakah semua yang kutulis di sini mampu mengembalikan dirimu menjadi bidadariku yang ceria dan manja? Terus kutuliskan di halaman berikutnya, mungkin ini akan menjadi sebuah buku yang best-seller, buku harian seorang suami yang merindukan istrinya. Adakah kau juga rindu padaku?

***

Malam ini aku kan datang. Menemanimu setelah malam-malam panjang kesendirianku.

Kutekadkan hatiku untuk memecah kebekuan kita. Kulangkahkan kaki menuju kamar kerjamu. Kukumpulkan semua kerinduan yang aku tanggung sendiri tanpa pernah aku curahkan kepadamu. Malam ini, ya malam ini semua rinduku haruslah terobati. Segelas susu coklat kesukaanmu kubuat dengan penuh kasih. Entah, ketika kau meminumnya merasakan bagaimana aku membuatnya, kuhayati penuh kemesraan. Kupegang gagang pintu kamar kerja, sedikit ragu datang menyergapku. Tidak, aku tak ingin lagi sendiri menanggung rindu. Pelan kubuka pintu dan kulihat ruangan gelap. Hanya cahaya yang keluar dari monitor yang menyinari ruangan yang gelap. Mataku mencari sosok yang ingin kutemui. Hatiku berdegup kencang. Tak ada orang di sini. Laki-lakiku tak ada di kamar kerjanya. Kudekati meja kerjanya, memastikan bahwa ia ada di sana. Tetap tak ada. Aku menjadi was-was. Kemana dia pergi tengah malam ini. Bergegas kuambil langkah keluar ruangan ini. Namun, sesuatu menahanku. Kulihat tulisan-tulisan di layar monitornya. Kuhadapi monitor itu dan kubaca apa yang ada di depanku. Ada apa dengan istriku? Kutemukan mendung menggelayut di wajahnya yang ayu. Matanya yang indah tak lagi memancarkan sinarnya. Tidakkah dia merasa, aku merindunya. Beberapa kali ia sempat duduk di sampingku namun pada akhirnya dia beranjak meninggalkanku. Aku tak menahannya...tak mampu menahannya agar tetap berada di sampingku. Kelegaan merayap pelan dalam hatiku. Laki-lakiku juga merindukanku. Benarlah yang dikatakan orang, jika rindu pada seseorang tentu orang itupun rindu kita. Mataku berkabut. Aku tak lagi merasa kesepian. Dadaku tak sesak lagi. Tapi, kemana laki-lakiku saat ini? Mengapa dia meninggalkanku ruangannya, ruangan yang menjadi teman dalam sendirinya. Kurasakan ruangan ini penuh dengan rasa rindunya. Kupalingkan badanku menuju pintu untuk mencarinya. Terkejutku ketika pintu telah terbuka, sinar menerobos masuk dari lampu ruang makan. Sinar itu terhalang bayangan sosok tinggi yang kini berada di tengan pintu. Dadaku tak cukup kuat menahan kerinduanku. Air mataku tak bisa kutahan lebih lama untuk tidak keluar deras. Setengah berlari kumenuju sosok yang sangat kukenal itu. Kudekap erat dirinya. Tangannya dengan pasti membalas pelukanku. Sempat kudengar dia berbisik di antara isak tangisku, ”Maafkan aku istriku.” Di kamar sebelah, buku harian wanitaku tergeletak dengan halamannya yang membuka.

***

Jombang dini hari, 11 Juni 2006
Sumber: Majalah Ummi Edisi 7 November 2007

Rindu Berlumpur

Cerpen Hafi Zha Dimuat di Annida Hidup seperti putaran waktu yang terus berdetak maju. Tiap yang telah dilewati tak bisa untuk disinggahi kembali. Sekedar membetulkan apa yang keliru atau pun menghapus yang tidak ingin dilanjutkan. Hidup akan terus berjalan hingga waktu berhenti berdetak. Detak yang sangat dekat. Sedekat nafas yang kita hirup dan hembuskan seiring aliran darah dalam tubuh kita. Membawa bulir-bulir oksigen untuk menggantikan noktah-noktah karbondioksida. Seterusnya, tubuh kita akan kembali punya mampu untuk berpikir, berjalan, tertawa, sedih, marah, dan kecewa. Ah..., pikiranku melantur lagi. Selalu saja seperti ini. Buku yang kubuka ternyata tak bisa mengalihkan perhatianku. Kuedarkan pandangan menembus kaca yang tersiram basah hujan. Di luar sana langit belum juga berhenti menjatuhkan bilah-bilah air. Mereka berkejar-kejaran turun dari langit, membasahi tanah. Beberapa anak berlari-larian di bawah mereka. Wajah mereka riang. Sambil bersenandung, mereka berkecipak-kecipak dengan tangan terangkat ke atas. Seperti para penari yang menarikan tarian hujan menyambut kedatangan dewi hujan, pembawa kesuburan kepada para petani. Kuperhatikan ada bayangan wajah orang di kaca yang berembun. Dia tersenyum sembari memiringkan kepalanya yang berbalut kain putih ke kanan. Manis sekali senyumnya. Hei, itu kan aku! Aku memukul-mukul kepalaku. Mencoba bercanda dengan diriku yang belakangan hari terlalu kaku dengan urat saraf yang tegang. Betapa tidak, aku menghadapi masalah keuangan yang pelik. Walaupun aku masih berstatus tanggungan orang tua, tapi aku berusaha melepaskan diri dari kungkungan mereka. Itu kulakukan sejak aku kuliah. Aku memberikan bimbingan belajar sehabis aku menuntut ilmu. Kesukaanku terhadap dunia menulis ternyata mampu membantuku untuk menutupi pengeluaranku yang lumayan besar di kota metropolitan ini. Tetapi, saat ini setelah aku menyelesaikan sarjana kependidikanku, ternyata cobaan tak semakin berkurang. Bukan hanya keuangan yang kembang kempis, tapi juga sikap kedua orang tua yang menginginkanku kembali. “Kenapa kamu tak ingin kembali ke kampungmu, Lita?” Suara ibu yang semakin renta menghentakku jauh ke dalam lorong jiwa. Suaraku tercekat di kerongkongan. Otakku berputar keras mencari jawaban atas pertanyaan ibu. Kebisuanku memecah tatkala kudengar ibu memanggil-manggil namaku. “Lita…Lita…kamu masih mendengar suara ibu?” “Eh, iya, Bu. Masih mendengar.” Aku menelan ludah. Membasahi kerongkonganku yang tiba-tiba terasa kering. Begitu kuatnya kah wibawa seorang ibu hingga anaknya tak bisa berkata apa-apa, sekedar menjawab pertanyaannya. “Lita, kamu kok diam lagi. Ada apa sebenarnya di sana, yang membuatmu tak ingin kembali ke sini?” “Bu…” Terdengar aneh rasanya suaraku. Kuusahakan bersikap dan bersuara wajar. Aku tak ingin ketegangan kembali terjadi antara aku dan ibu. “Bu, Lita ingin berkarir di sini dulu. Bukannya apa-apa, tapi Lita merasa sudah menjadi bagian dari kota ini. Lita merasa nyaman di sini.” “Jadi, kamu merasa asing di kota kelahiranmu sendiri. Merasa tidak nyaman di sini, Lita? Ibu tidak mengerti bagaimana cara berpikirmu. Tidak mengerti, Lita!” Suara ibu meninggi. Penanda awal ketegangan. Aku harus segera meredakannya. Jika tidak ini seperti angin panas yang sedikit demi sedikit akan membakar diriku. “Bu, kelak saya akan kembali ke sana. Saya mohon kepada ibu untuk memberikan saya kesempatan mengukir karir di sini. Saya ingin sukses, seperti yang ibu harapkan. Saya tidak ingin mengecewakan ibu.” Memang, aku tidak ingin membuat kecewa ibu dan bapak. Mereka sudah bersusah payah menyekolahkan aku hingga mencapai sarjana. Dan aku juga tahu keinginan ibu yang begitu kuat untuk melihatku menjadi pegawai negeri. Ibu memang besar di lingkungan pegawai negeri. Hingga sekarang pun ibu masih setia dengan kepegawaian-negerinya. Menurut ibu, jika menjadi pegawai negeri hidup terjamin. Jaminan itu akan terus mengucur hingga anak cucu. Beda dengan bapak yang memberiku kesempatan penuh untuk menentukan jalan hidup. Bapak bukanlah pegawai negeri. Beliau hanya penjahit baju dan sesekali memberikan ceramah di pengajian. “Tapi setidaknya kamu pulang dulu, Lita. Semenjak kamu diwisuda empat bulan yang lalu, kamu belum juga pulang. Biar kamu juga tahu kondisi kampung kita sekarang. Di sini banyak sekolah yang butuh guru. Ibu bisa carikan dari kenalan ibu di sekolah-sekolah biar kamu bisa mengajar.” Ini dia pernyataan ibu yang keluar berkali-kali untuk membujukku pulang. Kemudahan yang didapat ibu dengan mempunyai banyak kenalan di berbagai instansi, memberikan peluang besar untuk ibu mencarikan kerja instant untukku. “Bu, saya belum bisa pulang sekarang. Masih ada urusan yang belum selesai. Saya juga masih punya proyek dengan dosen saya yang belum bisa ditinggal. Jika di sini sudah beres, saya akan segera pulang.” Itulah percakapan semalam tadi. Ibu masih bersikukuh dengan keinginannya. Aku harus pulang dan bekerja di sana. Tiba-tiba aku merasa letih. Sepertinya bulir-bulir oksigen semakin berkurang dalam otak dan tubuhku. Kantuk tak dapat kutahan, apalagi suasana dingin seperti ini nyaman untuk tidur. *** “Sebaiknya kamu pulang dulu, Lita. Kamu utarakan dengan baik keinginanmu kepada ibu dan bapakmu.” Pak Yudi memberikan saran yang berat untukku. Beliulah yang memberikanku kesempatan yang lebih untuk mengembangkan kemampuan menulisku. Proyek buku ajar dan segala macamnya juga beliau yang memberikan. Apalagi saat ini aku sudah bisa mengajar di sekolah lanjutan atas favorit di kota ini, juga berkat beliau. Semua hal itu jadi bagian dari banyak alasan yang mengharuskanku untuk bisa terus di sini. Dan tak ada alasan untuk aku harus segera pulang. Apalagi menghadapi ibu dengan keteguhan pendiriannya. Bapak juga tidak bisa berbuat apa-apa jika ibu sudah berkehendak. “Pak, jujur saya katakan dari dalam hati belum tergerak untuk pulang. Di sini saya bisa berkembang, Pak. Jika di kampung saya merasa tidak terfasilitasi.” Pak Yudi memandangku dari balik kacamatanya yang bertengger di batang hidungnya. Kualihkan pandanganku ke rak buku di belakang beliau. Mataku memang tertuju ke sana, tapi pikiranku berkhayal. Andai saja orang tuaku adalah Pak Yudi dan istrinya, mungkin aku akan lebih terarah dan berkembang lebih awal. Kulihat foto keluarga Pak Yudi yang ada di rak buku itu. Dua putrinya, Mbak Yuli dan Mbak Yuni, yang berdiri di belakang Pak Yudi dan istrinya tersenyum manis. Mereka hampir seumuran denganku tapi mereka lebih dulu bisa merasakan kesuksesan sekolah di negeri orang. “Lita, saya ingin bertanya dan kamu jawab sejujurnya.” Lamunanku memudar. Kembali aku bersitatap dengan Pak Yudi. Wajah beliau serius, tampak dari dahinya yang berkerut. Selalu Pak Yudi berusaha membantuku memecahkan segala masalah yang kadang aku ceritakan. Sikap terbuka seperti ini tak bisa kulakukan kepada kedua orang tuaku. Semacam ada tembok kebekuan jika aku bersama ibu dan bapak. “Tentang apa, Pak?” “Apa kamu tidak merindukan kedua orang tuamu?” Deg. Jantungku serasa berhenti. Aku tidak menyangka Pak Yudi akan mengunci mulutku dengan pertanyaan ini. Aku teringat pembicaraanku dengan Avi seminggu yang lalu. Saat itu ia begitu gembiranya karena ingin pulang kampung setelah sebulan tidak bertemu dengan keluarganya. “Mbak Lita, aku pulang…. Akhirnya aku terbebas dari tumpukan diktat kuliah. Aku rindu ayah, rindu mama, rindu semuanya. Mbak Lita tidak ingin pulang?” Kegembiraannya meluap membanjiri diriku. Seketika dia bertanya seperti itu, aku terhempas dalam bisu. “Belum waktunya pulang, Vi. Lagipula tidak ada alasan yang sangat kuat untuk aku pulang.” “Sekedar rindu pada orang tua Mbak?” Rindu? Satu kata itu terus menghantuiku hingga hari ini. Aku tak bisa jujur pada orang lain bahwa tak ada rindu setitik pun dalam hatiku pada kampung halamanku, pada orang tuaku. Aku berusaha untuk menumbuhkan rindu itu sejak Avi bertanya hal itu kepadaku. Semakin aku berusaha, semakin aku tak ingin pulang. Dan saat ini, Pak Yudi menanyakan hal yang sama seperti yang ditanyakan Avi. “Lita, kenapa kamu diam seribu bahasa? Kamu rindu ibu bapak?” “Begini, Pak. Kerinduan itu mungkin ada, Pak. Tapi jika kerinduan itu bisa disalurkan ke hal yang lebih bermanfaat di sini, mengapa harus bersusah-susah pulang. Saya kira jika saya di sini untuk sementara waktu tentunya akan lebih baik. Dari pada saya harus memaksakan diri untuk pulang. Apalagi dalam kondisi saya yang masih tidak ingin menghadapi ibu saya, Pak.” Entah apa yang ada dalam pikiran Pak Yudi ketika aku berujar tadi. Selama aku berbicara tadi, kepala beliau manggut-manggut. Mungkin berusaha mencerna kata demi kata yang keluar dari mulutku. Aku sudah tak dapat berkonsentrasi berdiskusi proyek buku ajar di Rumah Pak Yudi. Dengan penuh pengertian, Pak Yudi mengantarkanku hingga gerbang pintu halaman rumah beliau. Sore itu tampak kelabu di mataku. Bukan karena gerimis yang tiba-tiba menghias alam, tapi karena jauh dalam hatiku awan kelabu bersetia mengirimkan gerimisnya ke telaga mataku. *** Sebulan telah berlalu sejak ibu memintaku untuk pulang. Di luar tampak berjalan lancar dan seperti tidak terjadi apa-apa. Akan tetapi, ada gelombang yang mengirimkan badai ke dalam jiwaku. Ia terus menghantam karang-karang yang perlahan-lahan rapuh lalu hancur. Aku bersusah payah membangunnya kembali agar tampak tegar . Apalagi hal ini kubutuhkan untuk bertahan di kota besar ini. Kota yang penuh persaingan dan rentan akan stres. Tak ada lagi kabar yang kuterima dari rumah. Aku juga tak ingin lebih dulu menghubungi rumah. Hari-hari kujalani dengan sangat lambat. Kesunyian menyergapku, apalagi Avi, gadis manis yang selalu ceria menghiburku, tak ada lagi di dekatku. Ia pergi bersama mimpinya yang telah terwujud menjadi pengantin kecil. Kusibukkan diri dengan aktivitas mengajarku, menulis buku, dan melatih drama. Di sel-sela gerimis September aku berlari menghindar senyap yang mengurungku. Setiba di kamar kosku, aku mengambil diary usang yang kutulis sejak aku duduk di bangku sekolah pertama. Entah dorongan dari mana aku tiba-tiba ingin membacanya kembali. Kubuka satu persatu halaman yang warnanya tak seputih dulu. Seolah luka lama yang kembali luka, begitu perih dan pedih. “Kamu jangan jadi wanita pemalas, Lita. Jangan jadi wanita lemah. Sakit yang kamu rasa belum seberapa dibanding sakit yang ibu rasakan ketika melahirkanmu. Ayo, berangkat sekolah! Kamu tahu ibu bekerja keras supaya kam bisa sekolah. Bapakmu tidak bisa membiayai hidup kita hanya dengan menjahit.” “Tapi, Bu, Lita lemas, pusing. Lita tidak kuat berangkat sekolah, Bu. Lita mohon, Bu, tuliskan surat ijin untuk Lita.” “Kamu jangan lemah begitu. Kamu harus menghargai biaya yang sudah ibu keluarkan untuk sekolah kamu. Jangan pernah kalah dengan sakit.” Akhirnya, aku pun berangkat sekolah dengan kondisi badan yang lemah. Ibu berusaha menguatkan aku, sedangkan bapak hanya diam di ruangan jahitnya. Aku tidak menangis. Juga tidak membangkang. Aku turuti semua yang ibu inginkan. Seperti yang ibu katakan ketika malam hari aku hendak menuliskan kejadian hari ini. “Kamu harus rajin belajar. Jangan pernah menyerah pada keadaan. Ibu berusaha keras supaya kamu nanti bisa kuliah. Kelak, setelah kuliah kau harus berupaya untuk bisa dapat kerja. Jangan pernah pulang jika kamu belum berhasil membanggakan dirimu, juga orang tuamu. Jangan lemah terhadap perasaan. Ingat itu, Lita, ingat baik-baik pesan ibu.” Kuhapus air mata yang tak sadar telah membasahi kedua pipi. Kertas halaman buku yang kubaca basah, memudarkan tinta yang tergores di sana. Aku tak tahu bagaimana perasaanku sekarang. Mungkin aku tak sekuat yang ibu minta sewaktu dulu. Mungkin juga aku terlalu keras dan kuat untuk bisa berdiri sendiri, tanpa butuh orang lain. Aku terisak di antara deras hujan yang menghantam atap kamar, sehingga menenggelamkan suara tangisku. Aku tak mau ada yang tahu aku telah membuat sungai air mata di bawah hujan September. Aku tak akan beranjak sebelum noktah-noktah karbondioksida dalam tubuhku berganti menjadi bulir-bulir oksigen. Hingga tubuhku benar-benar kuat. Dan aku bisa menjalani putaran waktuku yang masih berdetak. ***

Video Pelatihan