Our Community

Our Community
Forum Lingkar Pena Depok

Our Event

Our Event
Depok Dalam Puisi

Our Training Program

Our Training Program
BATRE

Our Family

Our Family
Want to be one of us?

Mau Daftar? Klik Gambar Ini!

Tampilkan postingan dengan label Galeri Karya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Galeri Karya. Tampilkan semua postingan

Dialektika Makna Teks dalam Cerpan Mengejar Kupu-kupu

Jumat, 20 Agustus 2010

Esai Denny Prabowo Dimuat di Sabili Dunia anak-anak adalah dunia kertas putih. Dunia kepolosan dan kejujuran. Lingkungan akan menjadi tinta yang menorehkan apa saja di atasnya. Lingkungan yang paling dekat adalah keluarga. Maka keluarga akan sangat menentukan dengan tinta warna apa sebuah kata dituliskan di lembaran kehidupan seorang anak. Anak adalah gelas yang haus air pengetahuan. Cerpen Mengejar Kupu-kupu karya Nurhadiansyah merespon sebuah potret kehidupan seorang anak bernama Aryani dalam sebuah keluarga. Kesibukan membaca koran dan menonton televisi rupanya telah mengalahkan gairah orang tua menungkan air pengetahuan ke dalam gelas (anak) mereka, seperti yang dituturkan dalam paragraf pembuka yang langsung mengantarkan pembaca pada suasana dingin dari sebuah hubungan keluarga. Paragraf yang menggabungkan latar waktu dan tempat, juga peristiwa, disajikan dengan sangat puitis.
Usia pagi masih belia. Matahari baru saja merangkak dari balik ranting-ranting pepohonan. Mega-mega bersepuh susu berarak lambat melintasi cakrawala. Terlihat Aryani berlari-lari kecil mengejar kupu-kupu di halaman rumah yang rumputnya sangat terpelihara. Papanya sedang duduk di beranda membaca koran. Mamanya sedang berada di dalam kamar menonton televisi.
Kupu-kupu bersayap biru yang hadir begitu saja, tanpa permisi, di luar jendela kamarnya, mengusik rasa ingin tahu Aryani, membuat gadis kecil itu melupakan keasyikannya bermain boneka. Mengejar kupu-kupu hingga ke halaman rumah, sebelum kupu-kupu itu membawanya ke depan pintu pagar rumah. Aryani masih sempat menoleh ke arah mamanya yang masih asyik menonton televisi di dalam kamarnya, dan ayahnya yang masih asyik membaca koran di beranda rumah—sebuah peristiwa sederahana yang agaknya tidak terlalu menarik untuk nikmati. Menurut seorang filosof Prancis, Paul Ricouer, makna bahasa selalu bersifat ganda. Makna yang muncul dari dalam hubungan-hubungan yang ada di dalam teks, dinamakan makna teks. Dan makna yang lahir dari hubungan antara teks dengan dunia di luar teks, dinamakan referensi. Dalam prakteknya, dialektika makna teks dan referensi bisa pula dikatakan dialektika makna teks dan peristiwa. Dalam bahasa yang lebih populer, makna teks sangat dekat dengan sifat puitis, sedangkan apa yang dinamakan peristiwa lebih dekat dengan sifat prosais—Saya katakan “sifat” sebab belakangan nyaris sulit dibedakan antar puisi yang prosais dengan prosa yang puitis. Cerpen Mengejar Kupu-kupu tidak bermain pada peristiwa, tetapi lebih menekankan pada kekuatan makna. Kupu-kupu yang digambarkan pengarang dalam cerpen ini tidak bisa dipahami hanya sekedar hewan yang bisa terbang dan memiliki warna indah. Pemahaman semacam itu akan menyebabkan cerpen ini kehilangan makna yang sesungguhnya ingin disampaikan oleh penulisnya. Oleh sebab itu, untuk memahami makna kupu-kupu yang ada dalam cerpen Mengejar Kupu-kupu hanya mungkin dilakukan dengan membaca teks. Dari pemaparan di paragraf awal cerita semestinya kita sudah bisa memahami makna dari kupu-kupu yang dikejar oleh tokoh Aryani.
Papanya sedang duduk di beranda membaca koran. Mamanya sedang berada di dalam kamar menonton televisi. Lalu di mana Aryani ketika itu? ...ia sedang asik bermain boneka sendirian di dalam kamar. Ketika ia melihat kupu-kupu itu, ia langsung berseru,”Kupu-kupu! Kupu-kupu!”, dan ia langsung mengejar. Boneka yang saat itu berada di genggamannya langsung ia lemparkan begitu saja ke atas tempat tidur. Kedua orangtuanya tak ada yang tahu, kalau anaknya telah meninggalkan rumah, mengejar kupu-kupu bersayap biru.
Maka, jelaslah bahwa makna dari kupu-kupu yang sesungguhnya adalah keinginan atau harapan atau impian dari tokoh Aryani akan dekap hangat kedua orantuanya. Sayangnya makna teks yang telah berbicara banyak pada pembacanya dirasa belum cukup oleh penulisnya, sehingga penulis merasa perlu menjelaskan secara verbal lewat dialog salah seorang tokoh yang diucapkan ketika tokoh itu terheran-heran melihat seorang anak kecil berlari-lari seperti mengejar sesuatu, “Barangkali ia mengejar mimpi.” Karena tak ada seorang pun yang melihat kupu-kupu yang dikejar oleh Aryani. Apakah kupu-kupu selalu bermakna harapan atau keinginan atau impian? Dalam cerpen Ada Kupu-kupu, Ada Tamu karya Seno Gumira Ajidarma, kupu-kupu tidak digunakan sebagai metafora dari harapan atau keinginan atau impian, tetapi sebuah pertanda akan datangnya ‘tamu’ yang dalam cerpen itu digambarkan sebagai malaikat maut atau ajal. Makna dari kupu-kupu bisa berbeda-beda tergantung pada pemaparan dalam teks. Setelah pengejarannya, yang sampai membuat kekacauan lalu lintas itu, akhirnya kupu-kupu itu berhenti, sekuat tenaga Aryani melompat. Hap! Aryani berhasil. Kupu-kupu itu kini sudah berada di dalam genggamannya. Karena takut terlepas, Aryani menguatkan genggamannya.
Aryani membuka telapak tangannya dengan sangat hati-hati. Dan tampaklah seekor kupu-kupu yang mengerikan. Sayapnya yang biru itu kini rusak dan patah-patah. Tubuhnya gepeng dan mengeluarkan cairan entah apa. “Hiii...” Aryani membuang kupu-kupu itu dengan perasaan jijik. Tetapi, kupu-kupu itu tak dapat terlepas dari telapak tangannya. Kupu-kupu itu menjadi lengket, merekat, semakin merekat. Aryani merasakan kupu-kupu itu merasuk ke dalam tubuhnya. Tiba-tiba tubuh Aryani mengeluarkan sinar. Putih. Amat putih. Menyilaukan. Setelah itu, sinar itu menghilang dan Aryani berubah menjelma seekor kupu-kupu.
Aryani yang telah bermetamorfosa menjadi kupu-kupu terbang ke rumah sambil menangis. Ketika sampai di depan rumahnya, Ia melihat Ayahnya masih membaca koran di beranda. Mamanya masih asik menonton televisi di dalam kamarnya. Aryani sang kupu-kupu menangis. Kedua orang tuanya tidak ada yang mengetahui bahwa dirinya sudah berubah menjelma seekor kupu-kupu. Adegan-adegan di atas seperti menjelaskan mengapa harus kupu-kupu yang dipakai untuk menganalogikan keinginan atau harapan atau impian Aryani. Kupu-kupu memiliki sayap yang rapuh. Rasanya itu cukup menggambarkan betapa rapuh impian seorang Aryani, serapuh sayap kupu-kupu. Karena setelah dia berhasil meraih kupu-kupu bukannya kebahagiaan yang dia dapati, melainkan kesedihan karena dirinya menjelma menjadi kupu-kupu. Cerpen ini ditutup dengan ending yang sungguh tidak terduga yang sekaligus menjadi kekuatan utama dari cerpen ini. Sebuah teknik penyelesaian yang menimbulkan berbagai penafsiran, mengingatkan saya pada cerpen Karnaval karya Seno Gumira Ajidarma dalam buku Iblis tak Pernah Mati Rumah Cahaya, 30 Maret 2006

Seribu Kunang-Kunang di Kaki Arjuna

Kamis, 19 Agustus 2010

Cerpen Hafi Zha Pagi. Udara dingin menusuk tulang. Kabut masih menutup jalan. Linda masih kelihatan mengantuk, wajahnya kusut dengan rambut panjangnya yang acak-acakan. Matanya setengah terpejam ketika seorang laki-laki separuh baya duduk di sampingnya. ”Permisi, Nak.” ”Oh, monggo[1] Pak.” Segera Linda merapikan dirinya. Tak ingin ia kelihatan kumal di hadapan seorang bapak yang berpakaian rapi dengan peci bertengger di kepalanya. Linda melemparkan senyum ke bapak yang telah duduk di sampingnya. Bapak itu pun membalas senyum Linda. ”Nyuwun sewu[2], Pak. Bapak ke Surabaya juga?” Linda membuka percakapan. Ia berusaha untuk ramah dengan orang yang baru dikenalnya. Ini bisa jadi pelajaran pertama buatku di hari ini, pikir Linda dalam hati. ”Inggih[3], Nak. Nak sendiri?” ”Sama, Pak. Kerja.” ”Cah bagus....” Linda menunggu lanjutan kata-kata bapak itu namun tak kunjung ia dengar. Ia pandangi wajah laki-laki itu yang sekarang berubah muram, seakan ada awan mendung yang menyelimutinya dan siap menurunkan hujan. Linda begitu tertarik untuk terus memandangi wajah yang tidak lagi muda itu, namun ada sesuatu yang tersembunyi di balik gurat-gurat wajah itu. Linda tak meneruskan niatnya, tak sopan pikirnya. Linda mengalihkan matanya ke bawah, mengamati sepatu bututnya yang setia menemaninya pergi kerja. Diliriknya kaki yang ada di sebelahnya. Hitam legam karena sering tersengat matahari dengan urat-urat yang nampak. Bapak ini mestlah seorang pekerja keras. Linda merasakan kerinduan yang membuncah tiba-tiba kepada ayahnya. Tersentak Linda dari lamunannya ketika mendengar laki-laki di sampingnya menghembuskan nafas seakan-akan ada beban yang menghimpit dirinya. Linda kembali menoleh kepada bapak tersebut. ”Cah bagus. Andai saja anakku kayak kamu, Le. Bapak pasti bahagia tenan... la iki cah iku ndak bisa....” Kata-katanya kembali terputus. Bapak itu yang semula tenang menjadi emosi. Linda bingung ketika Bapak tersebut tertunduk dan terisak. Pastilah ada beban yang begitu berat yang disimpan Bapak ini sampai menangis seperti ini. Laki-laki pantang untuk menitikkan air mata di hadapan orang, ayah Linda berpesan kepadanya. ”Pak, Pak, sudah Pak...setiap masalah pasti dikasih jalan keluar sama Gusti Allah.” Linda memberanikan diri menyentuh pundak bapak yang sedang terisak tersebut. Ia heran sendiri ketika ia bisa berkata seperti itu kepada orang yang jauh lebih tua darinya. Aku ini kok sok bijaksana to, pikir Linda. Ia terus berusaha untuk menenangkan bapak di sampingnya. Bayangan ayahnya berkelebat di benak Linda. Inikah yang dulu ayah alami waktu dulu. Suara derum bis mengiringi isakan Bapak yang terus memegang mukanya berusaha untuk menutupi wajahnya yang kelam. Tidak seperti tadi dimana penumpang masih sepi, bis sudah penuh dengan orang-orang yang punya kesibukan masing-masing di hari ini. Remaja putri berseragam putih biru cekikikan bersama teman-temannya, asyik dengan obrolan mereka. Kondektur bus yang berteriak,”Suroboyo, Suroboyo....”. Wanita dengan rok mininya dan make up-nya yang tebal baru saja naik, melempar senyum pada Linda yang memang persis duduk dekat pintu masuk bis. Linda tak membalas karena ia jengah dengan wanita yang berdandan seronok seperti itu. Ah, mungkin itu adalah tuntutan kerjanya tapi mbok ya jangan berlebihan, Linda membatin. Linda kembali menekuri Bapak yang di sampingnya yang isaknya mulai berkurang, mungkin karena sadar ia berada di tempat umum dan setiap saat orang bisa memperhatikannya. ”Maaf, Le. Bapak kebawa perasaan. Bapak ingat anak Bapak, mungkin seumuran kamu, Le.” Linda menghela nafas, barulah dia mengerti apa yang sedang dialami Bapak dihadapannya sekarang. Kembali ia teringat kata-kata ayahnya. ”Kowe iki, cah lanang siji-sijine, ora iso diatur. Ayah Ibumu didik kowe biar dadi wong apik. Ayah iki wis tua, Da, sudah dekat dengan kematian. Sopo sing neruskan usaha Ayah jika Ayah mati, yo kowe, Le.” Malam yang takkan pernah Linda lupakan. Ibu menangis ketika Linda tak jua mau mendengarkan kata-kata Ayah. Srikandi, adik perempuannya juga turut menangis. Terasa hawa rumah membara, siap untuk meledak karena penghuninya saat itu tak ada yang mau mengalah. Linda tetap dengan keinginannya untuk hidup dengan gunung-gunungnya, cintanya pada tempat yang yang tinggi di atas bumi. Linda ingin bebas, hidup dengan impiannya sendiri tanpa ingin diusik dengan urusan-urusan yang mengikat dirinya, termasuk meneruskan usaha meubel Ayahnya. Malam itu juga, Linda memutuskan untuk angkat kaki dari rumahnya. Meninggalkan tangis Ibu dan Srikandi serta nasihat-nasihat Ayahnya. Linda ingin bebas walau ia harus mengorbankan orang-orang dicintainya demi gunung-gunung yang tegak menjulang di muka bumi. Seminggu, dua minggu, sebulan, enam bulan Linda berkelana dari satu gunung ke gunung lain. Hingga sampailah ia di gunung Arjuna. Di sinilah pengembaraan Linda berakhir. Ia serasa menemukan tempat kelahirannya. Linda Arjunaswara bertekuk lutut di kaki Arjuna. Ia tak merasa kalah. Namun sebaliknya ia menemukan kemenangan di sini. Ia mendapat arti hidup yang sebenarnya. Slamet, Gede, Salak, Merapi tak mampu mengantarkannya pada dunia yang tak pernah ia sentuh. Cahaya yang datang menyinari hatinya yang gulita, setitik air yang menyiram kegersangan hatinya, kerinduannya pada Ibu dan Srikandi. Semuanya terobati ketika ia mengenal bidadari di Arjuna. Wulan, wanita yang mampu meruntuhkan tembok kekerasan yang membentengi hati Linda. Wulan yang mengenalkannya pada kedamaian hakiki. Ah, Wulanku, kau bidadariku, penyelamatku. ”Dia ora iso diatur, dinasihati mendhal kabeh. Bapak kepengen dia dadi wong apik. Kerja sing bener. Ora nongkrong-nongkrong lupa waktu, dolin ae... Joko, Joko... saiki ora ngerti cah iku dimana. Bapak wis nyerah nuturi, Le,” Kata-kata Bapak itu terpotong oleh kernet yang berteriak pada penumpang. ”Nusa Dua, Nusa Dua...yo Nusa Dua!” Bis berhenti menurunkan penumpang yang turun di Nusa Dua, termasuk wanita yang berpenampilan seronok tadi. Kembali wanita itu melemparkan senyum kepada Linda, Linda membuang muka. Ia ingat wajah Wulan yang ayu nan lembut di rumah. ”Bapak bangga kalo punya anak kayak kamu. Biar pun dari penampilan rodo sangar tapi mau nyambut gawe, pagi-pagi wis berangkat kerja.” Linda merasa tersindir mendengar kata-kata bapak itu tapi ada perasaan bahagia karena usahanya dihargai. Andai Ayah masih hidup tentu juga bangga melihat aku yang sekarang, pikir Linda. ”Bapak terlalu membesarkan. Saya mesti kerja buat ngasih makan anak istri saya, Pak.” ”O, dadi wis duwe istri to? Yen wis berkeluarga yo mesti tanggung jawab, nyambut gawe. Kerja napa, Le?” “Usaha meubel, Pak. Neruskan usaha Ayah.” “Bagus, bagus….Bapak doakan moga lancar usahane.” “Amin, matur suwun, Pak.” Linda dan Bapak tua terdiam. Sibuk dengan pikirannya masing-masing. Kondektur terus meneriakkan tempat yang dituju oleh penumpangnya. Bis menderu di antara kendaraan-kendaraan lainnya. Membelah arus lalu lintas yang mulai padat. Bis sudah hampir sampai di terminal Bungurasih. Tiba-tiba bapak tua itu menyentuh pundak Linda. ”Bapak turun duluan yo, Le. Hati-hati. Matur suwun mau mendengarkan cerita Bapak. Assalamu’alaikum.” “Sama-sama, Pak. Wa’alaikumsalam.” Bapak itu pun turun bersama penumpang lainnya sebelum bis sampai di Bungurasih. Linda menghembus nafas. Ada kelegaan yang ia rasa. Ia masih sempat menemukan jalan untuk kembali. Jalan kembali menuju harapan-harapan ayah ibunya. Walau tak sempat ayah melihatku yang sekarang, tentu ayah bangga di alam sana. Bis sudah masuk Bungurasih. Hampir jam sembilan, terminal sudah ramai. Penuh dengan penumpang yang masuk dan keluar Bungurasih. Para pedangang asongan, loper koran, calo-calo simpang siur. Di antara laki-laki, perempuan, anak kecil, tentulah para copet sedang bersiap untuk melancarkan aksi mereka. Di sini memang rawan kalau tidak berhati-hati, waspada. Sudah berapa kali bis keluar masuk, suara mesinnya yang membisingkan telinga ditambah dengan musik dangdut koplo yang diputar penjual VCD di emperan terminal, bikin telinga jadi pekak. Lekas Linda mengayunkan langkah menuju angkot yang ia tuju. Salah satu rutinitas yang harus ia lalui tiap pagi sebelum tiba di tempat usahanya. Aku sih betah tinggal di rumah, memandangi Wulan yang makin hari makin cantik, apalagi sekarang Wulan mengandung anak kami yang pertama. Pikiran nakalku main. Ah piye to Linda, kowe mesti nyari duit buat Wulan dan anakmu yang mo lahir. Cepat-cepat Linda naik angkot yang sudah hendak berangkat. Sekali lagi ia merasakan kelegaan. Sore hari. Sehari sudah terlewati oleh Linda. Ia bersemangat untuk segera sampai di rumah. Bertemu dengan Wulan dan kembali mengusap-ngusap perut Wulan. Selepas ashar, Linda sudah berada kembali di dalam bis. Udara sore hari membuat Linda merasa nyaman. Ia hirup dalam-dalam hingga paru-parunya terisi penuh dengan udara yang sejuk. Sama seperti pagi tadi, ia dapat menempati tempat duduk yang duduk dekat jendela. Tempat yang strategis karena ia bisa menikmati pemandangan yang disuguhkan di sepanjang perjalanan pulangnya, di sore hari. Linda kembali teringat Bapak yang ia temui di bis pagi tadi. Tak sempat ia menanyakan alamatnya. Jika aku tahu alamatnya tentu sekali waktu aku bisa datang berkunjung, sekedar menghibur beliau. Bis telah masuk Lawang. Linda terpaku pada pemandangan alam di luar bis. Ia lirik arloji yang menempel di pergelangan kirinya, lima lima belas. Sebentar lagi lukisan alam akan disuguhkan kepadanya. Linda hafal benar kapan pemandangan itu akan tampil penuh dengan pesona. Cahaya itu menghidupkan hatinya. Tingginya mengingatkan ia terhadap kuasa Tuhan. Keindahannya membuat ia tak henti bersyukur. Saat ini belum ia temukan suguhan yang sebenarnya. Sebentar lagi...ya sebentar lagi. Dan... Ya akhirnya, lukisan alam kini terhampar di depan matanya, ia lihat seutuhnya. Cahayanya yang tersebar di kakinya. Berkelap-kelip seolah-olah kunang-kunang yang hinggap di hijaunya batang pohon yang besar. Berkelap-kelip di kaki Arjuna. Arjuna, tempat ia menemukan cahaya yang sesungguhnya, tempat ia menemukan belahan hatinya, tempat ia merasa terlahir kembali dengan nama yang ia bangga menyandangnya, Linda Arjunaswara. Beberapa saat Linda terhanyut dalam keasyikannya menikmati Arjuna dengan kelap-kelip kunang-kunang di kakinya. Tiba-tiba pundaknya ditepuk dengan sangat lembut dari samping. Tersentak Linda dari keasyikannya. Menoleh ke sumber tepukan tadi. ”Pa Kabar, Nak?” Bapak yang tadi pagi? Linda menjerit dalam hati. Kapan beliau naik, rasanya bis tidak berhenti menaikkan penumpang. ”Eh...Bapak, saya kira sapa, Pak.” Bapak itu tersenyum Senyumnya kali ini tampak lebih lepas. Pecinya masih bertengger rapi di kepalanya. Sorot matanya tak lagi menyiratkan kegelisahan. Linda kembali merasa lega. ”Alhamdulillah, baek, Pak.” ”Alhamdulillah....” ”Bapak badhe wangsul?” Linda merasa kikuk mendapatkan tatapan lembut Bapak tua itu. Kembali ia teringat Ayahnya. Bapak tua itu mengangguk pelan dengan senyum yang terus menghias wajah keriputnya. ”Ya, Le. Wangsul. Bapak lega, Le. Kepulangan Bapak pasti ditunggu istri Bapak. Bapak senang bisa kumpul lagi dengan istri Bapak. Sudah setahun kami ndak bersama-sama.” Linda mengernyitkan dahi. Tidak berkumpul selama setahun, emangnya istrinya dimana? Linda merasa ada kejanggalan tapi ia tak bernai bertanya lebih lanjut. Takut mencampuri urusan pribadi orang. ”O.... Memang, Pak, seharian ndak ktemu ma istri dadi kangen, Pak.” Keduanya tertawa. Linda sempat melihat perempuan yang duduk di depannya menoleh padanya. Tatapan matanya aneh. Begitu juga dengan laki-laki yang duduk paling depan, turut menatapnya dengan heran. Linda tak mengacuhkan mereka. Kembali ia berbicara dengan Bapak tua. ”Bapak turun dimana?” ”Di depan, sebentar lagi.” Linda kebingungan melanjutkan percakapannya dengan Bapak tua. Seolah-olah mengerti apa yang ada dibingungkan oleh Linda, Bapak itu kembali berceloteh. ”Dari tadi Bapak perhatikan, kamu ngliatin Arjuna trus. Pernah ke sana to?” Linda tertegun. Darimana Bapak ini tahu kalau aku sedang memperhatikan Arjuna? Rasanya belum sampai lima menit Bapak ini duduk di sini. Aneh. Linda menepis rasa penasarannya. Sempat ia lirik jam di tangannya, hampir pukul enam. Adzan maghrib pun sudah dikumandangkan. ”Oh...dulu pernah, Pak. Di sanalah saya ktemu dengan istri saya.” ”Oalah...makane serius tenan ngliatin Arjuna.” Bapak itu kembali tersenyum. Sungguh sangat berbeda dengan sosoknya yang dijumpai Linda tadi pagi. Tapi, Linda menangkap ada hal yang aneh dari sosok laki-laki di hadapannya. Sedari tadi memang Bapak itu tersenyum dan wajahnya tampak bahagia, namun semua itu tidak menutupi kepasiannya. Wajahnya putih pasi. Seakan disinari oleh cahaya yang entah darimana datangnya. Seperti cahaya kunang-kunang di kaki Arjuna, Linda betah untuk menerima cahaya yang memancar dari wajah Bapak tua itu. ”Nyuwun sewu, Bapak sakit? Wajah Bapak pucat.” Bapak itu tetap tenang, tak lupa senyumnya masih bertengger di bibirnya yang hitam. Tiba-tiba Bapak itu mengarahkan telunjuknya ke arah Arjuna. Kontan Linda mengikuti arah yang ditunjuk oleh Bapak itu. Dilihat oleh Linda, Arjuna tampak semakin gagah. Di keremangan cahaya senja, Arjuna menjadi misterius. Senja yang indah dengan kelap-kelip cahaya lampu neon dari rumah di kaki Arjuna. Seratus, lima ratus, tujuh rarus, atau bahkan seribu cahaya yang menghias Arjuna. Kunang-kunang yang indah, membuat Arjuna semakin indah. Linda takjub, seakan ia menyatu dengan apa yang terhampar di depannya sekarang. Ia adalah bagian dari semua itu. Akan ia ceritakan sesampainya di rumah kepada istrinya tentang apa yang dilihatnya sekarang ini. Khusyuk Linda terusik oleh teriakan kernet, bis berhenti menurunkan penumpang. Yang turun adalah seorang perempuan. Linda lantas berpaling hendak berbicara kepada Bapak tua. Namun, Bapak tua tak ada lagi di sampingnya. Linda terkaget, kapan beliau turun? Linda melihat ke sekelilingnya, mungkin saja Bapak tua itu pindah tempat duduk yang lebih nyaman. Tidak ada. Linda hanya mendapati kembali tatapan aneh dari laki-laki yang duduk di depannya. ”Napa, Mas? Wis sadar ta? Dari tadi saya liat Mas ngomong dhewe...Sudah saya tegur tapi Mas ndak merhatiin.” Laki-laki itu geleng-geleng kepala, tersenyum seakan menertawakan kebodohan Linda. Ngomong sendiri? Linda semakin bingung, dia tadi sedang bercakap-cakap dengan Bapak tua itu, kenapa dia dianggap ngomong sendiri. ”Saya ndak ngomong sendiri kok, Pak. Tadi ada Bapak tua ngobrol-ngobrol ma saya. Mosok Bapak ndak liat?” “Mas iki ojo ngawur to? Capek yo capek, Mas, tapi ojo dadi wong sing ndak waras.” “Bener, Mas. Mas dari tadi ngomong sendiri. Saya juga dah negur Mas...eh tapi ndak digubris.” Perempuan yang juga tadi melihat Linda dengan tatapan aneh ikut memberikan penjelasan kepada Linda. Linda semakin tidak mengerti. Ia merasa benar-benar sedang bercakap-cakap dengan Bapak tua itu. Lalu bapak itu kemana sekarang. Apa memang benar aku ngomong sendiri yo? Linda merasa ia terbawa perasaannya, rindu terhadap sosok ayahnya yang terwakili dengan hadirnya Bapak tua tadi. Itulah yang ada di benak Linda sekarang. Ia tak habis pikir, kenapa ia menjadi seperti ini. Dua orang yang mengatakannya berbicara sendiri. Apakah tidak cukup kuat untuk membuktikan itu semua. Linda menggeleng-gelengkan kepalanya. Menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Ia membuang muka ke jendela. Arjuna sudah tak kelihatan lagi. Di luar hari semakin gelap. Dengan rasa penasaran yang masih tersimpan di kepalanya. Arjuna bangkit dari tempat duduknya. Ia akan turun di depan. Sebelum beranjak, laki-laki yang tadi berpesan kepadanya, ”Hati-hati, Mas. Ojo nglamun ae...engku kesambet.” Linda tersenyum kecut padanya. Linda berdiri dekat sang kernet dan memberi isyarat agar bis berhenti di depan. Namun, bis direm mendadak oleh si sopir. Linda terkejut, untung pegangannya cukup kuat pada palang besi. ”Oalah...ono kecelakaan ning ngarep.” Si sopir berbicara keras. Sengaja agar penumpang tahu apa yang mengakibatkannya mengerem bis tiba-tiba. ”Turun di sini saja, Mas. Daripada turun di depan.” Akhirnya Linda turun sebelum tempat dimana seharusnya ia turun. Linda berjalan menyisiri jalan yang lumayan macet gara-gara ada kecelakaan tersebut. Polisi sibuk mengatur lalu lintas agar tidak bertambah macet. Orang-orang ikut-ikutan meramaikan kemacetan itu. Mereka penasaran dengan korban yang ternyata masih ada di sana. Linda heran kenapa orang-orang tidak merasa ngeri, mereka malah mencari-cari tahu si korban yang telah ditutupi koran. Tabrak lari. Laki-laki tua ditabrak kijang yang ngebut. Selintas Linda mendengarnya sembari ia terus berjalan menuju perhentian angkot di depan. Linda tidak terlalu menghiraukan situasi itu, ia terus berjalan sembari mengingat-ingat kejadian di bis tadi. Langkahnya terhenti ketika ia melihat sebuah peci hitam. Peci yang tergeletak di pinggir jalan, tak jauh dari tempatnya berdiri. Ia langsung teringat bapak tua dengan pecinya. Ia berlari kembali ke tempat korban kecelakaan yang sudah ia lalui. Terlambat. Korban mulai diangkat ke ambulance. Di tengah desakan orang-orang, Linda menangkap wajah korban yang kainnya tersingkap. Tidak jelas memang. Tapi wajah itu disinari cahaya yang entah darimana datangnya. Wajah yang ia dapati tadi di bis.
Jombang di siang hari, 12 Juni 2006
Footnote [1] silahkan [2] permisi [3] iya

Sepasang Mata untuk Cinta yang Buta

Selasa, 10 Agustus 2010

Cerpen Noor H. Dee Dimuat dalam buku Sepasang Mata untuk Cinta yang Buta (Lingkar Pena Publishing House, 2008) Seperti biasa, setiapkali aku datang, mereka selalu memintaku untuk bercerita. Kali ini mereka menyuruhku untuk membawakan sebuah cerita yang tidak masuk akal. Alasannya apa, aku tidak tahu. “Ceritakanlah kepada kami tentang sesuatu yang tak dapat diterima oleh akal.” Begitu pinta mereka tadi. Maka aku pun bercerita tentang Cinta yang buta.
*
Cinta lahir tanpa mata. Itu sebabnya Cinta tidak pernah tahu seperti apa rupa cahaya. Hanya kegelapan yang selalu menyertai kehidupannya. Pagi, siang, senja, malam, baginya sama saja. Gulita. Tetapi, seiring dengan berjalannya sang waktu, akhirnya Cinta mengerti juga betapa pagi dan malam tidaklah sama. Cinta mengetahui hal itu melalui semesta suara. Suara-suara di pagi hari amatlah berbeda dengan suara-suara yang didengarnya di malam hari. Cinta memang buta, tetapi Cinta masih memiliki kedua telinga untuk mendengar segala jenis suara. Cinta mengetahui banyak hal dengan mendengar. Cinta melihat dunia dengan kedua telinga. Cinta adalah seorang gadis yang buta. Rambutnya sebahu, hitam, dan bergelombang. Hidungnya mancung dan bibirnya berwarna merah, semerah buah tomat. Kulit tubuhnya halus dan putih, seputih sekumpulan awan-gemawan yang selalu bergulung-gulung melintasi cakrawala. Belum lagi leher, dada, dan kakinya yang terlihat begitu indah dan menakjubkan untuk dimiliki oleh seorang gadis seusianya. Seandainya, ya, seandainya saja ada seorang laki-laki yang tanpa sengaja menyaksikan tubuh gadis tuna-netra itu tanpa busana, tentu laki-laki itu dengan sekejap bisa lupa diri dan akan langsung menggarap tubuh Cinta yang indah dan menakjubkan itu dengan begitu rakus, begitu maruk, begitu membabibuta tanpa sempat berpikir tentang dosa dan neraka. Cinta memang cantik. Cinta memang memiliki tubuh yang bisa dikatakan hampir sempurna. Tetapi, apakah itu masih begitu penting bagi dirinya yang tidak memiliki mata? Cinta tidak pernah bisa tahu secantik apa wajahnya. Cinta tidak pernah bisa tahu sesempurna apa tubuhnya. Meskipun sejuta cermin sudah berdiri tegak mengelilinginya, mengepung tubuhnya dari berbagai sudut penjuru, Cinta tetap tidak pernah mampu untuk menatap wajah dan tubuhnya sendiri. Jangankan untuk menatap wajahnya sendiri, untuk sekadar melirik setitik cahaya yang berada di ujung kegelapan pun Cinta tidak pernah sanggup. Itu sebabnya Cinta sering merasa sedih setiap kali Ratih, wanita yang sangat dikasihinya itu, memuji kecantikannya. “Kamu cantik, Cinta.” “Sudah ratusan kali kamu berkata seperti itu, Ratih. Terus terang aku sudah tidak terhibur lagi. Aku sedih setiap kali kamu berkata seperti itu. Katakanlah itu kepada mereka yang memiliki mata.” “Tapi kamu memang cantik, Cinta. Sungguh, aku tidak berbohong.” “Percuma, Ratih. Aku tidak akan pernah bisa mengetahuinya. Aku kira kamu hanya ingin menghibur hatiku saja. Kamu tahu aku memiliki kekurangan, kamu tahu aku cacat, lantas kamu merasa iba kepadaku. Kamu bilang wajahku cantik, agar aku bisa sedikit melupakan kecacatan diriku, bukan? Kamu hanya menghiburku, Ratih. Kamu hanya ingin menghiburku.” “Astaga! Mengapa kamu sampai berpikir seperti itu, Cinta?” “Entahlah, aku juga tidak tahu mengapa.” “Kamu cantik, Cinta. Kamu cantik dan aku tidak berbohong akan hal itu.” “Ah, seandainya aku juga tahu…” “Cinta.” “Hmm.” “Aku mencintaimu, Cinta.” Tentu saja Cinta juga mencintai Ratih. Dari bibir Ratih, Cinta jadi tahu lebih banyak tentang dunia. Setiap hari Ratih memang selalu bercerita. Ada kalanya Ratih bercerita tentang laut, rembulan, matahari, dan bintang. Ada kalanya juga Ratih bercerita tentang gunung, hutan, bunga, dan rerumputan. Melalui kisah-kisah yang diutarakan Ratih itulah akhirnya Cinta bisa tahu bahwa gajah adalah binatang bertubuh besar yang memiliki telinga lebar dan berhidung panjang. Gara-gara cerita dari Ratih itulah akhirnya Cinta bisa menduga-duga seperti apa rupa kupu-kupu, semut, kucing, dan segala jenis fauna lainnya. Cinta mencintai Ratih dalam kegelapan. Dalam kegulitaannya itulah Cinta merasa betapa Ratih begitu berharga bagi dirinya. * Cinta lahir tanpa mata. Itu sebabnya Cinta terkurung di dalam kamarnya. Kedua orangtuanya adalah sepasang manusia yang menuhankan kesempurnaan. Kehadiran Cinta di dalam keluarga tentu saja tidak diharapkan. Meskipun Cinta lahir sebagai bayi yang cantik, lucu, dan menggemaskan, tetap saja ada sebongkah kekecewaan di dalam hati kedua orangtuanya. Cinta lahir tanpa mata, sehingga kedua lubang matanya itu tampak kosong serupa lorong hampa yang gulita. Bayi yang lahir tanpa mata adalah bayi yang tidak sempurna. Tidak sempurna adalah cacat. Cacat adalah aib, dan aib itu tentu saja memalukan. Itu sebabnya Cinta selalu dikurung di dalam kamarnya tanpa di beri kebebasan. Kedua orangtuanya tidak dapat membayangkan apa jadinya jika ada masyarakat yang mengetahui bahwa mereka memiliki anak yang cacat. Waktu terus merambat. Cinta yang sejak bayi tidak pernah merasakan air susu ibunya itu pun akhirnya menjadi seorang gadis remaja. Cinta besar di dalam kamar. Terpasung seperti seorang gadis gila yang celaka. Cinta yang sebelumnya menganggap bahwa dunia ini hanyalah semesta kegelapan, lambat laun akhirnya Cinta mengerti juga betapa dunia ini sebenarnya tidaklah gelap, melainkan penuh warna. Cinta tahu itu dari Ratih yang setiap hari selalu membantu keperluan dirinya: memberikan makan dan minum, membereskan pakaiannya, dan mengantarkannya ke toilet jika Cinta ingin buang air besar maupun kecil. “Mengapa aku tidak bisa melihat, Ratih?” tanya Cinta kepada Ratih. “Karena kamu tidak memiliki mata,” jawab Ratih. “Apakah kamu memiliki mata, Ratih?” “Ya, aku memiliki mata.” “Kamu bisa melihat?” “Ya, aku bisa melihat.” “Mengapa aku tidak memiliki mata, Ratih? Mengapa aku tidak bisa melihat?” Saat itu Ratih tidak menjawab apa-apa. Ratih hanya bisa memeluk tubuh Cinta dengan begitu erat, sambil membisikkan sesuatu di telinga kanan milik Cinta, ”Semua ini sudah ada yang mengatur, Cinta. Kita tidak akan bisa berbuat apa-apa lagi selain menjalaninya.”. Begitulah. Cinta pun tumbuh menjadi seorang gadis remaja yang selalu ingin banyak tahu. Setiap kali Cinta mendengar sesuatu, kicau burung misalnya, Cinta selalu bertanya kepada Ratih: suara apakah itu? Seperti apa bentuknya? Mengapa suaranya seperti itu? Lantas, Ratih akan menjawab panjang lebar, terkadang ditambah dengan sedikit lelucon segar yang selalu saja membuat Cinta tertawa atau setidaknya tersenyum riang. Ratih memang pandai bercerita. Setiap kali Cinta bertanya, Ratih selalu menjawab. Setiap ada sesuatu hal yang Cinta tidak mengerti, Ratih selalu menjelaskan. Begitulah selalu. Dari waktu ke waktu. Sehingga, entah mengapa, pada akhirnya Cinta dan Ratih pun saling menyukai dan ingin saling memiliki.
*
Cinta mencintai Ratih dalam kegelapan. Dalam kegulitaanya itulah akhirnya Cinta merasa tersiksa. Itu sebabnya, pada suatu malam yang anginnya terasa begitu dingin menggigilkan tulang, Cinta mengatakan kepada Ratih betapa dirinya ingin sekali memiliki sepasang mata. “Berikan aku sepasang mata, Ratih.” Sejenak Ratih terdiam. Tentu saja Ratih tidak bodoh, sehingga Ratih tidak menanyakan alasan apa Cinta ingin memiliki sepasang mata. Tentu saja agar bisa melihat. Ratih tahu itu. Ratih hanya bisa bertanya, “Kapan?” Cinta menjawab, “Sekarang. Aku sudah jenuh dengan kebutaan mataku, Ratih. Aku juga ingin melihat dunia yang kamu lihat. Aku ingin melihat rembulan dan bintang gemintang. Aku ingin melihat kupu-kupu, kucing, dan gajah yang katamu berhidung panjang itu.” Ratih tersenyum. “Hanya itu?” tanya Ratih kemudian. Cinta mengangkat kedua telapak tangannya, meraba-raba udara, mencari-cari letak wajah Ratih yang sedang berada di hadapannya. Disentuhnya wajah Ratih itu dengan amat lembut dan perlahan. Ada yang bergerak-gerak di dalam dada Ratih ketika merasakan kedua telapak tangan Cinta yang halus itu meraba-raba kedua pipinya. “Tentu saja aku juga ingin melihat wajahmu, Ratih. Aku ingin tahu seperti apa bentuk matamu, kupingmu, juga rambutmu.” “Aku juga ingin kamu bisa melihat wajahku, Cinta. Aku ingin kamu tahu seperti apa bentuk mataku, kupingku, juga rambutku.” “Itu sebabnya, berikan aku sepasang mata.” “Agar bisa melihat dunia?” “Agar bisa melihat dunia.” “Agar bisa melihatku?” “Agar bisa melihatmu.” “Cinta…” “Hmm.” “Akan aku berikan sepasang mata untukmu.” “Kapan?” “Sekarang. Saat ini juga.” “Sungguh?” “Apakah aku pernah tidak bersungguh-sungguh kepadamu?” Cinta menggelengkan kepalanya. “Sepasang mata milik siapakah yang akan kamu berikan untukku, Ratih?” tanya Cinta kemudian. “Milikku.” Cinta terdiam. Cinta menarik nafas dalam-dalam. Cinta merasa segalanya menjadi begitu lengang. “Mengapa kamu terdiam, Cinta? Adakah yang salah dengan ucapanku?” “Mengapa kamu rela mengorbankan sepasang matamu itu untukku?” Ratih tidak langsung menjawab. Dengan perlahan, Ratih mencongkel bola mata kirinya dengan jari telunjuknya. Astaga! Tidak ada setetes darah pun yang keluar dari lubang matanya itu. Ajaib! “Aku rela memberikan mataku ini untukmu, karena aku mencintaimu, Cinta.” Ratih membuka kelopak mata Cinta, lantas memasukkan bola mata kirinya ke lubang mata kiri Cinta yang kosong itu dengan amat perlahan. Setelah berhasil, Ratih buru-buru menutup kembali kelopak mata Cinta. “Jangan kamu buka dulu matamu sebelum keduanya terpasang.,” ujar Ratih lembut. Cinta mengangguk. Kemudian, Ratih mencongkel bola mata kanannya dengan jari telunjuknya. Kali ini Ratih amat hati-hati. Seperti tadi, tidak ada setetes darah pun yang mengalir. Setelah bola mata kanannya berhasil dicongkel, Ratih pun menjadi buta. Kegelapan menyelimuti dirinya. Untung saja Ratih sudah tahu seperti apa seharusnya letak bola mata itu ditaruh, sehingga Ratih tidak keliru ketika memasukkan bola mata kanannya itu ke dalam lubang mata Cinta. Sepasang mata milik Ratih pun akhirnya berhasil pindah tempat ke lubang mata milik Cinta. Dengan letak dan posisi yang sempurna. “Sekarang, coba buka kedua matamu dengan perlahan,” pinta Ratih dengan suara yang amat halus. Cinta menarik nafas dalam-dalam. Cinta membuka kedua matanya dengan perlahan. “Bagaimana? Apakah kamu bisa melihat wajahku?” tanya Ratih kemudian. Cinta tidak menjawab apa-apa.
*
“Tamat,” ujarku, sambil membenarkan letak topi hijauku. Sejenak mereka terdiam. Mereka menatapku dengan pandangan mata bertanya-tanya. “Apakah akhirnya Cinta bisa melihat?” tanya mereka dengan raut wajah penasaran. Aku mengambil sebatang rokok dari dalam saku jaketku, menyelipkannya di antara celah bibirku, lantas membakarnya. Sekepul demi sekepul asap membumbung di udara. “Menurut kalian, bagaimana?” tanyaku kemudian, sambil berdiri dan beranjak pergi.
Depok, Februari-Maret 2006

Lomba Cerpen

Cerpen Dhinny El Fazila Azra dan Silvy baru aja keluar kelas setelah pelajaran bahasa Indonesia yang ngebosenin. Buat Azra dan Silvy pelajaran bahasa Indonesia di jam menjelang pulang sama aja dengan dongeng sebelum tidur. Syukur kalo mereka nggak sampe tidur di kelas. Anak-anak lain udah bertebaran di luar kelas. Ada yang langsung pulang, ada juga yang sholat zuhur dulu di musholla sekolah. “Huah…! Untung tadi aku nggak tidur. Kalo nggak aku bisa kena setrap sama Bu Sofi.” Azra bicara setelah menguap. “Tau tuh. Kenapa sih harus ada pelajaran dia, aku sih mending disuruh tidur siang daripada ikut pelajaran dia.” Sahut Silvy. “Ye...semua orang juga bakal milih gitu kali,” sungut Azra mendengar pernyataan temannya yang sama sekali nggak berbobot. Tiba-tiba pandangannya tertuju pada papan pengumuman milik anak ekskul mading. “Eh, apaan tuh, Vy?” Mereka berjalan mendekati papan. Tertempel sebuah kertas pengumuman tentang lomba cerpen berhadiah uang tunai sepuluh juta. “Lomba cerpen buat pelajar. Total hadiahnya satu setengah juta. Lumayan Zra,” “Temanya apa?” “Bebas, yang penting bagus.” “Ikutan yuk, siapa tau menang. Bisa buat beli bakso seember,” “Yah...tapi aku nggak bisa bikin cerpen.” “Ya udah, kalo kamu nggak mau aku aja yang ikutan.” “Emang kamu bisa?” “Bisa.” “Masa?” “Bisa kalah maksudnya, hehe...” “Dasar!” Silvy mencubit pinggang temannya. Azra bermaksud menghindar tapi kalah cepat. “Tapi serius mo ikut?” “Emang kenapa?” “Aku bantuin deh,” “Serius?” “Serius dong, masa bo’ong.” “Mo bantu apa?” “Bantu doa aja ya,” “Dasar!” “Hehehe...satu sama!”
***
Azra sama sekali nggak konsentrasi ngedengerin Bu Azifa ngejelasin teori relatifitas einstein. Pikirannya terbang kemana-mana. Pandangannya menerawang menembus dinding kelas. Dia masih mencari-cari ide buat cerpen. “Zra, sst..kamu kok bengong sih?” Silvy menyenggol kaki Azra dengan kakinya. Tapi Azra cuma diam. “Zra, Zra,” panggil Silvy lebih keras. Tapi Azra tetap bungkam. “Zra, ntar dipanggil Bu Azifa lho.” Kata Silvy. Lebih keras dari yang tadi. Azra masih diam. Meski ruhnya sudah terbang kemana-mana mencari ide, tapi sayup-sayup dia masih bisa mendengar penjelasan Bu Azifa tentang teori relatifitas yang menjelaskan mengapa seorang astronot yang pulang dari bertugas keluar angkasa akan mendapati keadaan di bumi sudah berubah total. Astronot itu akan mendapati anak-anaknya yang masih kecil tiba-tiba sudah punya anak lagi. Hal itu yang sedang dijelaskan Bu Azifa dengan teori relatifitas. Tiba-tiba Azra dapat ide untuk buat cerpen science fiction tentang teori relatifitas. Lalu tanpa diduga Azra berteriak, “Oh, iya!” Sontak seisi kelas melihat ke arahnya. Tapi yang paling kaget Silvy. “Zra, kamu apa-apaan sih?!” Silvy panik karena semua mata masih tertuju padanya dan Azra. “Apanya yang oh iya Azra?!” Tanya Bu Azifa tegas dengan mata melotot. “Eh, eng...nggak Bu.” Azra gugup. “Apanya yang enggak! Jelas-jelas kamu tadi teriak sampai membuyarkan konsentrasi saya!” Azra tertunduk malu sekaligus takut. Bu Azifa memang dikenal sebagai guru killer. Kalo udah marah seisi kelas bisa jadi korban. “Azra, dari tadi ibu perhatikan kamu melamun terus. Sekarang kamu maju kerjakan soal di papan tulis.” Seisi kelas mengurut dada tanda syukur. Biasanya Bu Azifa kalo marah langsung pergi ninggalin kelas terus ngasih soal yang bejibun banyaknya. Mungkin hari ini moodnya lagi enak. Tinggal Azra yang kelimpungan karena dari tadi dia sama sekali nggak dengerin penjelasan Bu Azifa. Di depan kelas dia cuma berdiri mematung. Semenit, dua menit Bu Azifa nunggu dia ngerjain soal, tapi tetep aja dia nggak bisa nulis apa-apa. “Azra! Kamu gimana sih! Masa soal mudah kayak gitu kamu nggak bisa jawab?!” Azra menunduk pasrah. “Sebagai hukumannya, kamu harus mengerjakan soal-soal fisika yang ibu buat sebagai PR. Nanti sebelum pulang kamu ambil soalnya di ruangan ibu. Sekarang kamu duduk!” Azra kembali ke kursinya dengan lemas.
***
Azra masih asik menuliskan idenya yang didapat dari Bu Azifa tadi siang di atas selembar kertas kosong. Sayang, baru sampai paragraf ke tiga, pikirannya buntu lagi. Sambil mencari ide, Azra kembali memandang langit-langit. “Duh, kayaknya science fiction butuh banyak referensi. Mama punya nggak ya?” Azra beranjak dari tempat tidurnya menuju ruang nonton TV dimana papa dan mamanya lagi asik nonton teledrama asia. “Ma...!” “Kenapa sayang?” “Mama dulu kuliah di MIPA kan?” “Iya, emang kenapa?” “Punya buku tentang teori relatifitas nggak?” “Ada di gudang, buat apa say? Tumben kamu rajin mau baca-baca gituan.” “Ada deh...” Azra senyum-senyum. “Ya udah, cari aja di gudang.” “Thanks ya Ma,” Azra melesat ke gudang. Membongkar tumpukan buku-buku berdebu. Sesekali ia terbatuk dan bersin-bersin. Malah waktu dia buka satu buku di dalamnya sudah nangkring seekor kecoa yang sudah gepeng. “Hia...!!!” Mama dan papanya serentak teriak dari ruang tengah. “Kenapa Zra?!” “Nggak kok, cuma kecoa!” Azra kembali melanjutkan pencariannya. Tapi tak sampai satu jam, ia bosan sendiri. “Hah...capek. Nggak jadi buat cerpen science fiction ah. Susah!” Ia kembali ke kamarnya. Baru saja ia hendak memejamkan mata, tiba-tiba HP nya berbunyi. Sebuah SMS masuk. Ass. Lagi ngapain? Tugas fisikanya udah dikerjain belom. Met ngerjain ya, hehehe...makanya lain kali jangan ngelamun di kelas. Sender : Silvy 08564596357 “Ya ampuuunnn...!!! Aku lupa ngerjain!”
***
Azra dan Silvy sibuk menulis sesuatu di buku tulisnya sementara Pak Burhan masih sibuk menerangkan rumus-rumus phytagoras. Bedanya, Silvy menulis apa yang ditulis Pak Burhan di papan tulis, sedang Azra sibuk menulis ide yang udah didapet tadi pagi waktu dia mau berangkat sekolah. Sayangnya, baru dua halaman, dia udah ngerasa tulisannya nggak bagus. Kemudian kertasnya langsung dia remas lalu ditaro gitu aja dikolong meja. Kolong meja emang jadi tempat buang sampah yang paling asik buat anak-anak sekolah. Praktis, nggak perlu jauh-jauh jalan keluar kelas. Walhasil, berbagai macam sampah mulai dari kertas nggak kepake, sampe permen karet bekas dikunyah semuanya nempel di kolong meja. Bel pulang berdentang lantang. Pak Burhan menyudahi pelajarannya. Ketua kelas menyiapkan anak-anak sekelas. “Siap! Berdoa!” Anak-anak menundukkan kepalanya ke meja. “Selesai!” Anak-anak mengangkat kepalanya lagi. “Memberi salam!” “Assalammualaikum warahmatullahi wabarakatuh.” Sahut anak-anak serempak.
***
“Vy, kayaknya aku nggak jadi ikut lomba itu deh. Aku bener-bener nggak ada ide.” “Bener Zra?” Azra mengangguk. “Kamu yakin?” Azra mengangguk lagi. “Kamu bener-bener yakin?” Azra jadi kesel. “Iya! Emang kenapa sih?!” “Alhamdulillah...akhirnya. Syukur deh, temen aku normal lagi.” “Enak aja! Emang aku gila!” Mereka tertawa berdua. Sementara itu di kelas Azra dan Silvy, beberapa anak masih belum pulang. Hari ini jatah mereka piket. Sebenernya jadwal piket mereka besok. Tapi kesepakatan kelas dua lima, kelasnya Azra dan Silvy, yang piket besoknya udah harus bersihin kelas sehari sebelumnya waktu pulang sekolah biar besoknya nggak repot lagi. Waktu lagi bersih-bersih kolong meja, Rifky, salah satu dari yang piket nemuin kertas dari kolong meja Azra. Sebelum dibuang dia baca-baca dulu. Isinya cerpen Azra yang setengah jadi. Setelah baca, dia langsung senyum-senyum. Setelah piket selesai, dia langsung pulang naik motor. Rumahnya emang agak jauh dari sekolah. Selain itu keluarga Rifky termasuk orang berada sehingga bisa membelikannya motor meski Rifky masih SMP. Sore hari dirumahnya, ia melihat Pak Kasim supir ayahnya sedang mencuci mobil. “Pak Kasim, selesai cuci mobil, tolong anter surat ini ke kantor pos ya.”
***
“Zra, liat tuh! Pengumuman pemenang lomba cerpennya udah dipasang, liat yuk.” Silvy menarik tangan Azra. Azra mengikutinya dengan malas. Yang pasti yang menang bukan aku... ya iyalah, aku kan nggak ikut. Pengumuman lomba udah diganti dengan pengumuman pemenang. Silvy melihat dengan semangat.
Pemenang lomba cerpen pelajar dalam rangka menyambut HUT RI ke 70 Juara I Rifky Handayani SLTPN 1000 Depok Juara II Simphoni Nada Harpha SLTPN 28 Malang Juara III Nasca Feliccia Oscar SLTPN 3 Jakarta
***
Sementara itu, seorang pemulung yang biasa mengangkut sampah dari bak sampah di depan rumah Azra terlihat asik membaca sampah kertas-kertas yang sudah diremas jadi bola. Di kertas-kertas itu, tersimpan cerpen-cerpen setengah jadi Azra. taMat

Video Pelatihan