Our Community

Our Community
Forum Lingkar Pena Depok

Our Event

Our Event
Depok Dalam Puisi

Our Training Program

Our Training Program
BATRE

Our Family

Our Family
Want to be one of us?

Mau Daftar? Klik Gambar Ini!

Tampilkan postingan dengan label Emil Akbar. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Emil Akbar. Tampilkan semua postingan

Perempuan Kampung Karampuang

Minggu, 28 November 2010

Cerpen Emil Akbar

Sumber: kolomkita.com

Malam ini purnama sedang penuh. Bulan benderang begitu bundar. Bercahaya menyinari seperti lindungan ibu dalam dekapan yang menjelma dewi malam dan aku memperoleh restu di wajahnya yang bulat. Membuat langit hitam tak begitu gelap. Dalam rindang hutan pekat melarut lewat hembusan angin yang dingin. Bukan gulita sebab mataku masih bisa melihat. Hanya lindap dan kudapati kunang-kunang berkerlip, mengganti bintang yang tiada.

Aku menantimu di batas Dusun Karampuang. Kau belum juga muncul padahal aku sudah lama menunggu di sini. Aku takut dan cemas. Itu sebabnya mataku terpaku pada ujung aspal yang menghilang seperti ingin menerobos malam yang teduh, mencari bayanganmu yang berkelebat, dan sesekali aku menengok ke belakang membaca situasi.

Rustam, tahukah kau? Di dalam sana, sunyi bukan berarti tidak ada bunyi walau tadi mereka sembunyi karena aku tak peduli. Bunyi hewan malam, nyanyian serangga, suara berdesis-desis yang bukan ular, kicau kao-kao yang mengerikan di rimbun daun di dalam hutan yang senyap, berbondong-bondong mengerubungi telingaku. Berdenting serupa dawai, mengalun dan merambati udara, dan bakal meninggalkan luka di hatiku bila kau tidak jadi menjemputku malam ini. Maka hadirlah di ujung jalan itu seperti dilahirkan oleh kabut yang merayap. Jangan sampai aku menjadi batu di sini karena gigil atau habis karena dimakan angin dan kau harus tahu jiwaku mulai beku meski sebenarnya kepalaku ingin meledak karena bosan. Aku tidak mungkin kembali setelah ingkar.

”Sepertinya lelaki itu tidak akan datang.”

Seseorang memegang bahuku dari belakang. Aku tersentak kaget dan terlonjak bangkit dari tugu batu yang kududuki. Aku gemetar gugup mengetahui siapa yang menegur.

”La Gole! Sedang apa kau di sini? Kau mengikutiku?” Sontak aku menjauhinya.

”Jubaedah, pulanglah sebelum terlambat. Masih ada kesempatan dan aku akan membantumu,” ujarnya sembari duduk di tugu batu yang kutinggalkan.

Dalam gelap aku tahu ia menatapku tajam, seruncing jarum yang pernah menusuk tanganku. Batinku tertohok mengingat ia adalah mata-mata Puang Gella, pemangku yang sering menghukum bila ada orang yang melanggar di kawasan dusun, meski ia temanku sejak kecil dan beberapa waktu silam aku menyimpan hati untuknya. Namun ia menunjukkan sikap yang tidak kusuka. Ia bukan lelaki tangguh, pengecut yang tidak berani mengajakku kawin lari.

”Benar kau akan menolongku?” tanyaku pura-pura ragu.

”Kau tidak percaya padaku?” La Gole menghampiriku begitu dekat hingga bisa kuhirup bau badannya yang belum disentuh sungai. Aroma napasnya purba.

”Baiklah kalau begitu. Ijinkan aku menunggu Rustam sebentar lagi,” pintaku. Lalu kedua kakiku tak mau diam karena gelisah.

”Jika dia tidak muncul?”

”Kau boleh membawaku pulang!” jawabku sedikit kesal.

”Sepakat.”

Agak lama kami saling diam seolah jiwa kami raib meninggalkan raga yang kikuk, menguak hutan dengan lesat untuk menemukanmu dengan tujuan yang berbeda. Kuperhatikan La Gole sedang duduk bersila sambil mempermainkan parang bersarung yang biasanya terlilit di pinggangnya. Tidak kutahu apa maksudnya, tapi membuatku bergidik membayangkan kulitmu robek dan menumpahkan darah jika badik itu keluar dari sarangnya. Kau pasti akan kalah sebab La Gole bekerja dengan otot sedangkan kau lebih suka berpikir.

”Apa yang kalian lakukan jika sudah bertemu? Apakah kau akan lari dengannya?” La Gole mengajukan tanya yang menyelidik, memecah hening. Posisi duduknya sudah berubah, satu kakinya berdiri dengan lutut menekuk.

”Tidak melakukan apa-apa. Aku hanya mau mengatakan sesuatu?” balasku berbohong sebab ia sudah curiga.

”Apa itu?”

”Kau tidak perlu tahu. Kenapa kau bertanya-tanya?”

”Ingin tahu saja. Bagaimanakah perasaanmu padanya?”

”Itu bukan urusanmu!” teriakku nyaris menuding, membuatnya bungkam.

Aku berbalik arah membelakanginya menahan amarah, antara jengkel dan putus asa. Kusandarkan kepalaku pada pohon yang tak bisa kurangkul. Aku mencabut-cabuti kulit keringnya yang berlumut dan memang sudah terkelupas, membuang geram. Mataku terasa panas bagai diperciki biji lombok. Pedih memerih.

Sekarang aku tidak ingin kau datang sebab itu akan mengantarkan nyawamu. Namun aku juga butuh kau datang membawaku pergi dari sini, jangan biarkan aku berkalung rantai. Aku tidak mau menjadi perawan tua! Bagaimana ini? Aku galau.

Tetapi tunggu. Mataku yang melirik menangkap bayangan sekilas, bersijingkat dan menunduk mirip gerak-gerik babi hutan, berpindah dengan cepat ke semak-semak. Apakah itu kau? Tidak sebentar aku terpana, dadaku berdesir dengan degupnya. Aku merasakan firasat tak baik. Aku mesti bersiasat.

”Aku menyerah. Seperti katamu, Rustam tidak datang. Mari pulang.” Sebisa mungkin kukulum senyum ini dan menampakkan muka murung agar tidak ketahuan, supaya kau dapat mengikutiku dari jarak jauh. Aku akan mengecohkan perhatiannya.

”Aku masih setia menemanimu menunggu jika kau mau?” Aku tahu ia mengejekku.

”Tidak usah! Barangkali dia pecundang yang lebih darimu.”

”Bagus kalau kau sadar. Orang kota memang tidak bisa dipegang janjinya!” timpalnya tak mau kalah.

Aku tidak lagi menyahut dan berjalan lebih dulu. Rustam, susul aku di puncak bukit!

***

Jubaedah, kau adalah gadis sunyi. Semerbak harum bunga desa, wangi menebarkan angan di setiap kepala jantan muda sepertiku. Aku menemukanmu bagai mutiara diantara ribuan kerikil bebatuan yang terserak di tepi kali. Namun ada yang hilang di wajahmu yang bulat langsat. Laksana embun pagi yang tak ada lagi, saat matahari tak bisa lagi disebut mentari. Aku seperti pangeran yang menemukan bidadari.

Di batas Dusun Karampuang jalanan beraspal terputus seperti lorong buntu. Terdapat daun kelapa yang diikat merintang di atas jalan. Mobil dinas kuparkir di luar kawasan adat karena dilarang masuk. Lagi pula hanya ada jalan setapak yang sempit. Tanahnya berdebu di musim kemarau dan licin berlumpur di musim penghujan. Banyak bebatuan. Di hari-hari biasa dusun ini begitu sepi bak kampung yang bisu.

Awal bulan November aku kembali. Aku sudah menjadi pegawai negeri di kabupaten. Setahun yang lalu aku datang di kampung ini untuk menyusun skripsiku mengenai adat Karampuang. Setelah lulus kuliah tak mampu kutahan hasrat hatiku, ingin kembali menggapaimu. Masihkah kau menjadi perawan suci yang tidak boleh dijamah?

Kutinggalkan semua yang berbau teknologi dan barang yang terkesan mewah di mobil sebelum memasuki kawasan adat yang dikeramatkan ini, lantaran pamali. Menurut keyakinan orang sini, segala yang datang dari luar lebih banyak merusak dan akan mengubah tatanan tradisi yang mereka jaga selama berabad-abad, turun temurun. Itu sebabnya aliran listrik tidak bisa masuk karena kaum adat menolak. Sungguh dilema, mengingat aku memegang proyek dari Pemda untuk menjadikan Karampuang tempat wisata, yang mungkin bakal melunturkan kebiasaan dan kepercayaan penduduk di dusun ini meski dengan maksud memberdayakan masyarakat.

Aku masih terkenang ketika pertama kali datang di kampung ini. Aku disambut dengan ramah. Tidak kurang isi baki sudah ditambah, belum setengah isi gelas sudah diimbuh. Aku yang mengetuk pintu bukanlah orang lain, malah dianggap keluarga sendiri. Sebab mereka memandang tamu itu membawa rezeki. Saat itu aku menumpang tidur di rumah ayahmu di luar kawasan adat, di dusun tetangga. Lantaran aku butuh listrik buat menyalakan laptopku, menulis hasil riset yang kudapat. Pernah aku menginap di rumah seorang warga. Alat penerangnya berupa lampu minyak yang mereka sebut sulo. Semalam suntuk aku menulis di lembar kertas. Pulang pagi-pagi. Kau berada di depan pintu. Tergelak tawamu melihatku. Suaramu renyah.

”Ada yang lucu?”

Kau tidak menjawab tapi memberikan isyarat. Kau pegang hidungmu yang mungil dan bangir. Aku mengikuti. Astaga, cuping hidungku dipenuhi asap hitam. Aku lekas pergi ke belakang membasuh muka.

Seminggu dalam sebulan, kita bertemu. Kau melepas masa haidmu di rumah. Parasmu demikian sendu seperti tidak terima seperti terpaksa, saat kau mengatakan sedang menuntut ilmu untuk kelak menjadi seorang sanro di rumah adat Karampuang. Rumah panggung yang merupakan simbol sosok perempuan. Dari jauh kediaman yang sakral itu memang tampak anggun. Atapnya dari anyaman daun nyiur berbentuk segitiga sama kaki. Tangganya terletak di tengah di kolong rumah.

”Tangga naik ke dalam rumah adalah kelamin perempuan,” jelas La Gole, temanmu.

Ia pemandu yang baik, meladeni keingintahuanku dan bahkan memuntahkan semua yang ia tahu. Pemuda yang bersemangat meski entah kenapa diam-diam ia sering menatapku dengan pandangan menghunus seperti tidak suka seperti menaruh curiga. Ia membicarakan tubuh perempuan dengan sangat biasa.

Membuka pintunya pun harus ditolak ke atas biar bergeser. Aku menebak pasti ini selaput dara kemaluan, sebab dibutuhkan sedikit usaha untuk membukanya. Ada batu bundar yang menindih.

”Arah dapur adalah rahim. Dan dua dapur di belakang itu adalah buah dada sebagai sumber kehidupan.”

Rumah ini tak bersekat, hanya ruang. Lantai dan dinding terbuat dari bambu. Ada loteng yang lumayan luas seperti layak untuk dijadikan kamar, tempat persimpanan kebutuhan pokok terutama padi. Bahkan ada padi yang berumur seabad.

”Semua warga sehabis panen tanpa diminta menyimpan sebagian padinya di sini untuk digunakan bersama jika terjadi gagal panen. Padi ini tidak boleh di jual.”

Aku ingin sekali mengabadikan apa yang aku lihat. Namun lelaki yang terbiasa bertelanjang dada saat bekerja di sawah ini melarangku dengan tegas. Badannya yang berotot dengan kulit secoklat kayu itu langsung tegap menantang.

”Jangan coba-coba bawa kamera. Itu kesepakatan kita dari awal. Boleh jadi kau yang melanggar, kami sekampung yang kena malapetaka. Kalau kau mau lama di sini hormati adat kami!”

Belum sempat aku minta maaf, La Gole sudah berlalu. Kulihat punggungnya digerogoti jamur, bercak-bercak putih.

Ketika kuceritakan penjelasan La Gole kepadamu, kau tersenyum simpul membenarkan. Pipimu merona seperti lembayung yang memerah bagai senja yang membakar langit. Aku jatuh hati.

Upacara Mappugau Sihanua sepertinya sudah dimulai. Selama tujuh hari tujuh malam. Aku berjalan santai menikmati pagi yang mau pergi. Sepanjang jalan yang berkelok kulewati rumah penduduk yang kadang saling berjauhan. Tak jarang aku berpapasan dengan warga yang masih kukenal. Di kiri kanan diselingi tanaman sayuran, pohon pisang, pohon kopi dan pohon kakao, serta hamparan sawah yang tidak rata, berundak-undak dengan garis pematang meliuk, sejauh mata memandang. Ada sumur tua berdinding susunan batu, aku menyebutnya kolam karena dangkal. Bila airnya lagi penuh, penduduk memandikan anaknya dan bayi yang baru lahir, biar mendapat berkah. Air mengalir khas pegunungan terdengar jernih menggelitik kesegaran. Hutan lebat dan belukar liar tampak rimbun di puncak bukit, hijau nian seperti belum pernah disinggahi. Jubaedah, secantik apa kau sekarang?

***

Lelaki itu masih gagah. Badannya berisi dan kulitnya bersih seperti pasir laut, seperti belum pernah dicubit matahari. Kini aku yakin kau makin terpikat, melirik pakaiannya yang sewarna kulit sapi. Lelaki idaman yang menggiurkan bunga desa sepertimu. Dan aku terhempas ibarat hati yang terbuang. Sebab cintaku sedang cemburu.

Ah, lelaki bernama Rustam itu terlalu mau tahu tentang adat kita dan ia sebarkan ke mana-mana. Aku tidak menyukainya karena itu, dan sebab ia mencuri hatimu dariku. Lebih dari itu, ia juga mencuci otakmu hingga pikiranmu telah kota walau disebabkan juga karena kau pernah sekolah sampai SMA di kabupaten. Kau pernah menjadi guru di dusun sebelah, mengajari kami baca tulis di usia kami yang sudah berkumis.

Kabarnya, Rustam akan mendirikan pasar rakyat dan penginapan di sekitar kampung ini. Makin ramai saja orang datang ke sini. Melihat kami sebagai tontonan. Melihat upacara kami sebagai pesta. Oh, Karampuang bagaimana nasibmu nanti? Ketika kebiasaan orang kota meracuni adat kami, menjarah apa yang kami jaga, yang kami miliki. Aku ingin sekali mengumpat, mereka tidak beradab karena mereka biadab!

Mungkin kelak tidak ada lagi yang namanya gotong royong. Seperti yang pernah dihimbau orang dulu, ”Hai sekalian anakku, kasih mengasihilah, rebah saling membangkitkan, hanyut saling mendamparkan, berkata saling mengiyakan, dan berbuat saling bantulah. Khilaf saling mengingatkan, satu kata dengan perbuatan, bagaimana di dalam begitu pula di luar, tegakkanlah yang keramat, sandarkanlah yang tabu, dan dudukkanlah yang makruh.”

Sekarang banyak yang mengerjakan sawah dengan cara bagi hasil, tidak lagi yang punya hajat memberi makan untuk disantap bersama. Begitu pula saat membangun rumah, menggunakan tenaga upah. Mengumpulkan puing-puing harta sehingga saling mencekik. Serakah sehingga saling menutup pintu.

Oh, Tomatoa! Hanya kamu yang murni. Kami akan teguh, tidak akan memasang paku tetap memakai tali rotan untuk menyusun kerangkamu. Mengganti tiangmu yang lapuk dengan menebang pohon bertuah di rimba melalui upacara madduik, menarik kayu bersama di hutan, wujud satu rasa. Tidak dipikul, sebab dipundak tanda mau menang sendiri. Oh, Tomatoa, kamu perempuan luhur yang kami puja. Dan kau, Jubaedah adalah perempuan Kampung Karampuang yang dijunjung. Darahmu adalah darah To Manurung. Mulia atas nama adat. Dan adat mengajarkanku tentang hidup, tidak mungkin kukhianati. Aku mencintaimu sebagaimana aku memegang adat. Disela itu terselip keinginan, yakni memilikimu yang tak boleh. Mencintai dan menginginkan itu serupa tapi tidak sama. Mengertikah, kau?

***

Aku bukanlah Maryam dan kenapa pula sejarah harus berulang? Tuhan, bolehkah aku mengeluh sebab sudah lama aku berpeluh? Aku tidak bangga dilahirkan sebagai makkunrai, perempuan. Tubuhku menyiksaku. Aku dibelenggu.

Ayah dan Ibu yang berbuat, mengapa aku yang harus jadi tumbal? Apakah memang dibutuhkan orang lain untuk menebus dosa? Lantas, salahkah mereka? Kau bisikkan di telinga Arung, tetua adat kami yang jarang bicara itu, untuk menentukan garis hidupku yang mesti kujalani. Menjadi perempuan suci, perempuan yang terkunci supaya tetap perawan. Jangan sampai sesuatu yang asing menyelinap masuk sebab akan melunturkan tradisi. Titah yang tak terbantahkan kecuali kalau aku cacat moral. Karena nanti warga juga yang akan memilih. Dan Ayah, Ibu, tak pernah membelaku. Ia wafat dengan patuh meski ia tak patut dipanggil Ayah, sebab tak pernah risau atau tak mau tahu jeritan hati anak gadisnya. Ayah memilih diam sampai ia menutup usia. Ayah hanya melihatku tumbuh.

Dan aku memilih, berontak seperti ibu. Ibu yang mati karena melahirkanku. Ibu yang kawin dengan kaum pendatang dan dikucilkan di desa tetangga. Ibu yang dipaksa bernazar, jika bayinya perempuan akan diambil sebagai penggantinya. Dan Kau, Tuhan, mengabulkannya…

Tetapi tidak! Sebagai anak aku merasa berkewajiban melanjutkan perjuangannya. Memang Puang Sanro telah renta, sudah layak istirahat. Perlu diganti. Tetapi mengapa harus aku? Tidak bolehkah orang lain? Aku selalu ingin bertanya kepada Puang Sanro tapi aku urung dalam hati, apakah ia memendam apa yang aku pendam? Ah, tentu tidak. Sebab aku tahu dari orang-orang, Puang Sanro adalah perempuan yang tidak laku.

”Dalam darahmu mengalir darah To Manurung, Anakku. Ikutilah takdirmu sebagaimana air yang mengalir,” ucapnya bernasihat ketika aku sedang malas meramu obat.

”Betapa menyenangkannya membantu orang, Anakku. Itu akan membuatmu menjadi ada,” lanjutnya berpesan di hari yang lain saat aku enggan mempelajari mantra-mantra.

Ketika menolong, haruskah berkorban? Cukup! Aku tak mau mendengar lagi. Aku mau tuli saja, sambil dalam benak ini bertekad, aku akan melawan arus. Aku mesti berupaya meski tangis mendahului.

Ya, sebab aku hanyalah perempuan biasa meski aku adalah perempuan yang cantik. Kusadari itu karena banyak yang merayuku semasa SMA dulu. Tapi aku tak hanyut. Aku mesti hati-hati meniti sebelum salah melangkah. Maka kutambatkan cintaku pada sahabat kecilku, La Gole. Aku sering memperhatikannya sampai-sampai aku tak sadar tubuhnya telah perkasa. Jika kami sedang berjalan beriringan aku senantiasa mendongak untuk melihatnya berbicara. Telingaku akan mendengar suara beratnya yang menentramkan. Andaikan aku dipeluk, pasti aku akan tenggelam dalam bahunya yang lebar. Saat kulit cokelat legamnya berkeringat, aku mencium bau khas manusia. Pernah juga ia menggenggam tanganku erat, sesaat tapi kurasakan kehangatan yang kokoh hingga jiwaku melambung. Hanya lidahku yang belum menafsirkan apa-apa. Namun ia tidak punya nyali, sikapnya terlalu lugu tak sebanding dengan badannya yang garang.

”La Gole, kau ada hati denganku?”

“Ya. Aku sayang kamu.”

“Kalau begitu bawa aku pergi dari sini.”

“Aku tidak punya kampung selain dusun ini.”

“Tinggal di hutan pun tak apa, asal bersamamu.”

“Tidak bisa. Tanah ini adalah orangtuaku.”

“Ah, kau tidak mencintaiku sebab cinta itu perlu bukti.”

”Aku tidak perlu membuktikannya karena cinta soal hati, dan itu cukup buatku.”

”Bagiku tidak. Kau bohong! Aku membencimu.”

Aku gigit jari. Aku kecewa dan patah hati.

Lalu muncul dia. Lelaki dari kota. Hadir dengan senyumnya yang menawan memberi harapan. Kulitnya harum dan langsat sepertiku. Kerap kubayangkan bila kami menyatu tak ada yang tahu bahwa kami berdua, bukan satu tubuh. Dan tentu saja ia hangat, antara panas dan lembap. Ia lapar dan aku haus, di hubungan kami yang sempat terjeda. Cukup lama hingga rindu mendera.

Kini malam sungguh malam karena awan yang menenteng air berlayar di langit kelam. Mengaburkan cahaya ibu di atas sana hingga buram. Lepas maghrib, pelita rumah penduduk memang sudah padam. Obor La Gole yang menuntun jalan juga telah redup. Kami tiba di sekitar rumah adat Karampuang.

”Kau tunggu di sini sebentar.” La Gole pergi menengok, mencari cara agar aku tidak terlacak sudah kabur.

“Jangan Lama,” kataku setelah ia agak menjauh, pura-pura khawatir.

Ah, lelaki itu memang baik tapi aku harus pamit mengejarmu. Berangkat diam-diam. Aku berlari dengan kain terangkat mengangkangi tanah yang kupijak, kendati sesekali terjungkal karena kesandung akar pohon yang mencuat. Hujan mengejarku seperti mengutuk.

Rustam, kau sudah berada di puncak bukit itu. Banyak peti batu berundak-undak di tempat ini, makam nenek moyang kami yang luhur. Kau basah kuyup sama denganku oleh derai hujan. Ada senter di tanganmu. Ternyata di atas sini tidak terlalu gelap seperti temaram. Paling tidak aku dapat melihat bayanganmu. Sementara jarum-jarum langit masih menyerbu, mengguyur deras, jatuh merintik terdengar menitik dan menerabas. Angin bertiup meliuk sangat kencang. Kau segera memelukku.

“Maafkan aku, datang tidak tepat waktu. La Gole mencegat dan mengancamku sebelum masuk desa. Karena aku, kita terjebak di sini.”

“Tak apa. Bukan salahmu.”

“Sekarang aku siap membawamu pergi.”

“Tidak. Jangan sekarang, di bawah sana begitu rawan. Di sini kita aman.”

”Lalu kau mau kita menunggu di sini sampai pagi?”

”Mungkin. Rustam, aku meminta sesuatu.”

”Apa itu? Akan kupenuhi.”

”Wisuda aku menjadi perempuan seutuhnya, malam ini juga.”

Apakah rasa sakit itu? Bila hasrat terjerembap, ketika birahi yang terpendam peka pada setiap ransangan. Melelehkan kebekuan dan meruntuhkan kekakuan. Aku gigil oleh getar. Di gubuk tua itu, tempat biasanya sesajian di letakkan, aku rebah menerimamu. Sesajen yang baru tadi siang, berhamburan karena ulah kita. Aku ingin perbuatan ini sakral seperti kematian. Rinai-rinai bersenandung seperti berkisah. Aku adalah hikayat perempuan tanpa biduk yang terdampar setelah lelah mengarungi duka. Kini aku luka dan hina. Tak perlu airmata sebab akan kutanggung semuanya.

”Terima kasih,” ucapku setelah usai.

Dan sudah kuduga. Semua makhluk punya mata. Senang mengintip yang terlarang. Lantaran nista mengusik siapa pun sebab baunya tercium tajam. Di kejauhan terlihat obor berkeliaran serupa kunang-kunang. La Gole muncul menaruh mata badik di lehermu. Mukanya murka. Aku mendorongmu supaya terhindar dan langsung melindungimu. Kita berjalan mundur menuju tebing.

***

Puang Sanro pernah meramalkan. Jika perempuan tidak kembali ke dapur, lebih senang keluyuran atau suka berkumpul, maka rentan berbuat dosa. Dan kau, Jubaedah sudah melakukan lebih dari itu. Kau telah haram di hatiku yang meradang. Ah, sebetulnya aku ingin menabur benih di pucukmu yang kuncup. Di tanahmu yang subur bakal tumbuh tanaman berbuah, darah dagingku. Kau memandikan bayi kita di sumur tua yang berkah itu supaya kelak menjadi anak yang patuh. Aku membajak sawah, menanam dan menuai padi, anak kita yang mengembala ternak, dan kau datang membawa makanan. Seandainya saja kau tahu angan-anganku yang sederhana ini, yang tak mungkin terwujud. Dan segalanya sirna saat kudapati pakaianmu berceceran ke mana-mana.

”Bangsat kau, Rustam. Kubunuh kau!”

”Berani menyentuhnya, aku lompat dalam jurang.”

Kau mengancam dan aku masih hirau. Aku merintih dalam amuk saat kau menyuruh Rustam hengkang dari kampung ini tanpa dijera. Kulempar lelaki durjana itu dengan sekepal batu hingga ia tersungkur, lalu bangkit tersaruk-saruk. Kau telah mendurhakai tanah keramat ini, sadarkah kau? Argh! Jubaedah, wajahmu yang bersinar dalam balutan pakaian putih yang menyejukkan hari-hariku kala memandangmu telah berubah busuk bagai bangkai. Kelak, kau dianggap tidak pernah ada.

Hari berganti, begitu pun bulan berlalu, dan tahun terus bertambah. Sejak peristiwa malam itu, namamu tak pernah lagi disebut nyaris dilupakan. Kau dikurung di rumah adat Karampuang di atas loteng untuk dikuduskan kembali entah sampai kapan. Tidak seorang pun diperkenankan menemuimu dan tak ada yang tahu bagaimana rupamu sekarang. Hingga pada suatu pagi, kami dikejutkan oleh kehadiran seorang bocah yang belum pernah kami lihat sebelumnya, muncul begitu saja, turun dari tangga rumah adat Karampuang bagai baru dilahirkan. Melihat dunia luar dengan muka gembira. Berlari lincah, berkeliaran seperti ingin mencari ayahnya.

***

Depok, 270908

(Kutulis ketika merindukan kampung halaman)

Catatan:

Karampuang: dusun yang terletak di puncak bukit 1000 meter dari permukaan laut, di Desa Tompobulu kecamatan Bulupoddo kabupaten Sinjai, Sulawesi Selatan. Masih memegang adat kuno dan alergi dengan teknologi. Rumah adatnya menyimbolkan sosok perempuan yang harus dijaga kehormatannya.

Mappugau Sihanua: Setiap tahun di pekan pertama bulan November diadakan pesta sebelum bercocok tanam setelah menikmati panen melimpah sebagai tanda syukur, tujuh hari tujuh malam.

Puang: kata sandang untuk orang yang dituakan atau yang dihormati.

Gella: pemangku yang melaksanakan hukum yang berlaku di Karampuang.

Arung: ketua adat atau raja yang jarang bicara tapi sekali bicara adalah tuah yang tak terbantahkan. Hidup matinya Karampuang ada di tangannya.

Sanro: pemimpin spritual di setiap prosesi adat yang harus dijabat oleh perempuan atau lebih tepatya disebut dukun.

To Manurung: nenek moyang orang Karampuang berwujud perempuan.

Tomatoa: nama rumah adat Karampuang.

Calabai

Senin, 16 Maret 2009

Cerpen Emil Akbar Juara 2 LMCR LIP ICE-Selsun Golden Award 2007 PT ROHTO Dewata, aku mencintainya. Kurasakan telaga asmara yang tidak kutemukan pada seorang gadis yang menaruh hati padaku. Maka dari itu, aku tak pantas menjadi seorang bissu. Kesucian telah kunodai. Pantangan pernah kuperbuat. Kodrat dan tradisi sudah kulanggar. Aku tidak mau hidup gila atau mati sia-sia! Lantas, masih adakah pengampunan di sana? Pagi yang luka. Bunga kuncup diselimuti kabut. Embun meretas pada tepian rumput, terinjak basah meruapkan bau tanah. Langkahku gontai di subuh yang buta. Menapaki hutan, pepohonan yang mengggigil. Menuju Sungai Segeri. Aku tak pernah tahu kalau hidupku menimbulkan petaka! Kata orang-orang aku ditemukan mengeak di keheningan malam di lego-lego Mak Rappe, sanro di kampung ini. Aku diasuh, dirawat, dididik, dan dibesarkan olehnya. Menemani masa tuanya yang melajang hingga sekarang aku dewasa. javascript:void(0) Mak Rappe adalah putri bangsawan bergelar Andi Petta. Dulu di masa mudanya pernah jatuh cinta dengan lelaki dari golongan rakyat jelata. Ia tak bisa menikah dengan belahan jiwanya itu, lantaran keturunannya nanti tidak akan mewarisi darah birunya. Sebab lainnya, lelaki itu lebih memilih menjadi orang suci yang berdarah putih. Menjadi keturunan Dewa di bumi. Tetapi kini mereka berdampingan. Mak Rappe telah menjabat sebagai Puang Lolo, menyertai Puang Matoa Rala, kekasihnya itu di setiap upacara. Mereka adalah bissu titisan Datu Patoto yang diakui dan disegani oleh segelintir orang di tanah bugis. Dan aku tak perlu tahu siapa orang tuaku, karena alam begitu setia menyimpan rahasia. *** Tamat dari Madrasah Aliyah aku langsung dikurung di bola arajang, diajarkan adat-istiadat yang telah lama dilupakan orang, ajaran pribumi. Aku magang dalam waktu yang lama, sampai aku bermimpi sebagai penanda aku direstui Dewata untuk menjadi seorang bissu. Dalam mimpiku roh leluhur mendatangiku dengan pakaian serba bercahaya, berkilauan membuat mataku silau. Berbicara dengan basa torilangi yang tidak kumengerti. Meludahi mulutku sebelum pergi ditelan kelam. Ketika aku bangun, Puang Matoa Rala sudah berada di sampingku dan segera memberitahukan pada seluruh penghuni bola arajang bahwa aku sudah siap irreba, ritual yang harus kulalui untuk ditahbiskan menjadi bissu sejati. Kuhindari tatapan Muharram yang menghunjam penuh arti namun sulit kutafsirkan. Ah, Aram, matamu begitu runcing menusuk sanubari. Esoknya Mak Rappe datang bersama Mak Rabia dan Maulida. Berlinang air mata ia merasakan kebahagiaan tiada tara sambil menyerahkan harta benda untuk upacara adat ini. Aku diwajibkan berpuasa selama tujuh hari sebagai awal prosesi irreba dan diasingkan di sebuah rakit berbentuk gubuk di tengah danau. Menginap tanpa makan, minum dan bergerak. Di sini aku bertapa, merasakan nestapa. Betapa di hari-hari yang menyedihkan ini, aku butuh kehadiran Maulida, lalu bercerita bahwa aku tidak bahagia dengan semua ini. Bukan ini yang kuinginkan. Tapi apa yang bisa kuperbuat? Semua orang mencemoohku karena aku calabai, laki-laki yang berperangai seperti perempuan. Kata mereka aku pembawa sial, 40 hari 40 malam tidak mendapatkan rezeki serta amal baiknya tidak diterima pahalanya oleh Allah, akan menimpa mereka yang melihatku. Aku jadi bahan olok-olokan, diusir dan dilempari batu di jalanan bagai orang gila. Banyak orang sepertiku dan diperlakukan sama. Bahkan dianggap lebih najis dari anjing, yang layak disiram dengan air comberan. Para pengiringku telah pergi. Di sini aku berkawan sepi dan sunyi ketika malam. Di ruang pengap ini tak ada pagi, siang, dan sore bagiku karena kukatupkan mata. Gelap adalah kehidupanku sebelum cahaya memancar di wajahku. Aku mencoba menyatu dengan semesta, tapi tak bisa. Terlalu banyak peristiwa yang berkelebat di pikiran. Mungkin tulus hatiku belum murni. Terus terang aku melakukan semua ini untuk Mak Rappe. Sebagai anak terbuang yang dipungut, sudah sepantasnya aku balas jasa. Besar harapan aku bisa mewarisi kesaktiannya, mempertahankan adat ini sebagai penerus. Agar aku tidak diremehkan. Tujuannya sangat mulia, mengangkat derajatku supaya aku punya siri, harga diri dan kehormatan yang telah tanggal semenjak aku lahir. Sungguh, semangatku membuncah mengikuti bimbingan Puang Matoa Rala saat Muharram, keponakannya, tinggal bersamaku di bola arajang. Kedua orang tuanya meninggal di tanah suci Makkah. Puang Matoa Rala kemudian menjadi walinya dan memegang kendali harta warisnya. Kenangan di masa-masa sekolah dulu terulang kembali. Pertemuan-pertemuan rahasia kami tak ada yang tahu. Begitu pula dengan perasaan kami yang saling jatuh cinta. Ia berjanji akan mendampingiku sebagai toboto setelah aku menjelma bissu yang sakti. Diam-diam aku menggunakan naga sikoi, jimat pekasih untuk mempererat hubungan kami. Kuucapkan mantra, “Tubunna Aram tellengi ritubukku, atinna Aram tellengi riatikku, nyawana Aram tellengi rinyawaku, papujinna Aram rialeku mapada papujinna nyawae ritubue.” Akan tetapi, semuanya hancur berkeping-keping ketika Puang Matoa Rala mencium kelakuan kami. Rapat digelar. Mereka berembuk tentang hukuman apa yang patut kami terima sebab telah mengotori bola arajang, biar para leluhur tidak murka. Disepakati Muharram akan dinikahkan dengan Maulida, lalu aku dikucilkan di danau ini! *** Muharram dan Maulida adalah temanku sejak kecil. Kami selalu bersama; bersekolah, bermain, dan mengaji. Muharram siap membela jika ada yang mengusiliku. Maulida akan menghiburku ketika tak bisa kutahan tangis yang bercucuran. “Calabaimi ropale wasetongi anadara...!” Begitu para pemuda mengejekku. Dan kedua sahabatku ini senantiasa ada untukku. Pulang dari sekolah kami sering berkumpul di rumah Mak Rabia untuk mengaji. Sebelum mengaji, kami diberi tugas masing-masing. Muharram mencari kayu di hutan dan memikulnya di bahu. Aku mengambil air seember di pancuran bambu yang lumayan jauh dari rumah Mak Rabia, dan membawanya dengan cara menjunjung di atas kepala. Sedangkan Maulida menumbuk beras atau tepung di lesung batu di kolong rumah. Kerap kali antara aku dan Maulida berganti tugas. Kadang kala juga ikut mencari ranting kayu di hutan, memungut dahan-dahan pohon yang jatuh kering. Setelah itu kami berwudu, memakai sarung lalu mengaji. “Alefu riasena… A, alefu riawana… I, alefu dafenna… U, aaa iii uuu! Ba riasena… Ba, ba riawana… Bi, ba dafenna… Bu, baa bii buu!” Begitulah mulut mungil kami mengeja huruf-huruf hijaiyyah. Mak Rabia adalah mak Maulida serta makku juga karena kami saudara sesusuan. Ia seorang janda. Suaminya mati hangus terkena lette ketika membajak sawah di hujan yang membadai. Itu sebabnya Maulida tak melanjutkan sekolah karena tak ada biaya. Aku masuk pesantren Muhammadiyah. Sementara Muharram di sekolah negeri. Persahabatan kami agak renggang sewaktu tumbuh dewasa dan berubah menjadi perasaan yang lain. *** Malam merayap gulita. Nyanyian binatang kelam berirama dengan gemericik air yang dimainkan ikan di sekelilingku. Danau angker ini dikerumuni bakau dan berlumpur. Sangat jelas kudengar letupan mata air yang bergelembung serta jalan kepiting yang merangkak. Ada kodok memimpin keriuhan malam. Sesekali lolongan anjing menimpali, meraung-raung di kejauhan. Barangkali ada babi hutan mengamuk di tengah rimba mengorek-ngorek mencari makan. Ini malam yang terakhir, besok aku dijemput. Tiba-tiba, bunyi kecipak air disampan mengusik telingaku. Dadaku berdebar saat seseorang memanggil namaku. “Sangkala aku datang...!” Meremang bulu romaku. Bukan karena takut. Bukan pula karena leluhur mendatangiku. “Buat apa kau ke sini?” Kain tanpa jahitan yang membungkus tubuhku tersibak. Rambut panjangku luruh menjuntai sampai ke bahu menghiasi parasku. Cenning rara melingkupi. Matanya menjilati kepolosanku. “Untuk membuktikan cintaku padamu!” Lelaki kekar itu mendekat, ingin menyentuh wajahku. Kutepis dengan gerakan lemah tak bertenaga. Ia berhasil merenggut rambutku membuat mukaku mendongak. Ia milik sahabatku yang kukagumi. “Pergilah Aram, Maulida menunggumu.” “Kau salah! Dia menampikku. Aku butuh....” Aku tidak menolak ketika Muharram mengikuti dorongan nalurinya menyelusuri tubuhku yang meremang ini. Aku hanyut terbawa arus perasaan yang lena. Kuresapi kenangan, memasuki lorong waktu. Kami selalu mencuri-curi kesempatan di hari libur, mandi bersama di sungai di balik semak belukar, setelah badannya yang berotot menampung segukku. Sikapnya yang peduli, perhatian, dan rela mendengarkan keluh kesahku, membuahkan perasaan tak terbendung, menyelinap pada dawai hati yang berdebar. Aku menyukai aroma peluhnya sehabis kerja di sawah. Kulitnya yang legam sangat berbeda dengan kulitku yang seputih gading. Kami berpandangan dalam diam waktu itu. Kemudian saling menyentuh tanpa kata-kata. Dan kini, kuteguk kenikmatan yang sama ketika keperkasaannya membobol tubuhku dengan cairan metahnya. Oh Dewata, aku takut mendapat karma. Bayang-bayang siksaan mencambuk hatiku. Cemas tak berujung. Muharram menatapku lekat. “Aku akan merantau, ikutlah denganku.” “Tidak Aram. Aku tidak mau lepas dari tanggung jawab. Semoga para makhluk menutup mata saat kita melakukannya. Ini rahasia kita dengan para leluhur, dan aku perlu berbagai ragam ritual untuk memohon ampun.” Dini hari ia meninggalkanku dengan goresan luka di hatiku. Aku sangat mencintainya. Namun kehidupan dunia tak mengijinkan. Aku berharap, kelak di negeri khayangan Batara Guru merestui hubungan kami. *** Melihat diriku yang lusuh; kain koyak, rambut awut-awutan, aku disangka telah dimasuki roh makhluk halus. Aku digiring kembali menuju bola arajang. Tiba ketika malam makin larut. Rumah panggung beratap rumbia berbentuk segi empat dengan dinding anyaman bambu sudah tampak ramai seperti ada perhelatan. Tiang-tiang penyangga rumah berdiri kokoh dihiasi lampu minyak. Di kolong rumah pagenrang menabuh gendang menghentak-hentak mengiringi langkahku menaiki rumah. Aku disambut dengan suka cita. Dilempari butiran beras disetiap tangga yang kudaki. Dalam rumah, para jennang berkeliaran menyiapkan upacara. Tikar terhampar. Panati mengatur sesajen berupa dupa, minyak bauk, tana bangkala, sokko patanrupa, tiga butir telur, beberapa sisir pisang, ayam masak yang telah dicabut bulunya, diletakkan di lempengan besi berwarna emas berbentuk piring berbagai ukuran. Sebuah anca, pohon buatan yang terbuat dari pucuk ijuk menjuntai, menaungi sesajen itu. Aku duduk pasrah serupa tersangka yang hendak dihakimi. Di hadapanku Puang Matoa Rala bersila membaca kitab kuno dengan basa torilangi. Mengenakan pakaian kebesarannya lengkap dengan topi bertanduk seperti kerbau. Dandanannya menor dengan badik pusaka bersanding di pinggang. Kualihkan pandangan, kulihat Maulida di sudut ruang bermata sayu. Aku yakin Muharram melarikan diri. Cepat atau lambat semua orang akan tahu ia janda perawan. Suatu waktu ia pernah berkata padaku. “Sangkala, kau yakin dengan jalan hidupmu?” “Entahlah. Aku cuma bisa pasrah dengan nasibku.” “Tidak inginkah kau beranak pinak?” “Apa maksudmu?!” “Tak ada maksud. Aku hanya mau mengatakan pernahkah kau jatuh cinta?” Aku ragu menjawab. “Aku tahu kau mencintai seseorang. Ya, hidup ini memang tidak berpihak. Kita senasib. Aku harus kawin dengan orang yang tidak kucintai.” Kupandangi Maulida, lama. Mencoba menerka bilik hatinya yang redup. Ia memberikan isyarat yang tidak kutemukan muaranya. Aku mattinjak, bernazar selama tiga hari tiga malam untuk bersedia diperlakukan seperti mayat, dimandikan dan dikafani. Kemudian disemayamkan di rakkeang, loteng bagian depan bola arajang. Sebuah guci berisi air doa menggantung di atasku, yang akan dipecahkan nanti setelah malam ketiga sebagai wujud pengesahan. Atap rumah terbuka hingga penglihatanku tembus ke langit penuh bintang gemintang. Aku mati suri. Di bawah sana iringan musik sakral terus dibunyikan. *** Apakah ini mimpi? Aku melihat seorang gadis berjalan dalam gelap mengikuti lentera yang ada di hatinya. Melangkah hati-hati seperti berharap tak ada telinga yang terusik atau mata yang terjaga. Mendatangiku yang sedang diterpa kemuliaan cahaya bulan, untuk memenuhi hajatnya. Lalu aku mengendus bau betina jarak tiga ayunan kaki sampai aku tersadar kafanku koyak. Aku bugil. Nafsu binal menggerayangi tubuhku. Ia menggeledah hasratku hingga aku berahi. “Apa yang kaulakukan?” “Aku mencintaimu. Aku rela makhotaku kau renggut. Akan kutanam benihmu di rahimku.” “Kau gila!” Ia tertawa geli. “Sangkala, kau tak sebanci yang kukira.” Ia melesat pergi ibarat angin lalu mengabarkan berita. Menciptakan prahara, guncangan yang terlalu hebat. Kuambil satu keputusan, angkat kaki dari kehidupan ini. *** Tuhan, inikah takdirku? Menorehkan sejarah untuk dijadikan pelajaran agar nanti manusia tidak melakukan kesalahan yang sama atau sebagai peringatan? Tak ada gema suara Tuhan membalas. Namun, burung Alo yang hinggap dan bertengger angkuh di pohon bertuah tepat di atasku menjadi jawaban. Burung langka itu yang tidak sembarang orang melihatnya menimbulkan firasat di benakku. Telah habis kususuri hutan. Tibalah aku di padang ilalang yang bergoyang disapu angin seperti orang tarekat. Sekilas mataku menangkap ada anoa berjingkrak riang, berlari-lari lincah bagai rusa dikejar macan. Di ujung sana sungai Segeri mengalir deras. Aku berjalan terlunta-lunta menerobosi ilalang laksana musafir yang kehausan. Langit tetap biru berawan. Matahari mendaki puncak. Bukit-bukit membatu. Kutanggalkan pakaian lalu berendam. Riak air sungai menyergap kulitku. Menjernihkan sukma. Di kejauhan, sayup-sayup kudengar suara azan mendayu-dayu lantang menyentuh nurani. Masjid itu terlihat menyembul di balik pohon rimba mirip semak-semak. Aku sempat mendalami ilmu agama di sana. Tapi aku tak betah. Para santri sering menghujatku; kaum Luth yang dilaknat Allah! Pedih. Mungkin perih. Salahkah wajahku yang rupawan tapi cantik? Suaraku yang unik? Atau gerakanku yang kemayu? Bukankah itu pemberian-Mu juga? Ah, sepertinya kebahagiaan tak pernah berpihak padaku. Aku tidak diterima di mana pun. Lebih baik aku.... “Celaka! Sala dewi.” “Bunuh saja!” “Jangan, kita nikmati dulu.” Entah dari mana datangnya, tiga orang pemuda menghampiriku, menyeringai bengis. Aku tak bisa apa-apa. Berteriak pun siapa yang mau dengar? “Mari kita bermain-main, sayang....” Mereka menceburkan diriku berkali-kali membuat aku megap-megap, kehilangan napas. Mencemariku beramai-ramai, berganti-gantian tak puas-puas. Lalu dengan keji, aku dikebiri seperti seorang kasim. Air keruh berubah warna merah. Mereka kabur saat melihat makhluk bersisik mendekat. “Buaya!” Aku terjepit dilema. Tak ada pilihan. Mulut hewan itu sudah menganga. Gigi taringnya menerkam dan mencabik-cabik tubuhku menjadi remah-remah daging. Tuhan, masih bisa kulihat nama-Mu menjulang ke langit. Setitik cahaya di kalbuku bermukim di bukit itu. *** Hampir dua bulan kemudian. Ditemukan mayat mengambang di tengah laut, menggembung, membusuk, dan tinggal separuh. Semua warga bertanya-tanya tentang perbuatan kotor apakah yang dilakukan jasad itu semasa hidupnya? “Anak kita jadi tumbal atas dosa yang pernah kita perbuat,” kata Mak Rappe terisak, terkulai di pundak Puang Matoa Rala selesai upacara nilabuang, menenggelamkan jenasah ke dasar laut. Hati berkabung dibelai duka. Sementara itu, di sebuah rumah panggung, seorang perempuan duduk di muka jendela menggeraikan rambutnya. Termangu, mata nanar memandang di luar sana. Tak lama berselang, senyum penuh luka tersungging di bibirnya. Ia mengusap-usap perutnya yang berisi janin. “Ana beang....” Daftar istilah Dewata: para Dewa. Calabai: asal kata sala baine, bukan perempuan; Waria. Bissu: pendeta agama bugis kuno pra islam, kebanyakan waria atau putri bangsawan Lego-lego: beranda rumah panggung. Sanro: dukun Puang Matoa: ketua bissu Puang Lolo: wakil ketua bissu Datu patoto: Sang Penentu Takdir Bola arajang: rumah penyimpangan pusaka kerajaan, tempat tinggal bissu. Basa torilangi: bahasa yang digunakan para bissu untuk berkomunikasi dengan Dewa Batara guru: nenek moyang orang bugis Toboto: kekasih bissu sesama jenis Cenning rara: aura kecantikan. Lette: petir Pagenrang: penabuh gendang Jennang: beberapa wanita tua bukan bissu yang mengatur rumah tangga rumah pusaka Panati: seorang wanita yang mengatur tata upacara adat Minyak bauk: minyak wangi berwarna merah Tana bangkala: tanah suci tempat awal turunnya nenek moyang orang bugis Sokko patanrupa: beras ketan empat warna, merah, kuning, hitam, putih Anoa: sapi kecil khas sulawesi Sala dewi: bukan dewi

Haji Bawakaraeng

Cerpen Emil Akbar Dimuat di Majalah Gong Edisi: 111/X/2009 Seperti tawaf di Ka’bah, saat itu jamaah yang datang dari berbagai daerah, tengah khusyuk mengitari tugu beton yang pernah dibangun Belanda beberapa waktu silam, sambil mengumandangkan kalimat tauhid dengan tubuh bergoyang laksana ilalang yang menari ditiup angin. Ketika gerombolan itu datang menghujat. “Syirik!” “Bukan ajaran Islam.” “Bubarkan!” *** Aku selalu heran. Ibu sering melarangku pergi ke Malino untuk mengisi liburan semenjak masih SMA sampai sekarang, aku kuliah dan menjadi anak pencinta alam. Paling tidak ibu sering menghalang-halangi niatku dengan berbagai alasan. Padahal di sana aku punya warisan peninggalan ayah, berupa tempat penginapan yang dikelola orang lain. Makanya kerap kali aku berangkat diam-diam. Sepulang dari Malino, ibu pasti tahu dan langsung menghukum dengan cara mendiamkanku beberapa hari. Sejak itu aku tahu ibu tidak pernah ke sana. Ketika ibu bertanya apa saja yang kulakukan setiap aku berkunjung ke sana, kulihat wajahnya harap-harap cemas seperti was-was yang tak semestinya. Bagai anak kecil yang ketahuan mencuri, kuceritakan semuanya termasuk pengalamanku mendaki puncak gunung Bawakaraeng dan kudapati di sana ada ritual haji. Ibu makin panik dan kian hari mengurung diri di dalam kamar. Saat kutanya kenapa? Ibu bungkam seribu bahasa seperti bertingkah yang tidak kumengerti. Tatkala kini berbaring lemah di rumah sakit, barulah ibu mau bercerita. “Bunga, kamu punya seorang kakak.” *** “Kapan kita naik haji, Daeng?” tanya Maniah yang sebenarnya tidak perlu Daeng Tata jawab sebab ia tahu istrinya itu hanya mengeluhkan nasib yang tak pernah bisa simpan uang. “Sabarlah dulu, Anriku. Bila tiba waktunya, kita pasti akan ke tanah suci. Untuk itu kita jangan putus berdoa,” nasihatnya itu belum mampu meluluhkan hati Maniah yang punya mau. “Percuma berdoa tanpa usaha, Daeng. Apa yang bisa diandalkan dari sepetak sawah warisan orangtuamu yang tak seberapa itu. Tak cukup bahkan untuk perut kita. Sayuran dan kadang padi yang kita tanam harganya selalu rendah, tidak pernah naik. Kita tinggal di hamparan gunung yang luas tapi milik kita tidak lebih dari secuil. Dan apa pula yang Daeng bisa lakukan selain bertani.” Daeng Tata meredam amarah yang menghantam dada, berusaha maklum akan ucapan istrinya yang begitu tajam menusuk. Barangkali Maniah tidak sadar tengah menyinggungnya. Dulu, orangtuanya memang punya banyak tanah. Namun tanah itu dijual murah karena didesak oleh usia mereka untuk naik ke tanah suci sebelum maut menjemput, dan beberapa tanah disita lantaran orangtuanya mengambil pinjaman untuk menambah upah naik haji, sebab uang hasil penjualan tanah belum juga cukup memenuhi ongkos. Juga buat selamatan sebelum dan sesudah naik haji. Harus dilunasi karena sudah menjadi kewajiban keluarga yang ditinggalkan untuk membereskan segala hajat yang tertunggak. Beberapa kali Daeng Tata didatangi di dalam mimpi, orangtuanya mengemis memintanya segera membayar utang mereka kepada yang bersangkutan yang memang sering menagih. Padahal sisa tanah yang mereka wariskan adalah biaya hidup Daeng Tata sehari-hari. Waktu itu, tanah memang seperti tidak ada harganya sebab jarang yang mau beli. Apalagi terletak di daerah puncak. Namun sekarang di tanah itu sudah banyak berdiri Vila, tempat penginapan untuk para pelancong yang berwisata ke Malino yang terkenal dengan air terjun dan udaranya yang sejuk. “Besok saya akan ke atas, Anri. Kamu mau ikut?” bujuknya agak mengalihkan pembicaraan agar perasaan istrinya sedikit lunak, lantaran malam ini lelaki itu membutuhkannya. Ia memegang bahu istrinya pelan yang sedang berbaring membelakanginya. “Tidak. Saya tidak percaya lagi, Daeng. Saya capek berangan-angan. Saya tidak mau pahala yang sama dengan naik ke Mekkah di atas gunung Bawakaraeng itu. Apakah Daeng tidak tahu? Banyak yang bilang ibadah ke sana itu keliru.” Maniah menolak secara halus, menggeser pundaknya biar terlepas dari tangan suaminya yang membelai bahunya. “Ah, tahu apa mereka itu? Mereka tidak tahu apa-apa. Hanya hendak memaksakan ajaran yang katanya murni!” ujarnya seperti mengumpat. Menghempaskan diri karena merasa gagal melelehkan kebekuan istrinya. Sungguh Daeng Tata sangat sulit menakhlukkan tabiat istrinya yang keras hati ketika sedang merajuk. Perempuan yang ia nikahi mati-matian sebab ia punya saingan. Ia rela menghabiskan tanah warisannya yang tersisa buat memenuhi permintaan calon mertuanya yang banyak ulah itu, sebab ada orang lain yang juga hendak melamar. Kepada pemberi yang tertinggi, mereka melepas anak gadisnya. “Daeng, bagaimana kalau saya ke Makassar mencari kerja?” Tiba-tiba Maniah mengajukan usul yang tentu saja mengejutkan Daeng Tata. I strinya membalikkan badan menatapnya. Berkat pelita minyak yang menyala redup, ia bisa melihat mata istrinya yang berbinar, ada semangat di dalamnya. “Seperti waktu gadis dulu. Saya akan bekerja sebagai buruh pabrik dan bakal menabung,” lanjutnya penuh harap, demikian riang seperti mengejar impian. “Anri, kau akan lama di sana nantinya. Dengan begitu kau tega meninggalkan saya sendirian di sini.” “Tidak apa, demi masa depan kita. Kelak bila sudah cukup uang dan pengalaman saya akan mengajakmu serta. Kita buka usaha di sana.” “Tidak. Saya tidak mengijinkanmu!” “Daeng, tenang saja. Sesekali saya akan menjengukmu.” Suaminya bungkam yang bukan hanya diam. Maniah juga sejenak membisu sekedar mencari jawaban yang diinginkannya. Namun air muka Daeng Tata tidak berubah, dan istrinya itu sudah mengerti bahwa ia tidak bakal mendapatkan restu untuk pergi. Sambil kembali membalikkan badan, ia tetap menceracau. Tak mau menyerah. “Kakak-kakakku sudah haji semua. Adik lelakiku yang pedagang itu sudah berangkat. Saya saja yang melarat seperti ini,” suaranya lirih menyindir. Namun ia tidak memperoleh tanggapan selain sunyi. “Besok, naiklah ke atas supaya diberi gelar Haji Bawakaraeng. Teruslah seperti itu, sampai kapan pun, Daeng tidak akan mampu naik haji.” Maniah diambang putus asa, memadamkan lampu minyak. Tidak peduli lagi dengan suaminya yang malam itu berhasrat bikin anak. Boleh jadi istrinya itu sering uring-uringan lantaran belum melahirkan buah hati. Pernah Daeng Tata dan maniah mendatangi sanro untuk berobat setelah lama menunggu. Namun dukun itu menyurutkan harapan. Katanya, Daeng Tata punya mani yang terlalu panas hingga mematikan indung telur. Lain hari berujar, rahim Maniah telah dingin dan beku. Terakhir menyimpulkan, mereka tidak cocok. Daeng Tata tidak bisa tidur, memandang nanar gelap yang mengerubungi. *** Dan Sekarang aku berada di sini untuk menemuinya. Di atas gunung Bawakaraeng, angin menampar tubuh ringkih Daeng Tata yang tak goyah, memandang jauh di bawah sana. Bagai di laut, langit merendah begitu dekat sebab puncak bukit itu menjulang seperti hendak menjangkau cakrawala dengan gumpalan mega-mega berarak-arak serupa ombak yang tak surut, bergulung-gulung dengan pekatnya. Tampak megah keemasan pada senja yang bangkit, pertanda malam akan memeluk hari. Dan setiap kali awan itu melintas, bayangannya tampak berkejaran di permukaan bumi. Deru angin terus menerpanerpa. Hembusan itu bertiup kencang membuat celana kain dan baju lusuh serta sarung yang tersampir di pundaknya berkibar-kibar ke belakang. Kopiah hitam bertengger di kepalanya yang beruban pun telah pudar serupa dirinya yang digerogoti usia. Lelaki tua itu masih menatap, barangkali nun pada hamparan kota Makassar yang merajalela, tanah daratan yang jauh dari sini dan hidup dengan gemerlap, kelap-kelip yang mengalahkan kedap-kedip bintang yang mulai bermunculan di langit yang sebentar lagi menghitam, seperti perempuan nakal yang main mata. Aku sejak tadi mengamatinya dari jarak yang tak dekat. Agak ke bawah, di balik hutan yang dihuni halimun, kabut asap tipis nan dingin yang lalu lalang. Aku melangkah mendekatinya dengan kaki kuseret biar berisik supaya ia berpaling, tapi Daeng Tata tetap bergeming hingga aku berada sejajar dengannya. Dingin kian merasuk mungkin sampai tulang, ngilu yang membeku. Aku menggigil seperti digigit oleh dingin, membuat gigiku ingin bergemelutuk dan akan mengeluarkan uap es ketika aku berbicara dan bibirku kini menjadi kelu. Padahal badanku dibungkus jaket tebal bagai berbalut-balut. Aku seperti hendak meringkus diri pada kedua tanganku yang bersilang di atas dada. Berbeda sekali dengan Daeng Tata yang santai saja menautkan kedua tangannya di belakang punggung karena sudah terbiasa dengan cuaca seperti ini. Aku yakin telapak tangannya akan berkeringat dan kulitnya bakal meleleh lantaran peluh, tatkala nanti ia ke Makassar yang teriknya garang dengan niat mencari anaknya yang tak pernah menjenguknya beberapa tahun ini, semenjak pertengkaran yang aku pun tahu. Bagai menunaikan hajat ke tanah suci yang tak pernah terwujud karena uangnya tidak pernah cukup dan tiap tahun biayanya selalu naik. Sungguh lelaki tua di sampingku ini seakan tidak bisa berpisah dari gunung Bawakaraeng yang ia jaga melebihi dari hidupnya. Ia menanam Mahoni dan jati serta pohon jenis lainnya di lereng bukit, dan di lokasi yang pohonnya terbabat di sekitar gunung. Bibitnya ia semai di pekarangan rumahnya. Sebab jasanya itu ia mendapatkan upah tiap bulan dari pemerintah Gowa yang tidak cukup buat makan berhari-hari. Lembaran uang itu ia tabung dalam kaleng biscuit entah berapa tahun, yang telah penuh. Namun jika dikumpulkan dan diikat dengan karet jumlahnya tak seberapa, tidak sebanding dengan jerih payahnya. Aku mengetahuinya sebab ia bermaksud menitipkan segepok uang itu beberapa hari yang lalu kepadaku buat Amiruddin, anaknya. Uang kuliah untuk temanku itu. Dulu memang anaknya adalah temanku tapi setelah aku tahu semuanya, dia bukan lagi temanku. Lebih dari itu. Aku bilang, Amiruddin memiliki usaha yang tidak tetap. “Bunga, sampaikan salam saya pada Anakku yang masih keras hati. Bilang, saya sangat merindukannya,” ujarnya lembut nan tegas tanpa melepas pandang melihat kota Makassar yang berkilau gemilang serupa lampu senter yang benderang di tengah kegelapan, seperti kumpulan cahaya. “Tata, tahu sendiri sikapnya yang tak mau dengar. Dan aku tidak bisa memaksa,” kataku setelah agak lama terdiam, lantaran aku sibuk menghalau dingin yang kian merayap pada hawa yang mulai senyap. Kulihat pelita di rumah penduduk di kaki dan di pinggang gunung sudah mulai berkeliaran bagai percikan sinar yang menyebar, bak kunang-kunang yang saling menjauh mencari tempat hinggap. “Bujuk dia sampai mau. Katakan lagi padanya bahwa saya akan minta maaf, kalau perlu saya akan bersujud di kakinya. Akan kutinggalkan semua kebiasaan yang dimatanya adalah dosa. Hanya dia satu-satunya harapanku, Bunga. Harta warisan peninggalan almarhumah istriku yang ingin kususul di tanah suci. Dialah yang dapat mewujudkannya.” Kali ini ia menjenguk mukaku yang hampir beku, menatap asa begitu memelas. “Iye, Tata, akan aku usahakan,” ucapku dengan gigi bergeretak. Kendati aku tidak tahu dimana Amiruddin sekarang. Namun aku yakin tidak susah untuk menemukannya. Sebab dia tidak kuliah lagi. Lebih memilih menyeru jalan agama ketimbang menuntut ilmu di fakultas yang katanya tidak dibawa ke akhirat. *** “Aku belum menikah karena belum bisa melupakanmu. Dan aku akan terus menunggu sampai kamu mau, Maniah.” Sungai Jene Berang mengalir deras seperti meluap, menenggelamkan bongkahan batu kali yang terserak. Maniah bagai terseret oleh arusnya, telinganya berdengung mendengar ucapan Andi Baso. Pertemuan di tepi sungai di suatu pagi yang hendak beranjak, ketika Maniah usai membasuh diri dan membersihkan cucian. “Saya sudah punya Daeng Tata!” jawab Maniah bergetar, agak terperangah. Meraba-raba kemauan hatinya. “Itu bukan masalah jika kamu mau.” Maniah menatap lelaki itu begitu lama seperti hendak menemukan keseriusan. Lelaki yang pernah ditolak sebab tak mampu memenuhi permintaan orangtuanya, sehingga Maniah mengubur cintanya dalam-dalam. Pertemuan itu rutin meski tidak setiap pagi dan kadang di tempat berbeda yang tidak diketahui orang lain, saat sepi. Sampai kesalahan itu diperbuat, yang membuat Daeng Tata senang karena tidak tahu. “Kamu hamil, Maniah?” Perempuan itu tidak mampu berterus terang karena didera dosa. Ia gelap mata. Andi Baso sangat sulit diabaikan. Bukan hanya karena ada hati, melainkan menjanjikan hidup layak dan nantinya bisa naik haji. Lelaki itu telah mapan. Kupingnya sudah terlalu panas mendengar segala gunjingan hina akan hidupnya yang tak kunjung membaik. Maniah merasa tidak dipandang di tengah keluarga dan di setiap pesta yang dikunjunginya. Tidak diperbolehkan berjejer menyambut tamu di ruang depan karena belum haji. Cuma kerap mendapat tempat di dapur dan dianggap serupa asap yang mengepul lalu lenyap tak bersisa dan tak ada yang peduli. Hanya disuruh bantu-bantu memasak. Lantaran malu, ia tak tahan. Ketika kesempatan itu memberi peluang tak mungkin ia tampik kendati meninggalkan aib. “Bayi itu anakku, Maniah.” “Tidak Andi Baso. Daeng Tata sangat mengharapkannya. Saya akan menyusulmu nanti setelah saya melahirkan.” *** Daeng Tata masih menatapku begitu teduh penuh pancaran kasih seperti menganggap aku adalah anaknya. “Terima kasih, Bunga. Mari kita turun. Sepertinya kamu sudah tidak tahan dingin. Teman-temanmu juga sudah lama memanggil. Kamu tahu, Bunga? Kamu mirip istriku waktu muda.” Aku tidak tersipu dengan gurauannya. Aku malah makin merasa bersalah. Ah, seandainya Daeng Tata tahu tentang rahasia yang kubawa, titipan pesan dari ibu yang mesti kusampaikan. Mengenai masa lalu yang tak ada hubungannya denganku. Aku hanya ingin mengatakan, istrimu belum mati dan Amiruddin bukan anakmu. Namun mulutku ini tak sampai hati mengutarakan maksud di setiap kesempatan berdua dengannya seperti tercekat di tenggerokan. Padahal besok aku sudah kembali ke Makassar. Teman-temanku sudah membereskan segala peralatan camping tak terkecuali sisa-sisa berupa sampah. Memastikan tak ada yang ketinggalan, semuanya ada dalam ransel besar di pundak. Setelah berucap syukur, kami siap turun gunung. Di lembah Ramma, di rumah panggung Daeng Tata, kami akan istirahat. Barangkali sampai pagi meninggalkan hari. Semoga kesempatan terakhir itu tidak aku siasiakan untuk membuka mulut, atau tidak sama sekali. *** Sinjai, 29 Oktober 2008 Catatan: Gunung Bawakaraeng yang berarti Mulut Tuhan adalah tempat Syekh Yusuf berangkat ke Mekkah. Ulama sufi yang paling terkenal di seantero Sulawesi, dipercaya masyarakat bagai ditelan lalu hilang dan muncul di tanah suci. Dari sini awal mula ritual haji Bawakaraeng. Daeng: Panggilan sayang untuk suami yang berarti kakak. Anri: panggilan sayang untuk istri yang berarti adik.

Video Pelatihan