Our Community

Our Community
Forum Lingkar Pena Depok

Our Event

Our Event
Depok Dalam Puisi

Our Training Program

Our Training Program
BATRE

Our Family

Our Family
Want to be one of us?

Mau Daftar? Klik Gambar Ini!

Tampilkan postingan dengan label Materi Menulis. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Materi Menulis. Tampilkan semua postingan

MATERI PERTEMUAN I BATRE 9 FLP DEPOK 2010

Senin, 27 Desember 2010

Oleh Ayurisya Dominata Pertemuan I Batre 9 yang berlangsung pada hari Minggu, 5 Desember 2010 sejumlah materi disampaikan oleh Mbak Iva Afianty kepada Peserta, terutama materi fiksi karena memang itulah porsi Mbak Iva dalam Pertemuan I Batre 9 ini. Materi fiksi yang disampaikan beliau terutama seputar penulisan novel dan cerpen. Namun begitu dalam perjalanannya ada juga materi tambahan lain yang diselipkan Mbak Iva masih seputar kepenulisan. Dari sejumlah materi yang disampaikan Mb Iva Afianty mulai Pukul 09.00 – 11.00 WIB maka dibawah ini kami buatkan ringkasannya. Rumah Cahaya 5 Desember 2010 : Kunci utama menulis Novel atau Cerpen (Tulisan Fiksi) 1. Tulislah apa yang anda tahu, anda suka, dan anda inginkan. 2. Hidupkan tokohnya. Maksudnya seorang penulis karya Fiksi yang baik harus mampu membuat karakter tokoh dalam tulisannya seolah-olah hidup, ceria atau sedih sesuai kebutuhan. Sebuah karya fiksi tanpa tokoh maka akan gugur karya fiksi itu. 3. Tanamkan pemikiran : Penulis adalah ”Tuhan” bagi karyanya. Maksudnya menjadi penulis adalah sesuatu yang prinsipil atau sangat pribadi bagi masing-masing individu. Anda bebas membuat tulisan seperti yang anda inginkan, tanpa ada yang berhak mengintervensinya karena anda adalah ”Tuhan” tulisan anda. Dengan catatan, tetap bersandar pada norma dan nilai yang ada. Lebih khusus misalnya soal jalan cerita karya anda, seperti apa jalan cerita yang akan anda buat itu hak anda. 4. Seorang penulis harus banyak membaca, menulis, mereview karena seorang penulis yang baik adalah juga harusnya seorang pembaca yang baik 5. Untuk Cerpen : 3 Paragraf pertama harus menarik, kalau tidak Say Good Bye untuk karya anda, sementara untuk Novel, Bab pertama harus menarik. Selanjutnya materi dilanjutkan dengan Tips Bagaimana Menghidupkan Tokoh, Mb Iva membagi kurang lebih ada 5 poin penting yang harus diperhatikan agar tokoh dalam karya fiksi dapat hidup, yaitu : 1. Buat Foto Karakter (CV) Maksudnya sebelum menulis karya fiksi (novel/cerpen) ada baiknya masing-masing tokoh dibuat spesifikasi ciri-cirinya seperti sifat, kebiasaan, dll yang membedakan antara tokoh yang satu dengan tokoh yang lain. Yang mana ciri-ciri ini nantinya akan menjadi patokan penulis dalam membuat jalan cerita. Dan harus konsisten. Jangan sampai si ”A” misalnya dalam foto karakter dijelaskan orangnya manis, lembut, dan pemaaf namun pada saat menceritakan penulis justru membuat yang sebaliknya. Contoh : Elang, Elang adalah lelaki baik hati yang suka menabung. Bermata tajam dan bla bla bla... 2. Tentukan Setting (Latar belakang cerita ) Misalnya suatu kejadian terjadi pada tempat ini pada waktu ini dst.. 3. Buat Konflik (Pertentangan tokoh) Konflik dalam karya fiksi semacam ”garam” yang membuat cita rasa tulisan menjadi lezat. Tanpa konflik sebuah karya fiksi akan kehilangan nyawanya. Konflik bisa berupa konflik internal tokoh, misalnya ceritakan konflik pribadi sang tokoh, bisa juga konflik antar tokoh ( konflik tokoh satu dengan tokoh2 lainnya), atau konflik bisa juga dibuat antara tokoh dengan lingkungan sekitarnya. Mb Iva menjelaskan konflik ini sebaiknya dibuat setiap penggantian adegan, jika bukan konflik minimal tanda-tanda menuju konflik, yang mana itu akan di finishing di akhir cerita atau BAB. Ini penting karena konflik inilah daya tarik cerita yang akan membuat pembaca terus mencari tahu kelanjutan cerita tulisan anda. Penulis diharapkan juga sabar dalam mengakhiri konflik, jangan buru-buru, penulis harus pandai menarik ulur konflik sebagai daya tarik cerita. 4. Buat ”Suspense” (Kejutan) Kejutan dalam cerita biasanya sangat disukai oleh pembaca. Siapa sih yang tidak mau dikasih hadiah? Maka dari itu penulis yang baik harus pandai membuat Suspense sebagai semacam hadiah/kejutan untuk pembaca. Misalnya : dalam cerita pencopet ternyata paman tokoh utama dll 5. Ending (Penuntasan semua cerita) Ending juga terbagi dua ada Open Ending (Ending Terbuka) atau Close Ending (Ending tertutup). Ending terbuka adalah penutup cerita yang secara terang-terangan menceritakan bagaimana perjalanan tokohnya secara detil sampai akhir. Sementara close ending adalah penutup cerita yang menggantung. Cerita sengaja dibuat menggantung untuk membuat pembaca menyimpulkan sendiri bagaimana akhir ceritanya. Diakhir materi Mbak Iva mengingatkan bahwa penulis yang baik adalah penulis yang mempunyai integritas. Integritas penulis tersebut adalah sebagai berikut : 1. Penulis harus menjaga kontinuitas (kuantitas) dalam menulis 2. Penulis harus menjaga kualitas tulisan dan kalau bisa selalu meningkat setiap waktu 3. Harus bisa memaintanace umur kepenulisan dengan mengkader 4. Menulislah selalu dengan hati, pintar saja tidak cukup untuk membuat tulisan yang berkualitas dan bernilai untuk kebaikan banyak orang. 5. Kita adalah Da’i jadi sampaikanlah nilai-nilai kebaikan dimanapun anda berada dan pada apapun tulisan yang anda buat. Demikianlah kurang lebih materi kepenulisan yang disampaikan Mbak Iva Avianty dalam Pertemuan I Batre 9 tanggal 2010. Semoga ringkasan ini bermanfaat untuk kita semua.

Dialog dan Adegan

Minggu, 19 Desember 2010

Oleh Denny Prabowo sumber: penulis-freelace Di dalam menulis fiksi, dialog bukanlah segala-galanya. Pengarang seperti Gabriel Garcia lebih banyak mengandalkan narasi, nyatanya dia bisa menulis fiksi dengan baik. Namun, menulis dialog bisa jadi merupakan keterampilan yang sangat anda butuhkan. Karena kebanyakan adegan besar dan adegan kecil bergantung pada dialog. Mungkin anda tidak memerlukan dialog ketika adegan yang anda tulis hanya melibatkan seorang tokoh. Namun, apabila adegan itu melibatkan dua atau bahkan beberapa tokoh yang saling berinteraksi, dialog akan membuat adegan dalam cerita anda menjadi hidup dan terkesan wajar. Terkadang sebuah adegan dipaparkan lewat narasi. Namun hal itu dapat membuat cerita menjadi lambat. Untuk itu, sebuah adegan—apalagi jika melibatkan beberapa tokoh—lebih menarik jika ditulis berselang-seling dengan dialog. DIALOG Pada dasarnya, dialog adalah percakapan. Percakapan-percakapan muncul dalam cerita karena tentu saja, di dalam kehidupan nyata percakapan juga muncul. Namun dalam kehidupan nyata, banyak dari kita membuat percakapan-percakapan yang tidak penting. Di dalam menulis fiksi kita harus menghindari menuliskan dialog-dialog yang tidak penting. 1. Fungsi Dialog Dalam sebuah cerita, dialog haruslah fungsional. Sebuah dialog, setidak-tidaknya harus memenuhi satu dari tiga fungsi penting. Namun, yang terbaik adalah, dialog memenuhi ketiga fungsi penting itu sekaligus. Dialog Memberikan Informasi
“Helena mencintainya, Ambe...” “Tak bisa, Ambe sudah berjanji pada Tato’ Denna’ untuk menikahkan kau dengan anak laki-lakinya!” “Tapi, Ambe...” ragu Helena berucap, ”Helena sedang mengandung benihnya.” (Tedong Helena karya Denny Prabowo)
Dialog antara tokoh Helena dengan Ambe (ayah), kita mendapatkan informasi tentang perjodohan Helena dangan anak laki-laki Tato’ Denna’. Dialog di atas juga memberikan informasi tentang kehamilan Helena. Dialog Mengungkapkan Tokoh
“Hati-hati,” kata Frances, saat mereka menyeberangi Eighth Street. “Kamu bisa celaka dan lehermu bisa patah.” Michael tertawa dan Frances ikut-ikutan tertawa. “Lagi pula, dia tidak terlalu cantik,” kata Frances. “Pokoknya, tidak terlalu cantik untuk membuat kamu perlu ambil resiko patah leher hanya untuk melihatnya.” Michael tertawa. Sekarang dia tertawa lebih keras lagi, tetapi tidak terlalu lepas. “Dia bukan gadis yang jelek-jelek amat. Kulitnya mulus. Kulit gadis desa. Tapi, dari mana kamu tahu aku memerhatikannya?” Frances memiringkan kepalanya ke samping dan tersenyum kepada suaminya dari balik pinggiran topinya yang agak miring. “Mike, sayang...” (The Girls in Their Summer Dresses karya Irwin Shaw)
Dialog di atas mampu mengungkapkan beberapa karakter tokoh. Melalui dialog antara Michel dan Frances kita mendapat gambaran fisik tokoh lainnya, yaitu tokoh ‘Dia’, seorang gadis yang memiliki kulit mulus seperti kulit gadis desa. Dialog itu juga mengungkapkan karakter tokoh Michael yang suka melirik wanita lain meski ada istri di sampingnya, juga tokoh Frances yang cemburuan. Dialog Membangun Konflik
“Kita harus tepat waktu. Tidak boleh terlambat, apalagi terlalu cepat datang. Dogot sama sekali tidak suka orang yang tidak tepat waktu. Harus tepat, setepat-tepatnya.” “Kita harus bergegas kalau begitu.” “Siapa bilang begitu? Harus tepat waktu! Sudah kubilang, terlalu cepat juga tidak tepat waktu.” “Kamu tahu siapa Dogot?” “Peduli amat.” “Benar juga. Tapi kalau tak tahu, bagaimana kita bisa tahu itu Dogot kalau nanti ketemu?” ( Ditunggu Dogot karya Sapardi Djoko Damono)
Dialog antara dua tokoh di atas, muncul di awal cerita. Tokoh-tokoh dalam cerita itu harus tepat waktu, tetapi tidak juga boleh terlalu cepat datang. Mereka harus bertemu Dogot, tetapi mereka sendiri tidak mengetahui siap itu Dogot. Petikan dialog di atas langsung menyuguhkan konflik kepada pembaca. Apalagi penempatannya yang di awal cerita, akan menghadirkan sebuah suspense (perasaan tidak menentu) di diri pembaca. Dengan demikian, pembaca akan terus mengikuti ceritanya untuk mendapatkan jawaban atas ketidak menentuan yang dirasakan oleh mereka. 2. Menulis Dialog yang Tepat Setelah anda mengetahui fungsi dari dialog di dalam sebuah cerita, maka perlu anda mengetahui cara menulis dialog yang tepat. Masih banyak orang keliru ketika menulis dialog. Setidaknya, ada tiga aturan sederhana dalam penulisan dialog. a. Setiap kali seorang tokoh di dalam cerita anda berbicara, walau dia hanya mengucapkan, “Oya?”, maka buatlah paragraf baru. Sehingga pembaca tidak kebingungan membedakan siapa yang tengah berbicara.
“Siapa nama perempuan yang tinggal di depan rumahmu?” “Helvy Tiana Rosa.” “Oya?” “Apakah kau mengenalnya?” “Aku sering mendengar nama itu. Apakah dia seorang penulis?” “Ya.”
b. Pisahkan dialog dari label identifikasi (kata ‘katanya’ atau lainnya, yang menunjukkan si pembicara) dengan tanda koma, bukan titik. Gunakan tanda tanya atau tanda seru sesuai kebutuhan kalimatnya. Aturan ini berlaku di mana pun label di tempatkan—apakah di awal dialog, di antara dialog, atau di akhir dialog.
Dia bertanya, “Apakah kau melihat adikku?” “Ya,” kataku, “dia sedang beramain di tepi sungai dengan teman-temannya.” “Maukah kau menolongku memamanggilnya?” mohonnya.
c. Apabila sebuah kalimat uraian menggantikan label, maka setiap kalimat lengkap haruslah berdiri sendiri.
“Angkat tangan!” Polisi itu menodongkan senjatanya ke kepala salah seorang perampok, kemudia memaksanya merapat ke dinding. “Pakai borgol ini!”
ADEGAN Adegan adalah tindakan berkesinambungan dari seseorang atau beberapa orang yang ditampilkan pada suatu latar (tempat dan waktu). Untuk membangun adegan yang baik, anda harus mampu menggambarkan latar, menampilkan para tokoh, dan menyajikan perbuatan mereka dengan jelas. Dalam kehidupan sehari-hari, tentu anda sering menyaksikan adegan-adegan berlangsung di depan mata. Namun tidak semua adegan itu menarik untuk diceritakan. Anda tentu tak akan menolehkan kepala, ketika melintas di depan sepasang anak muda yang tengah berbincang-bincang di bangku peron stasiun kereta. Tapi apabila salah seorang di antara mereka berbicara sambil menghunuskan sebilah belati kepada lawan bicaranya, anda pasti tak akan melewatkan begitu saja adegan itu. Sebuah adegan menjadi menarik, apabila terdapat sebuah konflik di dalamnya. Namun, di dalam sebuah cerita, anda hanya boleh menampilkan adegan-adegan yang berkaitan dengan plot cerita secara keseluruhan. Tunjukan, Jangan Katakan! Bayangkanlah bahwa diri anda adalah sebuah kamera yang merekam sebuah peristiwa. Dan tulisan anda adalah televisi yang menayangkan hasil rekaman tersebut kepada pembaca. Dengan demikian, tulisan anda tidak sekedar menyuguhkan cerita, tetapi juga menampilkan gerak. Begitulah semestinya sebuah peristiwa ditampilkan kepada pembaca. Buatlah cerita anda bergerak. Menunjukkan apa yang dilakukan oleh tokoh-tokoh cerita anda jauh lebih menarik, ketimbang menceritakan kepada pembaca bahwa tokoh anda telah melakukan sesuatu. Ketimbang anda mengatakan bahwa Siska adalah perempuan genit, lebih baik tunjukkan sikap Siska saat sedang merayu seorang lelaki. Ketimbang anda mengatakan bahwa Iwan adalah murid yang pandai, lebih baik tunjukkan bagaimana cara Iwan mengerjakan soal yang diberikan oleh guru di papan tulis dalam waktu singkat. Perhatikan contoh di bawah ini:
Sebenarnya, lelaki Swedia itu hanya mencari seseorang untuk menemaninya minum. Seorang bartender memeringatinya ntuk bersikap sopan. Namun orang Swedia itu tidak menghiraukan. Dia memaksa serang penjudi untuk menemaninya minum. Penjudi itu menolak. Orang Swedia itu tidak senang. Dia memaki penjudi itu dengan kasar sambil mencengkeram lehernya. Penjudi itu marah dan membunuh orang Swedia itu dengan pisau besar, di depan para saudagar kaya dan jaksa wilayah yang berada di bar itu.
Apakah paragraf di atas telah menampilakan sebuah adegan? Jawabannya: ya. Namun, pembaca tidak akan bisa menyaksikan aksi dari orang-orang yang terlibat dalam adegan-adegan di atas. Sebab, adegan itu hanya ‘dikatakan’ bukan ‘ditunjukkan’. Sekarang kita perhatikan contoh di bawah ini:
“Oke,” teriak orang Swedia itu, “kalau begitu, dengar baik-baik. Kau lihat sekelompok lelaki di sana? Mereka pasti mau minum menemaniku, dan kau ingat itu. sekarang lihatlah.” “Hai!” teriak bartender, “bukan begini caranya!” “Bukan begini bagaimana?” tanya orang Swedia itu. Da melangkah dengan gagahnya menuju sebuah meja dan sambil lalu menepuk pundak seorang penjudi, “Bagaimana kalau begini?” tanyanya dengan geram. “Kuajak kau menemaniku minum.” Si penjudi hanya menoleh sekilas dan berkata melalui pundaknya, “Bung, aku tidak kenal kau.” “Sialan!” jawab orang Swedia itu, “ayolah temani aku minum.” “Anak muda,” si penjudi mencoba memberi nasihat dengan baik-baik, “angkatlah tanganmu dari pundakku, pergilah, dan urus urusanmu sendiri.” Penjudi itu bertubuh kecil, kurus, dan aneh sekali mendengarnya berkata dengan nada ramah begitu kepada si orang Swedia yang bertubuh tegap. Beberapa lelaki lain meja itu tidak bersuara sedikit pun. “Apa? Kau tak mau menemaniku minum, orang cebol? Aku akan memaksamu!” orang Swedia itu mencengkeram leher si penjudi dengan kasar, dan menyeretnya dari kursinya. Beberapa lelaki lain segera berdiri. Si bartender berlari ke sudut barnya. Terjadi kegemparan hebat dan tiba-tiba tampak sebilah pisau panjang di tangan si penjudi. Pisau besar itu melesat kencang, dan sesosok ubuh, benteng kebajikan, kearifan, kekuatan, ditikam dengan mudahnya seperti sebuah melon. Orang Swedia itu itu jatuh dengan jeritan keterkejutan yang luar biasa. Para saudagar terkemuka dan jaksa wilayah seperti serentak terjengkang. Si bartender terkulai di pegangan kursi dan matanya menatap si pembunuh. “Henri,” kata si pembunuh, sambil membersihkan pisaunya pada handuk yang tergantung di rel meja bar, “kau beri tahu mereka di mana bisa menemukanku. Aku di rumah, menunggu mereka.” Lalu, dia menghilang. Sejenak kemudian, si bartender sudah berada di jalan menembus hujan badai mencari pertolongan dan, yang lebih utama lagi, seorang teman. Mayat orang Swedia itu, tergeletak sendiri di bar, matanya menatap sebuah tulisan menakutkan yang bertengger di atas mesin kasir: “Ini mencatat jumlah yang anda beli.” (The Blue Hotel karya Stephen Crane)
Paragraf-paragraf di atas mampu merangsang imajinasi pembaca, untuk menghadirkan gambaran aksi yang terjadi pada adegan di dalam bar tersebut di kepalanya. Pembaca tidak sekedar mendapatkan informasi tentang sebuah adegan seperti pada contoh paragraf sebelumnya, tetapi ‘melihat’ adegan tersebut: Pembaca ‘melihat’ bahasa tubuh tokoh-tokoh saat adegan itu berlangsung; Pembaca juga ‘mendengar’ suara tokoh-tokohnya; Pembaca bahkan mendapat gambaran fisik beberapa tokoh yang terlibat dalam adegan tersebut. Sebuah adegan mungkin sangat bergantung pada perkara yang diangkatnya. Namun begitu, cara anda menyajikan adegan sangat menentukan apakah perkara yang besar itu menarik untuk disimak atau tidak. Dari adegan yang terdapat di dalam The Blue Hotel karangan Stephen Crane, kita menyaksikan bagaimana sebuah adegan besar ditampilkan lewar perpaduan antara narasi dengan dialog. Sehingga adegan itu menjadi lebih dramatis.

Mencuri dari Buku

Senin, 29 November 2010

Oleh Denny Prabowo Sumber: Dari Mana Datangnya Ide. Jakarta: Balai Pustaka, 2009 Satu kali dalam sebuah workshop teater di Taman Ismail Marzuki, Slamet Rahardjo Jarot mengatakan kepada para peserta, “Jika karya tak mau ditafsir orang, sebaiknya simpan saja di dalam lemari.” Sebuah karya ketika telah dipublikasi maka ia bukan lagi hanya menjadi milik penulisnya, melainkan juga milik pembaca. Pembaca bebas memberi makna kepada karya tersebut. Dalam cerpenya, ”Abracadabra”, Danarto menghidupkan tokoh fiktif dalam lakon Hamlet karya William Shakespeare. Diceritakan Hamlet bersama sahabatnya Horatio mengarungi ruang dan waktu. Tokoh Hamlet di tangan Danarto tidak ditampilkan sebagaimana dalam lakon karangan Sakespeare yang pembimbang dan ragu. Bahkan secara plot pun cerpen itu seolah tak ada hubungannya sama sekali dengan lakon Hamlet. Danarto memanfaatkan Hamlet sekadar sebagai sarana untuk mengungkapkan pemikirannya yang tentu saja berhubungan dengan tokoh karangan Shakespeare itu. Ia menafsir ulang tokoh itu. Dalam cerpen itu, Danarto sebagai penulis masuk ke dalam cerita dan berdialog dengan Hamlet.
“Ya, menarik sekali. Tapi ngomong-ngomong kamu ini siapa?” “Saya penulis karangan ini.” “Lho, lantas bagaimana kamu bisa berhubungan denganku? Sebab, aku kira letak kita amat berjauhan dan di alam yang sangat berlainan.” “Saya tidak tahu. Tapi kau jelas tampak dan kata-katamu jelas kedengaran di telingaku.” “Lho, menarik sekali. Kenapa kau bisa, sedang Horatio tidak?” “Saya tidak tahu. Tapi mungkin karena saya penulis karangan ini.” (Danarto, 1987: 149)
Jika Danarto sekadar “mencuri” tokoh Hamlet dan menghadirkannya dalam ruang dan waktu yang berbeda, Taufik el Hakim, pengarang dari Mesir lain lagi. Ia bahkan melanjutkan lakon Romeo dan Juliet yang terkenal itu! Kamu pasti sudah pernah membaca ceritanya atau barangkali menyaksikan pementasannya. Seandainya belum pun, saya yakin kamu pasti tahu kisah cinta Romeo dan Juliet yang berakhir dengan kematian sepasang kekasih yang bersama-sama menenggak racun itu. Kisah cinta mereka harus berakhir tragis karena permusuhan keluarga mereka. Sejak itu, mereka menjadi lambang cinta dan nama mereka hampir tak pernah disebut secara terpisah: Romeo dan Juliet. Dalam cerpen Tongkat El-Hakim, kisah mereka berlanjut di alam kematian. Diceritakan jika sepasang kekasih yang mati karena minum racun itu hidup dan menikah di alam kematian. Namun, pernikahan mereka tidak berjalan seperti yang mereka bayangkan. Romeo ternyata tidak seromantis ketika mereka masih hidup.
“Andaikata nasib memberi kesempatan kepada kami kesempatan lebih panjang lagi, nisacaya kalian akan menyaksikan kegagalan cinta ini. Saya yang kemudian tahu sifat Romeo yang jelek dan kasih sayangnya yang palsu akan menegaskan pada Anda bahwa di dunia ini, saya tidak akan kuat menjadi istrinya lebih dari dua bulan! Romeo juga demikian....” (1988: 201)
Taufik el Hakim memutar balik cerita Romeo dan Juliet. Kamu tentu bisa melakukan hal yang sama. Bagaimana jika keluarga besar mereka justru ingin menjodohkan Romeo dengan Juliet, tapi ternyata kedua anak muda itu saling benci satu sama lain? Atau bagaimana jika kedua orang tua mereka yang meminum racun karena merasa putus asa tak berhasil memisahkan Romeo dan Juliet? Yang perlu kamu lakukan hanyalah mencari variasi lain dari cerita tersebut. Sapardi Djoko Damono memiliki pandangan berbeda dengan Samuel Beckett, pengarang lakon Waiting for Godot. Dalam lakonnya itu Beckett menganggap manusia menunggu maut, sedang Sapardi menganggap Maut yang menunggu manusia—bukankah takdir kematian kita sudah ditetapkan sejak kita masih dalam kandungan? Dari tangan Sapardi pun lahir sejudul cerpen, “Ditunggu Godot”. Dalam bab sebelumnya, saya telah menunjukan pada kalian cerpen “Legenda Wong Asu” karya Seno Gumira Ajidarma (SGA) yang ditulis berdasarkan ingatan akan sebuah komik karya Bram Laksono (dalam Daging Tumbuh vol. 12/12/00) dan sebuah cerita rakyat dari Kalimantan yang berjudul “Anjing Menjadi Manusia” (Bahkan SGA menyertakan komik dan cerita rakyat itu di belakang cerpennya). SGA (2004: iii) menuturkan, pada gilirannya, “Legenda Wong Asu” mendorong lahirnya cerita “Wong Asu” karya Djenar Maesa Ayu, yang bisa dibaca dalam kumpulan cerpennya; Mereka Bilang, Saya Monyet (2002). Namun, ketiga cerpen itu masing-masing sangat berbeda. Lihat bagaimana cerita-cerita itu saling memengaruhi, yang satu menginspirasi yang lain. Mencuri dari buku bukan berarti kamu melakukan penjiplakan terhadap karya orang lain, melainkan mencari kemungkinan variasi lain dari cerita tersebut. Dalam Notes From Underground, Fyodor Dostoyevsky menulis, “Andaikata aku bisa menjadi seekor serangga!” Frans Kafka mengambil kalimat ini dan menulis “The Metamorphosis”: “Pada suatu pagi, saat Gregor Samsa terbangun dari mimpi buruknya, dirinya telah berubah menjadi seekor serangga besar di tempat tidurnya.” Dalam sebuah reaksi terhadap kalimat pembuka Kafka, Gabriel Garcia Marquez berkata, “Saya tidak tahu bahwa kita dapat menulis hal-hal seperti itu. Jika saja dari dulu saya tahu, saya sudah akan menulis sejak lama.” Marquez menulis “Very Old Man With Enormous Wings” dan memenuhi sayap sang malaikat dengan berbagai macam parasit dan serangga. Saya pernah menghidupkan tokoh dalam cerpen Djenar Maesa Ayu yang berjudul “Melukis Jendela”. Cerpen itu bercerita tentang seorang gadis remaja bernama Mayra. Ia tinggal dengan ayahnya yang sibuk bekerja. Sejak kecil dia tak tahu di mana ibunya. Mayra sering mengalami pelecehan seksual dari teman-teman sekolahnya. Mayra melukis ibunya lalu mengadukan perlakuan teman-temannya itu kepada lukisan ibunya itu. Mengadukan kerinduannya pada Ibu.
“Ibu, apakah Ibu secantik yang mereka katakan? Dan mengapa hanya kecantikan itu saja yang ibu wariskan? Saya ingin Ibu. Saya tidak ingin kecantikan ini.” Lamat-lamat ia merasakan tangan Ibu berhenti mengelus rambutnya. Ibu berjalan menuntunnya ke dapur dan memberinya sebilah pisau. “Sayat wajahmu, Nak....” (2002: hlm. 33—34)
Mayra pun menyayat wajahnya dengan pisau. Ketika lukisan bapak dan ibunya tak lagi dapat memenuhi hasratnya akan kasih sayang, Mayra melukis jendela. Dan bertemu dengan seorang pemuda tampan. Begitulah ceritanya. Saya kemudian berpikir, bagaimana jika Mayra merasa kehidupannya yang dia alami dalam cerpen “Melukis Jendela” diakibatkan oleh penulisnya? Apa yang akan dilakukannya? Bukankah bagi tokoh fiktif, realitas fiksional itu merupakan realitas yang sungguh dialaminya? Saya kemudian teringat dengan pisau yang digunakan untuk menyayat wajahnya. Dan pisau itu yang kemudian digunakan Mayra untuk membunuh penulisnya, Jenarayu, dalam cerpen saya yang berjudul “Mayra”. Baca Cerpen "Mayra" Daftar Bacaan Danarto. 1987. Godlob. Jakarta:Grafiti El-Hakim, Taufiq Dr. 1988. Tongkat El-Hakim. Pustaka Mantiq Ajidarma, Seno Gumira. 2005. Ketika Jurnalisme Dibungkam Sastra Harus Bicara. Yogyakarta: Bentang. Damono, Sapardi Djoko. 2003. Membunuh Orang Gila. Jakarta: Penerbit Buku Kompas. Ayu, Djenar Maesa. 2002. Mereka Bilang Saya Monyet. Jakarta: Gramedia Ilustrasi: http://hikingartist.com/art/

Penutup Cerita

Rabu, 24 November 2010

Oleh Hafi Zha & Denny Prabowo Thomas Fuller mengatakan, “Menulis pembuka adalah keahlian yang hebat, tetapi yang lebih hebat lagi adalah menulis penutup.” Kebanyakan pengarang pasti setuju, menutup cerita jauh lebih sulit dari membukanya. Hal ini disebabkan dalam pembuka kita masih belum tahu apa yang harus cocok dengan cerita, sehingga semuanya tampak bisa diterima. Namun dalam penutup, segala sesuatunya haruslah pas dengan kebutuhan cerita, semua hal harus saling berkaitan. Sekar Ayu Asmara, dalam sebuah diskusi mengatakan, “Saya tak pernah stuck dalam menulis cerita, sebab sejak awal saya telah menemukan endingnya.” Pernyataan ini sejalan dengan apa yang disampaikan oleh, David Lodge dalam The Art of Novel, “Bisa dikatakan bahwa cerpen pada hakikatnya haruslah ‘mengarah pada penutupnya’. Oleh karena itu, kita mulai menulis cerpen dengan harapan akan segera sampai pada penyelesaiannya.” Baik dalam menulis novel maupun cerpen, ketika cerita Anda telah sampai pada penyelesaian masalah, segeralah akhiri cerita itu. Atau apabila Anda tidak menemukan penyelesaian, maka tutuplah cerita Anda saat semuanya sudah menjadi jelas. Ada beberapa cara yang bisa Anda pilih dalam menutup cerita: 1. Penutup yang Mengejutkan
Aryani kini sudah berada di depan rumahnya. Ia melihat Ayahnya masih membaca koran di beranda. Mamanya masih asik menonton televisi di dalam kamarnya. Aryani menangis. Kedua orang tuanya tidak ada yang mengetahui bahwa anak gadisnya itu sudah menjelma seekor kupu-kupu. Dengan perasaan terluka ia memasuki halaman rumahna dan terbang menghampiri jendela kamarnya. Tetapi, di dalam kamarnya ia melihat dirinya sedang bermain boneka yang tiba-tiba saja langsung menatap ke arahnya. Ia melihat dirinya menunjuk-nunjuk ke arahnya, sambil berteriak. “Kupu-kupu! Kupu-kupu!” (Mengejar Kupu-kupu karya Noor H. Dee)
Cerita ini ditutup dengan sebuah kejutan bagi pembacanya. Ariyani yang telah menjelma kupu-kupu ternyata melihat dirinya masih berada dalam kamarnya. Lalu apakah yang sebenarnya terjadi dan siapakah yang asli, ataukah hanya sebuah fantasi? Kita terkejut dan penasaran dengan penutup cerita ini. Kelebihan teknik ini adalah jalinan cerita sebelum penutup akan terasa lebih kuat dengan ending kejutan seperti ini. Kita akan berpikir dan memutar balik otak kita untuk mencerna lebih seksama cerita yang disajikan. 2. Penutup yang Memperdaya
Gadis berkepang dua itu berhanti. Matanya yang tajam menembus malam. “Jadi kamu mau bilang kenapa kamu pengin jadi tentara? “Iya, tapi aku harus membisikkannya di telingamu.” Sukab mendekatri Ratri dan membisikkan sesuatu. Hanya Ratri yang tahu, kenapa Sukab ingin jadi tentara. (Sukab ingin Jadi Tentara karya Seno Gumira Ajidarma)
Sejak dari awal cerita, cerpen ini membangun rasa ingin tahu pembaca, akan motivasi dari tokoh Sukab yang ingin menjadi tentara. Sepanjang cerpen ini, pembaca diajak menduga-duga mengapa Sukab yang meski ditentang oleh ayahnya, tetap ngotot mau jadi tentara. Kengototan Sukab itu membuat orang-orang terdekatnya bertanya-tanya, termasuk Ratri, kekasihnya. Setelah didesak oleh Ratri dan diancap akan diputus cintanya, Sukab pun mengungkapkan motivasinya kepada tokoh Ratri. Dan cerpen ini ditutup dengan kalimat yang ‘memperdaya’ pembaca: Hanya Ratri yang tahu, kenapa Sukab ingin jadi tentara. Mungkin pembaca akan merasa ‘dikerjai’, tapi percayalah, pembaca akan terus mengingat kalimat penutup itu. 3. Penutup yang Merangkum
Tidak berapa lama kemudian, seorang pejuang yang tidak berprasangka apapun, yang menyukainya karena ketabahannya, dan yang kemudian mencintainya apa adanya, menikahinya dan menjadikannya seorang wanita terhormat. (Mademoiselle Fifi karya Guy de Maupassant)
Cerita ini berkisah tentang seorang pelacur yang tidak tahan saat dipermalukan oleh seorang tentara Prusia. Dia menikamnya hingga tentara itu mati, lalu kabur dan menyembunyikan diri. Seluruh peersitiwa ini disajikan dengan dramatis, tetapi akhir cerita dirangkum seperti di atas. Peristiwa dramatis utama memakan waktu beberapa jam, jadi akhir cerita ini dibuat narasi dalam bentuk rangkuman. Dalam kasus seperti ini, strategi ini lebih baik daripada terus bercerita bertele-tele. Namun, sebuah rangkuman cenderung menyebabkan cerita menjadi mirip dongeng. Banyak film yang menggunakan teknik ini, sebagai cara untuk keluar dari bingkai peristiwa yang diceritakan dalam film, tanpa harus bertele-tele dan memperlambat film itu sendiri sehingga teknik ini tampak sudah sangat kita kenal dengan baik. Namun, karena sudah jarang digunakan dalam fiksi, penutup rangkuman bisa menjadi salah satu pilihan yang baik. 4. Penutup yang Terbuka
Perempuan itu masih berdiri di muka jendela kamarnya. Menatap kegelapan di luar sana. Seperti berharap malam tak segera berlalu, dan hari urung berganti pagi. Cakrawala masih menyisakan warna senja yang begitu tua. Sesaat lagi kelambu malam siap dibentangkan. Dia pasti datang! Begitu hati Tambuli menengahi keresahannya. Lelaki itu sudah berjanji akan menjemputnya. Dia tak mungkin dua kali menuangkan muntah ke dalam guci berisi air yang telah dicampur gula putih dan gula merah itu, untuk menunda prosesi pengesahan pernikahannya dengan lelaki tujuh puluh yang telah pula memiliki keluarga. Dia pasti datang! Sekali lagi hati Tambuli berucap. Lalu sebuah ketukan dipintu. Tambuli ragu membuka. Sesosok bayang menerobos pekat malam baru saja tertangkap ujung matanya, bergerak mendekat ke arah jendela kamarnya. (Tambuli, Perempuan yang Berdiri di Muka Jendela karya Denny Prabowo)
Banyak pengarang berkeberatan dengan penutup yang manis karena sepertinya bertentangan dengan kehidupan sehari-hari, yang akan terus berlangsung saat sebuah peristiwa sudah “berakhir”, dan pantulan peristiwa itu akan terulang kembali dalam berbagai pengalaman baru. Teknik penutup cerita yang terbuka adalah solusinya. Tutuplah cerita saat aksi masih sedang berlangsung. Banyak yang telah dikemukakan tentang pembuka in medias res (di tengah narasi atau plot), tetapi Anda juga bisa keluar di tengah-tengah sebuah kejadian. Dalam cerita di atas, seorang perempuan bernama Tambuli tengah menanti seseorang di suatu senja. Seorang itulah yang akan menolongnya dari keterhimpitan situasi pernikahannya yang dipaksakan oleh keluarganya. Tambuli yang berbadan dua kehilangan pertanggungjawaban dari laki-laki yang telah mengambil kehormatannya. Seseorang yang dinantinyalah yang akhirnya bersedia bertanggung jawab. Di tengah-tengah harapan dalam penantiannya, Tambuli mendengar dan mendapati kedatangan seseorang dari jendela kamarnya. Tetapi, pengarang dengan pasti menutup ceritanya dengan terbuka. Pembaca diserahi keputusan untuk menduga-duga siapa yang datang, apakah memang seseorang yang tengah dinanti Tambuli ataukah orang lain yang akan menggagalkan rencana untuk lari dari pernikahan paksanya. Pembaca dibuat penasaran dengan akhir cerita seperti ini tapi memang menarik.
***
Demikianlah beberapa teknik penutup cerita yang bisa kamu coba. Penutup cerita merupakan salah satu elemen yang akan menentukan, apakah sebuah cerita akan selalu diingat oleh pembaca atau akan segera dilupakan. Penutup cerita adalah kesan terakhir, maka buatlah pembaca selalu mengingat ceritamu. Selamat mencoba!

Pembuka Cerita

Kamis, 28 Oktober 2010

Oleh Hafi Zha dan Denny Prabowo Karya Fiksi ibarat hidangan dalam sebuah jamuan pesta yang disajikan berurutan. Apabila Anda menghidangkan makanan pembuka yang tidak enak, maka bisa dipastikan para undangan akan kehilangan selera makannya. Kalau sudah begitu, mereka akan merasa enggan untuk melanjutkan ke menu utama. Gabriel Garcia Marquez menghabiskan waktu berhari-hari hanya untuk menggarap paragraf pertamanya, dan ketika dia telah mampu menyelesaikannya, sisanya akan mengalir dengan lancar. Setelah judul, bagian pembuka adalah kesan, atau mungkin lebih tepat dikatakan ungkapan, yang pertama kali Anda tunjukkan kepada pembaca. Dalam psikologi sosial, kita mengetahui bahwa kesan pertama sering kali merupakan hal terpenting. Karena pengertian semacam inilah, banyak pengarang berusaha keras menuliskan pembuka ceritanya, agar bisa membuat ceritanya menjadi memukau. Ada beberapa cara untuk memulai sebuah cerita. Ada baiknya Anda mencontoh seorang pecatur yang tidak hanya mengandalkan satu macam pembuka saja. Pembuka yang berbeda-beda akan mendorong Anda menuliskan dengan berbagai macam cara pula. 1. Penggambaran Latar
Di pantai yang nyaman di Franch Riviera, kira-kira di tengah-tengah antara jarak Marseilles dan perbatasan Italia, berdirilah sebuah hotel yang besar, kukuh dan berwarna merah muda. Beraneka pohon palem memberikan keteduhan di teras hotel yang mewah itu, dan di depannya terhampar pantai yang memesona. Belakangan ini, hotel tersebut menjadi persinggahan orang-orang terpandang yang modis… (Tender is The Night karya F. Scott Fitzgerald)
Cerita di atas dibuka dengan penggambaran tempat yang runtut. Dimulai dari lokasi hotel itu berada. Lalu dilanjutkan dengan deskripsi bentuk dan warna hotel tersebut. Tidak ketinggalan juga hal-hal yang membuat hotel tersebut menarik dipaparkan, seperti adanya pohon palem dan pantai yang mempesona. Pada kalimat berikutnya, terdapat hubungan sebab akibat, yaitu hotel yang besar dan mewah itu dikunjungi orang-orang terpandang. Hubungan logis inilah yang menjadi pendukung kuatnya pembuka cerita di atas. Ketika membaca pembuka cerita ini, kita akan lebih mengetahui dan mengenal tempat (setting) kejadian cerita. Hal ini akan menjadi suatu tantangan bagi penulis untuk bisa mendeskripsikan latar peristiwa sehidup-hidupnya dan setampak-tampaknya. Akibatnya, kita akan bermain dengan pencitraan dalam dirinya, baik penglihatan, penciuman, perabaan, dan pendengaran. Menarik bagi pembaca yang memang suka terhadap cerita yang kuat akan deskripsi latar. Seperti dalam pembuka cerita di atas, penulis tidak terburu-buru untuk masuk ke dalam peristiwa yang dialami tokoh. Kita akan merasa penasaran untuk melanjutkan membaca, untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi di hotel mewah itu atau apakah ada misteri dalam hotel itu. Satu hal yang perlu di catat ketika menggunakan penggambaran latar untuk membuka cerita, yaitu jangan terlalu panjang dalam penceritaan latar. Cukup dua atau tiga paragraf awal sebagai pengantar, bahkan tiga paragraf pun sebenarnya sudah terlalu melelahkan untuk pembaca yang tidak sabar. 2. Penggambaran Fisik Tokoh
Dari dahinya yang lebar dan sangat menonjol ke depan itu bisa ditebak kalau lelaki muda yang bernama Panut itu pasti berotak cerdas. Akan tetapi entah apa bentuk mulutnya juga ikut mendukung kefasihan dan kepintaran bicaranya. Menurut teman-teman yang lain tubuhnya yang pendek menandai dia selalu ngotot dan tak mau kalah kalau sedang bicara. (Randu Alas karya Agus Vrisaba)
Cerita ini mengisahkan tentang lelaki muda, Panut, yang cerdas dan pintar bicara. Semua sifat tersebut tidak secara langsung diceritakan oleh penulis, tetapi diceritakan melalui penggambaran fisik tokoh. Informasi-informasi yang kita dapat tentang Panut yang cerdas dimulai dari pengaitan bentuk dahi yang lebar dan menonjol. Penulis memakai kebiasaan yang memang berkembang dalam masyarakat bahwa jika ada orang yang dahinya lebar menandakan orang itu cerdas. Pembaca akan memakai pengalamannya ketika membaca cerita ini untuk menangkap gambaran Panut yang cerdas. Selanjutnya, penulis memberi penguatan gambaran Panut dengan pemakaian pendapat teman-teman Panut tentang tubuh Panut yang pendek. Jadi, penulis tidak terus-terusan memakai sudut pandangnya ketika bercerita tentang Panut tetapi memakai tokoh teman-teman Panut. Kekurangan penggunaan pembuka cerita dengan teknik ini adalah diperlukan waktu beberapa lama sebelum aksi dimulai, yaitu kita akan melalui sebuah ringkasan dengan berbagai macam pikiran dan gambaran-gambaran umum sebelum sebuah adegan dimulai. Kelebihannya adalah kita langsung sampai pada si tokoh: tahu bagaimana sifatnya, tahu apa yang dilakukannya, melihat gambaran fisiknya, mendengar suaranya. Kelebihannya mungkin lebih besar daripada kekurangannya karena ketika aksi mulai ditampilkan, kita telah siap menghadapinya. Kita sudah mengenal tokoh yang merupakan pusat perhatian utama dan tema cerita. 3. Penggambaran Karakter tokoh
Tetangga saya orangnya terkenal baik. Suka menolong orang. Selalu memaafkan. Apa saja yang kita lakukan terhadapnya, ia dapat mengerti dengan hati yang lapang, bijaksana, dan jiwa yang besar. Setiap kali ia mengambil putusan, saya selalu tercengang karena ia dapat melakukan itu dengan kepala yang kering, artinya sama sekali tidak ketetesan emosi. Tidak hanya terhadap persoalan yang menyangkut orang lain, untuk setiap persoalan pribadinya pun ia selalu bertindak sabar dan adil. Banyak orang menganggapnya sebagai orang yang berhati agung. (Pencuri karya Putu Wijaya)
Cerita ini dibuka dengan menceritakan karakter seorang tetangga yang berkarakter positif. Mulai dari pernyataan dia adalah orang baik, suka menolong, selalu memaafkan, dan seterusnya. Kita digiring untuk memercayai apa-apa yang dikisahkan oleh Putu Wijaya. Hal ini akan membentuk suatu kepercayaan dan dukungan kepada tokoh cerita yang berkarakter bak malaikat. Di sinilah letak kekuatan cerita dengan teknik pembuka ini. Putu Wijaya memberikan kesempatan kepada kita untuk mengenal tokoh atas tuturannya. Kita akan merasa mengenal dan mempercayai kalau tokoh itu memang benar-benar orang baik. Teknik pembuka seperti ini ketika telah masuk ke dalam aksi tokoh tentunya akan memberikan kejutan kepada kita. Siapa tahu tetangga yang baik itu ternyata adalah pencuri atau sorang pembunuh. Dalam diri kita tentu terbentuk dua sisi ata tokoh tersebut ketika telah masuk ke dalam aksi, mendukung aksi tokoh atau menolak aksi tokoh. Kekurangan teknik ini hampir sama dengan teknik penggambaran fisik tokoh. Kita akan berlama-lama dengan gambaran karakter tokoh dari penulis sebelum aksi dimulai. Tentunya akan membuat kita menjadi tidak sabar untuk melewatkannya. 4. Memulai dengan Pertanyaan
“Di manakah aku bisa bertemu dengan Tuhan?” (Seribu Majid yang Kudirikan karya Denny Prabowo)
Sebagian besar motivasi untuk terus membaca datang dari sebuah pertanyaan. Membaca adalah proses pencarian jawaban. Jadi, mengajukan pertanyaan adalah cara yang paling langsung untuk mengajak pembaca agar terus menyertai Anda. Kelebihan dari teknik ini adalah karena pertanyaan yang berada dalam dialog membaca kita langsung ke dalam adegan. Kita terjun ke tengah-tengah aksi di mana pada kalimat pertama sesuatu telah terjadi. Akan tetapi, hal ini bisa pula menjadi sesuatu yang tidak menguntungkan karena kita belum mengenal si pembicara, atau pun tempat dia berbicara, dan menyajikan latar belakang setelah pertanyaan akan tampak tersendat-sendat. Meskipun demikian, hal ini masih bisa menjadi pembuka yang efektif karena sangatlah penting bagi pembaca untuk memiliki pertanyaan dalam benaknya. 5. Menampilkan Aksi
Gelas yang telah kosong itu dibantingnya di depan dirigen, serpihan belingnya mengenai celananya, wul hitam pekat. Ketika dirigen itu mencoba beranjak dari kursinya, seketika ia dikepung oleh sejumlah pemain-pemainnya. Tak mampu berkutik sedikit pun, ia cuma mengucurkan keringat di kening, berlelehan seperti seorang petinju. (Simfoni Melompat Jendela karya Danarto)
Mata kita bisa dengan cepat mengenali adanya gerakan. Mengawali cerita dengan sebuah aksi bisa menangkap perhatian pembaca. Seperti cerita di atas yang mengisahkan seorang dirigen yang kena amukan para pemainnya. Kita mampu melihat gerakan-gerakan yang dilakukan oleh “nya”, dirigen, dan para pemain. Kelebihannya memang terletak di situ, pembaca langsung mengetahui aksi yang dilakukan tokoh. Akan tetapi, pembaca belum mengenal siapa sebenarnya dirigen dan tokoh “nya” yang membanting gelas tersebut. 6. Menampilkan Peristiwa
Lima belas tahun yang lalu, terataknya didatangi seorang laki-laki kasar, memperkosanya lalu pergi ke gunung. Anak yang lahir sepuluh bulan kemudian adalah gadis cilik yang setiap pagi buta kudengar bersama ibunya bernyanyi-nyanyi kecil memunguti buah-buah asam jawa yang berjatuhan dari pohon-pohonnya sepanjang jalanan kota kecilku. (Tanggapan Merah-jambu Tentang Revolusi karya Iwan Simatupang)
Peristiwa biasanya merupakan gabungan antara aksi, setting, dan tokoh. Dalam cerita di atas mengandung ketiga unsur tersebut. Aksi yang dilakukan adalah bernyanyi-nyanyi kecil memunguti buah-buah asam jawa. Setting tempatnya di bawah pohon asam jawa panjang jalanan kota kecil. Tokohnya adalah seorang gadis cilik dan ibunya. Kelebihan dari teknik adalah sebuah aksi akan berlangsung saat kita bergabung; kita melompati persiapan. Kita langsung melompat ke tengah-tengah cerita. Namun, tidak seperti dalam pembuka yang memiliki kail yang umum, belum ada hal yang luar biasa terjadi di sini sehingga kehebohan aksi akan meningkat dan bukannya menurun. 7. Pikiran Tokoh
Begitulah, belakangan ini aku selalu merasa seperti punya musuh, perasaanku seperti orang berperang—tapi aku tak tahu siapa musuhku (Klandestin karya Seno Gumira Ajidarma)
Kita berada dalam kepala si tokoh, tempat yang mungkin diinginkan pembaca. Memang masuk akal untuk langsung berada dalam kepala si tokoh, terutama dalam novel psikologi. Kekurangan cara ini adalah bahwa pikiran bersifat abstrak, kita belum bisa melihat apa pun. Namun, pikiran orang memang menarik dan cukup paradoks sehingga bisa membuat kita penasaran. 8. Gagasan
“Nah, yang kuinginkan sekarang adalah fakta. Ajarilah anak-anak ini hanya fakta. Faktalah yang kita inginkan dalam kehidupan. Tidak usah menanamkan hal lainnya, dan singkirkan hal lainnya. Anda hanya bisa membentuk pikiran binatang berdasarkan fakta: hal lain takkan berguna bagi mereka...” (Hard Time karya Charles Dickens)
Jika Anda membuka sebuah cerita dengan sebuah gagasan, Anda mungkin mengambil risiko karena bagian ini mungkin akan terkesan terlalu pintar, kering, dan terlalu bernuansa esai. Namun, sering kali gagasan, terutama jika dinyatakan dengan sudut pandang orang pertama atau dalam dialog (atau monolog), menampilkan beberapa tujuan, seperti yang Anda lihat dalam cerita di atas. Gagasan bahwa fakta adalah segalanya secara tidak langsung menggambarkan si pembicara (kepala sekolah) dan sebuah tempat (sekolah berasrama). Dan gagasan ini menjadi tema, sesuatu yang diulang-ulang dalam novel tersebut. Sampai sejauh ini, dari abstraksi yang kering, sebuah gagasan bisa memberikan hasil seperti citra yang dipilih dengan baik. 9. Sensasi yang Kuat
Plastik-plastik terapung, lumpur pekat kecoklatan, perkakas penyok, bangkai anjing dengan perut gembung, lalat hijau, sampah busuk. Amat biasa bahkan bagus buat dinikmati. Manakala air Kali Comberan meluap membentuk harmoni alam yang kelewat simetris dengan ilustrasi deretan gubuk primitif mirip kandang babi. (Lampor karya Joni Ariadinata)
Sensasi dengan cepat mengajak pembaca untuk mulai menyelami narasi dan karena itu banyak pengarang lebih suka memilih pembuka yang mengarah pada sensasi, seperti cerita di atas. Pembuka di atas mungkin menampilkan terlalu banyak sensasi, tetapi hasilnya cukup baik. Pembaca menerima kesan yang kuat tentang latar yang disajikan. Pendahuluan ini menjawab pertanyaan di mana yang langsung diberikan dengan penggambaran latar tempat sebagai atmosfer indriawi. Sebuah sensasi tunggal yang kuat membuka jalan mulus bagi khayalan kita untuk memasuki cerita itu. Kita tidak harus mulai berpikir saat itu juga, untuk mencoba membayangkan citra yang kompleks. Kita langsung berada dalam adegan itu, ikut mengalami tanpa harus memutuskan indra mana yang harus digunakan. Tidak perlu membujuk-bujuk pembaca untuk bisa mencapai suasana itu. 10. Motif Tokoh
Sejak melihat betis Ken Dedes, istri Pak Bupati, dalam sebuah arak-arakan keliling kota itu, Ken Arok tidak pernah bisa memejamkan mata denganh tenang lagi. Betis yang mulus bagai telur itu memancarkan sinar yang dalam benak Ken Arok sama persis dengan berbagai dongeng dari Parsi mengenai cahaya yang memancar dari tubuh putri-putri yang disimpan raja-raja kaya raya dalam Kaputren. Pemuda ingusan, yang oleh teman mainnya sekampung dijuluki koboi cengeng itu, berjanji jauh dalam hatinya untuk mendapatkan istri Bupati itu—dengan cara apa pun. (Hikayat Ken Dedes karya Sapardi Djoko Damono)
Kita bisa segera tahu apa yang diinginkan tokoh dalam cerita di atas. Kita juga mengetahui apa-apa yang menyebabkan keinginan itu timbul. Hal inilah yang bisa memicu para tokoh dan pembaca. Motif tokoh akan membuat pembaca tertarik mengikuti peristiwa-peristiwa yang mungkin terjadi. Ketika membaca paragraf ini, pembaca akan langsung ‘meraba’ jalan cerita. Semakin tak terduga alur yang disajikan, semakin pembaca akan merasa penasaran. Demikianlah 10 tekhnik pembuka cerita yang bisa kamu coba. Selamat mencoba!

Prinsip-Prinsip Menulis Fiksi

Minggu, 22 Agustus 2010

Oleh Denny Prabowo Duduk dan lakukan! Begitu nasihat Josip Novakovich dalam bukunya, Berguru kepada Sastrawan Dunia. Masalahnya apa yang harus dilakukan kalau tidak ada ide untuk dituliskan? Mungkin itu pertanyaan yang segera muncul di kepala kamu. Suatu kali teman saya, penulis cerpen di majalah remaja, bertanya seperti ini, “Apakah kamu pernah merasa takut kehabisan ide?” Hmm … rasanya saya lebih takut kehabisan waktu dan motivasi untuk menulis daripada takut kehilangan ide. Bahkan seringkali saya kesulitan menulis, justru karena begitu banyak ide yang berebut minta dituangkan menjadi sebuah cerita. Yup, ide itu ada di sekitar kita. Terkadang ada di dalam diri kita sendiri. Hanya saja, kita sering lebih suka mencari-cari semut di seberang lautan, sementara gajah di pelupuk mata tidak tampak. Lalu bagaimanakah caranya agar gajah di pelupuk mata itu dapat terlihat? Apa yang harus dilakukan, agar kita tak perlu mencari-cari semut di seberang lautan, dan membuat semut-semut itu merubungi kita? Berikut ini prinsip-prinsip yang dapat kamu terapkan dalam mengelola ide menjadi sebuah fiksi: Prinsip #1: Penulis yang baik adalah pengamat yang baik Seorang penulis sudah semestinya adalah seorang pengamat. Penulis yang baik adalah pengamat yang baik. Pengamat yang baik haruslah memiliki kepekaan dan ketertarikan pada segala hal. Ketertarikan seorang penulis pada objek yang dianggap remeh dan biasa oleh sebagian orang, membuatnya tak akan pernah kehabisan cerita. Seperti menimbun ide di lumbung imaji. Seorang teman di FLP pernah mengatakan pada saya, kalau dia tidak suka menulis tentang terminal dan pasar karena menganggap tidak ada hal yang menarik untuk diceritakan. Bagaimana kita dapat menjadi pengamat yang memiliki kepekaan jika kita membatasi ketertarikan pada sesuatu? Padahal, menjadi pengamat yang baik adalah kunci menjadi penulis yang baik, yang dengannya kita tak akan pernah kehabisan ide cerita untuk dituliskan. Mulai sekarang buka mata dan telinga. Perhatikan sekitar kamu. Apakah ada yang bisa kamu tuliskan? Jangan melakukan pemilahan berdasarkan kemenarikan. Karena yang kamu anggap tidak menarik, bisa jadi sangat menarik bagi orang lain. Cobalah belajar untuk mencari hal menarik dari sesuatu yang selama ini kamu anggap tidak menarik. Jika prinsip pertama ini kamu jalankan, kamu tak akan pernah kehabisan bahan cerita untuk dituliskan. Prinsip #2: Realitas sebagai bahan mentah Setelah novel remaja pertama saya, Pemuda dalam Mimpi Edelweiss (Lingkar Pena Publishing House, 2006) diterbitkan, banyak pembaca yang bertanya pada saya melalui email atau ponsel: “Apakah karya itu berdasarkan kisah nyata?” Novel itu bercerita tentang seorang gadis pendaki bernama Edelweiss. Bukan kebetulan jika saya juga sering naik gunung. Maka banyak pembaca mengira, tokoh Fajar (kakaknya Edelweiss) dalam novel itu tak lain adalah diri saya sendiri. Dan Edelweiss adalah penjelmaan dari adik saya. Kebetulan memang saya dua bersaudara. Dan kebetulan pula adik saya perempuan. Hanya saja, adik saya bukan seorang pendaki, bahkan seumur hidupnya belum pernah mendaki gunung. Kehidupan adik saya jauh dari dunia pendakian. Kalau begitu, bagaimana tokoh Edelweiss itu bisa hadir? Kalau Plato beranggapan bahwa sastra dan seni hanya peniruan, peneladanan, atau pencerminan dari kenyataan, Aristoteles di pihak lain, beranggapan bahwa dalam proses penciptaan, sastrawan tidak semata-mata meniru kenyataan, tetapi sekaligus menciptakan sebuah “dunia” dengan kekuatan kreativitasnya. Dunia yang diciptakan pengarang adalah sebuah dunia yang baru, dunia yang diidealkan, dunia yang mungkin dan dapat terjadi walau sebenarnya tidak pernah terjadi. Pendapat Aristoteles ini menjelaskan pada kita, mengapa novel fiksi yang saya tulis, membuat pembaca menduga kalau karya itu ditulis berdasarkan kisah nyata saya. Realitas di dalam dunia fiksi hanyalah bahan mentah untuk mengkreasi “dunia baru”, yaitu dunia fiksi. Prinsip yang kedua ini, realitas atau kenyataan hidup yang kita alami bukanlah cerita yang sudah jadi, tetapi bahan mentah. Kita perlu mengolah bahan itu agar menjadi sebuah cerita yang menarik untuk dinikmati. Prinsip #3: Buku kecil seorang penulis Berapa usiamu sekarang? 13 tahun? 17 tahun? Atau 21 tahun? Sepanjang kehidupan kamu, sejak dari dalam kandungan sampai pada usiamu yang sekarang adalah kenyataan hidup. Apa saja yang kamu ingat dari perjalanan panjang kehidupanmu itu? Mungkin tidak banyak. Ingatan seringkali melakukan proses seleksi terhadap pengalaman atau realitas yang dialami oleh seseorang. Akibatnya, tak banyak yang kita ingat. Padahal, seandainya kamu mampu mengingat atau mengetahui keseluruhan perjalanan hidupmu, betapa kamu telah menimbun ide di lumbung imaji. Kamu akan memiliki bahan mentah untuk dikembangkan menjadi sebuah cerita. Oleh sebab itu, diperlukan sarana yang dapat menampung pengalaman kamu (baik itu pengalaman empiris, pengalaman membaca, atau pengalaman menonton). Semacam buku catatan untuk menampung segala yang pernah kamu lihat, kamu dengar, atau kamu pikirkan. Tuliskan saja semua yang muncul tanpa mencemaskan apakah hal itu merupakan ide yang baik atau buruk. Tuliskan saja semuanya tanpa melakukan proses seleksi seperti yang dilakukan oleh ingatan kita. Jika kamu malas mencatatnya atau malas membawa-bawa buku catatan, mengapa kamu tidak mencobanya dengan alat perekam? Prinsip yang ketiga ini, mulailah melakukan pengamatan dan catatlah! Prinsip #4: Bagaimana jika…? Setelah kamu memiliki banyak bahan mentah, apakah kamu masih kesulitan untuk menuliskannya menjadi sebuah cerita fiksi? Apa yang membuat kamu kesulitan? Apakah karena pengalaman-pengalaman yang berhasil kamu catatkan dalam buku catatanmu itu tidak cukup menarik? Apabila masalah itu yang kamu hadapi, maka prinsip keempat ini akan membantumu untuk mengembangkan cerita dari pengalaman yang kamu anggap kurang menarik. Mungkin kamu terlalu membatasi idemu pada kehidupan nyata. Kamu hanya menuliskannya sesuai dengan kenyataan yang sesungguhnya. Ingat, kita akan menulis fiksi, bukan sebuah reportase. Apakah pengalaman melihat seekor anjing mengorek-ngorek sampah cukup menarik? Jika jawabanmu “tidak”, maka yang perlu kamu lakukan adalah mencoba untuk mengajukan pertanyaan sederhana ini: bagaimana jika saat mengorek-ngorek sampah, anjing itu menemukan seorang bayi menangis dalam kardus? Lihat, bagaimana pertanyaan sederhana itu mampu membuat peristiwa yang tidak menarik menjadi memiliki nilai konflik atau permasalahan yang cukup besar. Setiap jawaban yang kamu pilih dari pertanyaan sederhana itu, akan menghadirkan pertanyaan-pertanyaan lanjutan. Dan jika keseluruhan pertanyaan itu telah kamu jawab, sebuah cerita siap kamu tuliskan. Menulis fiksi adalah proses menemukan sebuah kemungkinan. Prinsip yang keempat adalah kamu perlu memperbesar kemungkinan dengan mengajukan pertanyaan sederhana: bagaimana jika…? Prinsip #5: Mari berimajinasi Prinsip ini merupakan prinsip terpenting yang mutlak harus dimiliki oleh seorang penulis fiksi. Suatu kali dalam milis kepenulisan, mengemuka wacana: apakah menjadi penulis itu merupakan bakat? Pendapat dalam milis itu terbagi tiga kelompok. Kelompok pertama memercayai bahwa bakat mutlak diperlukan. Kelompok kedua menganggap proses latihan yang akan menentukan seseorang menjadi penulis. Kelompok terakhir, mereka yang memilih berada di tengah-tengah: bakat dan latihan diperlukan. Saya tidak akan meminta kamu memilih mana pendapat yang paling tepat. Yang ingin saya katakan adalah tidak satu pun dari ketiga kelompok itu, yang memperhitungkan imajinasi sebagai syarat mutlak yang harus dimiliki seorang penulis. Yup! Imajinasi. Meski kamu memiliki bakat dan rajin berlatih menulis fiksi, tanpa imajinasi kamu hanya mungkin menulis sebuah reportase—bahkan penulisan sebuah reportase pun membutuhkan imajinasi. Seorang penyair bernama Cecep Syamsul Hari, dalam “Puisi dan Yang Lain” (Majalah Horison Tahun XLII, No.8/ Agustus 2007: 5) mengatakan, “Imajinasi bukanlah mimpi atau fantasi. Ia adalah kualitas untuk menghadirkan realitas yang dialami (experienced-reality) dan realitas yang ditafsirkan (interpreted-reality) yang terjadi di masa lalu, masa kini, dan masa depan.” Dalam bahasa sederhananya, imajinasi merupakan kemampuan menghadirkan realitas dalam citraan penglihatan, pendengaran, penciuman, pencecapan, perabaan, dan citraan kinestetik atau gerak. Kamu mungkin telah berhasil menyusun plot melalui prinsip kelima (baca: bagaimana jika…?). Namun, untuk membuat gambaran utuh, kamu membutuhkan imajinasi. Imajinasi yang akan membentuk plot itu menjadi rangkaian peristiwa yang mewujud dalam latar, tokoh, dan adegan yang dapat diasosiasi pembaca. Prinsip #6: Ayo membaca! Suatu ketika dalam talkshow kepenulisan, saya pernah ditanya oleh peserta yang hadir, “Bagaimana cara mengatasi kemacetan dalam menulis?” Katanya lagi, “Saya suka menulis, tapi tidak suka membaca.” Penanya itu sudah menjawab sendiri pertanyaannya. Kemacetannya dalam menulis atau mengembangkan ide cerita karena ia tidak suka membaca. Ada penulis yang tidak mau membaca karya fiksi penulis lain karena menurutnya, hal itu akan membuat karyanya jadi terpengaruh oleh karya orang. Akibatnya, karyanya jadi tidak orisinal. Kalau ia tak pernah membaca karya orang, bagaimana dia berani menjamin bahwa karya yang ditulisnya itu orisinal, alias belum pernah ditulis oleh orang lain? Penulis yang berpendapat seperti itu, sesungguhnya tengah mengurung dirinya dalam sebuah kotak. Lagipula, apa sih yang bisa dikatakan orisinal di dunia yang renta ini, kalau untuk menguburkan jasad Habil, Qabil harus meniru seekor burung? Tidak ada ide yang benar-benar orisinal, yang ada hanyalah cara menceritakan yang berbeda. Dan untuk menemukan cara menceritakan yang berbeda, kamu harus membaca. Hanya dengan membaca, kamu bisa menemukan perbedaan yang dapat kamu kembangkan menjadi ciri khas kamu! Menulis merupakan saudara kembar membaca. Tanpa membaca, kamu akan kesulitan mengembangkan ceritamu. Sebagai contoh, kamu ingin menulis cerita tentang pendakian, padahal kamu sendiri belum pernah melakukan pendakian. Jika kamu tidak membaca buku-buku tentang pendakian, bagaimana cara kamu menceritakannya? Atau kamu ingin menulis cerita dengan tokoh seorang dokter. Sementara kamu tidak mengetahui kehidupan seorang dokter. Lalu bagaimana cara kamu menceritakannya? Mungkin kamu bisa mengatakan, “Kita kan cukup mengkhayal menjadi seorang dokter!” Nah, karya fiksi semacam inilah yang bisa disebut sebagai kebohongan. Apa yang bisa diceritakan tentang seorang dokter oleh penulis yang tidak mengetahui dunia kedokteran, jika bukan kebohongan? Sebagai penulis, kamu tidak perlu menunggu menjadi ahli di bidang kedokteran untuk menulis cerita tentang dokter. Kamu hanya perlu menerapkan prinsip keenam ini: ayo membaca! Prinsip #7: Mulai menulis Menulis, menulis, dan menulis! Begitu nasihat tiap pengarang yang ditanya bagaimana cara menulis sebuah fiksi. Semua prinsip-prinsip yang telah dipaparkan di atas, hanya akan menjadi omong kosong, jika kita tidak memulai untuk menulis. Kamu tidak mungkin dapat berenang, walau semua teori tentang renang sudah kamu pelajari dan pahami, jika kamu tidak pernah nyebur ke dalam kolam renang! Namun, apabila dalam proses penulisan kamu mengalami kemacetan imajinasi, alias tidak mampu menghadirkan gambaran atau citraan dari peristiwa-peristiwa yang ingin kamu rangkai menjadi cerita, kembalilah pada prinsip nomor tiga. Buka catatan atau rekaman pengalaman kamu. Apakah ada yang bisa kamu ambil untuk menggambarkan peristiwa yang kamu inginkan? Jika cara itu juga tidak mendatangkan hasil, maka gunakan prinsip keenam: ayo membaca. Boleh jadi, kemacetan kamu disebabkan minimnya kosakata kamu untuk menampilkan citraan dalam latar, tokoh, dan adegan. Atau kamu belum memahami tema yang ingin kamu tulis. Prinsip #8: Berdiskusi, yuk! Kamu sudah berhasil menulis cerita? Apakah kamu merasa puas dengan hasil karyamu? Tunggu dulu! Jangan terburu-buru mengirimkannya ke majalah atau koran. Apalagi mengirimkannya ke editor penerbitan. Cobalah untuk menunjukkannya ke teman-temanmu. Mintalah mereka membaca karyamu. Bagaimana pendapat mereka setelah membacanya? Apakah mereka tertarik? Atau mereka mengkritik? Bagian mana yang mereka tidak suka? Mana yang menurut mereka bagus untuk dikembangkan? Diskusikan, yuk! Jangan dulu buang karyamu ke tong sampah jika lebih banyak kritik yang kamu terima dari pada pujian. Minta masukan dari teman-temanmu. Kamu bisa mencoba merevisi karyamu sesuai masukan dari temanmu. Namun, jika hasilnya belum juga memuaskan, simpan karyamu. Suatu saat nanti, karya itu akan jadi harta yang tak ternilai. Saya selalu menyimpan karya-karya yang saya anggap “gagal”. Jika jam terbang menulis kamu sudah cukup tinggi, coba tengok kembali karya-karya itu. Boleh jadi bukan karena idenya tidak menarik, melainkan karena kemampuan kita yang belum matang. Prinsip ini tidak selalu berhasil jika kamu tidak memiliki teman-teman yang tertarik dengan dunia fiksi. Untuk itu kamu perlu bergabung dalam satu komunitas menulis. Kamu perlu memiliki teman-teman yang punya ketertarikan yang sama denganmu. Saat ini, komunitas menulis sudah sangat banyak dibanding ketika saya pertama kali belajar menulis fiksi. Selain sebagai kebutuhan untuk diskusi, komunitas juga sangat berguna untuk memotivasi kamu.
***
Duduk dan lakukan! Apakah nasihat Novakovich itu masih terdengar bombastis bagi diri kamu? Sekarang kamu sudah tahu prinsip-prinsipnya. Itu merupakan modal awal bagi kamu untuk masuk ke dunia fiksi. Sebuah dunia yang menawarkan banyak kemungkinan. Dunia rekaan yang bermuasal dari tiruan realitas yang telah mengalami proses pengendapan dalam diri penulis, sebelum melakukan proses pengimajinasian dan melahirkan dunia dalam kata. Selamat memasukinya!

Latar Sebagai Landasan Cerita

Minggu, 04 Juli 2010

Oleh Denny Prabowo Penulis seringkali bergantung pada ide ketika ingin memulai sebuah tulisan. Padahal, latar yang kuat cukup bagi kita untuk memulai cerita kita. Dalam buku Berguru kepada Sastrawan Dunia, Josip Novakovic mengungkapkan sebuah rumus: Latar = Tokoh = Plot. Dari sebuah tempat kita akan mendapatkan tokoh; dari motif yang dimiliki tokoh, bisa muncul sebuah plot (hubungan sebab akibat). Hal ini kedengarannya seperti sebuah teori psikologi, bahwa seorang tokoh adalah produk lingkungannya. Bagi seorang penulis, teori yang mengunggulkan pentingnya sebuah lingkungan akan lebih baik daripada teori yang mengabaikan hal itu. Sebab tanpa adanya tempat dan berbagai tindakan yang memengaruhi sosok si tokoh, tak akan ada jalinan antara berbagai peristiwa. Sebuah contoh mungkin akan memberikan gambaran bagaimana rumus yang dikemukakan Josip Novakovich bisa berhasil, seperti dalam cerpen Surat Buat Tuhan karya Gregorio Lopez y Fuantes.
Rumah itu—satu-satunya di seluruh lembah—bertengger di punggung sebuah bukit yang landai. Dari ketinggian tersebut, orang bisa melihat sungai dan, di samping kandang, ladang jagung yang ranum yang dipenuhi oleh bunga-bunga tanaman kacang merah yang selalu menjanjikan panen yang baik.
Paragraf awal ini memberikan kepada pembaca gambaran sebuah latar tempat. Paragraf berikut ini, memberikan kepada kita latar waktu.
Hal itu berlangsung cukup lama. Selama satu jam butiran-butiran air beku itu mendera rumah, kebun, lereng bukit, ladang jagung, dan lembah. Tak ada sehelai daun pun melekat pada pohon-pohon. Ladang kelihatan putih, seperti tertutupi oleh garam. Jagung mereka semuanya hancur. Bunga-bunga kacang pun telah terenggut dari tanamannya. Hati Lencho dipenuhi kepedihan. Ketika badai berlalu, ia berdiri di tengah ladang dan berkata kepada anak-anaknya. “Serangan serangga pun masih menyisakan sesuatu… hujan es tadi tidak menyisakan apa-apa sama sekali: tahun ini kita tidak akan mempunyai jagung atau kacang…”
Dari latar tempat dan waktu seperti gambaran di atas, kita mendapatkan seorang tokoh bernama Lencho. Dari motif yang dimiliki tokoh Lencho, kita akan mendapatkan sebuah plot. Perhatikan paragraf berikut ini:
Lencho adalah seorang lelaki bertenaga kerbau, bekerja bagai hewan di ladang, tetapi tidak pandai menulis. Minggu berikutnya, di kala fajar, setelah meyakinkan diri bahwa roh pelindung itu sungguh-sungguh ada, ia pun menulis sepucuk surat yang akan dibawanya sendiri ke kota untuk diposkan. Bukan sesuatu yang istimewa, selain sepucuk surat buat Tuhan. ”Tuhan,” tulisnya, ”kalau Engkau tak menolongku, maka aku dan keluargaku akan kelaparan tahun ini. Aku membutuhkan seratus peso agar bisa menanami ladangku kembali dan menyambung hidup sampai datangnya musim panen, karena badai itu...”
Dengan mengambil latar ladang jagung dan kacang pada saat terserang badai, Gregorio Lopez membangun plot sebagai berikut: Ladang jagung dan kacang siap panen milik Lencho rusak terserang badai salju. Lencho dan keluarganya terancam kelaparan. Untuk itu Lencho mengharap pertolongan Tuhan. Maka ia pun menulis surat untuk Tuhan dan mengantarkan surat itu ke kantor pos. Pendekatan di atas bisa pula diungkapkan dengan rumus: latar + tokoh = plot. Dari hubungan tokoh dengan latarnya, atau dari konflik yang dialami tokoh dengan latarnya, kita bisa mendapatkan sebuah plot, atau paling tidak sebagian dari plot, atau sebuah titik dinamis untuk mulai menyusun sebuah cerita. Bahkan sekalipun latar maupun tokoh tidak menciptakan sebuah plot, cerita kita harus tampak seakan-akan rumus ini berhasil sehingga tempat, orang, dan aksinya seakan-akan menyatu. kita bisa saja mengambil sebuah plot dari sebuah peristiwa dalam surat kabar. Namun tokoh yang terlibat dalam peristiwa itu harus memiliki motif yang cocok dengan kiprah mereka, dan motif ini berkaitan erat dengan lingkungannya. Baca Cerpen: Surat Buat Tuhan karya Gregorio y. Fuantes

Mengubah Dongeng atau Cerita Rakyat

Senin, 03 Mei 2010

Oleh Denny Prabowo Siapa yang tak kenal dengan si Kancil? Kecerdikannya teresohor dari zaman ke zaman. Diceritakan dari mulut ke mulut. Trik ngapusi-nya hampir tak pernah gagal. Bahkan ketika ia nyaris dikalahkan oleh kecerdikan Pak Tani, yang melumuri orang-orangan sawahnya dengan getah. Tangan dan kaki si Kancil pun lengket pada orang-orangan sawah itu. Namun, ia masih berhasil melarikan diri dari kurungan, setelah membohongi anjing piaraan Pak Tani dengan mengatakan, “Aku dikurung di tempat ini karena akan dinikahkan dengan anak Pak Tani yang cantik!”. Tentu saja, anjing yang diam-diam naksir dengan anak Pak Tani itu, langsung setuju waktu si Kancil menawarkan untuk menggantikan posisinya itu. Dan keesokan harinya, Pak Tani harus kecewa karena gagal menikmati sate daging kancil. Yup, begitu terkenalnya dongeng si Kancil. Namun, bagaimana jadinya jika ketenaran dongeng itu justru membuat siapa pun mengetahui tipu muslihat si Kancil? Sehingga dapat dipastikan tak ada seorang pun atau sehewan pun yang bisa ditipunya lagi!
Sudahlah, Cil, tak usah cerita macam-macam, aku sudah tahu rancangan Juru Dongeng itu. Kau mau dijadikan sate dan bukan menantu. Iya, kan? Dan karenanya tentu saja aku tidak mau menggantikan tempatmu. Anjing itu sudah juga mengetahui rancangan Juru Dongeng! Dan aku mendapat firasat bahwa tak akan mungkin lepas kali ini sebab anjing kudisan itu tampaknya tak peduli pada nyawa binatang lain. Mungkin ia pikir besok akan mendapat bagian tulang kancil setelah dagingku dibikin sate. Aku harus tinggal di dalam kurungan itu semalaman, membayangkan macan, buaya, ular yang ternyata juga sudah tahu taktik tipuanku. (Damono, 2006: 6)
Begitulah cerpen berjudul “Dongeng Kancil” yang ditulis oleh Sapardi Djoko Damono. Menulis cerita adalah proses pengandaian. Mencari variasi-variasi latar, tokoh, dan peristiwa dari sebuah cerita yang sudah ada. Seperti yang dilakukan oleh Sapardi, ia berhasil menulis “versi lain” dari dongeng si kancil yang sangat terkenal. Di Kalimantan Tengah beredar cerita rakyat tentang “Anjing Menjadi Manusia”. Dikisahan dalam dongeng itu tentang seorang kepala suku bernama Bagalah. Ia memiliki seekor anjing istimewa. Pada suatu hari anjing itu mengejar babi sampai ke tepi danau Sambuluh yang membatasi kampung Bagalah dengan tanah pantangan. Babi itu terjun ke sungai menyeberang ke tanah pantangan. Si anjing tak berani mengejar. Sesampai di seberang babi itu berubah jadi batu dan anjing Bagalah berubah jadi manusia. Di tepi danau Sambuluh, di tempat yang mula-mula tanah pantangan itu, menjadi sebuah kampung dan penduduknya. Pergilah Bagalah ke sana. Kepala kampung itu bernama Rendan Tingang. Ia memiliki seorang anak lelaki dan seorang anak perempuan. Suatu hari Raden Tingang membetulkan atap rumah. Bagalah memukul-mukul tepi piring makan anjingnya. Tiba-tiba, Raden Tingang melompat dari atap memburu piring makan itu dan berubah menjadi seekor anjing. Berdasarkan ingatan akan cerita rakyat itu, Seno Gumira Ajidarma menulis sejudul cerpen, “Legenda Wongasu”. Ia memindahkan latarnya ke tengah kota Jakarta dengan tokohnya bernama Sukab. Sejak di-PHK, Sukab berburu anjing-anjing liar untuk dijual ke warung-warung yang menghidangkan masakan daging anjing. Lama-lama kepala Sukab dan keluarganya berubah jadi kepala anjing. Dan orang-orang pun mulai menyebutnya Wongasu. Suatu kali keluarga Sukab diangkut petugas tramtip. Sukab pun berjongkok di bekas gubuknya dan melolong. Lolongan itu membuat ketakutan orang-orang di pinggir kali.
“Mereka membantai Sukab,” ujar tukang cerita itu, dan para pendengar menahan nafas. “Dibantai bagaimana?” “Ya dibantai, kalian pikir bagaimana cara kalian membantai anjing?” “Terus?” “Mereka pulang membawa daging ke gubug masing-masing.” “Terus?” “Terus! Terus! Kalian pikir bagaimana caranya mendapat gizi dalam krisis ekonomi berkepanjangan?” (Ajidarma, 2004: 80)
Cerita ini ditutup dengan sangat mengesankan. Perhatikan paragraf akhir cerpen SGA ini:
Pertunjukan akhirnya benar-benar selesai, tukang cerita itu memasukkan kembali wayangnya ke dalam kotak. Para penonton yang semuanya berkepala anjing itu pulang ke rumah, dengan pengertian yang lebih baik tentang asal-usul mereka sendiri. Guk!
Apakah bunda dan nenekmu suka mendongeng? Atau barangkali ayah dan kakekmu gemar bercerita? Josip Novakovich (2003: 22) berangan-angan bisa mendapatkan sebuah cerita klasik seperti Odyssey dari seorang rakyat biasa. Menurut Novakovich, sungguh kebiasaan yang baik untuk mendengarkan orang berbicara dan apa yang mereka bicarakan karena tukang dongeng yang terbaik seringkali bukan pengarang. Bagi mereka, berkomuniksi dengan para pendengar adalah sesuatu yang sangat berharga saat mendongeng, dan karena itu, mereka lebih senang bercerita langsung daripada menulikannya. Barangkali, kita termasuk yang sangat beruntung, karena dongeng-dongeng dan cerita rakyat banyak dituliskan dalam sebuah buku. Sehingga kita tak perlu berburu ke daerah-daerah terpencil sekadar untuk mendapatkan sebuah dongeng. Yang perlu kamu lakukan hanya mencari buku tentang dongeng dan membacanya untuk kemudian mengajukan pertanyaan: bagaimana jika... agar kamu mendapat variasi lain dari dongeng tersebut dengan mengubah latar, tokoh, atau peristiwanya. Tentu kamu pernah mendengar cerita Malin Kundang yang dikutuk menjadi batu karena durhaka kepada ibunya. Bagimana jika sebaliknya, ibunya Malin Kundang yang durhaka? Suatu kali, ketika ingin mementaskan sandiwara tujuh belasan, Rasidin belum mendapatkan cerita untuk dipentaskan. Ia pun mengajak para pemain menyusun cerita sebagamana yang dipesan Buya Nauman.
“Mengapa tidak cerita Malin Kundang saja?” Oh, itu dongeng anak-anak. Sedang kita perlu cerita orang dewasa.” “Bagaimana caranya?” tanya Rasidin lagi, menyela di antara suara yang berebutan mengusul. “Kalau ceritanya cerita orang dewasa, hukum apa yang akan diberikan pada anak durhaka itu?” Anis yang biasanya menjadi wakil sutradara ikut bicara. “Dikutuk.” “Jadi batu.” “Mengapa tidak jadi hantu?” “Oh, jangan. Nanti para penonton tidak berani pulang malam. Takut ketemu hantu di balik pintu.” “Mengapa cerita itu tidak dijadikan sungsang?” usul Anis pula. “Sungsang bagaimana?” “Si ibu yang durhaka, dikutuk oleh anaknya.” (Navis, 2001: 114)
Yup, dalam cerpen A.A. Navis yang berjudul “Malin Kundang Ibunya Durhaka” itu, dongeng Malin Kundang dibuat sungsang. Bukan Malin Kundang yang durhaka, melainkan ibunya. Jika A.A. Navis menyungsangkan dongeng Malin Kundang itu, teman saya, Lubis Grafura, seorang pengarang yang mendirikan Bengkel Imaji di Universitas Negeri Malang, justru melogiskan cerita dongeng itu. Malin Kundang tidak pernah dikutuk jadi batu. Batu karang yang mirip orang bersujud di tepi pantai itu, merupakan patung belum jadi yang dipahat oleh Malin sebelum ia pergi berlayar menyusul sahabatnya. Patung itu diletakan oleh ibunya di tepi pantai agar Malin Kundang tak lupa jalan pulang. Baca contoh cerpen di bawah ini: Dongeng Kancil karya Sapardi Djoko Damono Hikayat Malin Kundang karya Lubis Grafura Pelangi Senja karya Denny Prabowo Legenda Wong Asu karya Seno Gumira Ajidarma

Tokoh Sebagai Landasan Cerita

Senin, 12 April 2010

Oleh Denny Prabowo Dikutip dari buku Dari Mana Datangnya Ide (Balai Pustaka, 2010) Tokoh merupan sentral dari penceritaan. Dari konflik yang muncul akibat aktivitas tokohlah, sebuah plot akan terjalin menjadi sebuah cerita. Kita dapat memulai sebuah cerita dengan menciptakan seorang tokoh. Berilah gambaran singkat latar belakang kehidupan serta kebiasaan-kebiasaan dari si tokoh, dari sini kita bisa mendapatkan sebuah plot cerita. Misalnya saja, seorang pemusik cafe yang memiliki kebiasaan terlambat. Kira-kira, plot apa yang akan kita dapatkan? Suatu kali si pemusik terlambat bangun, padahal beberapa jam lagi dia sudah harus berada di tempat kerjanya, sebuah cafe. Untuk sampai tepat waktu, maka pemusik itu memacu sepeda motornya dengan kecepatan tinggi dan mengalami sebuah kecelakaan yang mengakibatkan tangannya harus diamputasi, padahal dengan tangan itu dia me­lakukan pekerjaannya sebegai seorang pemusik. Dari sini kita akan mendapatkan konflik yang cukup kuat. Idrus membuka novel Aki dengan penggambaran karakter tokoh utamanya, Aki. Perhatikan kutipan berikut: Aki umurnya 29 tahun, tapi kelihatan seperti ia sudah berumur 42 tahun. Hal semacam ini sering kita jumpai pada orang laki-laki yang waktu mudanya dihabiskan dengan perempuan jahat. Tapi tidak demikian halnya dengan Aki. Penyakit menimpanya sejak sudah lama juga dan tiba-tiba ia sudah seperti orang tua. Kalau ia berjalan, kedua kakinya membengkok di pertengahan dan merupakan satu nol besar, seakan-akan badannya yang kurus-kering itu masih juga keberatan bagi kedua kakinya. Punggungnya sudah bongkok dan jika ia ke­betulan tidak pakai baju, kelihatan tulang punggung itu membikin sudut 165 derajat. Tidak, Aki sendiri sudah merasa. Lama-lama begitu tentu tidak mungkin. Tiada berapa lama lagi tali yang sudah genting itu tentu akan putus. (Idrus, 2005: 1) Penggambaran karakter tokoh Aki di atas menjadi landasan terjalinnya peristiwa demi peristiwa yang tentunya merupakan akibat dari kondisi tokoh Aki. Dikisahkan dalam novel itu, Aki yang menderita penyakit paru-paru, meramalkan kematiannya sendiri yang akan terjadi satu tahun lagi. Ternyata untuk menulis cerita, yang kita butuhkan hanya seorang tokoh yang kuat. Bahkan kebiasaan positif dari tokoh cerita pun berpotensi menimbulkan sebuah konflik seperti pada cerpen “Pencuri” karya Putu Wijaya. Kebaikan tokoh “dia” dalam cerita itu, justru menimbulkan sebuah konflik di lingkungan mereka. Berdasarkan konflik itulah sebuah plot cerita tersusun dengan apik. Tetangga saya orangnya terkenal baik. Suka menolong orang. Selalu memaafkan. Apa saja yang kita lakukan terhadapnya, ia dapat mengerti dengan hati yang lapang, bijaksana, dan jiwa yang besar. Setiap kali ia mengambil putusan, saya selalu tercengang karena ia dapat melakukan itu dengan kepala yang kering, artinya sama sekali tidak ketetesan emosi. Tidak hanya terhadap persoalan yang menyangkut orang lain, untuk setiap persoalan pribadinya pun ia selalu bertindak sabar dan adil. Banyak orang menganggapnya sebagai orang yang berhati agung. Tetapi karena tiba-tiba menjadi simbol kebijaksanaan, karena telah dinobatkan menjadi orang baik, hidupnya jadi susah. Setiap ada kabar ia dapat rejeki misalnya, pasti sudah ada orang datang mengaku sedang kesusahan dan pinjam uang—yang pada akhirnya tidak dikembalikan. (Wijaya, 2005: 105) Satu hal yang paling penting dalam penciptaan tokoh, pengarang harus tahu segalanya tentang si tokoh. Pengarang adalah orang yang paling tahu luar dalam tokoh. Maka dari itulah disarankan untuk membuat biodata imajinatif tokoh. Mulailah menyusun pertanyaan tentang si tokoh: Nama? Umur? Tempat tanggal lahir? Alamat? Pekerjaan? Ciri-ciri fisik? Pakaian? Kekuatan? Kelemahan? Obsesi? Ambisi? Kebiasaan kerja? Hobi? Penyakit? Keluarga? Orang tua? Anak? Saudara kandung? Teman-teman? Binatang peliharaan? Politik? Hal yang mengesalkan dirinya? Obat-obatan yang biasa diminum? Pengalaman favorit? Buku, film, musik favorit? Hasrat? Rasa takut? Pengalaman yang menimbulkan trauma? Pengalaman yang paling menyenangkan? Perjuangan masa lalu dan sekarang? Jawablah satu persatu dan tambahkan lagi jika dirasa masih kurang. Jika kita sudah menjawab semua pertanyaan di atas, akan muncul seorang tokoh baru yang siap kita hidupkan dalam dunia imajinasi kita. Meskipun kita tidak punya cerita saat membuat tokoh tersebut, setelah menuliskan semua, satu cerita tentang si tokoh akan muncul dengan sendirinya. Bukankah segala sesuatu yang menjadi identitas si tokoh ada sebab akibatnya. Dari sana akan muncul konflik. Dari konflik hadirlah sebuah cerita yang bisa kita selesaikan. Setelah kita tahu cukup banyak tentang si tokoh, cobalah hadirkan ia secara nyata. Gambarkan ia dalam kehidupan nyata. Bisa jadi tokoh fiktif tersebut adalah sosok yang selama ini kita impikan. Tokoh yang kuat meskipun fiktif bisa dikenang sepanjang masa oleh para pembacanya. Hamzah Puadi Ilyas dalam cerpen “Anak Iblis”, memulai cerpennya dengan penggambaran tokoh yang sangat menarik. Dari gambaran tokoh tersebut, segera terbayang, konflik apa yang akan disuguhkan oleh penulis. Baca Cerpen ANAK IBLIS Daftar Pustaka Idrus. 2005. Aki. Jakarta: Bali Pustaka Wijaya, Putu. 1995. Protes. Jakarta: Pustaka Utama Grafiti

Video Pelatihan