Esai Trimanto
Dimuat di Sabili, Edisi ...
Forum Lingkar Pena (FLP) adalah organisasi kepenulisan dan pengkaderan penulis yang didirikan ada tanggal 22 Februari 1997 dan berasaskan Islam. Salah satu misi dari organisasi ini adalah meningkatkan budaya membaca dan menulis di kalangan masyarakat.
Dalam kurun waktu satu dasawarsa lebih, FLP telah menyebar luas ke seluruh wilayah di Nusantara, hampir tiap kabupaten/kota telah berdiri FLP Cabang. Bahkan, FLP juga telah menyebar dan berkembang hingga ke mancanegara. Kehadiran FLP disambut positif oleh masyarakat luas dari berbagai kalangan.
Secara berkala, FLP mengadakan perekrutan anggota tiap enam bulan sekali. Selain melatih dan mengkader anggota baru untuk menjadi penulis, yang lebih penting dan lebih utama adalah mengajak mereka untuk gemar membaca. Karena untuk menjadi penulis yang baik adalah tentu menjadi pembaca yang baik. Membaca boleh dikata menjadi fardhu’ain bagi seorang penulis. Buku adalah sumber ide, buku adalah sumber inspirasi. Menulis tanpa membaca; karyanya akan kering, sempit, tidak kaya, kuno. Sedangkan membaca tanpa menulis; pikiran tidak berkembang, yang dibaca mudah lupa/hilang, sulit mengendap, tidak akan sampai kepada orang lain.
Dengan adanya perekrutan tersebut, FLP mengajak kepada para anggota untuk menjadikan membaca sebagai sebuah culture. Apalagi dalam Islam ada perintah “iqra”, yang seharusnya menjadi amalan sehari-hari bagi para pemeluknya. Lebih dari itu, menjadikan membaca sebagai sebuah kebutuhan. Atau dengan kata lain, mengajak kepada para anggota untuk mencintai buku.
Tidak hanya fokus ke internal (anggota) saja, FLP juga melakukan gerakan secara intens ke eksternal (non-anggota). FLP telah melakukan berbagai kegiatan yang mendorong masyarakat luas agar gemar membaca, seperti launching buku, bedah buku, diskusi sastra, lomba menulis, mendirikan rumah baca, menyumbang buku dan sebagainya. Dengan berbagai kegiatan tersebut, diharapkan kesadaran masyarakat akan pentingnya membaca semakin meningkat.
Membangun kesadaran membaca di kalangan masyarakat sangatlah signifikan. Karena pada kenyataannya minat baca di kalangan masyarakat masih minim. Padahal buku sudah semakin banyak dan murah, perpustakaan ada di hampir tiap kabupaten, rumah baca menjamur. Melihat kenyataan inilah, FLP merasa tergerak untuk ikut serta menggalakkan minat baca masyarakat. FLP sadar sepenuhnya bahwa tanggung jawab tersebut bukan semata-mata tugas pemerintah saja, tapi setiap elemen masyarakat memiliki tanggung jawab yang sama. Bahkan, setiap individu diharapkan menjadi pelopor gerakan membaca ini paling tidak dalam lingkup keluarga.
Anggota FLP yang sudah memiliki budaya membaca juga diharapkan dapat menularkannya kepada orang lain; kepada teman, sahabat, suami-istri, tetangga, murid; atau paling tidak kepada keluarganya sendiri. Jika para individu-individu tersebut sudah memiliki budaya membaca yang tinggi, maka untuk mewujudkan reading society tidaklah sulit.
Peran keluarga justru sangat penting dan sentral. Budaya membaca memang harus dimulai dari keluarga. Salah satu langkah awal yang bisa dilakukan adalah pembiasaan oleh orang tua. Kurangnya minat baca orang tua akan berpengaruh pada kurangnya minat baca anak. Oleh karena itu, pembiasaan membaca seyogyanya dimulai dari lingkungan pertama anak, yaitu rumah. Jika di rumah terdapat sebuah perpustakaan, meskipun kecil, hal ini bisa mendorong anak untuk gemar membaca. Atau dengan cara lain, seperti berlangganan majalah anak. Permasalahannya adalah banyak dari para orang tua yang tidak memiliki kesadaran akan hal tersebut.
Selanjutnya, sekolah-sekolah maupun perguruan tinggi yang merupakan ujung tombak dalam bidang pendidikan belum bisa menjalankan fungsi dan perannya dalam menumbuhkan minat baca siswanya dengan baik. Kondisi perpustakaan masih belum memenuhi standar. Perpustakaan belum sepenuhnya berfungsi disana. Jumlah buku-buku perpustakaan jauh dari mencukupi kebutuhan tuntutan membaca sebagai basis pendidikan serta peralatan dan tenaga yang tidak sesuai dengan kebutuhan. Padahal, perpustakaan sekolah atau kampus merupakan sumber membaca dan belajar yang sangat vital bagi murid dan mahasiswa.
Terbukti, perpustakaan sekolah maupun kampus sering sepi pengunjung. Hal ini bisa disebabkan oleh masih terbatasnya koleksi buku yang ada, manajemen pengelolaannya yang belum profesional, bukunya sudah kuno dan usang atau memang image bahwa perpustakaan adalah tempat yang kurang menarik untuk dikunjungi.
Jika kita cermati, di setiap kabupaten/kota biasanya telah memiliki perpustakaan daerah. Ini merupakan salah satu upaya pemerintah dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa lewat membaca. Tapi pada kenyataannya, perpustakaan daerah ini juga lagi-lagi masih sepi pengunjung. Penyebabnya bisa jadi sebagian masyarakat memang belum tahu keberadaan perpustakaan tersebut. Atau masih ada yang menganggap bahwa pergi ke perpustakaan hanyalah untuk orang-orang tertentu saja. Pada masyarakat golongan bawah, mungkin saja merasa malu atau minder untuk pergi ke perpustakaan.
Dari berbagai kenyataan di atas, FLP berusaha membangun sebuah gerakan “penyadaran”. Inilah hal pokok yang harus dibangun dan ditumbuhkan. Kesadaran adalah ibarat pondasi, tanpa kesadaran reading society yang kita idam-idamkan akan sulit tercapai.
Jika reading society ini sudah tercapai, tahapan berikutnya adalah membangun writing society. Ketika reading society sudah menjadi habitual action, maka menciptakan writing society tidaklah terlalu sulit.
Pengetahuan yang sudah dibaca dan diserap tidak boleh hanya disimpan untuk sendiri saja, akan tetapi disampaikan lagi kepada orang lain. Karena kewajiban bagi orang yang punya ilmu adalah mengamalkan ilmunya. Salah satu cara mengamalkan ilmu tersebut adalah dengan menulis.
Mengapa harus menulis? Menulis biasanya menggunakan media, baik media cetak maupun online, sehingga cakupannya akan lebih luas bila dibanding hanya dengan ceramah atau berbicara kepada orang tertentu saja. Demikian pula, tulisan akan lebih mudah diterima dan diserap serta tidak terkesan menggurui bila dikemas secara apik dan menarik. Lebih dari itu, para ulama terdahulu juga telah mencontohkan kepada kita bahwa selain dakwah bil hal, mereka juga melakukan dakwah bil qalam, terbukti mereka mampu mengarang hingga ratusan buku/kitab.
Pada zaman sekarang ini, media untuk menulis sangatlah banyak dan beragam. Apalagi ditambah munculnya berbagai situs jejaring sosial yang begitu digandrungi oleh banyak orang. Situs jejaring sosial merupakan space baru sebagai lahan untuk menulis, disamping blog atau milis yang lebih dulu hadir. Situs jejaring sosial juga bisa dimanfaatkan oleh terutama bagi para penulis pemula untuk berlatih menulis dan mengekspresikan ide maupun gagasannya.
Dalam kaitannya dengan hal tersebut, FLP berperan sebagai motivator dan penyeru; yang terus-menerus mendorong para anggotanya khususnya dan masyarakat pada umumnya untuk aktif menulis. Selain itu, FLP juga melakukan aksi nyata demi terwujudnya writing society melalui berbagai kegiatan, seperti lomba menulis, sayembara, roadshow ke sekolah/pesantren, hingga kegiatan FLP for Kids dan lain sebagainya.
Demikianlah, tugas untuk mengajak masyarakat Indonesia agar gemar menulis dan membaca bukan hanya tugas pemerintah, guru atau dosen saja, tapi juga tugas kita semua. FLP sedikit-banyak telah mengambil peran itu. Dan sudah sepatutnyalah kita mengapreasisi dan memberikan penghargaan atas upaya yang telah dilakukan FLP selama ini. Wallahu a’lam bish-shawab.
Tampilkan postingan dengan label ESAI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ESAI. Tampilkan semua postingan
Gerakan FLP: Dari Reading Society Menuju Wriring Society
In Angkatan IV, In Budaya, In ESAI, In Muhammad Trimanto, In SabiliRabu, 08 Juni 2011
(Resensi dari Pembaca yang Banyak Menuntut) Bulan Celurit Api
In Angkatan I, In ESAI, In Noor H. DeeJumat, 03 Desember 2010
Oleh Noor H. Dee
Setiap penulis, alangkah baiknya, menulis apa yang ia tahu. Bukan hanya untuk menghindari anakronisme dan kesalahan-kesalahan yang tidak perlu, melainkan juga untuk memudahkan si penulis itu sendiri. Dan Benny Arnas telah melakukan hal itu.
Dalam buku Bulan Celurit Api (selanjutnya BCA) yang berisi 13 cerita pendek, terlihat sekali penulis menguasai apa yang ia tulis. Ia mengangkat cerita dengan sentuhan lokal yang berkembang di tanah kelahirannya, Lubuklinggau (tempat tinggal si penulis), daerah yang belum pernah saya dengar sebelumnya. Mulai dari kebiasaan-kebiasaan masyarakat Lubuklinggau yang diceritakan dengan begitu lancar, seting tempat yang digarap dengan baik, sampai diksi yang terdapat dalam narasi dan dialog pun terasa kental sekali “Lubuklinggau”nya.
Ngomong-ngomong soal diksi, sejujurnya saya katakan bahwa diksi yang terdapat dalam BCA itu cukup kaya. Beragam diksi yang jarang saya jumpai ada di buku itu. Meskipun sempat mengerutkan kening, tapi setidaknya saya masih bisa menangkap inti dari setiap cerita. Sebagai contoh, Benny Arnas mengganti kata “warna” menjadi “kelir”, “air sepat(?)” menjadi “air kelat”, “usai” menjadi “tunai”, “tetangga” menjadi “jiran”, “setelah” menjadi “bakda”, dan lain sebagainya. Bukan hanya menjadikan kata-kata itu terasa unik, melainkan juga terasa bertenaga sebab masih jarang dipakai orang banyak. Perkara apakah itu upaya penulis untuk bergenit-genit dalam diksi, saya tidak tahu.
Namun saya tahu cerpen bukan hanya terdiri dari diksi semata. Diksi hanya sebagian kecil dari beberapa unsur yang terdapat dalam sebuah karya fiksi—meskipun kita sama tahu bahwa diksi kadang bisa juga menjadi penolong untuk sebuah cerita yang, katakanlah, biasa-biasa saja.
Begitulah. Saya tidak mau berlama-lama tersihir oleh pesona yang terpancar dari setiap diksi yang terdapat dalam BCA. Saya ingin menyelam ke ceruk yang lebih dalam (halah!): tema cerita, konflik, plot, dan penggambaran karakter. Apakah sama kuatnya dengan diksi yang Benny Arnas paparkan?
Entah kenapa, saya merasa sebagian besar cerita pendek yang ada dalam BCA ini tidak sejajar dengan kekuatan diksinya. Tengoklah cerita Bulan Celurit Api, Percakapan Pengantin, Hari Matinya Ketib Isa, Malam Rajam, Surat-Surat yang Mengantarmu Pulang, dan Dilarang Meminang Gadis Berkereta Unta.
Dalam Bulan Celurit Api saya seperti menemukan logika cerita yang kurang terbangun dengan baik. Peristiwa bekacuk (berhubungan badan) yang dilakukan oleh Iyut dan Rusli menurut saya kurang masuk akal. Bagaimana mungkin mereka melakukan perbuatan zina di kebun ubi, di dekat tempat hajatan sedang berlangsung? Sehorny-horny-nya orang, menurut saya tidak mungkin mereka bersetubuh di tempat yang berdekatan dengan pusat keramaian (hajatan). Kecuali jika mereka memang memliki fantasi-fantasi liar, itu tidak jadi soal dan akan membuat cerita itu menjadi masuk akal. Masalahnya, apakah Iyut dan Rusli memiliki fantasi yang liar? Kalau iya, mengapa sebelumnya tidak ada gambaran mengenai hal itu?
Dalam Percakapan Pengantin, ada beberapa pertanyaan di dalam benak saya. Pertama, mengapa dan untuk apa penduduk kampung tiba-tiba mengerumuni rumah pengantin baru itu? Apakah pasangan yang yatim piatu tidak boleh menikah? Mengapa setelah menikah penduduk kampung baru mengepung rumah pasangan itu, bukan pas ketika acara H-nya, untuk kemudian membatalkan pernikahan sepasang pengantin yang ternyata bisu itu? Kedua, ya, saya terkejut mengetahui bahwa ternyata pasangan pengantin itu bisu. Keren, begitu kata saya dalam hati. Tapi lagi-lagi saya bertanya, di awal cerita penulis menulis begini: “...Mereka masih bisa mendengar dengan jernih,...” (hal 28). Setahu saya, orang bisu itu biasanya tuli alias telinganya pekak. Belum pernah saya temui orang bisu yang telinganya masih beres, apalagi masih bisa mendengar dengan jernih.
Dalam Matinya Ketib Isa saya pun menemukan logika cerita dan penggambaran karakter yang kurang tergarap dengan baik. Menurut saya penusukan yang dilakukan Komar dan Zul terhadap Mak Zahar, ibu mereka, bisa dibilang terlalu tergesa-gesa. Konflik belum mencapai titik klimaks, tapi penusukan itu telah terjadi. Sepreman-premannya seseorang, membunuh orangtua adalah tindakan yang tak mungkin dilakukan. Kecuali jika seseorang itu benar-benar psikopat atau si orangtua memang terlampau menyebalkan, mungkin hal itu bisa terjadi. Tapi, karakter Komar dan Zul belum digarap maksimal. Mereka memang preman, brandal, penjahat, copet, dan pemerkosa, tapi mereka bukan psikopat. Bahkan mereka (Komar dan Zul) tidak pernah membunuh seseorang. Jadi, menurut saya, penusukan yang mereka lakukan terhadap ibu mereka sampai meninggal, masih terlalu tergesa-gesa. Pembaca belum sempat disuguhkan sugesti bahwa Komar dan Zul itu memang psikopat yang paling bejat.
Dalam Malam Rajam, Surat-Surat yang Mengantarmu Pulang, dan Dilarang Meminang Gadis Berkereta Unta, menurut saya hampir mirip dengan drama-drama percintaan pada umumnya. Saya tidak bisa berkata banyak mengenai cerpen-cerpen itu, kecuali untuk cerpen Surat-Surat yang Mengantarmu Pulang. Di cerpen itu diceritakan bahwa sang “aku” yang mahir membuat puisi sedang berada di depan televisi, menyakiskan berita kecelakaan pesawat yang “kekasihnya” juga berada di dalam pesawat itu. Yang saya heran, ketika sang “aku” mendatangi pesawat yang sudah menjadi puing itu, ia masih melihat “kekasihnya” di sana, terkapar dengan bercak merah di sekujur tubuh. “Kekasihnya” itu belum juga dievakuasi! Apakah jarak antara rumah “aku” dan lokasi kejadian itu memang sangat dekat? Kalau iya, mengapa tidak diceritakan?
Demikianlah laporan pandangan mata saya terhadap buku Bulan Celurit Api karya Benny Arnas. Untuk cerita-cerita yang belum saya bahas (Tentang Perempuan Tua dari Kampung Bukit Batu yang Mengambil Uang Getah Para dengan Mengendarai Kereta Unta Sejauh Puluhan Kilometer ke Pasar Kecamatan, Bujang Kurap, Tukang Cerita, Dua Beranak Keturunan, Anak Ibu, dan Perkawinan Tanpa Pengantin) mungkin bisa dilanjutkan kapan-kapan. Yang pasti, di antara cerpen-cerpen yang termaktub dalam BCA, saya paling menyukai Tukang Cerita, Anak Ibu, dan cerpen yang memiliki judul paling panjang itu.
Sebelum mengakhiri tulisan yang anggap saja resensi ini, saya ingin mengatakan bahwa tulisan saya ini bersifat subjektif. Apa yang saya rasakan, belum tentu sama dengan yang dirasakan oleh orang lain. Apa yang saya anggap keliru, siapa tahu benar di mata orang lain. Siapa tahu saya-nya yang bodoh. Yang pasti, Bulan Celurit Api adalah buku yang sangat layak untuk dibeli. Bravo buat Benny Arnas! Semoga saya segera bisa pandai mengarang sepertimu ^_^. Aamiin....
Dialektika Makna Teks dalam Cerpan Mengejar Kupu-kupu
In Angkatan I, In Denny Prabowo, In ESAI, In Galeri KaryaJumat, 20 Agustus 2010
Esai Denny Prabowo
Dimuat di Sabili
Dunia anak-anak adalah dunia kertas putih. Dunia kepolosan dan
kejujuran. Lingkungan akan menjadi tinta yang menorehkan apa saja di atasnya. Lingkungan yang paling dekat adalah keluarga. Maka keluarga akan sangat menentukan dengan tinta warna apa sebuah kata dituliskan di lembaran kehidupan seorang anak. Anak adalah gelas yang haus air pengetahuan.
Cerpen Mengejar Kupu-kupu karya Nurhadiansyah merespon sebuah potret kehidupan seorang anak bernama Aryani dalam sebuah keluarga. Kesibukan membaca koran dan menonton televisi rupanya telah mengalahkan gairah orang tua menungkan air pengetahuan ke dalam gelas (anak) mereka, seperti yang dituturkan dalam paragraf pembuka yang langsung mengantarkan pembaca pada suasana dingin dari sebuah hubungan keluarga. Paragraf yang menggabungkan latar waktu dan tempat, juga peristiwa, disajikan dengan sangat puitis.
Usia pagi masih belia. Matahari baru saja merangkak dari balik ranting-ranting pepohonan. Mega-mega bersepuh susu berarak lambat melintasi cakrawala. Terlihat Aryani berlari-lari kecil mengejar kupu-kupu di halaman rumah yang rumputnya sangat terpelihara. Papanya sedang duduk di beranda membaca koran. Mamanya sedang berada di dalam kamar menonton televisi.Kupu-kupu bersayap biru yang hadir begitu saja, tanpa permisi, di luar jendela kamarnya, mengusik rasa ingin tahu Aryani, membuat gadis kecil itu melupakan keasyikannya bermain boneka. Mengejar kupu-kupu hingga ke halaman rumah, sebelum kupu-kupu itu membawanya ke depan pintu pagar rumah. Aryani masih sempat menoleh ke arah mamanya yang masih asyik menonton televisi di dalam kamarnya, dan ayahnya yang masih asyik membaca koran di beranda rumah—sebuah peristiwa sederahana yang agaknya tidak terlalu menarik untuk nikmati. Menurut seorang filosof Prancis, Paul Ricouer, makna bahasa selalu bersifat ganda. Makna yang muncul dari dalam hubungan-hubungan yang ada di dalam teks, dinamakan makna teks. Dan makna yang lahir dari hubungan antara teks dengan dunia di luar teks, dinamakan referensi. Dalam prakteknya, dialektika makna teks dan referensi bisa pula dikatakan dialektika makna teks dan peristiwa. Dalam bahasa yang lebih populer, makna teks sangat dekat dengan sifat puitis, sedangkan apa yang dinamakan peristiwa lebih dekat dengan sifat prosais—Saya katakan “sifat” sebab belakangan nyaris sulit dibedakan antar puisi yang prosais dengan prosa yang puitis. Cerpen Mengejar Kupu-kupu tidak bermain pada peristiwa, tetapi lebih menekankan pada kekuatan makna. Kupu-kupu yang digambarkan pengarang dalam cerpen ini tidak bisa dipahami hanya sekedar hewan yang bisa terbang dan memiliki warna indah. Pemahaman semacam itu akan menyebabkan cerpen ini kehilangan makna yang sesungguhnya ingin disampaikan oleh penulisnya. Oleh sebab itu, untuk memahami makna kupu-kupu yang ada dalam cerpen Mengejar Kupu-kupu hanya mungkin dilakukan dengan membaca teks. Dari pemaparan di paragraf awal cerita semestinya kita sudah bisa memahami makna dari kupu-kupu yang dikejar oleh tokoh Aryani.
Papanya sedang duduk di beranda membaca koran. Mamanya sedang berada di dalam kamar menonton televisi. Lalu di mana Aryani ketika itu? ...ia sedang asik bermain boneka sendirian di dalam kamar. Ketika ia melihat kupu-kupu itu, ia langsung berseru,”Kupu-kupu! Kupu-kupu!”, dan ia langsung mengejar. Boneka yang saat itu berada di genggamannya langsung ia lemparkan begitu saja ke atas tempat tidur. Kedua orangtuanya tak ada yang tahu, kalau anaknya telah meninggalkan rumah, mengejar kupu-kupu bersayap biru.Maka, jelaslah bahwa makna dari kupu-kupu yang sesungguhnya adalah keinginan atau harapan atau impian dari tokoh Aryani akan dekap hangat kedua orantuanya. Sayangnya makna teks yang telah berbicara banyak pada pembacanya dirasa belum cukup oleh penulisnya, sehingga penulis merasa perlu menjelaskan secara verbal lewat dialog salah seorang tokoh yang diucapkan ketika tokoh itu terheran-heran melihat seorang anak kecil berlari-lari seperti mengejar sesuatu, “Barangkali ia mengejar mimpi.” Karena tak ada seorang pun yang melihat kupu-kupu yang dikejar oleh Aryani. Apakah kupu-kupu selalu bermakna harapan atau keinginan atau impian? Dalam cerpen Ada Kupu-kupu, Ada Tamu karya Seno Gumira Ajidarma, kupu-kupu tidak digunakan sebagai metafora dari harapan atau keinginan atau impian, tetapi sebuah pertanda akan datangnya ‘tamu’ yang dalam cerpen itu digambarkan sebagai malaikat maut atau ajal. Makna dari kupu-kupu bisa berbeda-beda tergantung pada pemaparan dalam teks. Setelah pengejarannya, yang sampai membuat kekacauan lalu lintas itu, akhirnya kupu-kupu itu berhenti, sekuat tenaga Aryani melompat. Hap! Aryani berhasil. Kupu-kupu itu kini sudah berada di dalam genggamannya. Karena takut terlepas, Aryani menguatkan genggamannya.
Aryani membuka telapak tangannya dengan sangat hati-hati. Dan tampaklah seekor kupu-kupu yang mengerikan. Sayapnya yang biru itu kini rusak dan patah-patah. Tubuhnya gepeng dan mengeluarkan cairan entah apa. “Hiii...” Aryani membuang kupu-kupu itu dengan perasaan jijik. Tetapi, kupu-kupu itu tak dapat terlepas dari telapak tangannya. Kupu-kupu itu menjadi lengket, merekat, semakin merekat. Aryani merasakan kupu-kupu itu merasuk ke dalam tubuhnya. Tiba-tiba tubuh Aryani mengeluarkan sinar. Putih. Amat putih. Menyilaukan. Setelah itu, sinar itu menghilang dan Aryani berubah menjelma seekor kupu-kupu.Aryani yang telah bermetamorfosa menjadi kupu-kupu terbang ke rumah sambil menangis. Ketika sampai di depan rumahnya, Ia melihat Ayahnya masih membaca koran di beranda. Mamanya masih asik menonton televisi di dalam kamarnya. Aryani sang kupu-kupu menangis. Kedua orang tuanya tidak ada yang mengetahui bahwa dirinya sudah berubah menjelma seekor kupu-kupu. Adegan-adegan di atas seperti menjelaskan mengapa harus kupu-kupu yang dipakai untuk menganalogikan keinginan atau harapan atau impian Aryani. Kupu-kupu memiliki sayap yang rapuh. Rasanya itu cukup menggambarkan betapa rapuh impian seorang Aryani, serapuh sayap kupu-kupu. Karena setelah dia berhasil meraih kupu-kupu bukannya kebahagiaan yang dia dapati, melainkan kesedihan karena dirinya menjelma menjadi kupu-kupu. Cerpen ini ditutup dengan ending yang sungguh tidak terduga yang sekaligus menjadi kekuatan utama dari cerpen ini. Sebuah teknik penyelesaian yang menimbulkan berbagai penafsiran, mengingatkan saya pada cerpen Karnaval karya Seno Gumira Ajidarma dalam buku Iblis tak Pernah Mati Rumah Cahaya, 30 Maret 2006
Jalan Kupu-kupu Helvy Tiana Rosa
In ESAI, In Hafi ZhaSenin, 03 Mei 2010
Esai Hafi Zha
bunda,
engkaulah yang menuntunku
ke jalan kupu-kupu
Demikian bait puisi Abdurrahman Faiz, putra sulung Helvy Tiana Rosa (HTR). Chamamah-Soeratno mengatakan dalam Sangidu[1] bahwa manusia sebagai homo significans, dengan karyanya akan memberi makna pada dunia nyata atas dasar pengetahuannya. Pemberian makna dilakukan dengan cara mereka dan hasil karyanya berupa tanda.
Sebagai tanda, karya sastra merupakan dunia dalam kata yang dapat dipandang sebagai sarana komunikasi antara pembaca dengan pengarangnya. Karya sastra bukan merupakan sarana komunikasi biasa. Oleh karena itulah, karya sastra dapat dipandang sebagai gejala semiotik (Teeuw, 1984: 43). Melalui “Jalan Bunda” Faiz seolah ingin memasang tanda sebagai alat komunikasi dengan pembaca mengenai sosok bunda, yang dalam puisi tersebut dikatakann telah menuntun Faiz ke jalan kupu-kupu. Sehingga penafsiran terhadap karya ini akan mungkin mengantarkan kita pada pengungkapan sosok HTR yang menjadi subjek dalam puisi Faiz tersebut.
Menurut teori Pierce setiap tanda tentu memiliki dua tataran, yaitu tataran kebahasaan dan tataran mitis. Tataran kebahasaan disebut sebagai penanda primer yang penuh, yaitu tanda yang telah penuh dikarenakan telah mantap acuan maknanya[2] karena Penanda, Petanda, dan Tanda dalam tataran ini masuk wilayah denotatif yang mengacu pada makna leksikal atau makna dalam kamus. Tanda pada tataran kebahasaan itu berubah menjadi Penanda dalam tataran mitis[3]. Atau, dengan kata lain, penanda-penanda pada wilayah konotatif dibentuk dari tanda-tanda yang ada di wilayah denotatifnya[4]. Sehingga tiada termungkinkan bagi pembaca menafsirkan Petanda pada tataran mitis yang masuk wilayah konotatif, tanpa mengacu pada makna leksikalnya.
Kata bunda dalam larik pertama puisi ini tentu mengacu pada ibu dari Faiz, yaitu HTR. Begitu juga kata engkaulah dalam larik kedua merupakan pronomina dari kata bunda dalam larik pertama. Sedangkan makna leksikal dari kata menuntun dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (2005: 1227) memiliki arti: menunjuk (mengarahkan) ke jalan yg benar. Jalan yang oleh Faiz disebut sebagai jalan kupu-kupu.
Dalam KBBI (2005: 452) lema jalan memiliki pengertian: cara (akal, syarat, ikhtiar, dsb) untuk melakukan (mengerjakan, mencapai, mencari) sesuatu. Sedangkan lema kupu-kupu dalam KBBI (2005: 615—616) ada dua: (1) kupu-kupu yang berarti serangga bersayap lebar, umumnya berwarna cerah, berasal dari kepompong ulat, bisa terbang, biasanya sering hinggap di bunga untuk menghisap madu; (2) kupu-kupu yang bermakna pohon yang kayunya kuat dan halus, biasanya dibuat hulu keris.
Apabila kita merujuk pada lema kupu-kupu yang pertama, maka jalan kupu-kupu dalam larik ketiga puisi Faiz bisa bermakna cara mencapai mimpi, cita-cita, atau harapan. Atau dapat juga dimaknai sebagai cara yang dilakukan untuk memetamorfosa aku lirik yang dalam puisi ini merujuk pada pengarangnya, dari no body menjadi some body. Namun, jika kita memilih lema kupu-kupu yang kedua, maknanya adalah cara yang dilakukan untuk menjadikan aku lirik sebagai pohon yang kuat.
HTR selain dikenal sebagai sastrawan dan lektor susastra di Universitas Negeri Jakarta, ia juga dikenal sebagai salah satu pendiri organisasi pengaderan penulis terbesar di seluruh dunia, yaitu Forum Lingkar Pena, yang oleh Taufiq Ismail dikatakan sebagai anugerah untuk bangsa Indonesia. Sedangkan Abdurrahman Faiz, sempat tercatat dalam rekor Muri sebagai penyair tercilik yang menerbitkan buku pada usia 8 tahun.
Dengan demikian tak salah jika kita memaknai puisi “Jalan Bunda” ini sebagai sebuah usaha HTR dalam mengarahkan Faiz untuk meraih cita-citanya agar ia tumbuh menjadi some body yang seperti pohon kupu-kupu melalui dunia literasi.
Hurlock (1993: 202) mengatakan, “Sikap orang tua tidak hanya mempunyai pengaruh yang kuat pada hubungan di dalam keluarga tetapi juga pada sikap dan perilaku anak. Kebanyakan orang yang berhasil setelah dewasa berasal dari keluarga dengan orang tua yang bersikap positif dan hubungan antara mereka dan orang tua sehat.”
“Jalan Bunda” yang telah dirintis oleh HTR terbukti telah menghasilkan generasi sehebat Abdurrahman Faiz. Lalu bagaimana dengan kita?
Kapuasdua, 15 April 2010
Daftar Pustaka
Hurlock, Elizabeth B.1993. Pekembangan Anak. Jakarta: Erlangga
Santosa, Drs. Puji. 1990. Ancangan Semiotika dan Pengkajian Susastra. Bandung: Angkasa
Pusat Bahasa. 2005. Kamus Besar Bahasa Indonesia edisi Ketiga. Jakarta: Balai Pustaka
Sangidu. Ikan Tunggal Bernama Fadhil karya Syaikh Hanzah Fansuri: Analisis Semiotik. Humaniora volume XV, No. 2/2003Menemukan Helvy dalam Roosevelt
In Denny Prabowo, In ESAIMemperbincangkan Sejarah Sastra Indonesia (Periode Balai Pustaka s.d Angkatan 45)
In Denny Prabowo, In ESAI, In Nonfiksi DewasaKamis, 18 Maret 2010
Esai Denny Prabowo
Membicarakan sejarah sastra Indonesia tentu tak bisa menafikan peran Balai Pustaka. Meski periodisasi sastra yang menempatkan kelahiran Balai Pustaka sebagai awal lahirnya sastra Indonesia modern belakangan banyak digugat, tak ada yang berdebat mengenai peran penting Balai Pustaka dalam menumbuhkembangkan kesusastraan Indonesia.
Pendirian Balai Pustaka atau Kantor Bacaan Rakyat (Kantoor voor de volkslectuur) 22 September 1917 yang menggantikan Komisi Bacaan Sekolah Pribumi dan Bacaan Rakyat (Commissie voor de Indlandsche schook en Volkslectuur) yang berdiri tahun 1908, bukan sekadar sebagai realisasi politik etis Belanda. Sutan Takdir Alisjahbana yang pernah menjadi redaktur penerbit Balai Pustaka menyatakan:
Balai Pustaka didirikan untuk memberi bacaan kepada orang-orang yang sudah pandai membaca, yang tamat sekolah rendah dan yang lain-lain, disamping untuk memberikan bacaan yang membimbing mereka supaya jangan terlampau tertarik pada aliran-aliran sosialisme atau nasionalisme yang lambat laun toh agak menentang pihak Belanda.1)
Terlepas dari persoalan politik yang melatarbelakanginya, pemerintah kolonial ketika itu menyadari betul fungsi bacaan, khususnya sastra, dalam penyebaran ideologi kepada masyarakat. Oleh sebab itu, mereka melakukan sensor yang ketat terhadap naskah-naskah yang hendak mereka terbitkan. Meski demikian, karya-karya yang lahir ketika itu tetap memperlihatkan kecendrungan semangat pemberontakan terhadap kultur-etnis.
Beberapa karya penting yang lahir dalam periode ini adalah Azab dan Sengsara karya Merari Siregar yang oleh pengamat sastra ditempatkan sebagai novel pertama Indonesia dalam khazanah kesusatraan Indonesia modern. Walaupun tema yang mempermasalahkan perkawinan dalam hubungannya dengan harkat dan martabat yang diusung oleh novel ini bukanlah sesuatu yang baru, novel inilah yang pertama kali mempergunakan bahasa Melayu tinggi atau yang biasa disebut bahasa Melayu sekolahan. Dalam konteks inilah Azab dan Sengsara menjadi penting.
Karya lainnya yang tak kalah penting adalah Sitti Nurbaya karya Marah Rusli. Hampir semua kritikus sastra Indonesia menempatkan novel ini sebagai tonggak sastra Indonesia pada periode ini. Novel ini tak sekadar menampilkan latar sosial yang lebih tegas, tetapi juga mengandung kritik tajam terhadap adat-istiadat dan tradisi kolot yang membelenggu. Tema-teman inilah yang kemudian banyak diikuti oleh pengarang-pengarang lainnya pada masa itu. Bahkan di Malaysia, Sitti Nurbaya menjadi bacaan wajib di tingkat sekolah lanjutan sehingga pada tahun 1963 saja, novel ini telah mengalami cetak ulang ke-11 di Malaysia. Maka tak salah jika pada tahun 1963 bersama dengan novel Salah Asuhan, Belenggu, dan Atheis, novel ini memperoleh Hadiah Tahunan Pemerintah.
Pengarang lain pada era ini yang wajib diketengahkan adalah Abdul Muis dengan Salah Asuhan-nya. Novel pertama karya sastrawan yang digelari pahlawan nasional ini secara tematik tak mempersoalkan masalah adat-istiadat yang tidak lagi sejalan dengan zamannya, tetapi lebih dari itu, ia mengangkat persoalan kawin campur antarbangsa yang menyangkut perbedaan adat-istiadat, tradisi, agama, dan budaya. Boleh dikatakan, Salah Asuhan merupakan upaya pembaharuan secara tematik pada periode 20-an yang akan menemukan bentuknya pada era setelahnya, yaitu Pujangga Baru.
Majalah Pujangga Baru yang dirintis oleh Sutan Takdir Alisjahbana (selanjutnya disebut STA), Sanusi Pane, Armijn Pane, dan Amir Hamzah berdiri tahun 1933. Melalui majalah inilah para pengarang dari pelosok tanah air dan Semenanjung Melayu mempublikasikan karyanya. Begitu populernya majalah ini sehingga para pengarang yang berkarya pada ketika itu disebut sebagai sastrawan Pujanga Baru. Pada periode ini, karya-karya yang lahir memperlihatkan semangat membangun kultur Indonesia di masa datang yang diidealkan.
Pengarang penting yang patut dikemukakan pada era ini tentu saja STA dengan karyanya Layar Terkembang yang dianggap sebagai karya terpenting ketiga di antara roman-roman sebelum perang. Para kritikus sastra seperti H.B. Jassin, Ajib Rosidi, Zuber Usman, Amal Hamzah, dan A. Teeuw menyebut novel ini sebagai novel bertendensi. Tokoh Tuti dalam novel ini merupakan representasi sikap dan pemikiran pengarangnya dalam mengangkat harkat martabat wanita Indonesia.
Dalam periode 30-an ini lahir pula nama Hamka yang bersama Helmi Yunan Nasution mengelola majalah Pedoman Masjarakat. Dari majalah ini lahir karya penting dari tangan Hamka, yaitu Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk. Meski secara tematik novel ini masih belum beranjak dari persoalan cinta dan perkawinan dalam hubungannya dengan adat, tetapi Hamka tampaknya tak hendak mempertentangkan secara tegas golongan muda dengan golongan tua, ia lebih menekankan pada pribadi manusianya itu sendiri. Namun, justru dalam pengembangan masalah adat itulah, problematika dalam novel ini menjadi sangat terasa.
Nama lain yang layak disebut dalam periode 30-an ini adalah Selasih (nama samara lain; Sariamin = Seleguri = Sri Gunting = Sri Tanjung = Ibu Sejati = Bundo Kandung = Mande Rubiah). Novelnya Kalau Tak Untung mengantarkannya sebagai pujangga wanita Indonesia yang pertama. Dalam kaitannya dengan hal inilah Kalau tak Untung menjadi karya yang sangat penting, meski secara tematik masih menampilkan persoalan yang sama dengan pengarang-pengarang periode 20-an.
Nama Sanusi Pane sebagai antipode STA tentu tak bisa begitu saja diluputkan, selain Amir Hamzah yang disebut sebagai pembaharu puisi di era ini. Namun yang patut dicatat dari periode Pujangga Baru adalah pada kurun inilah pertama kali kebudayaan Indonesia dirumuskan melalui polemik antara STA dengan Sanusi Pane, Purbatjaraka, Ki Hajar Dewantara, dll, yang dikenal dengan Polemik Kebudayaan. Meski banyak yang menyetujui pemikiran Sanusi Pene dengan gagasan penyatuan Arjuna dengan Faust yang menghasilkan sintesa Timur dan Barat, tetapi tak pernah terlontar kata sepakat yang melahirkan pernyataan bersama dalam rumusan kebudayaan Indonesia di masa datang.
Persoalan Polemik Kebudayaan ini baru terselesaikan ketika Chairil Anwar, Asrul Sani, dan Rivai Apin memelopori “Surat Kepercayaan Gelanggang”. Kalimat pertamanya yang berbunyi: “Kami adalah ahli waris yang sah dari kebudayaan dunia dan kebudayaan ini kami teruskan dengan cara kami sendiri,” mengisyaratkan terbukanya angkatan ini menerima pengaruh asing dan kemudian merumuskannya sendiri berdasarkan keberagaman kultur keindonesiaan. “Surat Kepercayaan Gelanggang” inilah yang kemudian menjadi konsepsi seni dan budaya bagi generasi yang dikenal dengan Angkatan 45.
Karya penting yang lahir sebagai wujud dari pernyataan bersama tersebut adalah Tiga Menguak Takdir. Buku ini memuat puisi-puisi karya Chairil Anwar, Asur Sani, dan Rivai Apin. Secara implisit, judul Tiga Menguak Takdir seolah hendak menegaskan sikap generasi ini yang dapat dipandang sebagai jawaban dari Polemik Kebudayaan yang muncul karena gagasan Sutan Takdir Alisjahbana.
Nama lain yang tak bisa dinafikan dari peta sastra ANgkatan 45 adalh drus. Jika Chairil disebut sebagai pembaharu puisi pada periode ini, Idrus disebut-sebut oleh H.B. Jassin sebagai pembaharu prosa melalui cerpen-cerpennya yang terkumpul dalam buku Dari Ave Maria ke Jalan Lain ke Roma. Wacana eksistensialisme menemui ruangnya pada periode ini. Puncaknya tentu saja lahirnya cerpen Atheis dari tangan Achdiat K. Mihardja yang seolah menjadi jawaban dari kegelisahan manusia yang hidup pada masa itu.
Jika menilik perjalanan kepengarangan para sastrawan sejak dari angkatan Balai Pustaka sampai Angkatan 45, hampir kebanyakan pengarang pada masa itu tumbuh dalam kultur membaca yang muncul akibat sistem pendidikan kolonial ketika itu yang mewajibkan siswanya membaca karya sastra minimal 25 judul dalam rentang masa pendidikan selama tiga tahun di AMS.
Kondisi itulah yang memungkankan para pengarang ketika itu berkenalan dengan karya-karya sastrawan dunia seperti Shakespeare (Inggris), Johan Wolfgang von Goethe (Jerman), Leo Tolstoy (Rusia), Rabindranath Tagore (India), Baidaba (Persia), dll. Dan dari perkenalan dengan sastrawan dunia itulah terjadi tranformasi nilai-nilai yang secara otomatis membentuk karakter bangsa ketika itu.
Demikianlah perbincangan sejarah sastra yang serba sedikit dan terbatas hanya pada periode Balai Pustaka sampai Angkatan 45. Tulisan ini tak dimaksudkan untuk merangkum periode tersebut yang berlangsung dalam rentang yang cukup panjang, hanya sebuah catatan dari penyuka sastra yang hendak menengok masa lalu. Semoga bermanfaat.
Catatan:
1) Sutan Takdir Alisjahbana, “Perjuangan Budaya dan Pengalaman Pribadi Selama di Balai Pustaka” dalam Bunga Rampai Kenangan pada Balai Pustaka, Jakarta 1992, h. 20
2) Mahayana, Maman S. 9 jawaban sastra Indonesia. Jakarta: Bening Publishing 2005, h. 394
Taman Baca: Sarana Menumbuhkan Minat Baca Anak
In Angkatan I, In Dhinny el Fazila, In ESAI, In NonfiksiRabu, 27 Januari 2010
Esai Dhinny El Fazila
Dimuat di Media Indonesia
Dominasi televisi dalam kehidupan masyarakat, terutama anak-anak saat ini, telah dapat dikatakan sangat mengkhawatirkan. Jika orang jepang menonton televisi dalam sehari kurang dari lima jam, maka bandingkan dengan anak-anak Indonesia (dan mungkin para orang tuanya) yang menonton televisi bisa lebih dari sepuluh jam, bahkan bisa mencapai dua puluh jam! Anak-anak sekarang bahkan ada yang jadwal televisinya mengalahkan apapun. Televisi telah menjadi candu bagi anak-anak dan masyarakat Indonesia pada umumnya.
Televisi dengan kekuatan audio visualnya tidak sekedar memudahkan anak untuk menangkap apa-apa yang disampaikan. Lebih dari itu, televisi tidak memberi kesempatan bagi anak untuk mencerna apa yang ada pada acara televisi tersebut. Sifat audio visual televisi sesungguhnya merupakan kekuatan sekaligus kelemahan televisi. Tidak adanya jeda pada gambar yang bergerak diperkuat dengan suara membuat otak anak tidak sempat mencerna mana yang baik dan buruk pada acara televisi tersebut. Ini menjadi masalah tatkala televisi hanya berorientasi pada rating dan keuntungan sehingga tidak memikirkan bentuk acara seperti apa yang dapat memberi manfaat bagi penontonnya, namun lebih memikirkan acara seperti apa yang laku dijual.
Berbeda dengan televisi, buku merupakan media yang hanya bersifat visual saja. Selain itu buku bukan merupakan rangkaian adegan yang bergerak terus-menerus. Sifat buku ini membuat otak anak dapat beristirahat sebentar dan mencerna isi buku tersebut. Orang tua pun dapat dengan mudah mengarahkan pada anak tentang isi buku tersebut. Dilihat dari sifatnya saja, media buku tampaknya lebih ramah bagi anak daripada media televisi.
Mengapa buku lebih baik daripada televisi? Ini disebabkan karena kentalnya orientasi profit media televisi. Mahalnya ongkos untuk mendirikan sebuah stasiun televisi dan mahalnya biaya produksi televisi membuat mereka sangat berorientasi pada keuntungan semata. Ini menyebabkan televisi seringkali kehilangan idealismenya. Moral anak-anak Indonesia menjadi taruhannya ketika televisi menyajikan acara-acara yang kurang bermutu, dan itu dengan mudahnya menjadi konsumsi anak-anak yang belum cukup umur bahkan belum bisa mencerna mana yang baik dan mana yang buruk. Ini berbeda dengan buku. Ongkos produksi untuk mencetak buku tidak semahal ongkos produksi untuk membuat sebuah tayangan di televisi. Ini menyebabkan produksi buku tidak pernah kehilangan idealismenya.
Buku memang menjadi alternatif media yang ramah dan aman bagi anak-anak. Selain karena buku memiliki sifat yang ’ramah’, buku juga memiliki segmen khusus anak-anak yang aman dibaca dan mendidik. Selain itu buku memiliki banyak ragamnya sehingga kita bebas memilih buku seperti apa yang akan kita baca. Ini berbeda dengan acara televisi yang cenderung kurang variatif dan sedikit pilihan. Oleh karenanya, penting bagi kita untuk menumbuhkan minat baca, terutama minat baca anak.
Kurangnya minat baca anak dapat disebabkan oleh berbagai faktor. Salah satunya adalah kurangnya pembiasaan oleh orang tua. Kurangnya minat baca orang tua dapat berpengaruh pada kurangnya minat baca anak. Oleh karena itu, pembiasaan terhadap membaca seharusnya dimulai dari lingkungan pertama anak, yaitu rumah. Jika dirumah terdapat perpustakaan, meskipun kecil, ini akan mendorong anak untuk gemar membaca. Atau pembiasaan lain seperti berlangganan majalah anak. Masalahnya seringkali orang tua kurang memiliki kesadaran dalam hal pembiasaan membaca terhadap anak.
Fungsi ini sebenarnya juga dapat diambil oleh sekolah. Perpustakaan sebagai sarana yang ada di sekolah seharusnya dapat mengambil fungsi tersebut. Namun sayangnya, saat ini rasanya sekolah belum mampu untuk menangani lemahnya minat baca para siswa. Dapat dilihat, perpustakaan sekolah sangat jarang dikunjungi. Kalaupun ada yang datang, perlu dilihat lagi, buku apa yang dibacanya. Moga-moga memang benar-benar buku yang layak dibaca. Tapi kebanyakan siswa-siswa memilih komik untuk di baca di perpustakaan. Tak salah sebenarnya kalau mereka memilih komik untuk dibaca, karena bagi mereka hanya itu yang menarik. Masalahnya adalah bagaimana agar buku-buku yang mendidik itu juga menarik untuk mereka baca.
Hadirnya rumah-rumah baca atau perpustakaan keliling sepertinya cukup membantu dalam menarik minat baca anak. Sebut saja Forum Lingkar Pena (FLP) yang dipelopori oleh Helvy Tiana Rosa, saat ini telah memiliki banyak perpustakaan yang dinamakan Rumah Cahaya yang merupakan kepanjangan dari Rumah Baca Hasilkan Karya. Di rumah ini, anak-anak sekitar dibebaskan untuk membaca buku-buku yang ada disana tanpa dipungut biaya apapun. Buku-buku yang disediakan pun memiliki segmen khusus anak-anak. Mereka bebas membaca sambil bermain di sana. Tempat-tempat baca seperti ini sebenarnya sangat potensial dalam memberikan kontribusi secara informal bagi pendidikan dan minat baca anak. Hanya saja tempat-tempat seperti masih kalah booming sosialisasinya ketimbang pusat-pusat perbelanjaan atau tempat-tempat rekreasi. Biasanya tempat-tempat seperti inipun terbatas pengunjungnya. Hanya anak-anak yang memang sudah gemar membaca yang sering datang berkunjung.
Untuk itu, selain disediakannya buku-buku yang menarik minat anak, sebenarnya perlu diadakan acara-acara yang menarik minat anak untuk datang ke taman-taman bacaan seperti ini. Dongeng atau lomba mungkin bisa jadi salah satu alternatifnya.
Saat ini, FLP telah memiliki beberapa Rumah Cahaya yang tersebar di berbagai daerah. Sebut saja Aceh, Bandung, Bekasi, Depok, Penjaringan, dan masih banyak lainnya. Bahkan Rumah Cahaya terakhir yang baru diresmikan, yaitu di Depok 2 Timur, memiliki kisah uniknya sendiri.
Rumah Cahaya Depok 2 Timur baru saja diresmikan seminggu yang lalu dan dihadiri oleh Helvy Tiana Rosa serta anaknya Abdurrahman Faiz. Rumah Cahaya ini didirikan di rumah seorang anggota FLP Depok. Beliau memiliki seorang anak yang sangat gemar membaca. Seringkali sang ayah harus kerepotan saat membawa anaknya ke toko buku karena di sana anak tersebut baru mau pulang jika sudah membaca sepuluh buku atau lebih. Akhirnya, karena alasan itulah, sang ayah membuatkan Rumah Cahaya di rumahnya agar sang anak bisa membaca sepuasanya dirumahnya. Selain itu agar teman-teman anaknya dan tetangga-tetangganya bisa ikut menikmati bacaan dirumahnya. Menurut ibunya, anak ini memang sudah terbiasa dan bisa membaca sejak kecil sebelum masuk sekolah. Ibu dan ayahnya pun adalah orang-orang yang sangat suka membaca.
Memang tidak semua anak gila membaca seperti anak tersebut. Namun adanya pembiasaan, banyaknya buku di rumah, dan kemampuan membaca yang cukup dini dapat merangsang anak untuk gemar membaca. Ini baik untuk perkembangan anak itu ke depan. Sebab buku, hingga saat ini, masih menjadi sumber informasi yang utama bagi kebanyakan masyarakat. Meskipun kini ada media internet sebagai sumber informasi, namun internet belum terlalu akrab dengan seluruh lapisan masyarakat sehingga buku masih menjadi yang utama.
Fenomena Rumah Cahaya FLP sebenarnya tidak berdiri sendiri. Banyak taman-taman bacaan dan perpustakaan yang lain yang juga memiliki visi serupa. Hanya saja masih banyak yang belum tersosialisasikan dengan baik atau masih terbatas dalam pengelolaannya. Padahal membaca adalah salah satu syarat dalam dunia pendidikan. Oleh karena itu, kampanye gemar membaca harus dibunyikan lebih keras lagi. Sebab ini adalah bagian dari pendidikan terhadap generasi bangsa selanjutnya, agar yang tumbuh bukan sekedar generasi yang ingin menjadi kaya dan terkenal dengan cepat seperti yang kita lihat di televisi. Kita tentunya menbgharapkan anak-anak di masa mendatang adalah generasi yang berwawasan luas, bervisi jauh ke depan, serta memiliki koral dan budi pekerti yang baik. Bukan generasi instan ala televisi.
Eksploitasi Remaja oleh Media Melalui Ajang Pencarian Bakat di Televisi
In Angkatan I, In Dhinny el Fazila, In ESAI, In NonfiksiEsai Dhinny el Fazila
Media massa khususnya televisi, merupakan media massa yang memiliki pengaruh sangat besar bagi sebagian besar masyarakat Indonesi. Ajang-ajang pencarian bakat yang dilakukan oleh banyak stasiun televisi, meski banyak diantaranya yang meniru program luar negeri, namun terlihat sangat diminati oleh para remaja Indonesia. Hal ini dapat kita mengerti mengingat banyaknya remaja yang ingin ”kaya dan terkenal”, apalagi dengan cara cepat seperti itu.
Namun ternyata, dibalik kegembiraan remaja dengan adanya ajang-ajang pencarian bakat yang diselenggarakan oleh stasiun televisi tersebut, ternyata terdapat unsur eksploitasi remaja oleh media. Remaja sebagai objek ajang tersebut, ternyata telah dieksploitasi dalam bentuk-bentuk yang tidak disadari. Salah satu bentuknya adalah bahwa televisi ”menjual” remaja ke pengiklan untuk mendapatkan pemasukan iklan yang berlipat. Ini sepertinya merupakan tambang emas luar biasa bagi pengelola stasiun televisi.
Ajang pencarian bakat seperti ini, sesungguhnya merupakan proses selebritisasi yang sengaja dibuat dalam budaya selebritis media massa Indonesia. Budaya selebritis sesungguhnya telah ada beberapa puluh tahun lalu. Berawal dari teater dan film, muncullah aktor-aktor film yang awalnya kurang diperhatikan secara personal, namun akhirnya dibuat menjadi selebritas dengan diperkenalkannya aktor tersebut secara personal melalui media massa sehingga jadilah aktor tersebut sebagai apa yang disebut selebritas. Proses membuat seseorang menjadi selebritas disebut selebritisasi.
Saat ini proses selebritisasi telah dianggap sebagai sesuatu yang menguntungkan bagi pengelola media massa khususnya televisi. Masyarakat Indonesia secara umum sangat suka mengetahui apa-apa yang berhubungan dengan kehidupan orang terkenal. Maka kemudian bermunculanlah artis-artis baru yang kehidupannya senantiasa dipublikasikan kehadapan publik melalui tayangan infotainment.
Maraknya tayangan infotainment yang kebanyakan penontonnya adalah ibu-ibu dan remaja putri, menyebabkan banyaknya remaja yang kemudian bercita-cita menjadi artis. Belum lagi bombardir tayangan MTV untuk remaja, sinetron yang menggambarkan kemewahan, semuanya kebanyakan ditonton oleh para remaja. Tak heran jika kemudian banyak remaja yang terobsesi ingin kaya dan terkenal.
Ajang-ajang pencarian bakat yang dipelopori oleh Akademi Fantasi Indosiar (AFI) dengan sangat sukses , membuat stasiun televisi lain seolah berlomba untuk membuat acara sejenis untuk memenuhi obsesi remaja tersebut. AFI, dulu, dan Mamamia, sekarang, keduanya benar-benar telah membuat rating Indosiar Visual Mandiri (IVM) naik sangat drastis. Sukses mereka kemudian disusul oleh stasiun-stasiun televisi lainnya.
Sebagian besar ajang-ajang tersebut ditujukan untuk para remaja. Ini wajar, sebab tidak hanya televisi yang menjadikan remaja sebagai target pasarnya. Hampir kebanyakan produsen menganggap kelompok usia remaja adalah salah satu pasar yang potensial. Alasannya antara lain karena pola konsumsi seseorang terbentuk pada usia remaja. Di samping itu, remaja biasanya mudah terbujuk rayuan iklan, suka ikut-ikutan teman, tidak realistis, dan cenderung boros dalam menggunakan uangnya. Sifat-sifat remaja inilah yang dimanfaatkan oleh sebagian produsen untuk memasuki pasar remaja.
Melihat karakter remaja yang seperti itu, pengelola televisi melihat bahwa program jenis tersebut akan lebih ‘laku’ jika targetnya adalah remaja. Ini terbukti.
Jika mau melihat sukses AFI, kita dapat melihat bahwa satu spot iklan pada acara AFI mencapai angka 18 juta dan setiap konser AFI disediakan 24 spot iklan. Belum lagi pendapatan-pendapatan lainnya seperti layanan sms dan premium call dimana pemenang kontes tersebut ditentukan dengan cara voting pemirsa. Sms yang masuk setiap minggunya bisa mencapai 150.000-250.000 sms. Memasuki babak Grand Final, sms yang masuk meningkat hingga 500.000 sms setiap minggunya.
Jika mau dibuat daftar, maka jenis-jenis keuntungan yang diperoleh stasiun televisi hasil ajang pencarian bakat seperti ini yaitu berasal dari pendaftaran (uang administrasi pendaftaran), proses seleksi yang direkayasa (dipelopori oleh tayangan proses seleksi Indonesian Idol) yang mendapat pemasukan iklan dan juga proses karantina (yang biasanya juga disponsori oleh pengiklan), tayangan konser/ proses eliminasi (contoh: spektakuler show Indonesian Idol, Mamamia Show), sms pemirsa pada saat proses eliminasi, kontrak atas bintang yang dihasilkan dari ajang tersebut yang biasanya bersifat eksploitasi atas artis tersebut , album/ produk yang dibuat dari ajang tersebut, dan acara-acara off air yang diselenggarakan yang biasanya dapat mendatangkan penonton remaja yang begitu banyak. Disamping itu, hal pokok dari acara ini adalah banyaknya remaja yang menonton yang membuat rating acara seperti ini tidak terlalu rendah, bahkan ada yang begitu tinggi.
Munculnya eksploitasi terhadap audiens oleh televisi sesungguhnya merupakan bagian dari sistem kapitalisme. F. Vito mendefinisikan kapitalisme sebagai suatu sistem ekonomi dengan karakteristik: 1) adanya kebebasan beraktivitas bagi pelaku ekonomi, 2) adanya hak milik privat dari alat-alat produksi, dan 3) adanya persaingan. Saat ini, kapitalisme masih menjadi sistem ekonomi yang dominan di dunia pasca runtuhnya komunis.
Berdasarkan Teori Marxist, sistem ekonomi menjadi dasar segala sesuatu (base) dan mempengaruhi super structure, yaitu kumpulan institusi yang ada dan mempengaruhi pemikiran masyarakat. Pada media massa, kapitalisme telah membuat media memiliki tujuan utama untuk mencari keuntungan sebesar-besarnya yang dapat dilakukan dengan segala cara, jika melihat kembali karakteristik kapitalisme. Hal ini yang kemudian melatarbelakangi munculnya eksploitasi yang dilakukan media terhadap audiens/ khalayak, khususnya remaja.
Jika kita kembali kepada permasalahan di atas, maka ideologi yang disebarkan oleh media yaitu bahwa bintang (star), adalah manusia sempurna yang harus diidolakan. Bintang di media digambarkan sebagai sosok yang mewah, glamour, sempurna, dan menyebabkan ribuan remaja mengangankan untuk menjadi bintang. Media massa jarang mengajarkan bagaimana para bintang itu bekerja keras dari nol hingga berada di puncak kesuksesan. Yang sering digambarkan media mengenai bintang hanyalah kesenangan dan gaya hidup mereka. Penonton remaja tidak tahu dan juga tidak diajarkan bagaimana bintang tersebut mendapatkannya. Akibatnya, muncullah generasi yang menginginkan kesuksesan secara instan. Ini karena mereka tidak pernah diajarkan bagaimana berjuang medapatkan kesuksesan. Yang mereka tahu hanyalah ketika bintang tersebut telah berada di puncak sukses.
Keinginan untuk menjadi bintang, kaya dan terkenal, secara instan inilah yang membuat berbondong-bondong antri untuk mengikuti audisi ajang pencarian bakat yang diselenggarakan oleh televisi. Sukses dengan edisi perdana, biasanya televisi tersebut akan membuat yang kedua, ketiga, dan seterusnya. Contoh-contoh remaja biasa yang sukses dengan mengikuti ajang tersebut kemudian menjadi “heroes” yang menjadi cerminan bagi remaja lainnya, secara umur dan kondisi sosial-psikologis. Kemudian mereka menjadi acuan bagi remaja lainnya untuk mengikuti jejak mereka.
Menurut teori Marxist, kelas penguasa menyebarkan suatu ideologi yang memberi pembenaran pada statusnya, yang menyulitkan kebanyakan orang untuk menyadari bahwa mereka sedang menjadi korban eksploitasi. Anggapan bahwa jumlah besar orang dimanipulasi dan dieksploitasi oleh kelas penguasa merupakan salah satu argumen utama dari analisis kultural Marxist.
Masih dalam pandangan Marxist, media merupakan alat (tools) untuk memanipulasi, sebab media massa dan budaya populer berperan penting dalam penyebaran false consciusness dan menjaga hegemoni serta ideologi penguasa.
Namun pertanyaannya, dalam konteks permasalahan di atas, kelompok penguasa mana yang oleh media dipertahankan hegemoni dan ideologinya? Jawabannya adalah kelompok media itu sendiri! Media menggunakan pengaruhnya sendiri untuk mempertahankan kekuasaannya agar tetap dapat mengambil keuntungan sebanyak-banyaknya dari pemasukan iklan.
Mengenai konsep iklan pada masalah ini, berbeda dengan iklan yang dimaksudkan oleh Marxist. Pada teori Marxist, iklan yang dimaksud adalah cara penyampaian pengumuman kepada suatu khalayak dengan menggunakan perantara media massa. Sedangkan pada masalah ini, iklan adalah sebagai satu-satunya sumber dana yang membiayai media massa. Namun persamaannya adalah, iklan memegang peranan penting dalam masyarakat kapitalis terutama dalam industri media saat ini.
Jika kita melihat lagi dengan cermat, siapa yang diuntungkan dibalik adanya berbagai ajang pencarian bakat tersebut, jawabannya adalah media massa, dalam hal ini stasiun televisi yang bersangkutan. Remaja hanyalah menjadi korban eksploitasi media. Remaja yang merasa bahwa ajang seperti ini adalah salah satu kendaraannya menuju impiannya menjadi bintang/ selebritas merasa senang dengan adanya ajang seperti ini. Namun tanpa dia sadari, ajang ini adalah alat untuk mengeksploitasi mereka. Dalam hal ini media memberikan kesadaran palsu kepada remaja. Kesadaran palsu tersebut dikonstruksi melalui pengaruh media itu sendiri.
Secara tidak langsung, remaja “dijual” oleh media kepada pengiklan. Jadi siapa sebenarnya penguasa disini? Pengiklan atau media? Atau keduanya? Semua saling memengaruhi. Namun yang jelas, satu hal tetap pasti bahwa remaja, tetap merupakan korban eksploitasi mereka.
Ketika Juru Cerita Meninggalkan Buku
In Angkatan I, In Denny Prabowo, In ESAI, In NonfiksiEsai Denny Prabowo
“Ceritkan padaku tentang kehilangan,” kata Upik pada tukang cerita itu. Maka tukang cerita itupun berkisah tentang bandana.
Demikianlah, Seno Gumira Ajidarma (SGA) kerap mengawali ceritanya. Apa yang dilakukan SGA mengingatkan kita pada peran penting seorang juru cerita atau tukang cerita di masa lalu, ketika sastra lisan menjadi satu-satunya media dalam penyampaian ajaran atau pesan. SGA seolah ingin mengembalikan peran itu dalam bentuknya yang lain: tulisan.
Kehadiran seorang juru cerita yang tampil sebagai narator di dalam cerpen-cerpen SGA, membuat pembaca seperti ‘mendengar’, walau pada kenyataannya tetap harus membaca. Ini merupakan bentuk kreativitas yang mungkin sekali mampu mengembalikan kegairahan pada sastra tulis seperti di era Hamzah Fansuri dengan Syair Perahunya yang ditulis pada abad ke-17 M, dan Raja Ali Haji dengan Hikayat Abdul Muluk yang ditulis bersama adiknya—Raja Zaleha pada tahun 1846 M.
Namun, usaha SGA menampilkan ‘suara’ juru cerita di dalam cerpennya, tak cukup membuat kegiatan membaca menjadi lebih mudah daripada mendengar langsung sebuah cerita yang dilisankan. Dan juru cerita pun menemukan eksistensinya dalam bentuk yang lebih mendekati aslinya melalui televisi: iklan, sinetron, telenovela, dan film seri yang mendominasi mata acara TV dapat dijadikan representasi yang pas dari sastra lisan kontemporer ini.
Salah satu keberhasilan sastra lisan dalam menyampaikan pesan dan ajaran adalah karena bentuknya yang audio visual. Cerita yang disampaikan melalui mulut dan peragaan sang juru cerita tentunya lebih mudah diterima. Kita hanya perlu duduk melihat dan mendengar juru cerita menyampaikan sebuah kisah. Berbeda halnya dengan sastra tulis yang membutuhkan energi untuk menekuni tiap kata dalam cerita.
Kehadiran televisi yang menjadi mediator sekaligus narator dalam terbentuknya ‘komunikasi sastra’ yang ditopang simulasi teknologi informasi kian memanjakan kita dalam menerima pesan dan ajaran. TV kemudian menjelma jadi juru cerita yang mendongengkan kisah tanpa harus berjalan door to door, cukup disiarkan melalui pemancar dan juru cerita pun siap menyapa melalui layar kaca di tiap pintu rumah pada waktu yang bersamaan.
Inilah yang sesungguhnya memiliki andil besar terhadap rendahnya minat baca di Indonesia. Data Badan Pusat Statistik pada 2003 menunjukkan sekitar 84,94 % penduduk usia 10 tahun lebih suka menonton televisi. Hanya 22,06 % saja yang mengatakan suka membaca koran dan majalah. Jadi, jangan heran jika minat baca masyarakat Indonesia di kawasan Asia Tenggara hanya menempati peringkat ke empat di bawah Malaysia, Thailand, dan Singapura. Agaknya tidak berlebihan kalau dikatakan penetrasi televisi menjadi biang keladi terbesar terkikisnya kebiasaan membaca di masyarakat kita.
Kondisi ini kian diperparah dengan sistem pendidikan yang tak mambuat siswa menjadi akrab dengan buku. Taufik Ismail dalam makalahnya Budaya Membaca dan Menulis yang disampaikan dalam sebuah seminar sastra yang diadakan oleh Forum Studi Islam FEUI, menyampaikan data, pada tahun antara 1939-1942 Algemene Middelbare School (SMA zaman Belanda) Yogyakarta mewajibkan siswa membaca 25 buku sastra dalam waktu tiga tahun, tak jauh di bawah SMA Forest Hill New York yang mewajibkan siswanya membaca 30 buku pada tahun 1987-1989.
Awal tahun 1950, ketika pemerintahan telah sepenuhnya berada di tangan Indonesia, wajib baca 25 buku sastra dan bimbingan menulis digunting habis! Demi mengejar ketertinggalan pembangunan, pemerintah lebih mengunggulkan dan menyanjung jurusan eksakta, ekonomi, dan hukum. Padahal, menurut Taufiq Ismail sastra merupakan stimulus untuk meletakkan dasar kebiasaan dan kesenangan membaca buku, sehingga menjadi jembatan menuju literasi buku apa pun dalam disiplin ilmu yang diambil.
Apabila kondisi ini dibiarkan tanpa usaha meningkatkan minat baca dari berbagai pihak, maka jangan salahkan jika juru cerita semakin enggan tinggal di dalam buku, dan meninggalakan buku terasing di rak-rak penuh debu. Dengan begitu, penjajahan budaya oleh kaum kapitalis di negeri ini menjadi semakin mudah.
Rumah Cahaya FLP, 29.0807
Sumber: Koran Media Indonesia (nomornya lupa)
Chairil dalam Sajak Aku
In ESAI, In Hafi Zha, In NonfiksiSastra, Seni Berbohong yang Indah
In Angkatan I, In Denny Prabowo, In ESAI, In NonfiksiEsai Denny Prabowo
Berita adalah kunci kontak kita menulis, dan “SIM’-nya adalah bahasa, begitu tutur Hamsad Rangkuti yang kemudian disusul dengan sebuah pertanyaan dari salah seorang peserta workshop, tentang bagaimana mengemas sebuah fakta sensitif menjadi sebuah cerita tanpa membuat pihak-pihak yang terlibat di dalamnya merasa perlu malakukan tekanan sebab cerita yang kita buat—sebuah pertanyaan yang akan langsung terjawab, jika saja kita telah membaca Jazz, Parfum dan Insiden karya seno Gumira Ajidarma yang menggabungkan roman metropolitan, esai jazz dan parfum dengan laporan jurnalistik tentang tragedi yang terjadi di Timor Timur (sekarang menjadi Negara Timor Leste). “Sastra adalah seni berbohong yang indah,” begitu kata Hamsad Rangkuti, menjawab pertanyaan itu, mengingatkan saya kembali dengan sebuah cerpen karyanya.
Apakah betul ada tiga anak kecil dalam langkah malu-malu datang ke Salemba sore itu? Bukankah itu kebohongan. Saudara telah menciptakan kebohongn. Tetapi, penyair itu menampik dan berkata, semua yang dia tulis adalah kebenaran. Benar adanya. Memang ada tiga anak kecil dalam langkah malu-malu datang ke Salemba sore itu. Aku tidak berbohong, kata penyair itu. Lalu aku bertanya adakah lautan air mata itu? Bagaimana Saudara tega berbohong tentang lautan air mata. Kalian telah terkepung oleh air mata kami, tulis Anda. Bagaimana anda bias meciptakan lautan air mata? Sesendok saja pun rasanya tidak mungkin. Bukankah Anda telah berbohong? Ya, saya telah berbohong, kata penyair itu setuju dengan pendapatku. Semua kita ini para pembohong. Berlindung dibalik kata imajinasi dan metafora-metafora kebohongan. Kebohongan adalah kebohongan. Berbohong dan imajinasi itu sama. Berbohong adalah berimajinasi.1)
Karya sastra adalah tulisan fiksi berdasarkan imajinasi. Berbeda dengan nonfiksi yang merupakan tulisan berdasarkan fakta dan data. Tapi apakah karena alasan itu karya sastra pantas disebut sebagai sebuah kebohongan? Dalam sebuah esainya Seno Gumira Ajidarama mengatakan, "Ketika jurnalisme dibungkam, sastra harus bicara. Karena jika jurnalisme bicara dengan fakta, sastra bicara dengan kebenaran".2) Yang kemudian dikoreksi sendiri oleh penulisnya dalam tulisannya yang lain, sebab dia meragukan apakah di dunia ini ada yang namanya kebenaran. Kebenaran itu memang relatif. Tergantung siapa yang mengatakanya. Bukan kebenaran yang menjadi dasar dari penulisan sebuah karya sastra, tapi realita. Ya, sastra bicara dengan realita.
Oleh sebab itu terkadang seseorang bisa larut dalam kesedihan, kemarahan, kebahagiaan ketika membaca sebuah karya sastra, karena bisa jadi sebuah karya yang sedang dibacanya merupakan representasi dari pengalaman hidupnya atau harapan-harapannya. Bukankah hampir seluruh ide-ide cerpen yang ditulis Hamsad Rangkuti berasal dari kejadian-kejadian yang tertangkap mata dan telinganya? Hanya imajinasi yang kemudian membuat pengalaman yang sesungguhnya tidak terlalu menarik untuk diceritakan, menjadi sebuah bacaan yang tak hanya menarik untuk dinikmati, tapi juga memberikan pembelajaran, yang tak jarang menimbulkan efek pencerahan.
Bisa jadi tiga anak kecil dalam langkah malu-malu datang ke salemba sore itu tidak benar-benar ada seperti yang diakui penulisnya. Dan kalau saja berpasang-pasang mata dari seluruh penduduk Indonesia meneteskan air mata terderasnya, tak akan mungkin tercipta telaga air mata. Semua hanya ada dalam imajinasi penulisnya. Apakah karena sebab itu seorang sastrawan sudah bisa dikatakan sebagai seorang pembohong?
Karya sastra adalah karya fiksi. Disebut fiksi karena tidak sungguh-sungguh terjadi. Dan ketika sastrawan mempublikasikan karyanya sebagai karya fiksi, pembaca tentunya sudah mengetahui sejak awal kalau peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam karya sastra yang dibacanya adalah tidak benar-benar nyata. Tidak kah itu bisa dikatakan sebagai sebuah kejujuran?
Sementara begitu banyak catatan sejarah dan berita-berita yang dipublikasikan, yang semestinya menjadi karya nonfiksi ternyata tidak sesuai dengan fakta dan data yang sesungguhnya. Dan kita sebagai pembaca, sudah terlanjur menerimanya sebagai karya yang benar-benar terjadi.
Loteng Rumah, 2 Pebruari 2005
______________
1) Hamsad rangkuti."Antena". Bibir dalam Pispot: 146-147. Jakarta: Kompas
2) Seno Gumira Ajidarma. "Kehidupan Sastra dalam Pikiran". Ketika Jurnalisme Dibungkam Sastra Harus Bicara. Jogjakarta: Bentang Pustaka
Sumber: Majalah Sabili No. 19 / 6 April 2006Simbolisme Penyair dan Bulan
In ESAI, In Hafi Zha, In NonfiksiEsai Hafi Zha
Seorang pengarang memiliki kemampuan untuk memotret kenyataan hidup di sekelilingnya ke dalam cerpen. Dengan daya imajinasinya, kenyataan hidup di dalam cerpen telah menjadi dunia baru. Dunia baru yang ditawarkan kepada pembaca untuk dinikmati, direnungkan, dan diambil hikmahnya. Dunia di dalam cerpen boleh jadi dibangun oleh penyair dengan tidak mengubah keasliannya di dalam dunia nyata. Unsur tokoh, tempat, dan suasana tetap dipertahankan sebagaimana adanya. Akan tetapi, tak semua pengarang memiliki kebebasan untuk berapresiasi dengan kenyataan hidup secara lugas. Walhasil, ia pun memilih untuk menggunakan simbol-simbol dalam cerpennya untuk mewakili realitas yang dipotretnya.
Cerpen karya Riyono Pratikno dengan judul Penyair dan Bulan, menceritakan tentang seorang penyair yang keletihan menuju pondokannya di malam yang larut. Matanya yang memberat karena kantuk membawa kakinya menuju ke sebuah taman. Ia lalu tiduran di bangku taman. Sembari memandang bulan penuh di antara dedaun pohon. Antara tidur dan jaga, Penyair melihat bulan mendekat kepadanya. Hingga akhirnya ia mendapatkan bulan jatuh di pangkuannya. Hatinya sungguh senang. Ia pun membawa bulan untuk dibagikan kepada kawan-kawan yang sependeritaan dengannya. Berkumpullah mereka dan dipotonglah bulan dengan adil dan rata. Masing-masing membawa potongan bulan yang masih tetap bersinar.
Di tengah perjalanan, berubahlah potongan bulan menjadi gadis cantik. Penyair teramat senang hatinya karena belum pernah merasakan kenikmatan hidup seperti malam itu. Diajaklah Penyair oleh gadis cantik ke tempat yang becek di daerah kali yang baru meluapkan airnya. Lama-lama ia menghirup bau yang tak sedap dari kali itu. Ia juga mulai melihat dengan terang segala kekotoran yang ada dalam kebecekan itu. Ia tidak marah kepada gadis cantik. Sebaliknya, ia berterimakasih. Ternyata, kawan-kawan Penyair juga mendapatkan ilham dan pikiran-pikiran baru dari gadis-gadis bulan. Cerita lantas ditutup dengan bersatunya gadis-gadis cantik menjadi bulan dan kembali terbang ke langit sewaktu matahari hendak lahir.
Mengapa bulan? Jika kita telisik lebih dalam cerpen Riyono, akan kita temukan tafsiran berharga. Lebih dari sekadar memaknainya sebagai cerpen khayal tentang bulan sebagai benda langit yang jatuh di pangkuan seorang penyair, kemudian berubah menjadi gadis cantik.
Bulan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (2005) bermakna benda langit yang mengitari bumi, bersinar pada malam hari karena pantulan sinar matahari. Juga dimaknai sebagai masa atau jangka waktu perputaran bulan mengitari bumi dari mulai tampaknya sampai hilang kembali. Dari pemaknaan tersebut kita dapati bahwa bulan adalah benda langit yang sebenarnya tak mampu memancarkan cahaya. Ia mendapat pantulan dari sinar matahari sehingga mampu bersinar di malam hari. Keindahan bulan dengan sinarnya di malam hari (apalagi bulan penuh) dipuja banyak orang, termasuk oleh tokoh di dalam cerpen Riyono.
Penyair perasaannya bergetar memandang bulan. Sebentar itu segala kesukaran-kesukaran hidupnya yang begitu pahit hilang lenyap, dan ia semakin senyum memandangnya. Tangannya berganti-ganti menjadi bantal bagi kepalanya, dan pandangnya bertambah gairah.
Riyono mengajak kita untuk ikut menyelami pikiran dan perasaan penyair sebagai tokoh cerita. Ia tengah dilanda keletihan atas kesukaran-kesukaran hidupnya yang begitu pahit. Semacam kecemasan dan kegelisahan akan hidup. Di sisi lain ia menemukan penghiburan dengan melihat bulan. Selanjutnya, dengan tidak berbasa-basi, Riyono memberikan kebahagiaan yang lebih kepada tokoh ceritanya dengan menjatuhkan bulan di atas pangkuannya, lalu berubah menjadi gadis cantik. Gadis bulan yang cantik inilah yang membawa pemaknaan baru terhadap cerpen Riyono. Selain membawa kebahagiaan tersendiri bagi Penyair, gadis bulan memberikan ilham (pikiran baru) kepadanya. Seolah-olah gadis bulan menjadi kunci yang membuka kesadarannya.
Ia tiada marah pada gadis cantik di sampingnya oleh penunjukan tempat yang sebobrok itu, malahan ia berterimakasih sepenuh hati, karena telah membuka pikiran-pikiran baru.
Gadis bulan dalam cerpen ini mencoba menyentuh kepekaan Penyair terhadap lingkungan yang ia anggap tak indah lagi. Selain itu, gadis bulan meruntuhkan pandangan Penyair terhadap keindahan bulan yang biasanya ada di langit malam, tiba-tiba turun ke bumi.
“Mengapa kita mesti duduk di sini? Sedangkan tempat-tempat yang indah masih banyak lagi lainnya,” tanya Penyair.
Bulan dengan wajah menggoda menjawab:
“Benar-benarkah kau tidak lagi menemui keindahan di sini?”
Penyair menggelengkan kepalanya.
“Tahukah engkau apa sebabnya? Karena bulan malam ini tidak ada. Bulan malam ini turun ke bumi, dan karena itu tidak kau dapati bayangnya mengaca di kali serta tanah-tanah becek ini. Karena itulah hilang pandangan keindahanmu terhadapnya.”
Dari pembahasan di atas, dapat kita maknai bahwa bulan di dalam cerpen Riyono merupakan keindahan yang semu. Dengan turunnya bulan ke bumi lalu berubah menjadi gadis cantik yang menemani si penyair, membuat apa yang ada di bumi kehilangan keindahannya. Selain itu, bulan (gadis bulan) telah membuka mata batin si Penyair bahwa keindahan sesuatu yang tampak oleh mata belum tentu benar-benar indah. Bahkan ia bisa saja menyimpan kebobrokan dan kekotoran di balik keindahannya itu. Kesadaran penyair juga digugah bahwa tak selamanya inspirasi (ilham) berada jauh dengan memandang ke atas langit. Akan tetapi, bisa ditemukan dekat dengannya, di lingkungannya sendiri.
Sementara itu, secara simbolik Riyono juga telah menampilkan sosok tokoh si Penyair yang mengalami kepahitan hidup yang pada hakikatnya sama dengan situasi yang dialami masyarakat dengan hidup yang sukar tetapi mengangankan kenikmatan.
Di dalam simbolisme dunia nyata sekadar perlambang dari dunia yang tidak tampak. Jassin mengatakan simbolisme serumpun dengan surealisme.[1] Persamaannya dengan surealisme ialah bahwa keduanya hanya mempergunakan realisme sebagai batu loncatan kepada dunia di belakang realisme, dunia cita.
Riyono membuka cerpen ini dengan tindak lakuan yang merupakan bagian dari realisme sampai pada paragraf berikut ini:
Penyair perasaannya bergetar memandang bulan. Sebentar itu segala kesukaran-kesukaran hidupnya yang begitu pahit hilang lenyap, dan ia makin senyum memandangnya. Tangannya berganti-ganti menjadi bantal bagi kepalanya, dan pandangnya bertambah gairah.
Waktu ia berada antara tidur dan jaga, maka betapa terkejutnya ia waktu dilihatnya, bulan makin mendekat jua padanya.
Peristiwa yang terjadi setelah Penyair berada dalam kondisi antara tidur dan jaga ini merupakan realitas pikiran atau seperti kata Jassin, dunia di belakang realisme. Namun, cerpen ini belum dapat dikatakan sebagai cerpen surealis karena tindak laku dan tindak pikir berlangsung secara kronologis, sementara surealisme menghendaki keseluruhan dan kesewaktuan (simultan).[2] Apa yang dilakukan dan apa yang dipikirkan, hadir bersama-sama dalam satu peristiwa sehingga kita sulit menemukan hubungan antarperistiwanya. Meski demikian, cerpen ini jelas menunjukan gejala sebagai cerpen surealis.
Kapuasdua,14 Juli 2009
[1]Lihat Tifa Penyair dan Daerahnya. “Surrealisme”. Jakarta: Gunung Agung, 1953, hlm. 26
[2] Ibid, hlm. 22
Menafsir Mimpi dalam Dua Cerpen
In Angkatan I, In Denny Prabowo, In ESAI, In NonfiksiEsai Denny Prabowo
Lampung Pos, Minggu, 14 September 2008
Hampir seperempat dari kehidupan manusia dihabiskan dalam keadaan tertidur. Jika rata-rata usia manusia 60 tahun, selama 15 tahun dilaluinya dalam keadaan tertidur. Apakah itu berarti manusia telah menyia-nyiakan 15 tahun yang dilalaui dalam keadaan tertidur itu?
Menurut Freud, mimpi merupakan penghubung antara kondisi bangun dan kondisi tidur. Baginya, mimpi adalah ekspresi yang terdistorsi atau yang sebenarnya dari keinginan-keinginan yang terlarang untuk diungkapkan ketika manusia dalam keadaan terjaga. Dalam teori psikoanalisisnya, Freud membagi struktur kepribadian menjadi id, ego dan superego. Id adalah komponen kepribadian yang berisi impuls agresif dan libinal, di mana sistem kerjanya dengan prinsip kesenangan pleasure principle. Ego adalah bagian kepribadian yang bertugas sebagai pelaksana, di mana sistem kerjanya pada dunia luar untuk menilai realita dan berhubungan dengan dunia dalam untuk mengatur dorongan-dorongan id agar tidak melanggar nilai-nilai superego. Superego adalah bagian moral dari kepribadian manusia, karena ia merupakan filter dari sensor baik-buruk, salah-benar, boleh-tidak sesuatu yang dilakukan oleh dorongan ego. Setiap saat, ego harus menjadi hakim atas pertarunan antara id dan superego. Dan sering kali id mengalami kekalahan. Sebab itu, hasrat atau keinginan-keinginan terlarang yang terpedam ketika manusia dalam kondisi bangun, akan mewujud di dalam tidurnya melalui mimpi. Dalam cerpennya berjudul Mimpi dalam antologi cerpen Sepasang Mata untuk Cinta yang Buta (Lingkar Pena Publishing House, 2008), Noor H. Dee (NHD) mencoba membalikan logika mimpi. Mimpi yang semestinya masuk wilayah "ketaksadaran" dibuat sebaliknya. "aku" lelaki dan "aku" perempuan di dalam cerpen NHD, menyadari ketaksadarannya: Aku tahu saat ini aku sedang bermimpi. (NHD, hlm. 41) Di dalam cerpen itu, kedua tokoh "aku" mengalami mimpi yang sama. "Aku" perempuan memberikan telinganya kepada "aku" lelaki. Ketika memberikan telinganya "aku" perempuan berkata, "Ambillah sepasang telingaku ini, sayang. Dengarlah segenap suara-suara yang aku pernah dengar di sepanjang perjalanan hidupku. Tentu saja suara serakmu juga tersimpan di sana. Sebab, bukankah kamu sering membisikkan kalimat sayang di telingaku?" (NHD, hlm. 41) Namun "aku" lelaki mengingkari bahwa dirinya sering mengucapkan kata sayang kepada "aku" perempuan. Bahkan "aku" lelaki mengakui bahwa dia tak mengenal "aku" perempuan. Jadi, bagaimana mungkin dia mengucapkan kata sayang? Pengingkaran "aku" lelaki diamini oleh "aku" perempuan yang di dalam mimpi itu bisa mendengar suara hati dari "aku" lelaki. Memang kami tidak saling mengenal. Kami hanya sepasang menusia yang terperangkap di dalam dunia mimpi. (NHD, hlm. 44) Ketika keduanya terbangun dari mimpinya, mereka terkejut karena ternyata mereka terbangun di atas ranjang yang sama. Keduanya kemudian saling bertanya-tanya bangaimana mereka bisa ada di tempat itu. Mereka merasa bahwa kamar itu bukan milik mereka berdua. Dan pertanyaan itu terjawab ketika tiba-tiba pintu kamar mereka terbuka. Seorang gadis cilik berusia sepuluh tahun yang rambutnya dikepang dua masuk ke dalam kamar itu. "Kenapa sih ayah dan ibu selalu bertengkar? Hari ini kita jadi kan ke rumah nenek yang di Bogor?" (NHD, hlm. 48) Akhir cerita yang mengejutkan ini, memberikan tafsiran tentang mimpi yang dialami oleh kedua tokoh "aku". Bahwa sesungguhnya, mimpi yang mereka alami merupakan realita yang mereka ingkari. Berbeda dengan cerpen Mimpi yang ditulis oleh NHD, dalam cerpen dengan judul yang sama, Mimpi dalam antologi cerpen Gres (Balai Pustaka, 2005), Putu Wijaya (PW) justru menghadirkan ketaksadaran dalam kesadaran melalui tokoh Pian. Tokoh Pian ingin sekali bermimpi makan enak di restoran. Suatu kali, Pian pergi menonton sebuah pertunjukan balet di TIM. Di tengah pertunjukan itu Pian tertidur. Pian bermimpi dijamu oleh seseorang yang seperti Idi Amin. Waktu sadar, Pian sudah tergolek di lantai. Teater Terbuka TIM sudah kosong. Lampu-lampu sudah dipadamkan. Tinggal Pian sendirian. Untuk sesaat Pian terkesima. Tetapi setelah menenangkan pikirannya, ia hampir berani menyimpulkan bahwa ia sebenarnya sedang dalam keadaan tak sadar, tetapi di alam mimpi. (PW, hlm. 40) Setelah itu, Pian pun melakukan tindakan-tindakan yang dia inginkan, yang tak mungkin diwujudkan alam kehidupan nyata. Pian melemparkan botol Fanta ke panggung. Memanjat menara lampu, mencopot lampu-lampu follow, kemudian menjatuhkan balonnya ke bawah. Setelah itu ia naik ke atas pohon di sebelah kanan panggung, lalu dari sana ia kencing dan berak. Tak ada yang menghalanginya. Bahkan ketika Pian melompat dari atas tembok dan ngeloyor menaiki sebuah mobil yang kebetulan parkir. Pian ingin mewujudkan keinginannya yang selama ini tak terwujudkan dalam kehidupan nyata. Dia ingin makan di restoran di Pecenongan. Maka, meluncurlah ia ke sana. Sepanjang perjalanan ke tempat itu, terjadilah huru-hara yang diakibatkan oleh tindakan Pian. Karena Pian merasa dirinya berada di alam mimpi, maka dia merasa bebas untuk melakukan apa pun. Begitulah. Apa yang dialami oleh Pian timbul karena dorongan id. Karena ia mengira berada di alam mimpi, egonya tak lagi mempertimbangkan superego. Maka, yang terjadi kemudian, Pian mengabaikan nilai-nilai superego. Apa yang dialami oleh tokoh-tokoh di dalam cerpen Mimpi karya NHD dan PW ini sesungguhnya merupakan refleksi dari kondisi masyarakat saat ini. Realita kehidupan yang terjadi nyaris tak bisa dibedakan dengan dunia mimpi. Di dalam cerpen Gres-nya, PW membuka dengan berita tetang seorang ayah yang memakan anaknya sendiri. Ia mengaku hal itu dilakukannya di dalam mimpi. Dahulu, peristiwa ayah memakan anak kandungnya sendiri seperti dalam cerpen PW hanya mungkin terjadi di dunia mimpi. Namun kini, "produk" dunia mimpi itu bisa kita dapati dalam kehidupan nyata. Lalu, manakah dalam kehidupan kita yang sesungguhnya nyata dan manakah yang sesungguhnya mimpi?Menafsir Mimpi dalam Dua Cerpen
In Denny Prabowo, In ESAI, In Nonfiksi DewasaSenin, 16 Maret 2009
Esai Denny Prabowo
Lampung Pos, Minggu, 14 September 2008
Hampir seperempat dari kehidupan manusia dihabiskan dalam keadaan tertidur. Jika rata-rata usia manusia 60 tahun, selama 15 tahun dilaluinya dalam keadaan tertidur. Apakah itu berarti manusia telah menyia-nyiakan 15 tahun yang dilalaui dalam keadaan tertidur itu?
Menurut Freud, mimpi merupakan penghubung antara kondisi bangun dan kondisi tidur. Baginya, mimpi adalah ekspresi yang terdistorsi atau yang sebenarnya dari keinginan-keinginan yang terlarang untuk diungkapkan ketika manusia dalam keadaan terjaga. Dalam teori psikoanalisisnya, Freud membagi struktur kepribadian menjadi id, ego dan superego. Id adalah komponen kepribadian yang berisi impuls agresif dan libinal, di mana sistem kerjanya dengan prinsip kesenangan pleasure principle. Ego adalah bagian kepribadian yang bertugas sebagai pelaksana, di mana sistem kerjanya pada dunia luar untuk menilai realita dan berhubungan dengan dunia dalam untuk mengatur dorongan-dorongan id agar tidak melanggar nilai-nilai superego. Superego adalah bagian moral dari kepribadian manusia, karena ia merupakan filter dari sensor baik-buruk, salah-benar, boleh-tidak sesuatu yang dilakukan oleh dorongan ego. Setiap saat, ego harus menjadi hakim atas pertarunan antara id dan superego. Dan sering kali id mengalami kekalahan. Sebab itu, hasrat atau keinginan-keinginan terlarang yang terpedam ketika manusia dalam kondisi bangun, akan mewujud di dalam tidurnya melalui mimpi. Dalam cerpennya berjudul Mimpi dalam antologi cerpen Sepasang Mata untuk Cinta yang Buta (Lingkar Pena Publishing House, 2008), Noor H. Dee (NHD) mencoba membalikan logika mimpi. Mimpi yang semestinya masuk wilayah "ketaksadaran" dibuat sebaliknya. "aku" lelaki dan "aku" perempuan di dalam cerpen NHD, menyadari ketaksadarannya: Aku tahu saat ini aku sedang bermimpi. (NHD, hlm. 41) Di dalam cerpen itu, kedua tokoh "aku" mengalami mimpi yang sama. "Aku" perempuan memberikan telinganya kepada "aku" lelaki. Ketika memberikan telinganya "aku" perempuan berkata, "Ambillah sepasang telingaku ini, sayang. Dengarlah segenap suara-suara yang aku pernah dengar di sepanjang perjalanan hidupku. Tentu saja suara serakmu juga tersimpan di sana. Sebab, bukankah kamu sering membisikkan kalimat sayang di telingaku?" (NHD, hlm. 41) Namun "aku" lelaki mengingkari bahwa dirinya sering mengucapkan kata sayang kepada "aku" perempuan. Bahkan "aku" lelaki mengakui bahwa dia tak mengenal "aku" perempuan. Jadi, bagaimana mungkin dia mengucapkan kata sayang? Pengingkaran "aku" lelaki diamini oleh "aku" perempuan yang di dalam mimpi itu bisa mendengar suara hati dari "aku" lelaki. Memang kami tidak saling mengenal. Kami hanya sepasang menusia yang terperangkap di dalam dunia mimpi. (NHD, hlm. 44) Ketika keduanya terbangun dari mimpinya, mereka terkejut karena ternyata mereka terbangun di atas ranjang yang sama. Keduanya kemudian saling bertanya-tanya bangaimana mereka bisa ada di tempat itu. Mereka merasa bahwa kamar itu bukan milik mereka berdua. Dan pertanyaan itu terjawab ketika tiba-tiba pintu kamar mereka terbuka. Seorang gadis cilik berusia sepuluh tahun yang rambutnya dikepang dua masuk ke dalam kamar itu. "Kenapa sih ayah dan ibu selalu bertengkar? Hari ini kita jadi kan ke rumah nenek yang di Bogor?" (NHD, hlm. 48) Akhir cerita yang mengejutkan ini, memberikan tafsiran tentang mimpi yang dialami oleh kedua tokoh "aku". Bahwa sesungguhnya, mimpi yang mereka alami merupakan realita yang mereka ingkari. Berbeda dengan cerpen Mimpi yang ditulis oleh NHD, dalam cerpen dengan judul yang sama, Mimpi dalam antologi cerpen Gres (Balai Pustaka, 2005), Putu Wijaya (PW) justru menghadirkan ketaksadaran dalam kesadaran melalui tokoh Pian. Tokoh Pian ingin sekali bermimpi makan enak di restoran. Suatu kali, Pian pergi menonton sebuah pertunjukan balet di TIM. Di tengah pertunjukan itu Pian tertidur. Pian bermimpi dijamu oleh seseorang yang seperti Idi Amin. Waktu sadar, Pian sudah tergolek di lantai. Teater Terbuka TIM sudah kosong. Lampu-lampu sudah dipadamkan. Tinggal Pian sendirian. Untuk sesaat Pian terkesima. Tetapi setelah menenangkan pikirannya, ia hampir berani menyimpulkan bahwa ia sebenarnya sedang dalam keadaan tak sadar, tetapi di alam mimpi. (PW, hlm. 40) Setelah itu, Pian pun melakukan tindakan-tindakan yang dia inginkan, yang tak mungkin diwujudkan alam kehidupan nyata. Pian melemparkan botol Fanta ke panggung. Memanjat menara lampu, mencopot lampu-lampu follow, kemudian menjatuhkan balonnya ke bawah. Setelah itu ia naik ke atas pohon di sebelah kanan panggung, lalu dari sana ia kencing dan berak. Tak ada yang menghalanginya. Bahkan ketika Pian melompat dari atas tembok dan ngeloyor menaiki sebuah mobil yang kebetulan parkir. Pian ingin mewujudkan keinginannya yang selama ini tak terwujudkan dalam kehidupan nyata. Dia ingin makan di restoran di Pecenongan. Maka, meluncurlah ia ke sana. Sepanjang perjalanan ke tempat itu, terjadilah huru-hara yang diakibatkan oleh tindakan Pian. Karena Pian merasa dirinya berada di alam mimpi, maka dia merasa bebas untuk melakukan apa pun. Begitulah. Apa yang dialami oleh Pian timbul karena dorongan id. Karena ia mengira berada di alam mimpi, egonya tak lagi mempertimbangkan superego. Maka, yang terjadi kemudian, Pian mengabaikan nilai-nilai superego. Apa yang dialami oleh tokoh-tokoh di dalam cerpen Mimpi karya NHD dan PW ini sesungguhnya merupakan refleksi dari kondisi masyarakat saat ini. Realita kehidupan yang terjadi nyaris tak bisa dibedakan dengan dunia mimpi. Di dalam cerpen Gres-nya, PW membuka dengan berita tetang seorang ayah yang memakan anaknya sendiri. Ia mengaku hal itu dilakukannya di dalam mimpi. Dahulu, peristiwa ayah memakan anak kandungnya sendiri seperti dalam cerpen PW hanya mungkin terjadi di dunia mimpi. Namun kini, "produk" dunia mimpi itu bisa kita dapati dalam kehidupan nyata. Lalu, manakah dalam kehidupan kita yang sesungguhnya nyata dan manakah yang sesungguhnya mimpi?
Langganan:
Postingan (Atom)
