Our Community

Our Community
Forum Lingkar Pena Depok

Our Event

Our Event
Depok Dalam Puisi

Our Training Program

Our Training Program
BATRE

Our Family

Our Family
Want to be one of us?

Mau Daftar? Klik Gambar Ini!

Tampilkan postingan dengan label Angkatan I. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Angkatan I. Tampilkan semua postingan

Sang Penulis

Minggu, 17 April 2011

Cerpen Noor H. Dee Dimuat di Koran Tempo, 17 April 2011

PENULIS itu mencopot kedua tangannya dan membuangnya ke tempat sampah. Kedua tangannya menggelepar sebentar lantas diam seperti tangan orang pingsan.

Ia mencopot kedua tangannya begitu saja. Tidak dengan pisau dan semacamnya. Tak ada darah yang membuncah dan semacamnya. Tak ada luka yang menganga dan semacamnya. Ia memperlakukan tubuhnya seperti lego yang dapat dicopot dan dibuang semaunya.

Ada kegetiran yang begitu abstrak, yang tak bisa ia katakan, dan ia mengerti bahwa sejak dahulu kata-kata memang seperti itu: tidak pernah bisa diandalkan untuk menjelaskan segala hal. Kata-kata hanyalah sebuah usaha untuk mendekati kebenaran, tapi selalu berhenti di titik hampir. Ia mengerti sekali akan hal itu.

Ia sudah bertahun-tahun menjadi penulis. Setiap detik ia selalu bergumul dengan kata-kata yang tidak pernah setia: menemukannya, mendedahnya, membongkarnya, dan meragukannya. Itu sebabnya ia tidak tahu mesti berkata apa ketika menyaksikan kedua tangannya teronggok di tempat sampah. Seperti kesedihan tapi bukan itu, seperti kebahagiaan tapi itu pun masih kurang tepat. Entahlah. Ia hanya bisa diam, dan ia merasa betapa diam ternyata masih lebih baik dari segala macam kata yang pernah manusia temukan. Alasan mengapa ia membuang kedua tangannya ke tempat sampah cukup sederhana: ia tidak ingin menulis lagi.

Sebenarnya sudah lama sekali ia ingin berhenti menulis. Pena dan kertas telah ia buang, laptop-nya telah ia hibahkan kepada kekasihnya yang gemar berkata-kata kotor, dan buku-buku yang sekiranya dapat membangkitkan gairah menulis sudah ia bakar di halaman belakang dengan menggunakan beberapa batang korek api dan setengah liter minyak tanah. Tidak lupa, hampir setiap malam ia juga selalu memohon kepada Tuhan yang selama ini sering ia khianati, agar bakat menulisnya segera dicabut sampai ke akar-akarnya. Dan, hasilnya adalah setiap malam ia harus menderita sakit kepala.

Ia kesal karena seluruh usahanya selalu gagal. Ia masih tetap terus menulis. Ia menulis di pintu kulkas, di layar telepon genggam, di bak kamar mandi, di bantal, di cermin, di lipatan baju, di kalender, di meja makan, di sepatu, di kantung celana, di permukaan piring, dan di kaca jendela yang jarang sekali terbuka. Bahkan ketika sedang tertidur pun ia masih mampu menyelesaikan dua buah cerita pendek di selimut tebal tempat ia biasa bersembunyi dari dinginnya malam. Ia juga tidak tahu mengapa semua itu bisa terjadi. Ia tidak mengerti mengapa ia masih terus saja menulis. Karena bingung mesti berbuat apa lagi, sedangkan kegiatan menulisnya tidak juga kunjung berhenti, tanpa pikir panjang lagi ia langsung mencopot kedua tangannya untuk kemudian membuangnya ke tempat sampah.

Ia berhenti menulis karena ia merasa menulis adalah perbuatan yang percuma. Ia sudah menulis ribuan puisi, ratusan cerita pendek, dan puluhan novel. Belum lagi ditambah dengan beberapa artikel dan essai yang pernah dimuat di beberapa majalah dan surat kabar nasional. Banyak orang yang kemudian mengidolakannya, memborong semua karya-karyanya, bahkan ada yang sampai tergila-gila begitu rupa kepadanya. Ia memang hanya penulis, tapi popularitasnya sudah hampir sama dengan para selebritas. Setiap kali ia meluncurkan buku baru, berbagai jenis manusia dari berbagai jenis penjuru berbondong-bondong memadati ruangan acara itu. Semula ia memang jumawa dengan semua itu. Namun akhirnya ia sadar, bahwa ternyata semua itu adalah percuma.

Semua itu bermula dari pertanyaan sederhana yang terlontar dari mulut seorang gadis pada saat acara peluncuran bukunya sedang berlangsung, “Apa artinya menulis jika tulisan kita tidak mampu mengubah apa pun?” Pertanyaan sederhana itu ia jawab dengan lancar.

“Menulis adalah semacam katarsis, yang dapat membebaskan kita dari kejumudan.” Ia juga mengatakan bahwa seorang penulis bukanlah nabi, yang diutus Tuhan untuk mengubah suatu kaum. “Tugas seorang penulis,” ujarnya melanjutkan, “bukanlah untuk mengubah keadaan, melainkan hanya ingin mengabarkan tentang segala hal yang sedang terjadi di depan mata kita secara apa adanya.”

Semua yang hadir dalam acara itu mengangguk-angguk, merasa takjub, untuk kemudian bertepuk tangan bersama-sama.

Tidak ada yang tahu bahwa sesampainya ia di rumah, ketika ingin beranjak tidur, pertanyaan itu masih terus membututinya: apa artinya menulis jika tulisan kita tidak mampu mengubah apa pun? Keesokan harinya pertanyaan itu kembali terngiang di benaknya. Di hari-hari berikutnya pun demikian. Sampai akhirnya penulis itu lelah, dan mulai merasa gelisah.

Apa artinya menulis jika tulisan kita tidak mampu mengubah apa pun?

Penulis itu gelisah bukan kepalang. Semula ia tidak peduli dengan pertanyaan sepele itu. Semula ia menganggap bahwa tugas seorang penulis ya hanya menulis saja.Titik. Tidak lebih dari itu. Tapi, entah kenapa, akhirnya ia sepakat bahwa ternyata dirinya adalah seorang penulis yang tiada berguna.

Ia sudah banyak menerbitkan buku, tapi ia sama sekali belum bisa mengubah apa pun. Sebenarnya ia juga tidak tahu apa yang mesti diubah, tapi ia sadar bahwa keadaan memang masih tetap begini-begini saja. Ia sering mengangkat tema tentang kemiskinan dalam setiap cerpen-cerpennya, tapi sampai sekarang kemiskinan itu masih ada dan tak pernah berubah. Ia sering mengangkat tema tentang kerusakan alam di setiap sajak-sajaknya, tapi sampai sekarang masih banyak saja orang-orang yang tidak peduli dengan alam, malah lebih parah dari sebelumnya. Ia juga sering mengangkat tema tentang kemunafikan manusia di setiap novel-novelnya, tapi hingga detik ini kemunafikan itu belum juga hilang.

Begitulah. Akhirnya penulis itu memutuskan untuk berhenti menulis dan membuang kedua tangannya ke tempat sampah.

“Selesai sudah,” gumam penulis itu sambil menjatuhkan tubuhnya ke ranjang. Lebih baik tidak usah menulis sama sekali, ujarnya dalam hati, dari pada menulis tapi tidak pernah dihiraukan sama sekali.

Tidak lama kemudian, penulis itu tertidur.

PENULIS itu terbangun dari tidurnya dan terkejut bukan main. Ia melihat dinding kamarnya sudah dipenuhi dengan tulisan. Begitu pula dengan lemari baju, permukaan piring, sepatu, sampai atap rumahnya pun telah dipenuhi tulisan. Ada yang berupa puisi, cerita pendek, seloka, gurindam, pantun, haiku, dan ada pula yang hanya berupa sekumpulan kata-kata yang tersusun secara acak tanpa bisa diketahui apa maknanya. Penulis itu kembali menderita sakit kepala. Ia yakin betul bahwa semua tulisan itu adalah tulisannya. Bukan tulisan orang lain. Ia tidak tahu kalau pada akhirnya akan menjadi sesulit ini. Ia juga tidak tahu bagaimana ia bisa membuat tulisan-tulisan itu, padahal sepasang tangannya telah teronggok di tempat sampah. Mungkinkah ia menulis dengan kakinya? Atau mulutnya? Atau telinganya? Atau dengan pikirannya? Ia tidak tahu. Kepalanya benar-benar ingin pecah.

“Mengapa jadi sulit begini, padahal aku hanya ingin berhenti menulis? Ah, sepertinya lebih baik aku mati saja!” ujarnya sambil bangkit dari rebahnya, berjalan mendekati lemari pakaiannya yang tertutup, dan susah payah menarik pintu lemari itu dengan gigi depannya.

Di dalam lemari itu tampak sebuah pistol yang mengilat. Ia tersenyum. Ya, lebih baik aku mati saja, ujarnya dalam hati.

Namun seketika itu pula ia terdiam. Ia tidak tahu bagaimana cara menembakkan pistol ke dalam mulutnya. Sebab, ia baru ingat, kedua tangannya telah berada di dalam tempat sampah! (*)

(Resensi dari Pembaca yang Banyak Menuntut) Bulan Celurit Api

Jumat, 03 Desember 2010

Oleh Noor H. Dee Setiap penulis, alangkah baiknya, menulis apa yang ia tahu. Bukan hanya untuk menghindari anakronisme dan kesalahan-kesalahan yang tidak perlu, melainkan juga untuk memudahkan si penulis itu sendiri. Dan Benny Arnas telah melakukan hal itu. Dalam buku Bulan Celurit Api (selanjutnya BCA) yang berisi 13 cerita pendek, terlihat sekali penulis menguasai apa yang ia tulis. Ia mengangkat cerita dengan sentuhan lokal yang berkembang di tanah kelahirannya, Lubuklinggau (tempat tinggal si penulis), daerah yang belum pernah saya dengar sebelumnya. Mulai dari kebiasaan-kebiasaan masyarakat Lubuklinggau yang diceritakan dengan begitu lancar, seting tempat yang digarap dengan baik, sampai diksi yang terdapat dalam narasi dan dialog pun terasa kental sekali “Lubuklinggau”nya. Ngomong-ngomong soal diksi, sejujurnya saya katakan bahwa diksi yang terdapat dalam BCA itu cukup kaya. Beragam diksi yang jarang saya jumpai ada di buku itu. Meskipun sempat mengerutkan kening, tapi setidaknya saya masih bisa menangkap inti dari setiap cerita. Sebagai contoh, Benny Arnas mengganti kata “warna” menjadi “kelir”, “air sepat(?)” menjadi “air kelat”, “usai” menjadi “tunai”, “tetangga” menjadi “jiran”, “setelah” menjadi “bakda”, dan lain sebagainya. Bukan hanya menjadikan kata-kata itu terasa unik, melainkan juga terasa bertenaga sebab masih jarang dipakai orang banyak. Perkara apakah itu upaya penulis untuk bergenit-genit dalam diksi, saya tidak tahu. Namun saya tahu cerpen bukan hanya terdiri dari diksi semata. Diksi hanya sebagian kecil dari beberapa unsur yang terdapat dalam sebuah karya fiksi—meskipun kita sama tahu bahwa diksi kadang bisa juga menjadi penolong untuk sebuah cerita yang, katakanlah, biasa-biasa saja. Begitulah. Saya tidak mau berlama-lama tersihir oleh pesona yang terpancar dari setiap diksi yang terdapat dalam BCA. Saya ingin menyelam ke ceruk yang lebih dalam (halah!): tema cerita, konflik, plot, dan penggambaran karakter. Apakah sama kuatnya dengan diksi yang Benny Arnas paparkan? Entah kenapa, saya merasa sebagian besar cerita pendek yang ada dalam BCA ini tidak sejajar dengan kekuatan diksinya. Tengoklah cerita Bulan Celurit Api, Percakapan Pengantin, Hari Matinya Ketib Isa, Malam Rajam, Surat-Surat yang Mengantarmu Pulang, dan Dilarang Meminang Gadis Berkereta Unta. Dalam Bulan Celurit Api saya seperti menemukan logika cerita yang kurang terbangun dengan baik. Peristiwa bekacuk (berhubungan badan) yang dilakukan oleh Iyut dan Rusli menurut saya kurang masuk akal. Bagaimana mungkin mereka melakukan perbuatan zina di kebun ubi, di dekat tempat hajatan sedang berlangsung? Sehorny-horny-nya orang, menurut saya tidak mungkin mereka bersetubuh di tempat yang berdekatan dengan pusat keramaian (hajatan). Kecuali jika mereka memang memliki fantasi-fantasi liar, itu tidak jadi soal dan akan membuat cerita itu menjadi masuk akal. Masalahnya, apakah Iyut dan Rusli memiliki fantasi yang liar? Kalau iya, mengapa sebelumnya tidak ada gambaran mengenai hal itu? Dalam Percakapan Pengantin, ada beberapa pertanyaan di dalam benak saya. Pertama, mengapa dan untuk apa penduduk kampung tiba-tiba mengerumuni rumah pengantin baru itu? Apakah pasangan yang yatim piatu tidak boleh menikah? Mengapa setelah menikah penduduk kampung baru mengepung rumah pasangan itu, bukan pas ketika acara H-nya, untuk kemudian membatalkan pernikahan sepasang pengantin yang ternyata bisu itu? Kedua, ya, saya terkejut mengetahui bahwa ternyata pasangan pengantin itu bisu. Keren, begitu kata saya dalam hati. Tapi lagi-lagi saya bertanya, di awal cerita penulis menulis begini: “...Mereka masih bisa mendengar dengan jernih,...” (hal 28). Setahu saya, orang bisu itu biasanya tuli alias telinganya pekak. Belum pernah saya temui orang bisu yang telinganya masih beres, apalagi masih bisa mendengar dengan jernih. Dalam Matinya Ketib Isa saya pun menemukan logika cerita dan penggambaran karakter yang kurang tergarap dengan baik. Menurut saya penusukan yang dilakukan Komar dan Zul terhadap Mak Zahar, ibu mereka, bisa dibilang terlalu tergesa-gesa. Konflik belum mencapai titik klimaks, tapi penusukan itu telah terjadi. Sepreman-premannya seseorang, membunuh orangtua adalah tindakan yang tak mungkin dilakukan. Kecuali jika seseorang itu benar-benar psikopat atau si orangtua memang terlampau menyebalkan, mungkin hal itu bisa terjadi. Tapi, karakter Komar dan Zul belum digarap maksimal. Mereka memang preman, brandal, penjahat, copet, dan pemerkosa, tapi mereka bukan psikopat. Bahkan mereka (Komar dan Zul) tidak pernah membunuh seseorang. Jadi, menurut saya, penusukan yang mereka lakukan terhadap ibu mereka sampai meninggal, masih terlalu tergesa-gesa. Pembaca belum sempat disuguhkan sugesti bahwa Komar dan Zul itu memang psikopat yang paling bejat. Dalam Malam Rajam, Surat-Surat yang Mengantarmu Pulang, dan Dilarang Meminang Gadis Berkereta Unta, menurut saya hampir mirip dengan drama-drama percintaan pada umumnya. Saya tidak bisa berkata banyak mengenai cerpen-cerpen itu, kecuali untuk cerpen Surat-Surat yang Mengantarmu Pulang. Di cerpen itu diceritakan bahwa sang “aku” yang mahir membuat puisi sedang berada di depan televisi, menyakiskan berita kecelakaan pesawat yang “kekasihnya” juga berada di dalam pesawat itu. Yang saya heran, ketika sang “aku” mendatangi pesawat yang sudah menjadi puing itu, ia masih melihat “kekasihnya” di sana, terkapar dengan bercak merah di sekujur tubuh. “Kekasihnya” itu belum juga dievakuasi! Apakah jarak antara rumah “aku” dan lokasi kejadian itu memang sangat dekat? Kalau iya, mengapa tidak diceritakan? Demikianlah laporan pandangan mata saya terhadap buku Bulan Celurit Api karya Benny Arnas. Untuk cerita-cerita yang belum saya bahas (Tentang Perempuan Tua dari Kampung Bukit Batu yang Mengambil Uang Getah Para dengan Mengendarai Kereta Unta Sejauh Puluhan Kilometer ke Pasar Kecamatan, Bujang Kurap, Tukang Cerita, Dua Beranak Keturunan, Anak Ibu, dan Perkawinan Tanpa Pengantin) mungkin bisa dilanjutkan kapan-kapan. Yang pasti, di antara cerpen-cerpen yang termaktub dalam BCA, saya paling menyukai Tukang Cerita, Anak Ibu, dan cerpen yang memiliki judul paling panjang itu. Sebelum mengakhiri tulisan yang anggap saja resensi ini, saya ingin mengatakan bahwa tulisan saya ini bersifat subjektif. Apa yang saya rasakan, belum tentu sama dengan yang dirasakan oleh orang lain. Apa yang saya anggap keliru, siapa tahu benar di mata orang lain. Siapa tahu saya-nya yang bodoh. Yang pasti, Bulan Celurit Api adalah buku yang sangat layak untuk dibeli. Bravo buat Benny Arnas! Semoga saya segera bisa pandai mengarang sepertimu ^_^. Aamiin....

Mencuri dari Buku

Senin, 29 November 2010

Oleh Denny Prabowo Sumber: Dari Mana Datangnya Ide. Jakarta: Balai Pustaka, 2009 Satu kali dalam sebuah workshop teater di Taman Ismail Marzuki, Slamet Rahardjo Jarot mengatakan kepada para peserta, “Jika karya tak mau ditafsir orang, sebaiknya simpan saja di dalam lemari.” Sebuah karya ketika telah dipublikasi maka ia bukan lagi hanya menjadi milik penulisnya, melainkan juga milik pembaca. Pembaca bebas memberi makna kepada karya tersebut. Dalam cerpenya, ”Abracadabra”, Danarto menghidupkan tokoh fiktif dalam lakon Hamlet karya William Shakespeare. Diceritakan Hamlet bersama sahabatnya Horatio mengarungi ruang dan waktu. Tokoh Hamlet di tangan Danarto tidak ditampilkan sebagaimana dalam lakon karangan Sakespeare yang pembimbang dan ragu. Bahkan secara plot pun cerpen itu seolah tak ada hubungannya sama sekali dengan lakon Hamlet. Danarto memanfaatkan Hamlet sekadar sebagai sarana untuk mengungkapkan pemikirannya yang tentu saja berhubungan dengan tokoh karangan Shakespeare itu. Ia menafsir ulang tokoh itu. Dalam cerpen itu, Danarto sebagai penulis masuk ke dalam cerita dan berdialog dengan Hamlet.
“Ya, menarik sekali. Tapi ngomong-ngomong kamu ini siapa?” “Saya penulis karangan ini.” “Lho, lantas bagaimana kamu bisa berhubungan denganku? Sebab, aku kira letak kita amat berjauhan dan di alam yang sangat berlainan.” “Saya tidak tahu. Tapi kau jelas tampak dan kata-katamu jelas kedengaran di telingaku.” “Lho, menarik sekali. Kenapa kau bisa, sedang Horatio tidak?” “Saya tidak tahu. Tapi mungkin karena saya penulis karangan ini.” (Danarto, 1987: 149)
Jika Danarto sekadar “mencuri” tokoh Hamlet dan menghadirkannya dalam ruang dan waktu yang berbeda, Taufik el Hakim, pengarang dari Mesir lain lagi. Ia bahkan melanjutkan lakon Romeo dan Juliet yang terkenal itu! Kamu pasti sudah pernah membaca ceritanya atau barangkali menyaksikan pementasannya. Seandainya belum pun, saya yakin kamu pasti tahu kisah cinta Romeo dan Juliet yang berakhir dengan kematian sepasang kekasih yang bersama-sama menenggak racun itu. Kisah cinta mereka harus berakhir tragis karena permusuhan keluarga mereka. Sejak itu, mereka menjadi lambang cinta dan nama mereka hampir tak pernah disebut secara terpisah: Romeo dan Juliet. Dalam cerpen Tongkat El-Hakim, kisah mereka berlanjut di alam kematian. Diceritakan jika sepasang kekasih yang mati karena minum racun itu hidup dan menikah di alam kematian. Namun, pernikahan mereka tidak berjalan seperti yang mereka bayangkan. Romeo ternyata tidak seromantis ketika mereka masih hidup.
“Andaikata nasib memberi kesempatan kepada kami kesempatan lebih panjang lagi, nisacaya kalian akan menyaksikan kegagalan cinta ini. Saya yang kemudian tahu sifat Romeo yang jelek dan kasih sayangnya yang palsu akan menegaskan pada Anda bahwa di dunia ini, saya tidak akan kuat menjadi istrinya lebih dari dua bulan! Romeo juga demikian....” (1988: 201)
Taufik el Hakim memutar balik cerita Romeo dan Juliet. Kamu tentu bisa melakukan hal yang sama. Bagaimana jika keluarga besar mereka justru ingin menjodohkan Romeo dengan Juliet, tapi ternyata kedua anak muda itu saling benci satu sama lain? Atau bagaimana jika kedua orang tua mereka yang meminum racun karena merasa putus asa tak berhasil memisahkan Romeo dan Juliet? Yang perlu kamu lakukan hanyalah mencari variasi lain dari cerita tersebut. Sapardi Djoko Damono memiliki pandangan berbeda dengan Samuel Beckett, pengarang lakon Waiting for Godot. Dalam lakonnya itu Beckett menganggap manusia menunggu maut, sedang Sapardi menganggap Maut yang menunggu manusia—bukankah takdir kematian kita sudah ditetapkan sejak kita masih dalam kandungan? Dari tangan Sapardi pun lahir sejudul cerpen, “Ditunggu Godot”. Dalam bab sebelumnya, saya telah menunjukan pada kalian cerpen “Legenda Wong Asu” karya Seno Gumira Ajidarma (SGA) yang ditulis berdasarkan ingatan akan sebuah komik karya Bram Laksono (dalam Daging Tumbuh vol. 12/12/00) dan sebuah cerita rakyat dari Kalimantan yang berjudul “Anjing Menjadi Manusia” (Bahkan SGA menyertakan komik dan cerita rakyat itu di belakang cerpennya). SGA (2004: iii) menuturkan, pada gilirannya, “Legenda Wong Asu” mendorong lahirnya cerita “Wong Asu” karya Djenar Maesa Ayu, yang bisa dibaca dalam kumpulan cerpennya; Mereka Bilang, Saya Monyet (2002). Namun, ketiga cerpen itu masing-masing sangat berbeda. Lihat bagaimana cerita-cerita itu saling memengaruhi, yang satu menginspirasi yang lain. Mencuri dari buku bukan berarti kamu melakukan penjiplakan terhadap karya orang lain, melainkan mencari kemungkinan variasi lain dari cerita tersebut. Dalam Notes From Underground, Fyodor Dostoyevsky menulis, “Andaikata aku bisa menjadi seekor serangga!” Frans Kafka mengambil kalimat ini dan menulis “The Metamorphosis”: “Pada suatu pagi, saat Gregor Samsa terbangun dari mimpi buruknya, dirinya telah berubah menjadi seekor serangga besar di tempat tidurnya.” Dalam sebuah reaksi terhadap kalimat pembuka Kafka, Gabriel Garcia Marquez berkata, “Saya tidak tahu bahwa kita dapat menulis hal-hal seperti itu. Jika saja dari dulu saya tahu, saya sudah akan menulis sejak lama.” Marquez menulis “Very Old Man With Enormous Wings” dan memenuhi sayap sang malaikat dengan berbagai macam parasit dan serangga. Saya pernah menghidupkan tokoh dalam cerpen Djenar Maesa Ayu yang berjudul “Melukis Jendela”. Cerpen itu bercerita tentang seorang gadis remaja bernama Mayra. Ia tinggal dengan ayahnya yang sibuk bekerja. Sejak kecil dia tak tahu di mana ibunya. Mayra sering mengalami pelecehan seksual dari teman-teman sekolahnya. Mayra melukis ibunya lalu mengadukan perlakuan teman-temannya itu kepada lukisan ibunya itu. Mengadukan kerinduannya pada Ibu.
“Ibu, apakah Ibu secantik yang mereka katakan? Dan mengapa hanya kecantikan itu saja yang ibu wariskan? Saya ingin Ibu. Saya tidak ingin kecantikan ini.” Lamat-lamat ia merasakan tangan Ibu berhenti mengelus rambutnya. Ibu berjalan menuntunnya ke dapur dan memberinya sebilah pisau. “Sayat wajahmu, Nak....” (2002: hlm. 33—34)
Mayra pun menyayat wajahnya dengan pisau. Ketika lukisan bapak dan ibunya tak lagi dapat memenuhi hasratnya akan kasih sayang, Mayra melukis jendela. Dan bertemu dengan seorang pemuda tampan. Begitulah ceritanya. Saya kemudian berpikir, bagaimana jika Mayra merasa kehidupannya yang dia alami dalam cerpen “Melukis Jendela” diakibatkan oleh penulisnya? Apa yang akan dilakukannya? Bukankah bagi tokoh fiktif, realitas fiksional itu merupakan realitas yang sungguh dialaminya? Saya kemudian teringat dengan pisau yang digunakan untuk menyayat wajahnya. Dan pisau itu yang kemudian digunakan Mayra untuk membunuh penulisnya, Jenarayu, dalam cerpen saya yang berjudul “Mayra”. Baca Cerpen "Mayra" Daftar Bacaan Danarto. 1987. Godlob. Jakarta:Grafiti El-Hakim, Taufiq Dr. 1988. Tongkat El-Hakim. Pustaka Mantiq Ajidarma, Seno Gumira. 2005. Ketika Jurnalisme Dibungkam Sastra Harus Bicara. Yogyakarta: Bentang. Damono, Sapardi Djoko. 2003. Membunuh Orang Gila. Jakarta: Penerbit Buku Kompas. Ayu, Djenar Maesa. 2002. Mereka Bilang Saya Monyet. Jakarta: Gramedia Ilustrasi: http://hikingartist.com/art/

Mengejar Kupu-kupu

Minggu, 28 November 2010

Cerpen Noor H. Dee Sumber: Kupu-Kupu dan Tambuli. Jakarta: Dewan Kesenian Jakarta, 2008 Usia pagi masih belia. Matahari baru saja merangkak dari balik ranting-ranting pepohonan. Mega-mega bersepuh susu berarak lambat melintasi cakrawala. Terlihat Aryani berlari-lari kecil mengejar kupu-kupu di halaman rumahnya yang rumputnya sangat terpelihara. Papanya sedang duduk di beranda membaca koran. Mamanya sedang berada di dalam kamar menonton televisi. Aryani mengejar kupu-kupu. Aryani mengejar kupu-kupu dan rambutnya yang dibiarkan tergerai itu melambai-lambai ke sana-ke mari mengikuti gerak-gerik tubuhnya yang saat itu terlihat begitu lincah dan gemulai. Ia berlari-lari, melompat-lompat, dan sesekali hampir terjatuh karena semangatnya yang menggebu-gebu itu membuat ia lupa untuk mempedulikan keseimbangan tubuhnya. Tetapi, setiap kali ia ingin terjatuh, dengan cepat dan cekatan ia langsung menyeimbangkan gerakannya itu, sehingga ia tidak sampai terjatuh. Kedua tangannya yang mungil itu terlihat begitu gemulai menggapai-gapai udara, mencoba meraih kupu-kupu. Kupu-kupu genit. Kupu-kupu centil. Kupu-kupu bersayap biru. Terbang rendah di atas kepala Aryani. Kupu-kupu bersayap biru itu terus melayang-layang dengan kepakan sayapnya yang anggun, seperti sengaja menggoda Aryani supaya terus mengejarnya. Kupu-kupu itu melayang-layang, berputar-putar, terkadang harus melesat dengan cepat setiap kali ingin terenggut oleh jari-jari kecil Aryani, yang walaupun kecil tetap saja bisa meluluh-lantakkan kedua sayapnya yang meskipun indah tetap saja begitu rapuh dan mudah hancur. Aryani mengejar kupu-kupu. Aryani mengejar kupu-kupu dengan pandangan mata berbinar-binar. Mulutnya menganga. Ia terus mengejar. Kupu-kupu melayang ke kiri. Aryani ikut berlari ke kiri. Kupu-kupu melesat ke kanan. Aryani terus membuntuti. Kupu-kupu berputar-putar. Aryani melompat-lompat. “Aku tangkap kamu. Aku tangkap kamu,” ujar Aryani sambil terus memburu. Aryani tidak tahu dari mana kupu-kupu itu berasal. Kupu-kupu itu hadir begitu saja, tanpa permisi, di luar jendela ketika ia sedang asik bermain boneka sendirian di dalam kamar. Ketika melihat kupu-kupu itu, ia langsung berseru,”Kupu-kupu! Kupu-kupu!”, dan ia langsung mengejar. Boneka yang saat itu berada di genggamannya langsung ia lemparkan begitu saja ke atas tempat tidur. Kedua orang tuanya tidak ada yang tahu kalau anaknya yang mungil itu kini sudah berada di halaman rumah sedang mengejar kupu-kupu bersayap biru. Papanya masih asik membaca koran di beranda. Mamanya masih setia menonton televisi di dalam kamar. Dan, tibalah Aryani di depan pintu pagar rumahnya yang terbuka lebar. Sekejap ia terdiam. Langkah-langkah lari kecilnya terhenti. Ia melihat kupu-kupu itu melayang-layang di depan pintu pagar rumahnya. Kupu-kupu itu membalikkan tubuhnya, menghadap ke arah Aryani. Mereka berdua saling beradu tatap. Kupu-kupu itu terlihat seperti menggoda. Di telinga Aryani, kupu-kupu itu seperti mengeluarkan suara. “Coba tangkap aku kalau memang kamu mampu! Coba tangkap aku!” Aryani masih terdiam. Angin berembus. Daun-daun kering berjatuhan. Rambutnya yang dibiarkan tergerai itu bergerak-gerak halus. Ia menatap pintu pagar rumahnya yang terbuka lebar, seperti memang mempersilakan dirinya untuk terus mengejar. Setelah itu, ia menolehkan kepalanya ke belakang. Terlihat Papanya masih asik membaca koran. Ia mengalihkan pandangannya, menatap ke sebuah jendela yang gordennya tersibak. Di dalam kamar itu, ia melihat Mamanya masih setia menonton televisi. Tidak ada yang memperhatikan dirinya. Kemudian ia kembali menatap kupu-kupu itu. Kupu-kupu itu masih berada di situ, di depan pintu pagar rumahnya. Tidak kemana-mana. Kupu-kupu itu cuma melayang-layang di tempat, seperti sedang menuggu Aryani agar segera kembali mengejarnya. Aryani berfikir sejenak. Kejar. Tidak. Kejar. Tidak. Kedua telinganya kembali mendengar kupu-kupu itu seperti mengeluarkan suara. “Coba tangkap aku kalau memang kamu mampu! Coba tangkap aku!” Kejar! Teriak Aryani dalam hati. Tetapi, sebelum mengejar, ia kembali menoleh ke belakang. Kedua orang tuanya masih tetap seperti tadi. Papanya sedang membaca koran. Mamanya sedang menonton televisi. Karena merasa tidak ada yang memperhatikan dirinya, ia langsung berjalan ke luar rumah untuk kemudian segera kembali mengejar kupu-kupu bersayap biru itu. “Aku akan menangkapmu! Aku pasti akan mampu menangkapmu!” Dan, kini Aryani sudah berada di luar pagar rumahnya. * Aryani mengejar kupu-kupu. Aryani mengejar kupu-kupu bersayap biru yang terus melayang-layang di dekat kepalanya. Ia berlari dengan laju yang tidak begitu cepat. Para tetangga yang melihatnya langsung bertanya. “Kamu sedang mengejar apa, Aryani? Mengapa kamu berlari-lari seperti itu?” “Aku sedang mengejar kupu-kupu. Aku ingin menangkap kupu-kupu.” “Kupu-kupu? Mana kupu-kupunya, Aryani?” “Itu! Itu! Kupu-kupu bersayap biru.” “Mana? Kok, kami tidak melihatnya?” “Aku melihatnya! Aku melihatnya!” Orang-orang menatap Aryani dengan pandangan mata bertanya-tanya. Mereka sama sekali tidak melihat seekor kupu-kupu yang kata Aryani bersayap biru itu. “Apakah kamu melihat seekor kupu-kupu yang sedang dikejar-kejar oleh Aryani itu?” tanya seseorang kepada seseorang yang lain. “Tidak. Aku tidak melihatnya.” “Aku juga.” “Aku juga.” “Kupu-kupu? Mana kupu-kupunya?” “Entah.” Orang-orang tidak ada yang melihat seekor kupu-kupu. Mereka hanya melihat Aryani, gadis mungil berusia delapan tahun, yang berlari-lari kecil dengan kedua tangan mungilnya yang menggapai-gapai udara, yang matanya berbinar, yang mulutnya menganga, yang rambutnya dibiarkan tergerai. “Aryani, jangan berlari terlalu jauh. Nanti kamu tersesat!” teriak seorang tetangga kepada Aryani. Tapi, Aryani tidak mendengarnya. * Aryani mengejar kupu-kupu. Aryani mengejar kupu-kupu dan gaunnya yang berwarna kuning dengan motif bunga-bunga itu terus berkibar-kibar setiap kali kaki-kakinya menghentak-hentak permukaan aspal. Rambutnya melambai-lambai. Matanya berbinar-binar. Ah, ah, ah, mengapa matanya bisa begitu berbinar-binar padahal cuma menatap seekor kupu-kupu? Kupu-kupu yang sedang diburunya itu memang tidak dapat dipungkiri lagi keindahannya. Tetapi, bukankah kupu-kupu memang selalu seperti itu? Memang indah, memang anggun, memang aduhai—meskipun memang ada juga kupu-kupu buruk rupa yang bersayap kelabu. Tetapi, kupu-kupu yang bisa dikatakan indah itu memang selalu seperti itu, bukan? Sama seperti yang sedang dikejar-kejar oleh Aryani. Tidak ada yang aneh. Bukan sesuatu hal yang perlu diistimewakan. Namun, mengapa mata Aryani bisa terlihat begitu berbinar-binar? Selain keindahannya, keistimewaan apakah yang dimiliki kupu-kupu itu? Aryani mengejar kupu-kupu. Kini ia sudah berada jauh dari rumahnya. Ia berlari di atas trotoar, tanpa peduli dengan asap-asap hitam yang menyembur dari lubang knalpot dan mengganggu pernafasannya. Sesekali ia terbatuk, tetapi ia tidak peduli. Dari matanya yang berbinar itu, tidak tampak secuil pun tanda-tanda untuk berhenti. Meskipun sudah berpuluh-puluh peluh mencuat dari dalam pori-pori dan menyelimuti segenap tubuhnya, ia masih saja terus berlari-lari, terus melompat-lompat, dengan kedua tangan menggapai-gapai udara, mencoba meraih kupu-kupu bersayap biru itu. Aryani mengejar kupu-kupu. Aryani mengejar kupu-kupu dan tubuhnya yang mungil itu telah diselimuti peluh. Orang-orang yang sedang berada di pinggir jalan menatapnya dengan pandangan mata bertanya-tanya. “Lihat, gadis kecil itu seperti sedang mengejar sesuatu.” “Lihatlah, mata gadis kecil itu berbinar-binar.” “Ih, orang tua macam apakah yang membiarkan anak gadisnya bermain di pinggir jalan? Kasihan gadis itu. Kasihan.” “Bisa tertabrak ia nanti.” “Tetapi, gadis kecil itu sedang mengejar apa, ya?” “Barangkali ia sedang mengejar sesuatu.” “Sesuatu apa?” “Entah.” Tidak ada yang tahu kalau Aryani sebenarnya sedang mengejar kupu-kupu bersayap biru. Aryani mengejar kupu-kupu. Kini ia berada di tengah jalan. Lalu lintas menjadi kacau. Sebuah sedan berhenti tiba-tiba ketika Aryani melintas. Seorang sopir taksi membanting setirnya dan seorang penumpang di belakangnya berteriak sambil beristighfar. Seorang pengendara sepeda motor yang merasa tidak punya cukup waktu untuk menginjak rem, dengan terpaksa manabrak taksi tersebut. Orang-orang yang berada di pinggir jalan sebagian besar menutup matanya karena tidak tega melihat bagaimana tubuh pengendara sepeda motor itu melayang-layang di udara dan kemudian tersungkur ke aspal dengan posisi kepala di bawah. Jalan raya menjadi macet. Klakson-klakson berbunyi memekakkan telinga. Orang-orang yang berada di dalam mobil langsung mendekatkan kepalanya ke jendela. Beberapa pengendara sepeda motor menghentikan lajunya dan melepas helmnya. Semua orang penasaran ingin mengetahui apa yang sebenarnya telah terjadi. Dan, terlihatlah Aryani sedang berlari-lari seperti sedang mengejar sesuatu. Aryani mengejar kupu-kupu. Aryani mengejar kupu-kupu dengan peluh bercucuran dan membasahi gaunnya. Berpuluh-puluh jembatan telah ia seberangi. Berpuluh-puluh kelokan telah ia lalui. Namun kupu-kupu itu belum juga berhasil ia raih. Kupu-kupu itu begitu lincah. Aryani belum memutuskan untuk menyerah. Tiba-tiba, kupu-kupu itu berhenti. Entah mengapa. Dengan sisa tenaga, Aryani langsung melompat dengan tangan terjulur ke depan. Hap! Aryani berhasil. Kupu-kupu itu kini sudah berada di dalam genggamannya. Karena takut terlepas, Aryani menguatkan genggamannya. Aryani membuka telapak tangannya dengan sangat hati-hati. Dan tampaklah seekor kupu-kupu yang mengerikan. Sayapnya yang biru itu kini rusak dan patah-patah. Tubuhnya gepeng dan mengeluarkan cairan entah apa. “Hiii...” Aryani membuang kupu-kupu itu dengan perasaan jijik. Tetapi, kupu-kupu itu tak dapat terlepas dari telapak tangannya. Kupu-kupu itu menjadi lengket, merekat, semakin merekat. Aryani merasakan kupu-kupu itu merasuk ke dalam tubuhnya. Tiba-tiba tubuh Aryani mengeluarkan sinar. Putih. Amat putih. Menyilaukan. Setelah itu, sinar itu menghilang dan Aryani berubah menjelma seekor kupu-kupu. Aryani yang telah menjadi seekor kupu-kupu itu pun melayang-layang di udara, mencari jalan untuk pulang. Dalam terbangnya ia menangis. * Aryani sang kupu-kupu kini sudah berada di depan rumahnya. Ia melihat Papanya masih membaca koran di beranda. Mamanya masih asik menonton televisi di dalam kamarnya. Aryani sang kupu-kupu menangis. Kedua orang tuanya tidak ada yang mengetahui bahwa anaknya yang mungil itu telah berubah menjelma seekor kupu-kupu. Dengan perasan yang begitu terluka, ia memasuki halaman rumahnya dan terbang menghampiri jendela kamarnya. Tetapi, di dalam kamarnya itu ia melihat dirinya sedang bermain boneka, yang tiba-tiba saja langsung menatap ke arahnya. Ia melihat dirinya menunjuk-nunjuk ke arahnya, sambil berteriak. “Kupu-kupu! kupu-kupu!”

Prinsip-Prinsip Menulis Fiksi

Minggu, 22 Agustus 2010

Oleh Denny Prabowo Duduk dan lakukan! Begitu nasihat Josip Novakovich dalam bukunya, Berguru kepada Sastrawan Dunia. Masalahnya apa yang harus dilakukan kalau tidak ada ide untuk dituliskan? Mungkin itu pertanyaan yang segera muncul di kepala kamu. Suatu kali teman saya, penulis cerpen di majalah remaja, bertanya seperti ini, “Apakah kamu pernah merasa takut kehabisan ide?” Hmm … rasanya saya lebih takut kehabisan waktu dan motivasi untuk menulis daripada takut kehilangan ide. Bahkan seringkali saya kesulitan menulis, justru karena begitu banyak ide yang berebut minta dituangkan menjadi sebuah cerita. Yup, ide itu ada di sekitar kita. Terkadang ada di dalam diri kita sendiri. Hanya saja, kita sering lebih suka mencari-cari semut di seberang lautan, sementara gajah di pelupuk mata tidak tampak. Lalu bagaimanakah caranya agar gajah di pelupuk mata itu dapat terlihat? Apa yang harus dilakukan, agar kita tak perlu mencari-cari semut di seberang lautan, dan membuat semut-semut itu merubungi kita? Berikut ini prinsip-prinsip yang dapat kamu terapkan dalam mengelola ide menjadi sebuah fiksi: Prinsip #1: Penulis yang baik adalah pengamat yang baik Seorang penulis sudah semestinya adalah seorang pengamat. Penulis yang baik adalah pengamat yang baik. Pengamat yang baik haruslah memiliki kepekaan dan ketertarikan pada segala hal. Ketertarikan seorang penulis pada objek yang dianggap remeh dan biasa oleh sebagian orang, membuatnya tak akan pernah kehabisan cerita. Seperti menimbun ide di lumbung imaji. Seorang teman di FLP pernah mengatakan pada saya, kalau dia tidak suka menulis tentang terminal dan pasar karena menganggap tidak ada hal yang menarik untuk diceritakan. Bagaimana kita dapat menjadi pengamat yang memiliki kepekaan jika kita membatasi ketertarikan pada sesuatu? Padahal, menjadi pengamat yang baik adalah kunci menjadi penulis yang baik, yang dengannya kita tak akan pernah kehabisan ide cerita untuk dituliskan. Mulai sekarang buka mata dan telinga. Perhatikan sekitar kamu. Apakah ada yang bisa kamu tuliskan? Jangan melakukan pemilahan berdasarkan kemenarikan. Karena yang kamu anggap tidak menarik, bisa jadi sangat menarik bagi orang lain. Cobalah belajar untuk mencari hal menarik dari sesuatu yang selama ini kamu anggap tidak menarik. Jika prinsip pertama ini kamu jalankan, kamu tak akan pernah kehabisan bahan cerita untuk dituliskan. Prinsip #2: Realitas sebagai bahan mentah Setelah novel remaja pertama saya, Pemuda dalam Mimpi Edelweiss (Lingkar Pena Publishing House, 2006) diterbitkan, banyak pembaca yang bertanya pada saya melalui email atau ponsel: “Apakah karya itu berdasarkan kisah nyata?” Novel itu bercerita tentang seorang gadis pendaki bernama Edelweiss. Bukan kebetulan jika saya juga sering naik gunung. Maka banyak pembaca mengira, tokoh Fajar (kakaknya Edelweiss) dalam novel itu tak lain adalah diri saya sendiri. Dan Edelweiss adalah penjelmaan dari adik saya. Kebetulan memang saya dua bersaudara. Dan kebetulan pula adik saya perempuan. Hanya saja, adik saya bukan seorang pendaki, bahkan seumur hidupnya belum pernah mendaki gunung. Kehidupan adik saya jauh dari dunia pendakian. Kalau begitu, bagaimana tokoh Edelweiss itu bisa hadir? Kalau Plato beranggapan bahwa sastra dan seni hanya peniruan, peneladanan, atau pencerminan dari kenyataan, Aristoteles di pihak lain, beranggapan bahwa dalam proses penciptaan, sastrawan tidak semata-mata meniru kenyataan, tetapi sekaligus menciptakan sebuah “dunia” dengan kekuatan kreativitasnya. Dunia yang diciptakan pengarang adalah sebuah dunia yang baru, dunia yang diidealkan, dunia yang mungkin dan dapat terjadi walau sebenarnya tidak pernah terjadi. Pendapat Aristoteles ini menjelaskan pada kita, mengapa novel fiksi yang saya tulis, membuat pembaca menduga kalau karya itu ditulis berdasarkan kisah nyata saya. Realitas di dalam dunia fiksi hanyalah bahan mentah untuk mengkreasi “dunia baru”, yaitu dunia fiksi. Prinsip yang kedua ini, realitas atau kenyataan hidup yang kita alami bukanlah cerita yang sudah jadi, tetapi bahan mentah. Kita perlu mengolah bahan itu agar menjadi sebuah cerita yang menarik untuk dinikmati. Prinsip #3: Buku kecil seorang penulis Berapa usiamu sekarang? 13 tahun? 17 tahun? Atau 21 tahun? Sepanjang kehidupan kamu, sejak dari dalam kandungan sampai pada usiamu yang sekarang adalah kenyataan hidup. Apa saja yang kamu ingat dari perjalanan panjang kehidupanmu itu? Mungkin tidak banyak. Ingatan seringkali melakukan proses seleksi terhadap pengalaman atau realitas yang dialami oleh seseorang. Akibatnya, tak banyak yang kita ingat. Padahal, seandainya kamu mampu mengingat atau mengetahui keseluruhan perjalanan hidupmu, betapa kamu telah menimbun ide di lumbung imaji. Kamu akan memiliki bahan mentah untuk dikembangkan menjadi sebuah cerita. Oleh sebab itu, diperlukan sarana yang dapat menampung pengalaman kamu (baik itu pengalaman empiris, pengalaman membaca, atau pengalaman menonton). Semacam buku catatan untuk menampung segala yang pernah kamu lihat, kamu dengar, atau kamu pikirkan. Tuliskan saja semua yang muncul tanpa mencemaskan apakah hal itu merupakan ide yang baik atau buruk. Tuliskan saja semuanya tanpa melakukan proses seleksi seperti yang dilakukan oleh ingatan kita. Jika kamu malas mencatatnya atau malas membawa-bawa buku catatan, mengapa kamu tidak mencobanya dengan alat perekam? Prinsip yang ketiga ini, mulailah melakukan pengamatan dan catatlah! Prinsip #4: Bagaimana jika…? Setelah kamu memiliki banyak bahan mentah, apakah kamu masih kesulitan untuk menuliskannya menjadi sebuah cerita fiksi? Apa yang membuat kamu kesulitan? Apakah karena pengalaman-pengalaman yang berhasil kamu catatkan dalam buku catatanmu itu tidak cukup menarik? Apabila masalah itu yang kamu hadapi, maka prinsip keempat ini akan membantumu untuk mengembangkan cerita dari pengalaman yang kamu anggap kurang menarik. Mungkin kamu terlalu membatasi idemu pada kehidupan nyata. Kamu hanya menuliskannya sesuai dengan kenyataan yang sesungguhnya. Ingat, kita akan menulis fiksi, bukan sebuah reportase. Apakah pengalaman melihat seekor anjing mengorek-ngorek sampah cukup menarik? Jika jawabanmu “tidak”, maka yang perlu kamu lakukan adalah mencoba untuk mengajukan pertanyaan sederhana ini: bagaimana jika saat mengorek-ngorek sampah, anjing itu menemukan seorang bayi menangis dalam kardus? Lihat, bagaimana pertanyaan sederhana itu mampu membuat peristiwa yang tidak menarik menjadi memiliki nilai konflik atau permasalahan yang cukup besar. Setiap jawaban yang kamu pilih dari pertanyaan sederhana itu, akan menghadirkan pertanyaan-pertanyaan lanjutan. Dan jika keseluruhan pertanyaan itu telah kamu jawab, sebuah cerita siap kamu tuliskan. Menulis fiksi adalah proses menemukan sebuah kemungkinan. Prinsip yang keempat adalah kamu perlu memperbesar kemungkinan dengan mengajukan pertanyaan sederhana: bagaimana jika…? Prinsip #5: Mari berimajinasi Prinsip ini merupakan prinsip terpenting yang mutlak harus dimiliki oleh seorang penulis fiksi. Suatu kali dalam milis kepenulisan, mengemuka wacana: apakah menjadi penulis itu merupakan bakat? Pendapat dalam milis itu terbagi tiga kelompok. Kelompok pertama memercayai bahwa bakat mutlak diperlukan. Kelompok kedua menganggap proses latihan yang akan menentukan seseorang menjadi penulis. Kelompok terakhir, mereka yang memilih berada di tengah-tengah: bakat dan latihan diperlukan. Saya tidak akan meminta kamu memilih mana pendapat yang paling tepat. Yang ingin saya katakan adalah tidak satu pun dari ketiga kelompok itu, yang memperhitungkan imajinasi sebagai syarat mutlak yang harus dimiliki seorang penulis. Yup! Imajinasi. Meski kamu memiliki bakat dan rajin berlatih menulis fiksi, tanpa imajinasi kamu hanya mungkin menulis sebuah reportase—bahkan penulisan sebuah reportase pun membutuhkan imajinasi. Seorang penyair bernama Cecep Syamsul Hari, dalam “Puisi dan Yang Lain” (Majalah Horison Tahun XLII, No.8/ Agustus 2007: 5) mengatakan, “Imajinasi bukanlah mimpi atau fantasi. Ia adalah kualitas untuk menghadirkan realitas yang dialami (experienced-reality) dan realitas yang ditafsirkan (interpreted-reality) yang terjadi di masa lalu, masa kini, dan masa depan.” Dalam bahasa sederhananya, imajinasi merupakan kemampuan menghadirkan realitas dalam citraan penglihatan, pendengaran, penciuman, pencecapan, perabaan, dan citraan kinestetik atau gerak. Kamu mungkin telah berhasil menyusun plot melalui prinsip kelima (baca: bagaimana jika…?). Namun, untuk membuat gambaran utuh, kamu membutuhkan imajinasi. Imajinasi yang akan membentuk plot itu menjadi rangkaian peristiwa yang mewujud dalam latar, tokoh, dan adegan yang dapat diasosiasi pembaca. Prinsip #6: Ayo membaca! Suatu ketika dalam talkshow kepenulisan, saya pernah ditanya oleh peserta yang hadir, “Bagaimana cara mengatasi kemacetan dalam menulis?” Katanya lagi, “Saya suka menulis, tapi tidak suka membaca.” Penanya itu sudah menjawab sendiri pertanyaannya. Kemacetannya dalam menulis atau mengembangkan ide cerita karena ia tidak suka membaca. Ada penulis yang tidak mau membaca karya fiksi penulis lain karena menurutnya, hal itu akan membuat karyanya jadi terpengaruh oleh karya orang. Akibatnya, karyanya jadi tidak orisinal. Kalau ia tak pernah membaca karya orang, bagaimana dia berani menjamin bahwa karya yang ditulisnya itu orisinal, alias belum pernah ditulis oleh orang lain? Penulis yang berpendapat seperti itu, sesungguhnya tengah mengurung dirinya dalam sebuah kotak. Lagipula, apa sih yang bisa dikatakan orisinal di dunia yang renta ini, kalau untuk menguburkan jasad Habil, Qabil harus meniru seekor burung? Tidak ada ide yang benar-benar orisinal, yang ada hanyalah cara menceritakan yang berbeda. Dan untuk menemukan cara menceritakan yang berbeda, kamu harus membaca. Hanya dengan membaca, kamu bisa menemukan perbedaan yang dapat kamu kembangkan menjadi ciri khas kamu! Menulis merupakan saudara kembar membaca. Tanpa membaca, kamu akan kesulitan mengembangkan ceritamu. Sebagai contoh, kamu ingin menulis cerita tentang pendakian, padahal kamu sendiri belum pernah melakukan pendakian. Jika kamu tidak membaca buku-buku tentang pendakian, bagaimana cara kamu menceritakannya? Atau kamu ingin menulis cerita dengan tokoh seorang dokter. Sementara kamu tidak mengetahui kehidupan seorang dokter. Lalu bagaimana cara kamu menceritakannya? Mungkin kamu bisa mengatakan, “Kita kan cukup mengkhayal menjadi seorang dokter!” Nah, karya fiksi semacam inilah yang bisa disebut sebagai kebohongan. Apa yang bisa diceritakan tentang seorang dokter oleh penulis yang tidak mengetahui dunia kedokteran, jika bukan kebohongan? Sebagai penulis, kamu tidak perlu menunggu menjadi ahli di bidang kedokteran untuk menulis cerita tentang dokter. Kamu hanya perlu menerapkan prinsip keenam ini: ayo membaca! Prinsip #7: Mulai menulis Menulis, menulis, dan menulis! Begitu nasihat tiap pengarang yang ditanya bagaimana cara menulis sebuah fiksi. Semua prinsip-prinsip yang telah dipaparkan di atas, hanya akan menjadi omong kosong, jika kita tidak memulai untuk menulis. Kamu tidak mungkin dapat berenang, walau semua teori tentang renang sudah kamu pelajari dan pahami, jika kamu tidak pernah nyebur ke dalam kolam renang! Namun, apabila dalam proses penulisan kamu mengalami kemacetan imajinasi, alias tidak mampu menghadirkan gambaran atau citraan dari peristiwa-peristiwa yang ingin kamu rangkai menjadi cerita, kembalilah pada prinsip nomor tiga. Buka catatan atau rekaman pengalaman kamu. Apakah ada yang bisa kamu ambil untuk menggambarkan peristiwa yang kamu inginkan? Jika cara itu juga tidak mendatangkan hasil, maka gunakan prinsip keenam: ayo membaca. Boleh jadi, kemacetan kamu disebabkan minimnya kosakata kamu untuk menampilkan citraan dalam latar, tokoh, dan adegan. Atau kamu belum memahami tema yang ingin kamu tulis. Prinsip #8: Berdiskusi, yuk! Kamu sudah berhasil menulis cerita? Apakah kamu merasa puas dengan hasil karyamu? Tunggu dulu! Jangan terburu-buru mengirimkannya ke majalah atau koran. Apalagi mengirimkannya ke editor penerbitan. Cobalah untuk menunjukkannya ke teman-temanmu. Mintalah mereka membaca karyamu. Bagaimana pendapat mereka setelah membacanya? Apakah mereka tertarik? Atau mereka mengkritik? Bagian mana yang mereka tidak suka? Mana yang menurut mereka bagus untuk dikembangkan? Diskusikan, yuk! Jangan dulu buang karyamu ke tong sampah jika lebih banyak kritik yang kamu terima dari pada pujian. Minta masukan dari teman-temanmu. Kamu bisa mencoba merevisi karyamu sesuai masukan dari temanmu. Namun, jika hasilnya belum juga memuaskan, simpan karyamu. Suatu saat nanti, karya itu akan jadi harta yang tak ternilai. Saya selalu menyimpan karya-karya yang saya anggap “gagal”. Jika jam terbang menulis kamu sudah cukup tinggi, coba tengok kembali karya-karya itu. Boleh jadi bukan karena idenya tidak menarik, melainkan karena kemampuan kita yang belum matang. Prinsip ini tidak selalu berhasil jika kamu tidak memiliki teman-teman yang tertarik dengan dunia fiksi. Untuk itu kamu perlu bergabung dalam satu komunitas menulis. Kamu perlu memiliki teman-teman yang punya ketertarikan yang sama denganmu. Saat ini, komunitas menulis sudah sangat banyak dibanding ketika saya pertama kali belajar menulis fiksi. Selain sebagai kebutuhan untuk diskusi, komunitas juga sangat berguna untuk memotivasi kamu.
***
Duduk dan lakukan! Apakah nasihat Novakovich itu masih terdengar bombastis bagi diri kamu? Sekarang kamu sudah tahu prinsip-prinsipnya. Itu merupakan modal awal bagi kamu untuk masuk ke dunia fiksi. Sebuah dunia yang menawarkan banyak kemungkinan. Dunia rekaan yang bermuasal dari tiruan realitas yang telah mengalami proses pengendapan dalam diri penulis, sebelum melakukan proses pengimajinasian dan melahirkan dunia dalam kata. Selamat memasukinya!

Dialektika Makna Teks dalam Cerpan Mengejar Kupu-kupu

Jumat, 20 Agustus 2010

Esai Denny Prabowo Dimuat di Sabili Dunia anak-anak adalah dunia kertas putih. Dunia kepolosan dan kejujuran. Lingkungan akan menjadi tinta yang menorehkan apa saja di atasnya. Lingkungan yang paling dekat adalah keluarga. Maka keluarga akan sangat menentukan dengan tinta warna apa sebuah kata dituliskan di lembaran kehidupan seorang anak. Anak adalah gelas yang haus air pengetahuan. Cerpen Mengejar Kupu-kupu karya Nurhadiansyah merespon sebuah potret kehidupan seorang anak bernama Aryani dalam sebuah keluarga. Kesibukan membaca koran dan menonton televisi rupanya telah mengalahkan gairah orang tua menungkan air pengetahuan ke dalam gelas (anak) mereka, seperti yang dituturkan dalam paragraf pembuka yang langsung mengantarkan pembaca pada suasana dingin dari sebuah hubungan keluarga. Paragraf yang menggabungkan latar waktu dan tempat, juga peristiwa, disajikan dengan sangat puitis.
Usia pagi masih belia. Matahari baru saja merangkak dari balik ranting-ranting pepohonan. Mega-mega bersepuh susu berarak lambat melintasi cakrawala. Terlihat Aryani berlari-lari kecil mengejar kupu-kupu di halaman rumah yang rumputnya sangat terpelihara. Papanya sedang duduk di beranda membaca koran. Mamanya sedang berada di dalam kamar menonton televisi.
Kupu-kupu bersayap biru yang hadir begitu saja, tanpa permisi, di luar jendela kamarnya, mengusik rasa ingin tahu Aryani, membuat gadis kecil itu melupakan keasyikannya bermain boneka. Mengejar kupu-kupu hingga ke halaman rumah, sebelum kupu-kupu itu membawanya ke depan pintu pagar rumah. Aryani masih sempat menoleh ke arah mamanya yang masih asyik menonton televisi di dalam kamarnya, dan ayahnya yang masih asyik membaca koran di beranda rumah—sebuah peristiwa sederahana yang agaknya tidak terlalu menarik untuk nikmati. Menurut seorang filosof Prancis, Paul Ricouer, makna bahasa selalu bersifat ganda. Makna yang muncul dari dalam hubungan-hubungan yang ada di dalam teks, dinamakan makna teks. Dan makna yang lahir dari hubungan antara teks dengan dunia di luar teks, dinamakan referensi. Dalam prakteknya, dialektika makna teks dan referensi bisa pula dikatakan dialektika makna teks dan peristiwa. Dalam bahasa yang lebih populer, makna teks sangat dekat dengan sifat puitis, sedangkan apa yang dinamakan peristiwa lebih dekat dengan sifat prosais—Saya katakan “sifat” sebab belakangan nyaris sulit dibedakan antar puisi yang prosais dengan prosa yang puitis. Cerpen Mengejar Kupu-kupu tidak bermain pada peristiwa, tetapi lebih menekankan pada kekuatan makna. Kupu-kupu yang digambarkan pengarang dalam cerpen ini tidak bisa dipahami hanya sekedar hewan yang bisa terbang dan memiliki warna indah. Pemahaman semacam itu akan menyebabkan cerpen ini kehilangan makna yang sesungguhnya ingin disampaikan oleh penulisnya. Oleh sebab itu, untuk memahami makna kupu-kupu yang ada dalam cerpen Mengejar Kupu-kupu hanya mungkin dilakukan dengan membaca teks. Dari pemaparan di paragraf awal cerita semestinya kita sudah bisa memahami makna dari kupu-kupu yang dikejar oleh tokoh Aryani.
Papanya sedang duduk di beranda membaca koran. Mamanya sedang berada di dalam kamar menonton televisi. Lalu di mana Aryani ketika itu? ...ia sedang asik bermain boneka sendirian di dalam kamar. Ketika ia melihat kupu-kupu itu, ia langsung berseru,”Kupu-kupu! Kupu-kupu!”, dan ia langsung mengejar. Boneka yang saat itu berada di genggamannya langsung ia lemparkan begitu saja ke atas tempat tidur. Kedua orangtuanya tak ada yang tahu, kalau anaknya telah meninggalkan rumah, mengejar kupu-kupu bersayap biru.
Maka, jelaslah bahwa makna dari kupu-kupu yang sesungguhnya adalah keinginan atau harapan atau impian dari tokoh Aryani akan dekap hangat kedua orantuanya. Sayangnya makna teks yang telah berbicara banyak pada pembacanya dirasa belum cukup oleh penulisnya, sehingga penulis merasa perlu menjelaskan secara verbal lewat dialog salah seorang tokoh yang diucapkan ketika tokoh itu terheran-heran melihat seorang anak kecil berlari-lari seperti mengejar sesuatu, “Barangkali ia mengejar mimpi.” Karena tak ada seorang pun yang melihat kupu-kupu yang dikejar oleh Aryani. Apakah kupu-kupu selalu bermakna harapan atau keinginan atau impian? Dalam cerpen Ada Kupu-kupu, Ada Tamu karya Seno Gumira Ajidarma, kupu-kupu tidak digunakan sebagai metafora dari harapan atau keinginan atau impian, tetapi sebuah pertanda akan datangnya ‘tamu’ yang dalam cerpen itu digambarkan sebagai malaikat maut atau ajal. Makna dari kupu-kupu bisa berbeda-beda tergantung pada pemaparan dalam teks. Setelah pengejarannya, yang sampai membuat kekacauan lalu lintas itu, akhirnya kupu-kupu itu berhenti, sekuat tenaga Aryani melompat. Hap! Aryani berhasil. Kupu-kupu itu kini sudah berada di dalam genggamannya. Karena takut terlepas, Aryani menguatkan genggamannya.
Aryani membuka telapak tangannya dengan sangat hati-hati. Dan tampaklah seekor kupu-kupu yang mengerikan. Sayapnya yang biru itu kini rusak dan patah-patah. Tubuhnya gepeng dan mengeluarkan cairan entah apa. “Hiii...” Aryani membuang kupu-kupu itu dengan perasaan jijik. Tetapi, kupu-kupu itu tak dapat terlepas dari telapak tangannya. Kupu-kupu itu menjadi lengket, merekat, semakin merekat. Aryani merasakan kupu-kupu itu merasuk ke dalam tubuhnya. Tiba-tiba tubuh Aryani mengeluarkan sinar. Putih. Amat putih. Menyilaukan. Setelah itu, sinar itu menghilang dan Aryani berubah menjelma seekor kupu-kupu.
Aryani yang telah bermetamorfosa menjadi kupu-kupu terbang ke rumah sambil menangis. Ketika sampai di depan rumahnya, Ia melihat Ayahnya masih membaca koran di beranda. Mamanya masih asik menonton televisi di dalam kamarnya. Aryani sang kupu-kupu menangis. Kedua orang tuanya tidak ada yang mengetahui bahwa dirinya sudah berubah menjelma seekor kupu-kupu. Adegan-adegan di atas seperti menjelaskan mengapa harus kupu-kupu yang dipakai untuk menganalogikan keinginan atau harapan atau impian Aryani. Kupu-kupu memiliki sayap yang rapuh. Rasanya itu cukup menggambarkan betapa rapuh impian seorang Aryani, serapuh sayap kupu-kupu. Karena setelah dia berhasil meraih kupu-kupu bukannya kebahagiaan yang dia dapati, melainkan kesedihan karena dirinya menjelma menjadi kupu-kupu. Cerpen ini ditutup dengan ending yang sungguh tidak terduga yang sekaligus menjadi kekuatan utama dari cerpen ini. Sebuah teknik penyelesaian yang menimbulkan berbagai penafsiran, mengingatkan saya pada cerpen Karnaval karya Seno Gumira Ajidarma dalam buku Iblis tak Pernah Mati Rumah Cahaya, 30 Maret 2006

Sepasang Mata untuk Cinta yang Buta

Selasa, 10 Agustus 2010

Cerpen Noor H. Dee Dimuat dalam buku Sepasang Mata untuk Cinta yang Buta (Lingkar Pena Publishing House, 2008) Seperti biasa, setiapkali aku datang, mereka selalu memintaku untuk bercerita. Kali ini mereka menyuruhku untuk membawakan sebuah cerita yang tidak masuk akal. Alasannya apa, aku tidak tahu. “Ceritakanlah kepada kami tentang sesuatu yang tak dapat diterima oleh akal.” Begitu pinta mereka tadi. Maka aku pun bercerita tentang Cinta yang buta.
*
Cinta lahir tanpa mata. Itu sebabnya Cinta tidak pernah tahu seperti apa rupa cahaya. Hanya kegelapan yang selalu menyertai kehidupannya. Pagi, siang, senja, malam, baginya sama saja. Gulita. Tetapi, seiring dengan berjalannya sang waktu, akhirnya Cinta mengerti juga betapa pagi dan malam tidaklah sama. Cinta mengetahui hal itu melalui semesta suara. Suara-suara di pagi hari amatlah berbeda dengan suara-suara yang didengarnya di malam hari. Cinta memang buta, tetapi Cinta masih memiliki kedua telinga untuk mendengar segala jenis suara. Cinta mengetahui banyak hal dengan mendengar. Cinta melihat dunia dengan kedua telinga. Cinta adalah seorang gadis yang buta. Rambutnya sebahu, hitam, dan bergelombang. Hidungnya mancung dan bibirnya berwarna merah, semerah buah tomat. Kulit tubuhnya halus dan putih, seputih sekumpulan awan-gemawan yang selalu bergulung-gulung melintasi cakrawala. Belum lagi leher, dada, dan kakinya yang terlihat begitu indah dan menakjubkan untuk dimiliki oleh seorang gadis seusianya. Seandainya, ya, seandainya saja ada seorang laki-laki yang tanpa sengaja menyaksikan tubuh gadis tuna-netra itu tanpa busana, tentu laki-laki itu dengan sekejap bisa lupa diri dan akan langsung menggarap tubuh Cinta yang indah dan menakjubkan itu dengan begitu rakus, begitu maruk, begitu membabibuta tanpa sempat berpikir tentang dosa dan neraka. Cinta memang cantik. Cinta memang memiliki tubuh yang bisa dikatakan hampir sempurna. Tetapi, apakah itu masih begitu penting bagi dirinya yang tidak memiliki mata? Cinta tidak pernah bisa tahu secantik apa wajahnya. Cinta tidak pernah bisa tahu sesempurna apa tubuhnya. Meskipun sejuta cermin sudah berdiri tegak mengelilinginya, mengepung tubuhnya dari berbagai sudut penjuru, Cinta tetap tidak pernah mampu untuk menatap wajah dan tubuhnya sendiri. Jangankan untuk menatap wajahnya sendiri, untuk sekadar melirik setitik cahaya yang berada di ujung kegelapan pun Cinta tidak pernah sanggup. Itu sebabnya Cinta sering merasa sedih setiap kali Ratih, wanita yang sangat dikasihinya itu, memuji kecantikannya. “Kamu cantik, Cinta.” “Sudah ratusan kali kamu berkata seperti itu, Ratih. Terus terang aku sudah tidak terhibur lagi. Aku sedih setiap kali kamu berkata seperti itu. Katakanlah itu kepada mereka yang memiliki mata.” “Tapi kamu memang cantik, Cinta. Sungguh, aku tidak berbohong.” “Percuma, Ratih. Aku tidak akan pernah bisa mengetahuinya. Aku kira kamu hanya ingin menghibur hatiku saja. Kamu tahu aku memiliki kekurangan, kamu tahu aku cacat, lantas kamu merasa iba kepadaku. Kamu bilang wajahku cantik, agar aku bisa sedikit melupakan kecacatan diriku, bukan? Kamu hanya menghiburku, Ratih. Kamu hanya ingin menghiburku.” “Astaga! Mengapa kamu sampai berpikir seperti itu, Cinta?” “Entahlah, aku juga tidak tahu mengapa.” “Kamu cantik, Cinta. Kamu cantik dan aku tidak berbohong akan hal itu.” “Ah, seandainya aku juga tahu…” “Cinta.” “Hmm.” “Aku mencintaimu, Cinta.” Tentu saja Cinta juga mencintai Ratih. Dari bibir Ratih, Cinta jadi tahu lebih banyak tentang dunia. Setiap hari Ratih memang selalu bercerita. Ada kalanya Ratih bercerita tentang laut, rembulan, matahari, dan bintang. Ada kalanya juga Ratih bercerita tentang gunung, hutan, bunga, dan rerumputan. Melalui kisah-kisah yang diutarakan Ratih itulah akhirnya Cinta bisa tahu bahwa gajah adalah binatang bertubuh besar yang memiliki telinga lebar dan berhidung panjang. Gara-gara cerita dari Ratih itulah akhirnya Cinta bisa menduga-duga seperti apa rupa kupu-kupu, semut, kucing, dan segala jenis fauna lainnya. Cinta mencintai Ratih dalam kegelapan. Dalam kegulitaannya itulah Cinta merasa betapa Ratih begitu berharga bagi dirinya. * Cinta lahir tanpa mata. Itu sebabnya Cinta terkurung di dalam kamarnya. Kedua orangtuanya adalah sepasang manusia yang menuhankan kesempurnaan. Kehadiran Cinta di dalam keluarga tentu saja tidak diharapkan. Meskipun Cinta lahir sebagai bayi yang cantik, lucu, dan menggemaskan, tetap saja ada sebongkah kekecewaan di dalam hati kedua orangtuanya. Cinta lahir tanpa mata, sehingga kedua lubang matanya itu tampak kosong serupa lorong hampa yang gulita. Bayi yang lahir tanpa mata adalah bayi yang tidak sempurna. Tidak sempurna adalah cacat. Cacat adalah aib, dan aib itu tentu saja memalukan. Itu sebabnya Cinta selalu dikurung di dalam kamarnya tanpa di beri kebebasan. Kedua orangtuanya tidak dapat membayangkan apa jadinya jika ada masyarakat yang mengetahui bahwa mereka memiliki anak yang cacat. Waktu terus merambat. Cinta yang sejak bayi tidak pernah merasakan air susu ibunya itu pun akhirnya menjadi seorang gadis remaja. Cinta besar di dalam kamar. Terpasung seperti seorang gadis gila yang celaka. Cinta yang sebelumnya menganggap bahwa dunia ini hanyalah semesta kegelapan, lambat laun akhirnya Cinta mengerti juga betapa dunia ini sebenarnya tidaklah gelap, melainkan penuh warna. Cinta tahu itu dari Ratih yang setiap hari selalu membantu keperluan dirinya: memberikan makan dan minum, membereskan pakaiannya, dan mengantarkannya ke toilet jika Cinta ingin buang air besar maupun kecil. “Mengapa aku tidak bisa melihat, Ratih?” tanya Cinta kepada Ratih. “Karena kamu tidak memiliki mata,” jawab Ratih. “Apakah kamu memiliki mata, Ratih?” “Ya, aku memiliki mata.” “Kamu bisa melihat?” “Ya, aku bisa melihat.” “Mengapa aku tidak memiliki mata, Ratih? Mengapa aku tidak bisa melihat?” Saat itu Ratih tidak menjawab apa-apa. Ratih hanya bisa memeluk tubuh Cinta dengan begitu erat, sambil membisikkan sesuatu di telinga kanan milik Cinta, ”Semua ini sudah ada yang mengatur, Cinta. Kita tidak akan bisa berbuat apa-apa lagi selain menjalaninya.”. Begitulah. Cinta pun tumbuh menjadi seorang gadis remaja yang selalu ingin banyak tahu. Setiap kali Cinta mendengar sesuatu, kicau burung misalnya, Cinta selalu bertanya kepada Ratih: suara apakah itu? Seperti apa bentuknya? Mengapa suaranya seperti itu? Lantas, Ratih akan menjawab panjang lebar, terkadang ditambah dengan sedikit lelucon segar yang selalu saja membuat Cinta tertawa atau setidaknya tersenyum riang. Ratih memang pandai bercerita. Setiap kali Cinta bertanya, Ratih selalu menjawab. Setiap ada sesuatu hal yang Cinta tidak mengerti, Ratih selalu menjelaskan. Begitulah selalu. Dari waktu ke waktu. Sehingga, entah mengapa, pada akhirnya Cinta dan Ratih pun saling menyukai dan ingin saling memiliki.
*
Cinta mencintai Ratih dalam kegelapan. Dalam kegulitaanya itulah akhirnya Cinta merasa tersiksa. Itu sebabnya, pada suatu malam yang anginnya terasa begitu dingin menggigilkan tulang, Cinta mengatakan kepada Ratih betapa dirinya ingin sekali memiliki sepasang mata. “Berikan aku sepasang mata, Ratih.” Sejenak Ratih terdiam. Tentu saja Ratih tidak bodoh, sehingga Ratih tidak menanyakan alasan apa Cinta ingin memiliki sepasang mata. Tentu saja agar bisa melihat. Ratih tahu itu. Ratih hanya bisa bertanya, “Kapan?” Cinta menjawab, “Sekarang. Aku sudah jenuh dengan kebutaan mataku, Ratih. Aku juga ingin melihat dunia yang kamu lihat. Aku ingin melihat rembulan dan bintang gemintang. Aku ingin melihat kupu-kupu, kucing, dan gajah yang katamu berhidung panjang itu.” Ratih tersenyum. “Hanya itu?” tanya Ratih kemudian. Cinta mengangkat kedua telapak tangannya, meraba-raba udara, mencari-cari letak wajah Ratih yang sedang berada di hadapannya. Disentuhnya wajah Ratih itu dengan amat lembut dan perlahan. Ada yang bergerak-gerak di dalam dada Ratih ketika merasakan kedua telapak tangan Cinta yang halus itu meraba-raba kedua pipinya. “Tentu saja aku juga ingin melihat wajahmu, Ratih. Aku ingin tahu seperti apa bentuk matamu, kupingmu, juga rambutmu.” “Aku juga ingin kamu bisa melihat wajahku, Cinta. Aku ingin kamu tahu seperti apa bentuk mataku, kupingku, juga rambutku.” “Itu sebabnya, berikan aku sepasang mata.” “Agar bisa melihat dunia?” “Agar bisa melihat dunia.” “Agar bisa melihatku?” “Agar bisa melihatmu.” “Cinta…” “Hmm.” “Akan aku berikan sepasang mata untukmu.” “Kapan?” “Sekarang. Saat ini juga.” “Sungguh?” “Apakah aku pernah tidak bersungguh-sungguh kepadamu?” Cinta menggelengkan kepalanya. “Sepasang mata milik siapakah yang akan kamu berikan untukku, Ratih?” tanya Cinta kemudian. “Milikku.” Cinta terdiam. Cinta menarik nafas dalam-dalam. Cinta merasa segalanya menjadi begitu lengang. “Mengapa kamu terdiam, Cinta? Adakah yang salah dengan ucapanku?” “Mengapa kamu rela mengorbankan sepasang matamu itu untukku?” Ratih tidak langsung menjawab. Dengan perlahan, Ratih mencongkel bola mata kirinya dengan jari telunjuknya. Astaga! Tidak ada setetes darah pun yang keluar dari lubang matanya itu. Ajaib! “Aku rela memberikan mataku ini untukmu, karena aku mencintaimu, Cinta.” Ratih membuka kelopak mata Cinta, lantas memasukkan bola mata kirinya ke lubang mata kiri Cinta yang kosong itu dengan amat perlahan. Setelah berhasil, Ratih buru-buru menutup kembali kelopak mata Cinta. “Jangan kamu buka dulu matamu sebelum keduanya terpasang.,” ujar Ratih lembut. Cinta mengangguk. Kemudian, Ratih mencongkel bola mata kanannya dengan jari telunjuknya. Kali ini Ratih amat hati-hati. Seperti tadi, tidak ada setetes darah pun yang mengalir. Setelah bola mata kanannya berhasil dicongkel, Ratih pun menjadi buta. Kegelapan menyelimuti dirinya. Untung saja Ratih sudah tahu seperti apa seharusnya letak bola mata itu ditaruh, sehingga Ratih tidak keliru ketika memasukkan bola mata kanannya itu ke dalam lubang mata Cinta. Sepasang mata milik Ratih pun akhirnya berhasil pindah tempat ke lubang mata milik Cinta. Dengan letak dan posisi yang sempurna. “Sekarang, coba buka kedua matamu dengan perlahan,” pinta Ratih dengan suara yang amat halus. Cinta menarik nafas dalam-dalam. Cinta membuka kedua matanya dengan perlahan. “Bagaimana? Apakah kamu bisa melihat wajahku?” tanya Ratih kemudian. Cinta tidak menjawab apa-apa.
*
“Tamat,” ujarku, sambil membenarkan letak topi hijauku. Sejenak mereka terdiam. Mereka menatapku dengan pandangan mata bertanya-tanya. “Apakah akhirnya Cinta bisa melihat?” tanya mereka dengan raut wajah penasaran. Aku mengambil sebatang rokok dari dalam saku jaketku, menyelipkannya di antara celah bibirku, lantas membakarnya. Sekepul demi sekepul asap membumbung di udara. “Menurut kalian, bagaimana?” tanyaku kemudian, sambil berdiri dan beranjak pergi.
Depok, Februari-Maret 2006

Lomba Cerpen

Cerpen Dhinny El Fazila Azra dan Silvy baru aja keluar kelas setelah pelajaran bahasa Indonesia yang ngebosenin. Buat Azra dan Silvy pelajaran bahasa Indonesia di jam menjelang pulang sama aja dengan dongeng sebelum tidur. Syukur kalo mereka nggak sampe tidur di kelas. Anak-anak lain udah bertebaran di luar kelas. Ada yang langsung pulang, ada juga yang sholat zuhur dulu di musholla sekolah. “Huah…! Untung tadi aku nggak tidur. Kalo nggak aku bisa kena setrap sama Bu Sofi.” Azra bicara setelah menguap. “Tau tuh. Kenapa sih harus ada pelajaran dia, aku sih mending disuruh tidur siang daripada ikut pelajaran dia.” Sahut Silvy. “Ye...semua orang juga bakal milih gitu kali,” sungut Azra mendengar pernyataan temannya yang sama sekali nggak berbobot. Tiba-tiba pandangannya tertuju pada papan pengumuman milik anak ekskul mading. “Eh, apaan tuh, Vy?” Mereka berjalan mendekati papan. Tertempel sebuah kertas pengumuman tentang lomba cerpen berhadiah uang tunai sepuluh juta. “Lomba cerpen buat pelajar. Total hadiahnya satu setengah juta. Lumayan Zra,” “Temanya apa?” “Bebas, yang penting bagus.” “Ikutan yuk, siapa tau menang. Bisa buat beli bakso seember,” “Yah...tapi aku nggak bisa bikin cerpen.” “Ya udah, kalo kamu nggak mau aku aja yang ikutan.” “Emang kamu bisa?” “Bisa.” “Masa?” “Bisa kalah maksudnya, hehe...” “Dasar!” Silvy mencubit pinggang temannya. Azra bermaksud menghindar tapi kalah cepat. “Tapi serius mo ikut?” “Emang kenapa?” “Aku bantuin deh,” “Serius?” “Serius dong, masa bo’ong.” “Mo bantu apa?” “Bantu doa aja ya,” “Dasar!” “Hehehe...satu sama!”
***
Azra sama sekali nggak konsentrasi ngedengerin Bu Azifa ngejelasin teori relatifitas einstein. Pikirannya terbang kemana-mana. Pandangannya menerawang menembus dinding kelas. Dia masih mencari-cari ide buat cerpen. “Zra, sst..kamu kok bengong sih?” Silvy menyenggol kaki Azra dengan kakinya. Tapi Azra cuma diam. “Zra, Zra,” panggil Silvy lebih keras. Tapi Azra tetap bungkam. “Zra, ntar dipanggil Bu Azifa lho.” Kata Silvy. Lebih keras dari yang tadi. Azra masih diam. Meski ruhnya sudah terbang kemana-mana mencari ide, tapi sayup-sayup dia masih bisa mendengar penjelasan Bu Azifa tentang teori relatifitas yang menjelaskan mengapa seorang astronot yang pulang dari bertugas keluar angkasa akan mendapati keadaan di bumi sudah berubah total. Astronot itu akan mendapati anak-anaknya yang masih kecil tiba-tiba sudah punya anak lagi. Hal itu yang sedang dijelaskan Bu Azifa dengan teori relatifitas. Tiba-tiba Azra dapat ide untuk buat cerpen science fiction tentang teori relatifitas. Lalu tanpa diduga Azra berteriak, “Oh, iya!” Sontak seisi kelas melihat ke arahnya. Tapi yang paling kaget Silvy. “Zra, kamu apa-apaan sih?!” Silvy panik karena semua mata masih tertuju padanya dan Azra. “Apanya yang oh iya Azra?!” Tanya Bu Azifa tegas dengan mata melotot. “Eh, eng...nggak Bu.” Azra gugup. “Apanya yang enggak! Jelas-jelas kamu tadi teriak sampai membuyarkan konsentrasi saya!” Azra tertunduk malu sekaligus takut. Bu Azifa memang dikenal sebagai guru killer. Kalo udah marah seisi kelas bisa jadi korban. “Azra, dari tadi ibu perhatikan kamu melamun terus. Sekarang kamu maju kerjakan soal di papan tulis.” Seisi kelas mengurut dada tanda syukur. Biasanya Bu Azifa kalo marah langsung pergi ninggalin kelas terus ngasih soal yang bejibun banyaknya. Mungkin hari ini moodnya lagi enak. Tinggal Azra yang kelimpungan karena dari tadi dia sama sekali nggak dengerin penjelasan Bu Azifa. Di depan kelas dia cuma berdiri mematung. Semenit, dua menit Bu Azifa nunggu dia ngerjain soal, tapi tetep aja dia nggak bisa nulis apa-apa. “Azra! Kamu gimana sih! Masa soal mudah kayak gitu kamu nggak bisa jawab?!” Azra menunduk pasrah. “Sebagai hukumannya, kamu harus mengerjakan soal-soal fisika yang ibu buat sebagai PR. Nanti sebelum pulang kamu ambil soalnya di ruangan ibu. Sekarang kamu duduk!” Azra kembali ke kursinya dengan lemas.
***
Azra masih asik menuliskan idenya yang didapat dari Bu Azifa tadi siang di atas selembar kertas kosong. Sayang, baru sampai paragraf ke tiga, pikirannya buntu lagi. Sambil mencari ide, Azra kembali memandang langit-langit. “Duh, kayaknya science fiction butuh banyak referensi. Mama punya nggak ya?” Azra beranjak dari tempat tidurnya menuju ruang nonton TV dimana papa dan mamanya lagi asik nonton teledrama asia. “Ma...!” “Kenapa sayang?” “Mama dulu kuliah di MIPA kan?” “Iya, emang kenapa?” “Punya buku tentang teori relatifitas nggak?” “Ada di gudang, buat apa say? Tumben kamu rajin mau baca-baca gituan.” “Ada deh...” Azra senyum-senyum. “Ya udah, cari aja di gudang.” “Thanks ya Ma,” Azra melesat ke gudang. Membongkar tumpukan buku-buku berdebu. Sesekali ia terbatuk dan bersin-bersin. Malah waktu dia buka satu buku di dalamnya sudah nangkring seekor kecoa yang sudah gepeng. “Hia...!!!” Mama dan papanya serentak teriak dari ruang tengah. “Kenapa Zra?!” “Nggak kok, cuma kecoa!” Azra kembali melanjutkan pencariannya. Tapi tak sampai satu jam, ia bosan sendiri. “Hah...capek. Nggak jadi buat cerpen science fiction ah. Susah!” Ia kembali ke kamarnya. Baru saja ia hendak memejamkan mata, tiba-tiba HP nya berbunyi. Sebuah SMS masuk. Ass. Lagi ngapain? Tugas fisikanya udah dikerjain belom. Met ngerjain ya, hehehe...makanya lain kali jangan ngelamun di kelas. Sender : Silvy 08564596357 “Ya ampuuunnn...!!! Aku lupa ngerjain!”
***
Azra dan Silvy sibuk menulis sesuatu di buku tulisnya sementara Pak Burhan masih sibuk menerangkan rumus-rumus phytagoras. Bedanya, Silvy menulis apa yang ditulis Pak Burhan di papan tulis, sedang Azra sibuk menulis ide yang udah didapet tadi pagi waktu dia mau berangkat sekolah. Sayangnya, baru dua halaman, dia udah ngerasa tulisannya nggak bagus. Kemudian kertasnya langsung dia remas lalu ditaro gitu aja dikolong meja. Kolong meja emang jadi tempat buang sampah yang paling asik buat anak-anak sekolah. Praktis, nggak perlu jauh-jauh jalan keluar kelas. Walhasil, berbagai macam sampah mulai dari kertas nggak kepake, sampe permen karet bekas dikunyah semuanya nempel di kolong meja. Bel pulang berdentang lantang. Pak Burhan menyudahi pelajarannya. Ketua kelas menyiapkan anak-anak sekelas. “Siap! Berdoa!” Anak-anak menundukkan kepalanya ke meja. “Selesai!” Anak-anak mengangkat kepalanya lagi. “Memberi salam!” “Assalammualaikum warahmatullahi wabarakatuh.” Sahut anak-anak serempak.
***
“Vy, kayaknya aku nggak jadi ikut lomba itu deh. Aku bener-bener nggak ada ide.” “Bener Zra?” Azra mengangguk. “Kamu yakin?” Azra mengangguk lagi. “Kamu bener-bener yakin?” Azra jadi kesel. “Iya! Emang kenapa sih?!” “Alhamdulillah...akhirnya. Syukur deh, temen aku normal lagi.” “Enak aja! Emang aku gila!” Mereka tertawa berdua. Sementara itu di kelas Azra dan Silvy, beberapa anak masih belum pulang. Hari ini jatah mereka piket. Sebenernya jadwal piket mereka besok. Tapi kesepakatan kelas dua lima, kelasnya Azra dan Silvy, yang piket besoknya udah harus bersihin kelas sehari sebelumnya waktu pulang sekolah biar besoknya nggak repot lagi. Waktu lagi bersih-bersih kolong meja, Rifky, salah satu dari yang piket nemuin kertas dari kolong meja Azra. Sebelum dibuang dia baca-baca dulu. Isinya cerpen Azra yang setengah jadi. Setelah baca, dia langsung senyum-senyum. Setelah piket selesai, dia langsung pulang naik motor. Rumahnya emang agak jauh dari sekolah. Selain itu keluarga Rifky termasuk orang berada sehingga bisa membelikannya motor meski Rifky masih SMP. Sore hari dirumahnya, ia melihat Pak Kasim supir ayahnya sedang mencuci mobil. “Pak Kasim, selesai cuci mobil, tolong anter surat ini ke kantor pos ya.”
***
“Zra, liat tuh! Pengumuman pemenang lomba cerpennya udah dipasang, liat yuk.” Silvy menarik tangan Azra. Azra mengikutinya dengan malas. Yang pasti yang menang bukan aku... ya iyalah, aku kan nggak ikut. Pengumuman lomba udah diganti dengan pengumuman pemenang. Silvy melihat dengan semangat.
Pemenang lomba cerpen pelajar dalam rangka menyambut HUT RI ke 70 Juara I Rifky Handayani SLTPN 1000 Depok Juara II Simphoni Nada Harpha SLTPN 28 Malang Juara III Nasca Feliccia Oscar SLTPN 3 Jakarta
***
Sementara itu, seorang pemulung yang biasa mengangkut sampah dari bak sampah di depan rumah Azra terlihat asik membaca sampah kertas-kertas yang sudah diremas jadi bola. Di kertas-kertas itu, tersimpan cerpen-cerpen setengah jadi Azra. taMat

Sepatu Basket

Jumat, 30 Juli 2010

Cerpen Denny Prabowo
Dimuat di Aneka Yess!
Har mondar-mandir di depan meja tamu. Di atas meja itu tergolek selembar amplop warna cokelat. Selepas ashar tadi seorang pria bersafari menitipkannya pada Har. Ibunya sedang tidak ada di rumah. Sejak siang tadi Ibu sibuk mengantarkan kue- kue pesanan para langganannya. “Tolong amplop ini diberikan ke Ibu ya? Bilang saja dari Ibu Atik, untuk melunasi kue-kue Lebaran yang dipesan Ibu Atik. Sisanya akan diberikan Ibu Atik kalau kuenya sudah diantarkan,” pesan pria bersafari, sebelum Volvo hitam berplat militer meninggalkan halaman rumahnya. Usaha katering ibunya memang sangat terkenal. Kebanyakan pelanggannya dari kalangan pejabat pemerintah, petinggi-petinggi militer, pengusaha, artis, dan banyak lagi. Menjelang Lebaran seperti ini, ibu kebanjiran order. Beliau bahkan sudah tidak menerima pesanan sehari menjelang puasa. Sejak ayahnya yang seorang tentara meninggal dunia saat menjalankan tugas di Aceh, ketika jaman-jaman DOM dahulu, ibunya yang menjadi tulang punggung keluarga. Kalau hanya mengandalkan pensiuan ayahnya, mana mungkin mereka hidup serba berkecukupan seperti sekarang ini: punya rumah bagus, mobil bagus, dan segala yang bagus-bagus yang hanya mungkin diangankan kalau ibunya hanya mengandalkan hidup dari uang pensiun ayahnya. Bahkan berkat usaha kateringnya dia bisa menyekolahkan Mbak Mukti dan Mas Depo ke luar negeri! Kalau lulus SMU nanti, Har akan menyusul kedua kakaknya yang sudah lebih dulu menimba ilmu di negeri Michael Jordan.
Tapi ada yang tak pernah berubah dari ibunya sejak mereka masih tinggal di mes tentara waktu ayahnya masih hidup, sampai sekarang mereka sudah tinggal di perumahan elite di kawasan Depok. Kesederhanaan! Itu yang selalu Ibu ajarkan kepada anak-anaknya. Beliau tidak suka menghambur-hamburkan uang demi yang namanya kemewahan. Meski mereka memiliki mobil, Ibu tak pernah mengijinkan Har ke sekolah diantar pak sopir. “Kalau mau berhasil, kamu harus belajar jadi orang kecil. Nggak usah bertingkah seperti teman-temanmu yang kaya-kaya itu.” Begitu nasehat beliau waktu Har memaksa sopir keluarga mengantarnya ke sekolah. Sesungguhnya Har bisa mengerti sikap ibunya. Tapi lama-kelamaan, dia bosan juga. Sebagai anak remaja, tentunya dia ingin juga berpenampilan seperti teman-temannya di sekolah. Baju, merek ternama. Celana, beli di Singapura. Sepatu, pesan di Amerika atau Italia. Pokoknya, seperti gaya-gaya remaja yang sering menghias sampul-sampul majalah, atau artis-artis sinetron di teve-teve swasta. Up to date. Funky dan trendy. Dan ke mana-mana selalu naik mobil mewah, diantar sopir atau duduk sendiri di belakang stir. Teman-teman sekolahnya memang kebanyakan dari kalangan anak pejabat, anak pengusaha kaya, anak penyanyi tenar atau bintang sinetron ternama. Har masih memandangi amplop cokelat di atas meja. Kalau dilihat dari tebalnya, pasti uang yang ada di dalamnya cukup banyak. Kalau dia mengambilnya selembar, atau bahkan beberapa lembar saja, pasti Ibu tidak akan menyadarinya. Apalagi beliau sedang sibuk-sibuknya dengan urusan pesanan-pesanan kue Lebarannya. Sudah lama Har mendambakan bisa memakai sepatu seperti yang dipakai legenda basket Michael Jordan atau seperti yang dipakai shooting guard asal LA Lakers, Kobe Bryant. Dia sudah bosan dengan sepatu Bata yang dibelikan ibunya saat dia masuk ke SMU. Sudah setahun lebih sepatu itu tidak diganti. Sekarang Har sudah duduk di bangku kelas dua.
Har masih ingat bagaimana komentar Sheila, yang anak seorang pengusaha perbankan, saat tanpa sengaja Har menginjak sepatu barunya yang dibelikan papanya langsung dari pabriknya di Amerika sana. “Kalo jalan, liat-liat dong!” “Sori?” “Sori, sori… kalo rusak bisa ganti nggak lo?!” Har hanya menunduk. “Hati-hati, She… n’tar sepatu lo bisa kena tetanus diijek sama sepatu Har!” kata Ave, membuat seisi kelas menertawainya. Kalau saja tidak ingat sedang berpuasa, rasanya Har ingin sekali membuat jontor bibir si Ave saat itu juga. Kemarin Har menagih jatah Lebarannya pada Ibu, meski Lebaran masih beberapa hari lagi. “Tenang aja, Ibu sudah siapkan.” Ibu masuk ke dalam kamarnya. Tak berapa lama dia kembali bersama selembar amplop putih di tangannya. “Ibu nggak sempat membelikan. Kamu beli aja sendiri. Ingat! Nggak usah yang mahal-mahal. Yang penting awet.” Har menerima amplop. “Tumben,” ucapnya dalam hati. Biasanya keperluan Lebarannya sudah disiapkan oleh ibunya. Dia membuka amplop pemberian ibunya. “Cuma lima ratus ribu?!” batinnya. “Yah.. mana cukup, Bu…” “Lima ratus ribu nggak cukup?! Biasanya kalo Ibu membelikan kamu baju, nggak sampai sebanyak itu.” “Iya. Tapi Har mau beli sepatu juga, Bu.” “Masa, lima ratus ribu nggak cukup buat beli baju dan sepatu. Memangnya kamu mau beli sepatu yang kayak apa sih?” “Har mau beli sepatu basket.” “Emangnya kamu bisa main basket?” “Ya nggak sih. Tapi nggak ada salahnya kan Har pakai sepatu basket ke sekolah?” “Memangnya berapa harga sepatu yang mau kamu beli?” “Ng… nggak sampe satu juta kok, Bu.” “Satu juta?!” “I... iya, Bu. Ibu mau nambahin kan?” “Nggak ada! Itu namanya pemborosan. Beli sepatu kok mahal-mahal. Nanti juga diinjak-injak juga.” “Yah, Ibu… masa, Har harus beli sepatu Bata lagi? Malu dong sama teman-teman, Bu.” “Kalo kamu nggak naik kelas, baru kamu boleh malu. Masa, gara-gara pakai sepatu Bata kamu malu? Nggak usah bertingkah yang macem-macem deh. Atau kamu mau Ibu belikan septu basket, tapi kamu nggak usah kuliah?” “Mana bisa begitu, Bu.” “Ya bisa aja. Orang Ibu yang punya uang. Pilih mana?” Har tak bisa berkata-kata. Percuma. Dia tak akan pernah menang berdebat dengan ibunya. Lagi-lagi wajah Sheila terbayang-bayang di benaknya. Dia masih ingat bagaimana reaksi gadis mungil yang sombong itu waktu sepatu barunya terijak olehnya. Belum lagi tampang si Ave waktu melontarkan ejekan kepadanya. Ah… Har hanya bisa tertunduk lemas saat itu. Semakin lama dipandang, amplop berisi uang di atas meja tamu itu, semakin tampak mempesona. Dengan beberapa lembar uang di dalamnya, Har sudah bisa mewujudkan impiannya memiliki sepatu basket seperti yang dipakai Michael Jordan atau Kobe Bryant. Tapi kalau dia membeli sepatu yang harganya selangit itu, pasti Ibu akan bertanya dari mana Har mendapatkan tambahan uang. Apa yang nanti harus dia katakan? Ah, kalau Ibu tidak melihat sepatu itu, tentu dia tak perlu menyiapkan alasan apa pun, selama dia bisa menyembunyikan sepatu itu dari pandangan mata Ibu! Nanti, kalau dia sudah bisa mengembalikan uang yang dipakainya pada Ibu, baru dia mengatakan yang sebenarnya pada Ibu. “Pasti Ibu tak akan marah saat itu,” begitu pikir Har. Akhirnya Har mengambil lima lembar seratus ribuan dari dalam amplop cokelat yang seharusnya dia berikan kepada Ibu. Tapi dia kembali ragu. “Bagaimana kalau nanti Ibu menanyakan ‘jatah Lebaran’ yang diberikannya?” Har memutar otaknya. “Aha! Kukatakan saja pada Ibu bahwa uang itu kutabung dulu sampai aku bisa mengumpulkan kekurangannya untuk beli sepatu basket. Yes! Lebaran besok aku sudah bisa memakai sepatu basket. Sheila pasti tak akan memandang hina kepadaku lagi. Dan Ave… akan kubungkam mulutnya yang suka mengejek itu. Lihat saja nanti!”
Ba’da megrib. Selepas menyantap hidangan buka puasa terakhir, Har tampak sudah rapi dengan kaos oblong, celana jeans, dan tentu saja sepatu Bata-nya. Malam ini dia akan pergi ke Mal Depok untuk membeli sepatu basket. Dia belum memutuskan apakah akan membeli sepatu seperti yang dipakai Michael Jordan, atau seperti yang digunakan Kobe Bryant. Pokoknya salah satu dari itu! Sebenarnya Har nggak tahu-menahu soal basket. Dia hanya sering mendengar teman-teman sekolahnya membicarakan kedua pemain itu. Dia hanya tahu sepatu yang dipakai kedua pemain itu bagus dan digemari oleh teman-temannya. Di sekolahnya, SMU Favorit, olahraga basket memang sangat digemari. Jadi, meski tak ada lagi stasiun TV yang menayangkan pertandingan NBA lagi, style basket masih jadi trend di lingkungan sekolahnya. Tapi setibanya di Mal Depok, Har malah jadi bingung sendiri. Begitu banyak orang yang berbelanja di tempat itu. Melihat lautan manusia sebanyak itu, kepala Har jadi pening. Padahal, dia belum mendapatkan apa yang dicarinya. Har memutuskan untuk keluar dari mal, mencari udara segar. Har masuk ke dalam restoran siap saji yang berada di samping kanan bengunan mal. Buka puasa tadi dia memang belum makan. Har memesan dua dada ayam goreng dan segelas minuman soda. Lalu mengambil tempat di lantai dua, di dekat jendela. Dari tempatnya, dia bisa melihat hiruk-pikuk orang-orang di bawah sana, yang semakin malam semakin bertambah jumlahnya! Tiba-tiba matanya tertumbuk sesosok tubuh kumal yang tengah tertidur di depan tangga masuk mal. Mungkin sudah sejak tadi siang dia berada di situ. Mengharap selembar-dua lembar rupiah dari tangan-tangan orang berhati dermawan. Karena terlalu banyak orang, waktu keluar dari mal tadi, Har tidak melihat pemuda itu duduk di sana.
Pemuda seusianya itu tampak letih. Matanya terpejam. Sebuah topi jerami tergeletak di depannya. Beberapa orang yang lalu-lalang melemparkan uang ke dalam topinya. Har menghampiri pemuda itu. Untuk beberapa saat dia mematung. Ragu. Lalu seperti ada yang menggerakkan tangannya. Dia mengutip selembar ratusan ribu dari dalam dompetnya. “Empat ratus ribu kurasa cukup buatku membeli baju baru dan sepatu Bata....” Har tertawa dalan hatinya. “Biarlah aku nggak jadi membeli sepatu basket. Lima ratus ribu yang aku pinjam tanpa sepengatahuan Ibu lebih baik kukembalika saja.” Har melemparkan uang seratus ribu ke dalam topi jerami milik pemuda peminta-minta itu. Ia menepuk pundak pemuda itu, sebelum melangkah pergi. Pemuda peminta-minta itu terjaga karena tepukan di pundaknya. Dia melihat ke kanan dan ke kiri. Mencari tahu siapa yang sudah membangunkan tidurnya. Tiba-tiba dia teringat dengan topi jeraminya. “Sudah berapa ya uang yang ada di dalamnya?” gumamnya dalam hati. Pemuda itu memungut selembar ratusan ribu yang ada di dalam topi jeraminya. Dia meneliti uang itu. “Asli!” teriaknya dalam hati. “U... uang… uang! Siapa orang baik hati itu? Alhamdulillah....” pemuda itu berucap syukur berkali-kali. “Mungkin seorang malaikat yang meletakkannya di sana.” Begitu pikir pemuda itu, yang untuk berjalan harus menggunakan kedua tangannya, karena dia tidak memiliki sepasang kaki. Kedua kakinya teramputasi hingga nyaris sebatas pangkal pahanya! Setiba di rumah, Har membuka kotak sepatu yang baru dibelinya. Dia mencoba mengenakan sepatu barunya. Bukan sepatu basket, memang. Bukan juga sepatu Bata seperti miliknya. Har membeli sepatu made in Cibaduyut yang terkenal tahan lama itu. Biar awet! “Gak jadi beli sepatu basket, Har?” ibunya menyindir. “Ah, Ibu…” Har tersipu malu, “Har emang pernah bersedih karena gak punya sepatu basket seperti teman-teman Har, sampai… Har bertemu seorang yang tidak memiliki kaki!” Ibu tersenyum dan membelai kepala anak semata wayangnya.

Melukis Senja

Cerpen Depo
Dimuat di Aneka Yess!
Ah, bocah itu… usianya masih belasan tahun, tapi dia memiliki kebijaksanaan seorang resi yang telah bersemedi ratusan tahun! Aku memandangi lukisan-lukisan yang tergantung di dinding-dinding kamarku. Semuanya adalah “mahakarya” dari seorang pelukis muda yang sangat berbakat. Bukan aku yang mengatakan lukisan-lukisan itu sebuah “mahakarya”. Tapi mereka yang mengatakannya. Para kolektor lukisan. Dan bukan pula aku yang mengatakan pelukis yang melahirkan lukisan yang mereka sebut sebagai “mahakarya” itu seorang yang sangat berbakat. Tidak, aku tidak pernah mengatakannya. Mereka yang mengatakannya. Mereka pengamat-pengamat seni, kurator-kurator yang banyak menentukan lukisan mana yang pantas dipajang di galeri-galeri seni ternama atau di pameran-pameran lukisan berkelas.
Aku sendiri tidak tahu mengapa lukisan-lukisan itu mereka sebut “mahakarya”. Sebab menurutku, tak satu pun karya yang lahir dari tangan-tangan manusia pantas disebut sebagai “mahakarya”. Tidak seorang Affandi, Basuki Abdulah atau siapa pun. Tidak. Hanya Allah saja yang pantas. Yang kutahu, aku hanya merasa bahagia ketika berhasil menyelesaikan semua lukisan-lukisan itu. Ya. Sesungguhnya, akulah pelukis yang melahirkan lukisan-lukisan itu. Akulah yang mereka sebut sebagai The Rising Star. Seseorang yang kelak akan sebesar Affandi atau Basuki Abdulah. Bahkan lebih besar lagi. Begitu pendapat mereka. Tapi mengapa aku merasa bahagia setiap kali berhasil menyelesaikan sebuah lukisan? Aku sendiri tak bisa menjawab pertanyaan itu. Sebuah perasaan. Siapakah yang mempu menerjemahkannya ke dalam bahasa kata? Itu makanya, aku lebih memilih melukiskannya.
Dengan kuasku, kuterjemahkan segala yang kurasa ke atas kanvas. Terkadang tanpa bentuk. Hanya sapuan-sapuan melingkar, lurus, segitiga, kubus dan entah berebentuk apalagi, dengan kombinasi warna yang mampu menggambarkan letup-letup rasa di dalam kalbu: sedih, bahagia, marah, benci, muak, putus asa, dan lain-lain, dan sebagainya, dan seterusnya. Abstrak. Tapi memang, sampai saat ini aku lebih dikenal sebagai seorang realis dan juga naturalis. Karya-karya abstrakku hanya kusimpan sendiri.
Bahkan terkadang, setelah aku selesai membuatnya, aku membuangnya ke tong sampah! Entah mengapa, selalu saja ada kolektor yang datang menawar lukisanku. Dengan harga tinggi! Sampai-sampai aku bertanya dalam hati, apa pantas aku mendapatkan penghargaan setinggi itu untuk lukisan-lukisan abstrak yang kubuat, padahal aku hanya melukiskan perasaanku saja? Entah. Saat itu aku tak mampu menjawab pertanyaanku sendiri.
Aku baru menemukan jawabannya sejak beberapa bulan lalu. Sejak aku tak lagi mampu menerjemahkan apapun ke dalam kanvasku, aku baru tahu, betapa berharganya lukisan-lukisan itu. Banyak orang yang tak mampu menerjemahkan perasaannya ke dalam bentuk apa pun. Sebelum akhirnya dia frustasi. Dan mencoba untuk bunuh diri. Atau menjadi penghuni bangsal Rumah Sakit Jiwa! Seperti yang kualami saat ini. Frustasi! Haruskah aku bunuh diri?Beberapa bulan lalu.
Malam. Bulan mengintip dari balik legam lengan awan. Kota terlelap dalam mimpi basah musim penghujan. Tiger 2000-ku meluncur tenang di atas aspal basah. Hujan lebat sore tadi, tidak menurunkan minat para kolektor lukisan mengunjungi pameran lukisanku. Bukan pameran tunggal, memang. Tapi dua pelukis yang memajang karyanya di pameran itu, telah sangat dikenal luas. Itu saja sudah membuat aku bangga. Lebih bangga lagi ketika seorang kolektor lukisan asal Negeri Jiran, membeli lukisanku dengan harga senilai sedan mewah! Wow. Jumlah yang sangat fantastis buatku. Total ada empat lukisanku yang terjual malam itu. Alhamdulillah. Alhamdulillah. Alhamdulillah. Hanya kata itu yang mampu keluar dari mulutku saat itu.
Malam melarut. Hujan kembali merinai. Pukul 00:00:00 WIB. Ponselku bergetar. Aku memperlambat laju Tiger 2000-ku. Baru saja hendak kujawab panggilan itu, saat tiba-tiba … Braaaaakkkkk…!!! Tiger 2000-ku limbung, terjerembab, menyusur aspal jalanan. Ponselku terlempar entah ke mana. Aku tertelungkup. Terseret beberapa meter.
Masih sempat kulihat seorang pria bule melarikan Harley Davidson-nya dengan kecepatan tinggi, sebelum… crrraaasss! Sebuah station wagon yang juga meluncur kencang di belakang, tak sempat menghindariku. Roda depan dan belakangnya melindas tangan kananku! Semua terjadi begitu cepat. Hanya dalam hitungan detik saja. Setelah itu aku tak ingat lagi apa yang kemudian terjadi. Sampai aku menemukan diriku terbaring di atas ranjang ruang V V I P sebuah rumah sakit, dengan sebelah tangan yang teramputasi! Di sudut lain di dalam kamarku, sebuah bungkusan tergolek sunyi terasing dari benda-benda lainnya. Aku yang meminta Nadia meletakkannya di sana. Entah apa maksud adikku itu memberikan hadiah itu kepadaku. Tanpa membuka bungkusannya pun, aku tahu kalau itu sebuah lukisan. Sebuah lukisan. Untuk apa dia memberikan sebuah lukisan kepadaku?! Apa karena dia ingin menertawai keadaanku? Itu yang kupikirkan saat menyuruhnya meletakkan bungkusan itu di sana. Yah… orang cacat seperti aku ini memang mudah sekali tersinggung.
Tapi malam ini, ada dorongan hebat dari dalam diriku, untuk mengetahui isi di balik sampul coklat itu. Lukisan seperti apa yang diberikannya kepadaku?Kurobek sampul coklat itu. Sebuah senja. Ketika matahari mementaskan tarian selamat tinggal sebelum langit berubah menjadi gelap. Lempengan bola api itu tersurup setengah ke balik cakrawala. Membias jingga di hamparan laut tenang. Siluet burung camar dan kapal - kapal nelayan yang melintas terjelmakan dengan sempurna di atas kanvas. Juga mercusuar itu. Indah!
Entah siapa yang telah melukisnya. Dan mengapa Nadia memberikan lukisan itu kepadaku? Ah, sial! Setiap kali aku melihat lukisan bagus, aku selalu terdorong untuk membuat sebuah lukisan. Padahal saat ini aku… Kuambil kanvas dan kuas. Kucelupkan kuas ke dalam cat minyak. Tapi… sulit sekali kugerakkan tangan kiriku. Aku belum mau menyerah. Kucoba sampai beberapa kali. Tapi sia-sia. Aku memang bukan seorang kidal. Sial! Sial Sial! Kucoret-coret kanvas seenaknya. Kuhempaskan. Jatuh berantakan. Aku terduduk di lantai. Putus asa. Siaaaaallll…!!!
Seseorang memperhatikan aku dari ambang pintu kamarku. Entah sejak kapan dia ada di situ.
“Nadia?” Gadis itu menatap iba kepadaku. Aku tak suka melihat tatapan itu. Tapi… aku memang pantas dikasihani. Seorang pelukis yang diramalkan akan melebihi kebesaran Affandi atau Basuki Abdulah, harus kehilangan tangan kanannya dalam sebuah kecelakaan. Padahal, tangan itu yang telah menghasilkan lukisan-lukisan yang mereka sebut sebagai “mahakarya”. Ah, adakah yang lebih menyedihkan dari itu?
“Untuk apa kau memberikan lukisan itu kepadaku?!” “Aku ingin Mas membuat yang lebih indah dari itu.” “Ah! Kau memang ingin mengejekku!” “Mengejek?!” “Ya. Jangankan membuat yang lebih bagus dari itu. Yang menyerupai itu pun aku tak mampu.” “Kenapa tidak?” “Kamu masih bertanya mengapa?! Lihat! Lihat tanganku!” “Tapi Mas masih memiliki tangan kiri.” “Tangan kiri ini?” aku mengacungkan tangan kiriku yang masih belepotan cat minyak. “Dia sama sekali tidak berguna! Membuat lingkaran sempurna saja tidak bisa!” “Pengecut!” “Apa katamu?” “Pengecut!”
Aku tertunduk. “Kamu memang benar. Kini aku hanyalah seorang pecundang.” “Ikut aku!” “Hei.”
Percuma aku menolaknya. Nadia telah menarik tanganku. Terpaksa kuikuti langkahnya. Mobil yang dikemudikan Nadia berhenti di depan pagar sebuah rumah sederhana bergaya pedesaan. Asri. Rimbun pohon yang tumbuh dipekarangan menyejukkan. Hampir tak percaya melihat pemandangan semacam itu ada di salah satu sudut Jakarta.
“Ayo.” Nadia membuka pintu mobil. “Mau apa?” “Ikut saja.” Beberapa kejap kemudian kami telah berdiri di depan pintu rumah asri itu. “Assalamu ‘alaikum!” sapa Nadia sambil mengetuk pintu tiga kali. “Wa’alaikum salam.” Terdengar sahutan dari dalam. Suara seorang wanita.
Tak lama kemudian, pemilik suara itu membuka pintu. Matanya membelalak melihat Nadia. Lalu keduanya saling tertawa. Berpelukan. Rupanya gadis itu teman Nadia waktu di SMP, sekarang Nadia sudah duduk di bangku SMU.
“Kenalkan, ini kakakku, Mas Denny.” Nadia memperkenalkan namaku pada temannya itu.
“Oo… yang pelukis itu kan?” “Dulu” kataku datar, “Sebelum tanganku…” “Wah… adikku suka sekali dengan lukisan-lukisan Mas Denny. Dia terinspirasi ingin menjadi seorang pelukis, setelah Nadia mengajaknya melihat-lihat lukisan Mas Denny, beberapa tahun lalu. Oya, ngomong-ngomong, nama saya Rosa. Masuk yuk!”
Aku dan Nadia duduk di bangku bambu di dalam ruang tamu. Aku begitu terpesona dengan lukisan-lukisan yang dipajang di dinding-dinding ruang tamu itu. Aku berdiri. Meneliti lukisan-lukisan itu.
Hampir semua objek yang dilukisnya adalah senja. Pasti dia pelukis yang lukisannya diberikan Nadia kepadaku. Tapi mengapa dia suka sekali melukis senja?
“Adikku rabun senja,” kata Rosa seolah tahu apa yang ada di kepalaku. Gadis berjilbab sebaya adikku itu meletakkan dua gelas minuman di atas meja.
“Silahkan.” “Makasih.” Aku dan Nadia menyeruput minuman yang disediakan. “Makanya dia suka sekali melukis senja. ‘Dengan melukis senja aku jadi bisa menikmati keindahannya yang tak mungkin kunikmati’, begitu katanya.” “Bagaimana dia melukis senja, kalau sejak lahir dia belum pernah melihat senja?” “Dia mendengar dari cerita-ceritaku, cerita-cerita fiksi yang dibacanya, televisi, atau foto-foto yang mengabadikan keindahan senja.” “Ah, pasti adikmu pandai sekali. Dia memiliki tangan ajaib yang mampu membuat lukisan-lukisan seindah itu.” “Tangan?”
Kulihat Nadia mengedipkan sebelah matanya kepada Rosa. Entah apa maksudnya. Aku terlalu asyik dengan lukisan-lukisan yang terpajang hampir di semua dinding rumah itu. “Ngomong-ngomong, adikmu mana?” tanya Nadia.
“Dia sedang melukis di kamarnya. Kalau sudah begitu, tak seorang pun yang berani mengganggunya. Tapi sebentar lagi dia pasti keluar dari kamarnya. Sudah hampir Ashar. Dia hanya berhenti kalau mendengar suara adzan saja. Selepas sholat, dia akan kembali melukis.”
“Anak itu memiliki kemauan yang luar biasa!”
“Yah… berkat kamu, Nadia.”
Benar saja, sesaat setelah terdengar suara adzan mengumandang, aku mendengar suara derit pintu dikuak. Lalu langkah-langkah kaki di lantai kayu.
“Faiz, sini sebentar! Ada teman Mbak yang mau ketemu sama kamu!” panggil Rosa tanpa beranjak dari tempat duduknya.
Langkah-langkah kaki semakin mendekat, sebelum akhirnya si pemilik tubuh ramping itu berdiri di hadapan kami semua.
“Ada apa, Mbak?”
Subhanallah! Inikah pelukis yang katanya rabun senja? Sungguh bocah belasan tahun inikah yang telah begitu sempurna memindahkan pemandangan senja ke dalam kanvas-kanvasnya? Ah, dia bahkan tidak memiliki sepasang lengan pun! Lalu, bagaimana cara dia melukis?
“Faiz masih ingat waktu diajak Mbak Nadia ke rumahnya, nggak?”
“Iya. Mbak Nadia mengajak aku melihat-lihat lukisan kakaknya. Dan sejak saat itu, aku bercita-cita ingin menjadi seorang pelukis seperti kakaknya Mbak Nadia.”
“Ini dia orangnya,” Rosa menunjuk aku. Faiz melempar pandangnya ke arahku. Matanya berbinar. Aku tersenyum.
“Wah… kakak yang namanya Mas Denny?” Faiz masih tak percaya. Aku menganggukkan kepala.
“Sudah lama banget Faiz mau kenal sama Mas. Tapi…” bocah itu mengerenyitkan dahinya, melihat ke arah tangan kananku yang teramputasi.
“Lengan kanan Mas? Mbak Nadia kok nggak pernah cerita sama aku kalau Mas Denny juga…” “Oh, ini?” kataku memperlihatkan lenganku yang teramputasi hingga beberapa centi di atas siku.
“Kejadianya belum lama. Ada bule mabok yang menabrak motorku dari belakang.”
“Ah, Mas Denny beruntung masih memiliki tangan kiri. Lihat aku, satu saja nggak punya!” katanya sambil tertawa, seolah tak ada beban saat mengucapkan itu.
“Waktu usia 2 tahun, Faiz menderita kanker tulang di kedua lengannya. Terpaksa harus diamputasi sebelum menjalar ke mana-mana,” terang Rosa.
“Lalu, bagaimana cara dia melukis?”
“Sejak dia pulang dari melihat lukisan-lukisan Mas Denny, dia langsung minta dibelikan perlengkapan melukis. Dia berlatih melukis menggunakan jari-jari kakinya.”
“Oya?” kataku takjub. “Yah… cukup lama juga, sebelum aku bisa membuat sebuah lingkaran sempurna, Mas.”
Ah, bocah itu… usianya masih belasan tahun, tapi dia memiliki kebijaksanaan seorang resi yang telah bersemedi ratusan tahun!
“Besok Faiz punya acara, nggak?”
“Mmh…” Faiz berfikir. “Paling-paling hanya melukis, Mas.” “Mau temani Mas Denny ke pantai?” “Ke pantai?” mata Faiz berbinar. “Wah… mau banget, Mas! Tapi mau apa ke pantai, Mas?” “Ajari aku melukis senja.” “Mas Denny sungguh-sungguh?” Nadia menatapku tak percaya.
Aku menganggukkan kepala. Sambil tersenyum. Nadia memelukku. Menangis terharu.
“Hooorrrrreeeeee…!!! Besok kita ke pantai…!!!” Faiz melonjak kegirangan.

Video Pelatihan