Our Community

Our Community
Forum Lingkar Pena Depok

Our Event

Our Event
Depok Dalam Puisi

Our Training Program

Our Training Program
BATRE

Our Family

Our Family
Want to be one of us?

Mau Daftar? Klik Gambar Ini!

Tampilkan postingan dengan label Angkatan III. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Angkatan III. Tampilkan semua postingan

Perempuan Penyusu

Minggu, 22 Mei 2011

Cerpen Hamzah Puadi Ilyas Dimuat di Tribun Jabar, Ahad 15 Mei 2011 PEREMPUAN itu bernama Gendis Murniati. Sesaat setelah ia melahirkan bayi laki-laki, suaminya pergi entah ke mana. Kabar angin mengatakan wajah bayi itu tidak mirip dengan wajah suami Gendis. Tapi ketika beberapa tetangga menanyakan hal ini pada Gendis, ia tidak mengiyakan atau membantah. Ia hanya berkata lelaki pengecut dan berjiwa kerdil memang selalu kabur dari masalah.

Sebulan kemudian bayi Gendis meninggal. Setelah bayi dikubur, Gendis terlihat murung selama lima minggu, lalu ia terus menangis beberapa bulan berikutnya. Setiap keluar rumah para tetangga dekat pasti mendengar Gendis menangis, begitu juga orang-orang yang lewat di depan rumahnya. Banyak tetangga yang datang untuk menghibur Gendis sambil membawa buah-buahan. Namun tak satu pun yang mampu menghentikan tangisannya. Tangisan menyayat hati dan penuh rintihan kepedihan.

Gendis baru menghentikan tangisannya tepat pada saat ada tetangga yang melahirkan bayi perempuan rupawan. Sayang, payudara perempuan yang melahirkan itu tidak mengeluarkan air susu. Bentuknya juga kempes, tidak kembung seperti milik seorang wanita yang baru melahirkan. Ibu-ibu ramai membicarakan hal itu, terutama ketika sedang membeli sayuran di muka rumah. Mereka juga kasihan karena perempuan itu tidak mampu membeli susu kaleng.

"Biarlah aku yang menyusui bayi itu." Tiba-tiba Gendis keluar rumah. Orang- orang terkesima, sesaat serupa tugu. Aneh, Gendis masih terlihat sama seperti saat baru melahirkan. Payudaranya terlihat kembung. Yang berubah hanyalah matanya. Di mata itu seperti masih ada genangan air. Sebagian orang menganggapnya buta karena terlalu lama mengucurkan air mata.

Kesediaan Gendis untuk menyusui dilaporkan pada perempuan yang baru melahirkan itu. Pada awalnya ia tidak setuju karena mendengar kabar tentang mata Gendis yang terlihat aneh, tapi karena ia tidak mampu lagi membeli susu, akhirnya ia bersedia bayinya disusui Gendis. Beberapa orang yang semula meragukan apakah payudara Gendis masih mengeluarkan air susu terbukti salah. Malah susu dari payudara Gendis melimpah ruah. Bayi itu menyusu dengan sangat lahap. Bila tiba waktunya untuk menyusu, bayi itu selalu dibawa oleh orang tuanya kepada Gendis. Selama dua tahun bayi itu disusui Gendis hingga tiba waktunya untuk disapih. Bayi itu tumbuh menjadi anak yang sehat dan cerdas.

Kabar itu cepat menyebar. Maka datanglah beberapa perempuan yang memiliki bayi. Bukan hanya para perempuan dengan payudara yang tak mampu menghasilkan susu, tetapi juga sebaliknya. Mereka menginginkan bayi mereka sehat seperti bayi sebelumnya, dan mereka rela antre di depan rumah Gendis selama berjam-jam. Rumah Gendis tak pernah sepi dari tangisan bayi.

Dengan senang hati Gendis menyusui bayi-bayi itu. Terbukti mereka tumbuh menjadi anak-anak sehat. Anehnya, payudara Gendis tidak pernah menyusut dan susunya tidak habis-habis meski sudah puluhan bayi yang disusuinya. Hanya kedua matanya yang semakin mengecil. Makin banyak orang yang menganggap Gendis buta sehingga beberapa orang datang dengan sukarela untuk membantu Gendis mengurus rumah karena sepanjang hari ia sibuk menyusui. Malah seorang pria bernama Bejo mengatakan akan mengabdikan dirinya pada Gendis. Bagi Bejo, Gendis adalah sebuah keajaiban.

Rumah Gendis makin ramai. Beberapa tetangga memanfaatkan kesempatan itu dengan membuka warung. Mereka menjual apa saja yang bisa dimakan. Sisa-sisa makanan mengundang beberapa ekor kucing untuk datang. Di antara kucing-kucing itu ada yang kawin dan melahirkan empat ekor anak. Namun sayang, induk kucing mati.

Mengetahui hal itu, Gendis berkata pada Bejo. "Bawalah anak-anak kucing itu ke sini. Akan aku susui mereka." Bejo terkejut, tapi ia tidak berani membantah. Ia segera mengambil keempat ekor anak kucing itu dan membawanya kepada Gendis. Gendis segera menyusui mereka dan meminta Bejo untuk merawat bayi-bayi kucing yang mungil itu. Dua kali sehari Gendis menyusui mereka, bergantian dengan bayi- bayi manusia yang mengantre untuk disusui. Anehnya, anak-anak kucing itu pun menjadi sehat dan siap untuk dilepas.

Kabar tentang Gendis yang tidak hanya menyusui anak manusia cepat tersebar. Lalu berdatanganlah orang-orang ke rumah Gendis dengan membawa berbagai jenis binatang peliharaan mereka yang sakit. Bejo sempat bingung. Ia lalu bertanya pada Gendis, "Ibu, banyak orang yang datang ke sini dengan membawa binatang peliharaan mereka untuk disusui. Mereka sudah gila, Ibu."

"Bejo, tidak apa-apa. Biarlah mereka mengantre. Akan aku susui binatang- binatang itu. Mereka juga makhluk ciptaan Tuhan yang perlu kita sayangi." Kata Gendis dengan suara lembut. Matanya berkedip-kedip. Genangan air masih terlihat di sana. Kadang orang yang melihat matanya dengan cukup lama bagai melihat lautan.

Maka sejak itu Gendis tidak hanya menyusui anak manusia dan kucing, tetapi juga anak anjing, monyet, orang utan, siamang, kambing, rusa, gorila, bahkan bayi harimau. Seperti yang sudah-sudah, binatang-binatang itu juga menjadi sehat.

Dalam waktu yang tidak terlalu lama, Gendis semakin dikenal. Bahkan beberapa orang menjulukinya manusia sakti dan keturunan wali. Pemujanya juga terus bertambah. Suatu ketika, seorang wanita paruh baya datang ke rumah Gendis, tetapi bukan untuk meminta Gendis menyusui bayinya atau binatang peliharaannya, melainkan mengadukan masalah keluarga. Ia datang sambil bercucuran air mata.

Wanita itu mengatakan bahwa ia memiliki seorang anak lelaki yang kecanduan narkoba. Kuliah si anak berantakan dan wanita itu telah menjual rumah satu-satunya peninggalan suami untuk biaya menyembuhkan anaknya. Mereka sekarang tinggal di rumah kontrakan yang kecil pada gang sempit. Ia tak tahu lagi apa yang harus dilakukan.

"Tolonglah, Ibu Gendis."

"Bawalah anak laki-lakimu ke sini," kata Gendis.

"Bawa ke sini, Ibu?"

"Iya. Akan aku susui dia."

"Baik, Ibu."

Keesokan harinya wanita itu membawa anaknya. Gendis menyuruh Bejo menyiapkan satu kamar kosong. Di kamar itulah pecandu narkoba itu ditempatkan. Pintu dikunci agar pada saat sakaw ia tidak kabur. Setiap lima jam sekali Gendis menyusui pecandu itu. Tiga hari pertama ia muntah-muntah. Semua racun yang telah ditenggaknya keluar bersama muntah berwarna kelam. Hari berikutnya pecandu itu menyusu seperti bayi yang kelaparan. Dua minggu berikutnya ia telah sembuh dari kecanduan narkoba.

Kabar tentang Gendis Sang Perempuan Penyusu terus menyebar. Predikatnya pun makin banyak. Orang-orang yang sangat memujanya memberinya nama-nama pujian. Kini orang-orang yang menyusu padanya bukan hanya pecandu narkoba, tetapi juga tokoh-tokoh politik yang ingin menjadi pemimpin, pejabat yang ingin cepat naik pangkat, pengusaha yang ingin cepat kaya, penyanyi yang goyangannya dilarang, artis yang dianggap melecehkan agama, perempuan dan pria yang susah mendapat jodoh dan pekerjaan, pelajar dan mahasiswa yang ingin cepat lulus, dan masih banyak lagi.

Tapi di balik kemasyhuran Gendis ada beberapa orang yang membencinya. Ia dituduh menyebarkan maksiat dan klenik. Sekelompok orang berpakaian putih-putih datang dan berdemo di depan rumah Gendis. Gendis diminta untuk menghentikan kegiatannya menyusui orang dan binatang. Kalau tidak, rumahnya akan dibakar.

Gendis tidak pernah peduli dengan segala omongan orang dan demo-demo yang menentangnya. Ia terus saja menyusui makhluk hidup apa pun yang datang kepadanya. Ia berkeyakinan selama itu demi kebaikan orang lain dan tidak merugikan pihak mana pun, ia akan terus menyusui hingga akhir hayat.

Keteguhan Gendis membuat beberapa orang membelanya. Terutama mereka yang telah merasakan manfaat menyusu pada Gendis. Makin hari makin banyak saja orang yang mendukungnya sehingga terbentuklah aliansi pendukung Gendis yang siap mati jika keberadaan Gendis terus diusik. Mereka membubuhkan sidik jari dengan tinta darah. Ia juga dirangkul oleh partai politik yang menentang penguasa.

Gendis berubah menjadi sebuah fenomena. Ia bahkan terkenal hingga ke mancanegara. Orang-orang yang datang untuk menyusu padanya bukan hanya dari dalam negeri. Beberapa kali ia malah diundang ke berbagai negara. Tentu saja ia selalu ditemani oleh Bejo yang kini juga ikut menikmati kemasyhuran.

Pada suatu ketika Gendis akan menghadiri pertemuan. Sang penguasa menganggap pertemuan itu akan mengusik kekuasaannya. Maka dibuatlah rencana untuk membunuh Gendis dengan memberikan racun pada minumannya. Antek-antek penguasa yang telah sangat lihai dan mendapat pelatihan di luar negeri selama bertahun-tahun ditugaskan dalam misi ini. Entah bagaimana mereka bekerja, akhirnya di depan Gendis ada gelas berisi air putih yang telah diberi racun.

Pada saat Gendis hendak minum, tiba-tiba gelas itu pecah. Gendis tidak mati. Peristiwa yang dianggap langka itu diliput televisi. Para pendukungnya sangat yakin bahwa ada sesuatu di minuman itu. Nama Gendis malah semakin masyhur. Pengikutnya menjadi berlipat-lipat. Sang penguasa harus gigit jari karena kini pengikut Gendis telah melimpah ruah. Itu berarti akan sangat sulit untuk menyingkirkannya, dan jika mencalonkan diri menjadi pemimpin, ia pasti menang. Para pemujanya menjuluki Gendis orang suci.

Kiprah Gendis semakin berkibar. Ia kini bukan hanya menyusui, tetapi juga menentang tindakan main hakim sendiri dalam membela keyakinan. Jurang perbedaan antara sekelompok orang dengan Gendis semakin curam. Bentrokan antara pengikut Gendis dengan sekelompok orang itu tak lagi bisa dihindarkan.

"Tangkap Gendis. Ia telah memilih jalan sesat dan menyesatkan." Begitu kata pemimpin kelompok itu.

"Aku tak akan pernah gentar. Bila ingin menindas orang, langkahi dulu mayatku," jawab Gendis yang kemudian dikutip berbagai media massa. "Aku menyusui karena aku memiliki air susu yang melimpah ruah, dan sangat banyak makhluk yang membutuhkannya. Ini bukan porno dan maksiat, namun suatu bentuk pelayanan pada Sang Pencipta."

Tahun-tahun terus berlalu. Gendis makin tua. Kesehatannya semakin memburuk. Ke mana-mana ia harus didorong dengan menggunakan kursi roda. Tapi ia tetap tak pernah menolak siapa pun yang datang kepadanya untuk menyusu. Anehnya, buah dadanya bukannya makin kempis, tetapi makin berisi, meskipun tubuhnya sudah sangat lemah.

"Aku akan terus menyusui siapa pun yang membutuhkan. Cuma itu yang bisa kulakukan dalam hidup ini di sisa-sisa umurku. Hanya Tuhan yang bisa menghentikan tindakanku. Aku ingin dikenang sebagai Perempuan Penyusu dan menjadi rahmat bagi sekalian alam." Begitu kata Gendis sebelum akhirnya ia menutup mata untuk selama-lamanya. Jutaan orang mengantarkan Gendis ke pembaringannya yang terakhir. Mata mereka tergenang air, persis seperti mata Gendis pada saat tangisan terakhirnya reda. Salah satu dari mereka adalah anak perempuan yang berumur enam tahun. Jika diperhatikan dengan saksama, mata anak itu seperti lautan. Ruh Gendis telah menyusup melalui ubun-ubunnya. Kelak ia akan menjadi perempuan penyusu berikutnya.

Mantra Penyadap Nira

Rabu, 09 Maret 2011

Cerpen Hamzah Puadi Ilyas Dimuat di Tribun Jabar, Minggu, 6 Maret 2011 | 14:25 WIB HANYA Tuminah seorang di seluruh Lumajang, bisa jadi di seluruh Pulau Jawa atau bahkan Indonesia, yang memiliki mantra penyadap nira. Mantra itu membuat pemiliknya tidak merasa sakit bila jatuh dari pohon aren saat menyadap nira meskipun pohon itu menjulang hingga menyamai puncak Bromo. Bila jatuh, si pemilik mantra akan bangun kembali seperti orang bangun dari bersila. Mantra itu diwariskan oleh kakek Tuminah yang bernama Mbah Ketip. Menurut Mbah Ketip, mantra penyadap nira tidak bisa diwariskan dari ayah ke anak, hanya dari kakek ke cucu. Pada mulanya Mbah Ketip tidak ingin mewariskan mantra itu kepada Tuminah karena ia perempuan. Mbah Ketip masih menunggu dan berharap suatu saat menantunya hamil lagi dan melahirkan anak laki-laki. Tapi pada suatu hari, setelah bersemadi di bekas kandang kambing sambil puasa mutih selama dua hari dua malam, Mbah Ketip merasa umurnya tidak lama lagi. Ia akhirnya mewariskan mantra itu pada Tuminah. Mbah Ketip berpesan pada Tuminah bahwa mantra penyadap nira, seperti juga manusia, ada umurnya. Suatu saat mantra itu bisa lenyap. Tidak ada yang tahu pasti kapan terjadinya. Tapi menurut perkiraan, ketika tempat tinggal mereka, Desa Kalibendo, Kecamatan Pasirian, Kabupaten Lumajang, tidak lagi dikelilingi pepohonan dan persawahan. Begitulah yang diketahui Mbah Ketip dari kakeknya. "Maka dari itu, Tuminah, cucuku, berhati-hatilah engkau setiap kali memanjat pohon aren. Bisa saja saat itu mantramu lenyap, dan dedemit penunggu pohon sedang usil, lalu menyentil tubuhmu. Engkau bisa celaka." "Iya, Kakek," jawab Tuminah, yang waktu itu kelas empat SD. Entah karena pengaruh mantra atau warisan sifat sang ayah, Tuminah tumbuh seperti anak laki-laki. Menjelang selesai sekolah dasar, ia sudah mulai memanjat pohon aren untuk menyadap nira. Nira itu nantinya akan dibuat gula oleh keluarganya. Memang Tuminah tidak seperti laki-laki dewasa yang bisa memanjat sepuluh sampai lima belas kali dalam sehari untuk menyadap nira, tapi keberaniannya membuat banyak orang kagum. Awalnya ayahnya melarang. Anak perempuan tidak usah memanjat pohon aren, cukuplah membantu ibunya memasukkan gula yang telah mengental ke dalam dakon, cetakan. Tapi pada satu waktu, ketika tiba-tiba Tuminah sudah berada di puncak pohon aren dengan membawa pisau dan jeriken yang diikatkan ke pinggang, ayahnya sadar bahwa Tuminah memang bukan anak perempuan sembarangan. Ayahnya sempat berpikir mungkin Tuminah adalah penjelmaan keinginannya dulu yang mengharapkan anak laki-laki. Tuminah, yang kemudian tidak melanjutkan pendidikan setelah tamat SD, selalu memegang teguh amanat kakeknya tentang mantra penyadap nira. Ia tidak boleh bercerita kepada siapa pun. Ia hanya boleh bercerita pada cucunya kelak ketika hendak menurunkan mantra tersebut. "Bila kamu bercerita, dalam waktu enam jam mantra itu akan hilang." "Kenapa bisa begitu, Kek?" tanya Tuminah. "Karena itu menunjukkan engkau telah jadi orang takabur." Tuminah mengangguk. Umur sembilan belas tahun, Tuminah jatuh cinta kepada Pardi yang tiga tahun lebih tua. Keluarga Pardi lebih miskin, tetapi kulitnya putih. Jarang sekali ada orang berkulit putih di desa itu, apalagi laki-laki. Sama seperti Tuminah, Pardi juga hanya tamat sekolah dasar. Ayahnya telah tiada ketika ia baru bisa merangkak. Pardi tinggal di rumah bambu bersama ibunya. Sehari-hari mereka membuat gula aren milik orang lain. Untuk satu kilogram gula aren yang dijual kepada pengepul seharga 6.500 rupiah, Pardi dan ibunya mendapat 1.000 rupiah. Bila sedang tidak sibuk, Pardi biasanya mencari belut di sawah pada sore hari. Hasil tangkapannya seringkali dijual sebagai tambahan biaya dapur keluarga. Suatu saat, ketika sedang berada di pohon aren, Tuminah membayangkan dirinya bersanding dengan Pardi. Kebahagiaan datang bersama bulir-bulir angin. Kepulannya yang melegakan rasa membuat Tuminah semakin nyaman. Mata terpejam, dan biru langit seolah dalam gapaian. Ia merasa terbang, melayang di antara gumpalan awan putih berserakan bersama Pardi. Tuminah baru sadar ketika ada teriakan. Orang-orang berdatangan. Ibunya menangis sambil memeluknya. Ayahnya segera membopongnya ke rumah. Sesaat Tuminah bingung mengapa begitu banyak orang yang mengirinya. Sesampainya di rumah ia didudukkan di bale bambu. Ayah dan ibunya meraba-raba sekujur badannya. "Kamu tidak apa-apa, Tuminah?" Tuminah masih terlihat bingung. Tapi beberapa detik kemudian ingatannya muncul. Ia ingat telah berada di puncak pohon aren. Segera ia menggeleng dan turun dari bale bambu. Muncul wajah Mbah Ketip di pikirannya. Ternyata mantra itu memang manjur. Sekarang orang-orang yang mengelilinginya yang tampak bingung. Sebulan kemudian Tuminah benar-benar bersanding dengan Pardi. Kisahnya seperti ini: ketika jatuh dari pohon aren, Tuminah mengucapkan kata "Pardi" beberapa kali. Karena penasaran dan takut ada apa-apa, ayah dan ibu Tuminah lalu memutuskan untuk mendatangi Pardi dan menanyakan apakah mereka sudah saling kenal. Ibu Pardi yang menjawab dengan mengatakan bahwa sebenarnya sudah sejak lama ia ingin melamar Tuminah, tapi karena takut ditolak ia menunda keinginan tersebut. Mengetahui hal itu, ayah Tuminah akhirnya menikahkan mereka. Tahun berganti tahun. Orang-orang tua telah berpisah dari anak, menantu, serta cucu. Sore itu hujan rintik-rintik baru saja berhenti. Dedaunan masih kedinginan. Pardi duduk dengan kaki menjulur di bale bambu. Telah sekian kali ia memborehkan minyak gosok cap tawon pada pergelangan kaki yang terkilir. Dua anak perempuannya sedang bermain boneka plastik di sudut ruangan. Tuminah, sambil menggendong anak ketiga yang berkelamin laki-laki, tampak gelisah. Sesekali ia menengadahkan wajah ke langit yang masih semburat suram. "Sudah, menyadap niranya besok saja," kata Pardi. "Pohon aren licin, barusan hujan." "Kalau tidak membuat gula aren hari ini, lusa kita sudah tidak punya uang untuk membeli beras dan minyak tanah." "Nanti aku cari pinjaman." Tuminah diam. Ia menatap wajah anaknya sambil menggerak-gerakkan gendongan agar tidurnya lebih lelap. Wajah anak itu mirip Mbah Ketip, terutama hidungnya yang sedikit mengendap ke dalam. Suara anak-anak di luar rumah terdengar. Tuminah menyingkap tirai jendela dan melongok ke luar. Langit telah cerah. Tuminah meletakkan anaknya yang pulas di samping Pardi. Setelah pamit pada Pardi dan berpesan agar menjaga anak-anak, ia keluar sambil membawa pisau dan jeriken. Kain telah berganti celana gombrang lusuh. Dengan langkah cepat ia menuju kebun yang ditumbuhi pohon-pohon aren. Satu pohon telah tumbang tersambar petir tiga bulan lalu. Jarak kebun dari rumahnya sekitar setengah kilometer. Begitu memasuki kebun terlihat pohon aren tertinggi. Dari pohon itu juga ia dulu pernah jatuh. Entah sudah berapa ratus kali pohon itu dipanjat. Menyentuh batangnya saja telah membuatnya bangga. Hanya ia wanita di Desa Kalibendo yang pandai memanjat pohon aren untuk menyadap nira. Selesai merapalkan mantra, ia segera memanjat. Dalam sekejap, tubuh kurusnya telah mencapai puncak pohon. Dari atas Tuminah bisa melihat rumah-rumah berbaris rapi. Rumah-rumah orang kaya, pikirnya. Dulu di tempat itu terbentang persawahan milik penduduk asli. Kini setengahnya telah menghilang. Sebagai gantinya, hampir di semua rumah warga Kalibendo terdapat televisi, bahkan sepeda motor. Setelah merasa cukup, Tuminah turun. Hujan ternyata menyisakan jentik-jentik air di beberapa legokan batang aren, membuatnya sedikit licin. Pada pijakan ketiga, kaki Tuminah menyentuh permukaan yang licin itu. Di saat yang bersamaan, tangannya berpegangan pada sisa pelepah tua yang rapuh. Pelepah yang telah dipangkas ujungnya itu tercerabut, dan tubuh Tuminah langsung meluncur. Ada bunyi gedebuk, lalu hening. Tuminah tidak tahu berapa lama. Yang ia tahu ia berada di tanah dalam posisi bersila, kemudian bangkit. Mantra dari Mbah Ketip memang luar biasa. Dilihatnya jeriken masih utuh berisi nira. Tidak lagi di pinggang, melainkan di atas tanah. Seperti ada yang meletakkannya. Pisau masih terselip di sabuk yang mengikat erat pinggangnya. Tuminah menuju rumah. Langit temaram. Makin dekat ke rumah, langkahnya terasa semakin ringan. Begitu juga jeriken yang ditentengnya. Seperti membawa kapas. Tiba-tiba ia teringat ketiga anaknya. Ada perasaan kangen dan bersalah. Ingin rasanya ia memeluk si bontot. Langkahnya semakin dipercepat. Dari kejauhan terlihat rumahnya sangat ramai. Semua tetangga ada di sana. Pasti ada apa-apa dengan si bungsu. Ia berlari, merasakan kakinya seolah tidak menyentuh tanah. Sesampainya di depan rumah, ia berteriak menanyakan apa yang terjadi. Namun tak satu pun orang yang menoleh, apalagi menyahut. Tuminah menyelinap di antara kerumunan orang. Dia tidak lagi peduli, semua yang menghalanginya ditabrak, tapi tetap tak ada yang bergerak. Sampai akhirnya ia berada di pusat lingkaran. Benar saja, ada jasad terbaring tertutup kain. Beberapa orang mengelilingi jasad itu sambil membaca kitab suci. Pardi terlihat sedih di pojok ruangan, sesekali menyeka air mata. Dengan cepat Tuminah menyingkap kain penutup mayat. Ia ingin melihat wajah anak kesayangannya. Ternyata, ia melihat wajahnya sendiri, putih dan pucat. Ada kapas yang menutup kedua lubang hidung. Satu per satu tulang belulang di tubuhnya remuk. Ia semakin ringan, lalu perlahan membubung menembus atap.

Perempuan Kampung Karampuang

Minggu, 28 November 2010

Cerpen Emil Akbar

Sumber: kolomkita.com

Malam ini purnama sedang penuh. Bulan benderang begitu bundar. Bercahaya menyinari seperti lindungan ibu dalam dekapan yang menjelma dewi malam dan aku memperoleh restu di wajahnya yang bulat. Membuat langit hitam tak begitu gelap. Dalam rindang hutan pekat melarut lewat hembusan angin yang dingin. Bukan gulita sebab mataku masih bisa melihat. Hanya lindap dan kudapati kunang-kunang berkerlip, mengganti bintang yang tiada.

Aku menantimu di batas Dusun Karampuang. Kau belum juga muncul padahal aku sudah lama menunggu di sini. Aku takut dan cemas. Itu sebabnya mataku terpaku pada ujung aspal yang menghilang seperti ingin menerobos malam yang teduh, mencari bayanganmu yang berkelebat, dan sesekali aku menengok ke belakang membaca situasi.

Rustam, tahukah kau? Di dalam sana, sunyi bukan berarti tidak ada bunyi walau tadi mereka sembunyi karena aku tak peduli. Bunyi hewan malam, nyanyian serangga, suara berdesis-desis yang bukan ular, kicau kao-kao yang mengerikan di rimbun daun di dalam hutan yang senyap, berbondong-bondong mengerubungi telingaku. Berdenting serupa dawai, mengalun dan merambati udara, dan bakal meninggalkan luka di hatiku bila kau tidak jadi menjemputku malam ini. Maka hadirlah di ujung jalan itu seperti dilahirkan oleh kabut yang merayap. Jangan sampai aku menjadi batu di sini karena gigil atau habis karena dimakan angin dan kau harus tahu jiwaku mulai beku meski sebenarnya kepalaku ingin meledak karena bosan. Aku tidak mungkin kembali setelah ingkar.

”Sepertinya lelaki itu tidak akan datang.”

Seseorang memegang bahuku dari belakang. Aku tersentak kaget dan terlonjak bangkit dari tugu batu yang kududuki. Aku gemetar gugup mengetahui siapa yang menegur.

”La Gole! Sedang apa kau di sini? Kau mengikutiku?” Sontak aku menjauhinya.

”Jubaedah, pulanglah sebelum terlambat. Masih ada kesempatan dan aku akan membantumu,” ujarnya sembari duduk di tugu batu yang kutinggalkan.

Dalam gelap aku tahu ia menatapku tajam, seruncing jarum yang pernah menusuk tanganku. Batinku tertohok mengingat ia adalah mata-mata Puang Gella, pemangku yang sering menghukum bila ada orang yang melanggar di kawasan dusun, meski ia temanku sejak kecil dan beberapa waktu silam aku menyimpan hati untuknya. Namun ia menunjukkan sikap yang tidak kusuka. Ia bukan lelaki tangguh, pengecut yang tidak berani mengajakku kawin lari.

”Benar kau akan menolongku?” tanyaku pura-pura ragu.

”Kau tidak percaya padaku?” La Gole menghampiriku begitu dekat hingga bisa kuhirup bau badannya yang belum disentuh sungai. Aroma napasnya purba.

”Baiklah kalau begitu. Ijinkan aku menunggu Rustam sebentar lagi,” pintaku. Lalu kedua kakiku tak mau diam karena gelisah.

”Jika dia tidak muncul?”

”Kau boleh membawaku pulang!” jawabku sedikit kesal.

”Sepakat.”

Agak lama kami saling diam seolah jiwa kami raib meninggalkan raga yang kikuk, menguak hutan dengan lesat untuk menemukanmu dengan tujuan yang berbeda. Kuperhatikan La Gole sedang duduk bersila sambil mempermainkan parang bersarung yang biasanya terlilit di pinggangnya. Tidak kutahu apa maksudnya, tapi membuatku bergidik membayangkan kulitmu robek dan menumpahkan darah jika badik itu keluar dari sarangnya. Kau pasti akan kalah sebab La Gole bekerja dengan otot sedangkan kau lebih suka berpikir.

”Apa yang kalian lakukan jika sudah bertemu? Apakah kau akan lari dengannya?” La Gole mengajukan tanya yang menyelidik, memecah hening. Posisi duduknya sudah berubah, satu kakinya berdiri dengan lutut menekuk.

”Tidak melakukan apa-apa. Aku hanya mau mengatakan sesuatu?” balasku berbohong sebab ia sudah curiga.

”Apa itu?”

”Kau tidak perlu tahu. Kenapa kau bertanya-tanya?”

”Ingin tahu saja. Bagaimanakah perasaanmu padanya?”

”Itu bukan urusanmu!” teriakku nyaris menuding, membuatnya bungkam.

Aku berbalik arah membelakanginya menahan amarah, antara jengkel dan putus asa. Kusandarkan kepalaku pada pohon yang tak bisa kurangkul. Aku mencabut-cabuti kulit keringnya yang berlumut dan memang sudah terkelupas, membuang geram. Mataku terasa panas bagai diperciki biji lombok. Pedih memerih.

Sekarang aku tidak ingin kau datang sebab itu akan mengantarkan nyawamu. Namun aku juga butuh kau datang membawaku pergi dari sini, jangan biarkan aku berkalung rantai. Aku tidak mau menjadi perawan tua! Bagaimana ini? Aku galau.

Tetapi tunggu. Mataku yang melirik menangkap bayangan sekilas, bersijingkat dan menunduk mirip gerak-gerik babi hutan, berpindah dengan cepat ke semak-semak. Apakah itu kau? Tidak sebentar aku terpana, dadaku berdesir dengan degupnya. Aku merasakan firasat tak baik. Aku mesti bersiasat.

”Aku menyerah. Seperti katamu, Rustam tidak datang. Mari pulang.” Sebisa mungkin kukulum senyum ini dan menampakkan muka murung agar tidak ketahuan, supaya kau dapat mengikutiku dari jarak jauh. Aku akan mengecohkan perhatiannya.

”Aku masih setia menemanimu menunggu jika kau mau?” Aku tahu ia mengejekku.

”Tidak usah! Barangkali dia pecundang yang lebih darimu.”

”Bagus kalau kau sadar. Orang kota memang tidak bisa dipegang janjinya!” timpalnya tak mau kalah.

Aku tidak lagi menyahut dan berjalan lebih dulu. Rustam, susul aku di puncak bukit!

***

Jubaedah, kau adalah gadis sunyi. Semerbak harum bunga desa, wangi menebarkan angan di setiap kepala jantan muda sepertiku. Aku menemukanmu bagai mutiara diantara ribuan kerikil bebatuan yang terserak di tepi kali. Namun ada yang hilang di wajahmu yang bulat langsat. Laksana embun pagi yang tak ada lagi, saat matahari tak bisa lagi disebut mentari. Aku seperti pangeran yang menemukan bidadari.

Di batas Dusun Karampuang jalanan beraspal terputus seperti lorong buntu. Terdapat daun kelapa yang diikat merintang di atas jalan. Mobil dinas kuparkir di luar kawasan adat karena dilarang masuk. Lagi pula hanya ada jalan setapak yang sempit. Tanahnya berdebu di musim kemarau dan licin berlumpur di musim penghujan. Banyak bebatuan. Di hari-hari biasa dusun ini begitu sepi bak kampung yang bisu.

Awal bulan November aku kembali. Aku sudah menjadi pegawai negeri di kabupaten. Setahun yang lalu aku datang di kampung ini untuk menyusun skripsiku mengenai adat Karampuang. Setelah lulus kuliah tak mampu kutahan hasrat hatiku, ingin kembali menggapaimu. Masihkah kau menjadi perawan suci yang tidak boleh dijamah?

Kutinggalkan semua yang berbau teknologi dan barang yang terkesan mewah di mobil sebelum memasuki kawasan adat yang dikeramatkan ini, lantaran pamali. Menurut keyakinan orang sini, segala yang datang dari luar lebih banyak merusak dan akan mengubah tatanan tradisi yang mereka jaga selama berabad-abad, turun temurun. Itu sebabnya aliran listrik tidak bisa masuk karena kaum adat menolak. Sungguh dilema, mengingat aku memegang proyek dari Pemda untuk menjadikan Karampuang tempat wisata, yang mungkin bakal melunturkan kebiasaan dan kepercayaan penduduk di dusun ini meski dengan maksud memberdayakan masyarakat.

Aku masih terkenang ketika pertama kali datang di kampung ini. Aku disambut dengan ramah. Tidak kurang isi baki sudah ditambah, belum setengah isi gelas sudah diimbuh. Aku yang mengetuk pintu bukanlah orang lain, malah dianggap keluarga sendiri. Sebab mereka memandang tamu itu membawa rezeki. Saat itu aku menumpang tidur di rumah ayahmu di luar kawasan adat, di dusun tetangga. Lantaran aku butuh listrik buat menyalakan laptopku, menulis hasil riset yang kudapat. Pernah aku menginap di rumah seorang warga. Alat penerangnya berupa lampu minyak yang mereka sebut sulo. Semalam suntuk aku menulis di lembar kertas. Pulang pagi-pagi. Kau berada di depan pintu. Tergelak tawamu melihatku. Suaramu renyah.

”Ada yang lucu?”

Kau tidak menjawab tapi memberikan isyarat. Kau pegang hidungmu yang mungil dan bangir. Aku mengikuti. Astaga, cuping hidungku dipenuhi asap hitam. Aku lekas pergi ke belakang membasuh muka.

Seminggu dalam sebulan, kita bertemu. Kau melepas masa haidmu di rumah. Parasmu demikian sendu seperti tidak terima seperti terpaksa, saat kau mengatakan sedang menuntut ilmu untuk kelak menjadi seorang sanro di rumah adat Karampuang. Rumah panggung yang merupakan simbol sosok perempuan. Dari jauh kediaman yang sakral itu memang tampak anggun. Atapnya dari anyaman daun nyiur berbentuk segitiga sama kaki. Tangganya terletak di tengah di kolong rumah.

”Tangga naik ke dalam rumah adalah kelamin perempuan,” jelas La Gole, temanmu.

Ia pemandu yang baik, meladeni keingintahuanku dan bahkan memuntahkan semua yang ia tahu. Pemuda yang bersemangat meski entah kenapa diam-diam ia sering menatapku dengan pandangan menghunus seperti tidak suka seperti menaruh curiga. Ia membicarakan tubuh perempuan dengan sangat biasa.

Membuka pintunya pun harus ditolak ke atas biar bergeser. Aku menebak pasti ini selaput dara kemaluan, sebab dibutuhkan sedikit usaha untuk membukanya. Ada batu bundar yang menindih.

”Arah dapur adalah rahim. Dan dua dapur di belakang itu adalah buah dada sebagai sumber kehidupan.”

Rumah ini tak bersekat, hanya ruang. Lantai dan dinding terbuat dari bambu. Ada loteng yang lumayan luas seperti layak untuk dijadikan kamar, tempat persimpanan kebutuhan pokok terutama padi. Bahkan ada padi yang berumur seabad.

”Semua warga sehabis panen tanpa diminta menyimpan sebagian padinya di sini untuk digunakan bersama jika terjadi gagal panen. Padi ini tidak boleh di jual.”

Aku ingin sekali mengabadikan apa yang aku lihat. Namun lelaki yang terbiasa bertelanjang dada saat bekerja di sawah ini melarangku dengan tegas. Badannya yang berotot dengan kulit secoklat kayu itu langsung tegap menantang.

”Jangan coba-coba bawa kamera. Itu kesepakatan kita dari awal. Boleh jadi kau yang melanggar, kami sekampung yang kena malapetaka. Kalau kau mau lama di sini hormati adat kami!”

Belum sempat aku minta maaf, La Gole sudah berlalu. Kulihat punggungnya digerogoti jamur, bercak-bercak putih.

Ketika kuceritakan penjelasan La Gole kepadamu, kau tersenyum simpul membenarkan. Pipimu merona seperti lembayung yang memerah bagai senja yang membakar langit. Aku jatuh hati.

Upacara Mappugau Sihanua sepertinya sudah dimulai. Selama tujuh hari tujuh malam. Aku berjalan santai menikmati pagi yang mau pergi. Sepanjang jalan yang berkelok kulewati rumah penduduk yang kadang saling berjauhan. Tak jarang aku berpapasan dengan warga yang masih kukenal. Di kiri kanan diselingi tanaman sayuran, pohon pisang, pohon kopi dan pohon kakao, serta hamparan sawah yang tidak rata, berundak-undak dengan garis pematang meliuk, sejauh mata memandang. Ada sumur tua berdinding susunan batu, aku menyebutnya kolam karena dangkal. Bila airnya lagi penuh, penduduk memandikan anaknya dan bayi yang baru lahir, biar mendapat berkah. Air mengalir khas pegunungan terdengar jernih menggelitik kesegaran. Hutan lebat dan belukar liar tampak rimbun di puncak bukit, hijau nian seperti belum pernah disinggahi. Jubaedah, secantik apa kau sekarang?

***

Lelaki itu masih gagah. Badannya berisi dan kulitnya bersih seperti pasir laut, seperti belum pernah dicubit matahari. Kini aku yakin kau makin terpikat, melirik pakaiannya yang sewarna kulit sapi. Lelaki idaman yang menggiurkan bunga desa sepertimu. Dan aku terhempas ibarat hati yang terbuang. Sebab cintaku sedang cemburu.

Ah, lelaki bernama Rustam itu terlalu mau tahu tentang adat kita dan ia sebarkan ke mana-mana. Aku tidak menyukainya karena itu, dan sebab ia mencuri hatimu dariku. Lebih dari itu, ia juga mencuci otakmu hingga pikiranmu telah kota walau disebabkan juga karena kau pernah sekolah sampai SMA di kabupaten. Kau pernah menjadi guru di dusun sebelah, mengajari kami baca tulis di usia kami yang sudah berkumis.

Kabarnya, Rustam akan mendirikan pasar rakyat dan penginapan di sekitar kampung ini. Makin ramai saja orang datang ke sini. Melihat kami sebagai tontonan. Melihat upacara kami sebagai pesta. Oh, Karampuang bagaimana nasibmu nanti? Ketika kebiasaan orang kota meracuni adat kami, menjarah apa yang kami jaga, yang kami miliki. Aku ingin sekali mengumpat, mereka tidak beradab karena mereka biadab!

Mungkin kelak tidak ada lagi yang namanya gotong royong. Seperti yang pernah dihimbau orang dulu, ”Hai sekalian anakku, kasih mengasihilah, rebah saling membangkitkan, hanyut saling mendamparkan, berkata saling mengiyakan, dan berbuat saling bantulah. Khilaf saling mengingatkan, satu kata dengan perbuatan, bagaimana di dalam begitu pula di luar, tegakkanlah yang keramat, sandarkanlah yang tabu, dan dudukkanlah yang makruh.”

Sekarang banyak yang mengerjakan sawah dengan cara bagi hasil, tidak lagi yang punya hajat memberi makan untuk disantap bersama. Begitu pula saat membangun rumah, menggunakan tenaga upah. Mengumpulkan puing-puing harta sehingga saling mencekik. Serakah sehingga saling menutup pintu.

Oh, Tomatoa! Hanya kamu yang murni. Kami akan teguh, tidak akan memasang paku tetap memakai tali rotan untuk menyusun kerangkamu. Mengganti tiangmu yang lapuk dengan menebang pohon bertuah di rimba melalui upacara madduik, menarik kayu bersama di hutan, wujud satu rasa. Tidak dipikul, sebab dipundak tanda mau menang sendiri. Oh, Tomatoa, kamu perempuan luhur yang kami puja. Dan kau, Jubaedah adalah perempuan Kampung Karampuang yang dijunjung. Darahmu adalah darah To Manurung. Mulia atas nama adat. Dan adat mengajarkanku tentang hidup, tidak mungkin kukhianati. Aku mencintaimu sebagaimana aku memegang adat. Disela itu terselip keinginan, yakni memilikimu yang tak boleh. Mencintai dan menginginkan itu serupa tapi tidak sama. Mengertikah, kau?

***

Aku bukanlah Maryam dan kenapa pula sejarah harus berulang? Tuhan, bolehkah aku mengeluh sebab sudah lama aku berpeluh? Aku tidak bangga dilahirkan sebagai makkunrai, perempuan. Tubuhku menyiksaku. Aku dibelenggu.

Ayah dan Ibu yang berbuat, mengapa aku yang harus jadi tumbal? Apakah memang dibutuhkan orang lain untuk menebus dosa? Lantas, salahkah mereka? Kau bisikkan di telinga Arung, tetua adat kami yang jarang bicara itu, untuk menentukan garis hidupku yang mesti kujalani. Menjadi perempuan suci, perempuan yang terkunci supaya tetap perawan. Jangan sampai sesuatu yang asing menyelinap masuk sebab akan melunturkan tradisi. Titah yang tak terbantahkan kecuali kalau aku cacat moral. Karena nanti warga juga yang akan memilih. Dan Ayah, Ibu, tak pernah membelaku. Ia wafat dengan patuh meski ia tak patut dipanggil Ayah, sebab tak pernah risau atau tak mau tahu jeritan hati anak gadisnya. Ayah memilih diam sampai ia menutup usia. Ayah hanya melihatku tumbuh.

Dan aku memilih, berontak seperti ibu. Ibu yang mati karena melahirkanku. Ibu yang kawin dengan kaum pendatang dan dikucilkan di desa tetangga. Ibu yang dipaksa bernazar, jika bayinya perempuan akan diambil sebagai penggantinya. Dan Kau, Tuhan, mengabulkannya…

Tetapi tidak! Sebagai anak aku merasa berkewajiban melanjutkan perjuangannya. Memang Puang Sanro telah renta, sudah layak istirahat. Perlu diganti. Tetapi mengapa harus aku? Tidak bolehkah orang lain? Aku selalu ingin bertanya kepada Puang Sanro tapi aku urung dalam hati, apakah ia memendam apa yang aku pendam? Ah, tentu tidak. Sebab aku tahu dari orang-orang, Puang Sanro adalah perempuan yang tidak laku.

”Dalam darahmu mengalir darah To Manurung, Anakku. Ikutilah takdirmu sebagaimana air yang mengalir,” ucapnya bernasihat ketika aku sedang malas meramu obat.

”Betapa menyenangkannya membantu orang, Anakku. Itu akan membuatmu menjadi ada,” lanjutnya berpesan di hari yang lain saat aku enggan mempelajari mantra-mantra.

Ketika menolong, haruskah berkorban? Cukup! Aku tak mau mendengar lagi. Aku mau tuli saja, sambil dalam benak ini bertekad, aku akan melawan arus. Aku mesti berupaya meski tangis mendahului.

Ya, sebab aku hanyalah perempuan biasa meski aku adalah perempuan yang cantik. Kusadari itu karena banyak yang merayuku semasa SMA dulu. Tapi aku tak hanyut. Aku mesti hati-hati meniti sebelum salah melangkah. Maka kutambatkan cintaku pada sahabat kecilku, La Gole. Aku sering memperhatikannya sampai-sampai aku tak sadar tubuhnya telah perkasa. Jika kami sedang berjalan beriringan aku senantiasa mendongak untuk melihatnya berbicara. Telingaku akan mendengar suara beratnya yang menentramkan. Andaikan aku dipeluk, pasti aku akan tenggelam dalam bahunya yang lebar. Saat kulit cokelat legamnya berkeringat, aku mencium bau khas manusia. Pernah juga ia menggenggam tanganku erat, sesaat tapi kurasakan kehangatan yang kokoh hingga jiwaku melambung. Hanya lidahku yang belum menafsirkan apa-apa. Namun ia tidak punya nyali, sikapnya terlalu lugu tak sebanding dengan badannya yang garang.

”La Gole, kau ada hati denganku?”

“Ya. Aku sayang kamu.”

“Kalau begitu bawa aku pergi dari sini.”

“Aku tidak punya kampung selain dusun ini.”

“Tinggal di hutan pun tak apa, asal bersamamu.”

“Tidak bisa. Tanah ini adalah orangtuaku.”

“Ah, kau tidak mencintaiku sebab cinta itu perlu bukti.”

”Aku tidak perlu membuktikannya karena cinta soal hati, dan itu cukup buatku.”

”Bagiku tidak. Kau bohong! Aku membencimu.”

Aku gigit jari. Aku kecewa dan patah hati.

Lalu muncul dia. Lelaki dari kota. Hadir dengan senyumnya yang menawan memberi harapan. Kulitnya harum dan langsat sepertiku. Kerap kubayangkan bila kami menyatu tak ada yang tahu bahwa kami berdua, bukan satu tubuh. Dan tentu saja ia hangat, antara panas dan lembap. Ia lapar dan aku haus, di hubungan kami yang sempat terjeda. Cukup lama hingga rindu mendera.

Kini malam sungguh malam karena awan yang menenteng air berlayar di langit kelam. Mengaburkan cahaya ibu di atas sana hingga buram. Lepas maghrib, pelita rumah penduduk memang sudah padam. Obor La Gole yang menuntun jalan juga telah redup. Kami tiba di sekitar rumah adat Karampuang.

”Kau tunggu di sini sebentar.” La Gole pergi menengok, mencari cara agar aku tidak terlacak sudah kabur.

“Jangan Lama,” kataku setelah ia agak menjauh, pura-pura khawatir.

Ah, lelaki itu memang baik tapi aku harus pamit mengejarmu. Berangkat diam-diam. Aku berlari dengan kain terangkat mengangkangi tanah yang kupijak, kendati sesekali terjungkal karena kesandung akar pohon yang mencuat. Hujan mengejarku seperti mengutuk.

Rustam, kau sudah berada di puncak bukit itu. Banyak peti batu berundak-undak di tempat ini, makam nenek moyang kami yang luhur. Kau basah kuyup sama denganku oleh derai hujan. Ada senter di tanganmu. Ternyata di atas sini tidak terlalu gelap seperti temaram. Paling tidak aku dapat melihat bayanganmu. Sementara jarum-jarum langit masih menyerbu, mengguyur deras, jatuh merintik terdengar menitik dan menerabas. Angin bertiup meliuk sangat kencang. Kau segera memelukku.

“Maafkan aku, datang tidak tepat waktu. La Gole mencegat dan mengancamku sebelum masuk desa. Karena aku, kita terjebak di sini.”

“Tak apa. Bukan salahmu.”

“Sekarang aku siap membawamu pergi.”

“Tidak. Jangan sekarang, di bawah sana begitu rawan. Di sini kita aman.”

”Lalu kau mau kita menunggu di sini sampai pagi?”

”Mungkin. Rustam, aku meminta sesuatu.”

”Apa itu? Akan kupenuhi.”

”Wisuda aku menjadi perempuan seutuhnya, malam ini juga.”

Apakah rasa sakit itu? Bila hasrat terjerembap, ketika birahi yang terpendam peka pada setiap ransangan. Melelehkan kebekuan dan meruntuhkan kekakuan. Aku gigil oleh getar. Di gubuk tua itu, tempat biasanya sesajian di letakkan, aku rebah menerimamu. Sesajen yang baru tadi siang, berhamburan karena ulah kita. Aku ingin perbuatan ini sakral seperti kematian. Rinai-rinai bersenandung seperti berkisah. Aku adalah hikayat perempuan tanpa biduk yang terdampar setelah lelah mengarungi duka. Kini aku luka dan hina. Tak perlu airmata sebab akan kutanggung semuanya.

”Terima kasih,” ucapku setelah usai.

Dan sudah kuduga. Semua makhluk punya mata. Senang mengintip yang terlarang. Lantaran nista mengusik siapa pun sebab baunya tercium tajam. Di kejauhan terlihat obor berkeliaran serupa kunang-kunang. La Gole muncul menaruh mata badik di lehermu. Mukanya murka. Aku mendorongmu supaya terhindar dan langsung melindungimu. Kita berjalan mundur menuju tebing.

***

Puang Sanro pernah meramalkan. Jika perempuan tidak kembali ke dapur, lebih senang keluyuran atau suka berkumpul, maka rentan berbuat dosa. Dan kau, Jubaedah sudah melakukan lebih dari itu. Kau telah haram di hatiku yang meradang. Ah, sebetulnya aku ingin menabur benih di pucukmu yang kuncup. Di tanahmu yang subur bakal tumbuh tanaman berbuah, darah dagingku. Kau memandikan bayi kita di sumur tua yang berkah itu supaya kelak menjadi anak yang patuh. Aku membajak sawah, menanam dan menuai padi, anak kita yang mengembala ternak, dan kau datang membawa makanan. Seandainya saja kau tahu angan-anganku yang sederhana ini, yang tak mungkin terwujud. Dan segalanya sirna saat kudapati pakaianmu berceceran ke mana-mana.

”Bangsat kau, Rustam. Kubunuh kau!”

”Berani menyentuhnya, aku lompat dalam jurang.”

Kau mengancam dan aku masih hirau. Aku merintih dalam amuk saat kau menyuruh Rustam hengkang dari kampung ini tanpa dijera. Kulempar lelaki durjana itu dengan sekepal batu hingga ia tersungkur, lalu bangkit tersaruk-saruk. Kau telah mendurhakai tanah keramat ini, sadarkah kau? Argh! Jubaedah, wajahmu yang bersinar dalam balutan pakaian putih yang menyejukkan hari-hariku kala memandangmu telah berubah busuk bagai bangkai. Kelak, kau dianggap tidak pernah ada.

Hari berganti, begitu pun bulan berlalu, dan tahun terus bertambah. Sejak peristiwa malam itu, namamu tak pernah lagi disebut nyaris dilupakan. Kau dikurung di rumah adat Karampuang di atas loteng untuk dikuduskan kembali entah sampai kapan. Tidak seorang pun diperkenankan menemuimu dan tak ada yang tahu bagaimana rupamu sekarang. Hingga pada suatu pagi, kami dikejutkan oleh kehadiran seorang bocah yang belum pernah kami lihat sebelumnya, muncul begitu saja, turun dari tangga rumah adat Karampuang bagai baru dilahirkan. Melihat dunia luar dengan muka gembira. Berlari lincah, berkeliaran seperti ingin mencari ayahnya.

***

Depok, 270908

(Kutulis ketika merindukan kampung halaman)

Catatan:

Karampuang: dusun yang terletak di puncak bukit 1000 meter dari permukaan laut, di Desa Tompobulu kecamatan Bulupoddo kabupaten Sinjai, Sulawesi Selatan. Masih memegang adat kuno dan alergi dengan teknologi. Rumah adatnya menyimbolkan sosok perempuan yang harus dijaga kehormatannya.

Mappugau Sihanua: Setiap tahun di pekan pertama bulan November diadakan pesta sebelum bercocok tanam setelah menikmati panen melimpah sebagai tanda syukur, tujuh hari tujuh malam.

Puang: kata sandang untuk orang yang dituakan atau yang dihormati.

Gella: pemangku yang melaksanakan hukum yang berlaku di Karampuang.

Arung: ketua adat atau raja yang jarang bicara tapi sekali bicara adalah tuah yang tak terbantahkan. Hidup matinya Karampuang ada di tangannya.

Sanro: pemimpin spritual di setiap prosesi adat yang harus dijabat oleh perempuan atau lebih tepatya disebut dukun.

To Manurung: nenek moyang orang Karampuang berwujud perempuan.

Tomatoa: nama rumah adat Karampuang.

Limbayung

Rabu, 27 Januari 2010

#1

Mentari Pagi di Lembah Mandailing

Novel Ikhwan al Bayya

Fajar menjelang. Kokok ayam pertama (martahuak manuk parjolo) terdengar saling bersahutan, seakan ingin memberitahukan bahwa sebentar lagi malam akan segera berakhir. Namun, suhu yang begitu dingin membuat orang-orang yang sedang tidur menarik kembali selimutnya lebih rapat. Saking dinginnya, seolah-olah mereka tak hendak beranjak dari pembaringan, walau mereka sebagian tahu bahwa akhir dari sepertiga malam itu adalah malam yang mulia untuk menjalankan shalat tahajjud. Waktu yang dikabulkan segala doa-doa. Lagi-lagi hawa dingin telah mengalahkan segalanya, hanya jiwa-jiwa yang dirahmati Tuhannyalah yang sanggup melawan udara dingin itu untuk kemudian larut dalam ruku’ dan sujud yang hidmat dan khusyu’.

Tak selang berapa lama, terdengarlah bunyi kokok ayam kedua (martahuak manuk paduahon), sebuah pertanda tak lama lagi subuh akan tiba. Bunyi kokok ayam itu seakan ingin membangunkan para penduduk yang terlelap tidur untuk bersiap-siap melaksanakan shalat subuh. Saat inilah, bola-bola ijuk, lembaran-lembaran ijuk pohon enau sudah mulai tampak, menari-menari dihembus angin dingin pagi, menyambut hari dengan penuh sukacita.

Sementara kicauan burung balam dan barobaro (cucakrawa) terdengar begitu merdu dan indah. Kicauan yang mendendangkan sebuah semangat baru untuk menyambut dan menjalani hari. Sebuah nyanyian alam yang mengambarkan betapa kemahabesaran Allah Sang Pencipta, yang telah menciptakan pagi agar manusia bersiap-siap untuk bertebaran di muka bumi menjemput rizki dan karuniaNya yang agung. Burung-burung itu berkicau dari pohon-pohon dan semak belukar semenjak menjelang subuh hingga terbit matahari. Kicauan yang tiada henti itu seakan ingin mengisyaratkan bahwa mereka adalah burung yang sedang berbicara kepada semesta raya.

Udara masih tetap dingin. Para penduduk Banjar Sibaguri sudah mulai keluar rumah menuju paridian(1) di Aekmata. Paridian ini berada di kanan dan kiri sepanjang aliran Aekmata. Mereka hendak berwudlu, mandi dan sekalian melaksanakan shalat subuh di surau tapian mandi. Beberapa ibu tampak menenteng garigit(2) , untuk membawa air minum. Garigit itu diberi tali ijuk yang diikatkan pada ruas atas dan bawah. Mereka biasanya membawa antara 3-4 garigit air untuk dibawa pulang. Sedangkan ibu-ibu yang lain menenteng ember yang di bawahnya dibolong halus. Ember itu berisi beras yang akan dicuci di sungai. Lubang-lubang itu berfungsi untuk menapis air agar beras yang dicuci tidak jatuh ke sungai.

Kini, torang ari (terang hari) telah tiba. Hawa dingin berangsur-angsur berkurang. Badan mulai terasa hangat ketika bincar mataniari (terbit matahari), menyeruak dari sela-sela gugus Bukit Barisan. Para laki-laki yang hendak pergi ke sawah, usai shalat subuh asyik duduk mengobrol di lopo(3) , sambil menikmati secangkir kopi Mandailing yang lezat dan goreng pisang. Demikian juga dengan para ompung godang (Kakek) yang hidupnya santai duduk-duduk mengobrol di warung kopi. Mereka mengenakan peci dan kain sarung. Orang-orang yang akan bekerja sudah datang dan pergi, namun mereka tetap saja bertahan di lopo menikmati kopi dan makanan kecilnya. Sebegitu lamanya mereka di lopo, sehingga mereka sudah pitu noli tambu aek milas (tujuh kali menambah air panas). Hal ini terjadi, karena ketika mereka memesan kopi pertama kali, mereka minta agar kopinya kental dan gulanya agak banyak. Sehingga sekalipun sudah tujuh kali ditambah air panas, tetap saja masih nikmat. Bahkan tidak jarang, ada di antara mereka yang sengaja membawa sedikit gula dari rumah yang disimpan di kantong bajunya.

Sedangkan para remaja putri pun shalat subuh di surau tapian mandi, sekalian mencuci pakaian di sana. Di antara gadis-gadis itu, ada seorang yang wajahnya sangat cantik, rambutnya lurus panjang sampai pinggang, kulitnya bersih, badanya tinggi semampai. Ia memakai kain basahan. Kelihatannya, kali ini cuciannya lumayan banyak. Sehingga ketika gadis-gadis yang lain sudah selesai dan pulang, ia masih di paridian. Sementara matahari sudah mulai meninggi, sinarnya terlihat memantul ke permukaan air yang menampakkan cahaya kemilauan, menerpa ke wajah gadis itu, semakin menambah pesona kecantikannya.

Sementara itu, matahari sudah mulai meninggi. Lembah Mandailing semakin terang benderang. Jika dipandang dari Tor Pangolat, titik tertinggi di kaki Gunung Sorik Marapi, Lembah Mandailing yang subur bagaikan kuali yang memanjang ke arah utara, dikelilingi dua baris gugus Bukit Barisan di timur dan barat, dibelah oleh Sungai Batang Gadis yang selalu mengalirkan air kehidupan. Laksana sepotong taman surga yang jatuh ke bumi. Jika kita menoleh ke kiri, nun di ufuk barat tampak sayup-sayup ombak Samudera Hindia di Pantai Natal. Terkesan ada pengharapan, ada daya tarik yang ghaib, ada cahaya kehidupan yang terpancar dari kawasan itu. Namun, pemandangan yang menakjubkan itu tidak setiap saat dapat dinikmati. Karena cuaca berembun dan berkabut di seputar Tor Pangolat, seolah menjadi tabir yang memisahkan kita dengan pemandangan yang mempesona itu. Keindahan Lembah Mandailing yang luar biasa dan menakjubkan itu takkan mungkin bisa dilukiskan dengan seluruh cat di dunia, dengan seribu satu puisi indah sekalipun. Oleh karena itu, orang Belanda menyebut Tor Pangolat sebagai Hemelspoort, Pintu Surga.

Setelah selesai mencuci, gadis itu bergegas pulang. Ia melewati jalan setapak yang becek dan licin menuju rumahnya. Di kanan-kiri jalan, tampak rumah sederhana berderet-deret. Rumah itu jaraknya saling berdekatan dan biasanya menghadap ke jalan. Rumah panggung sederhana yang terbuat dari papan kayu dan beratapkan ijuk. Jarak antara lantai rumah dan tanah sekitar setinggi pinggang orang dewasa. Atau terkadang ada yang lebih tinggi lagi. Di bawah rumah biasa dipakai untuk menyimpan kayu bakar dan kandang ayam. Ia melihat beberapa perempuan sedang menumbuk padi dengan lesung di belakang rumahnya. Ada pula beberapa gadis yang sedang mambayu (menganyam) di bawah sopo-sopo eme (lumbung padi).

Sesampainya di rumah, gadis harus segera menjemur pakaian-pakaian itu. Kebetulan hari kelihatannya panas, ia yakin pakaiannya akan cepat kering. Ketika hampir selesai ia menjemur, Siti Aminah dan Lobe Mattohar, ibu dan ayahnya datang menghampirinya.

“Limbayung, kami mau berangkat ke sawah sekarang. Nanti kalau kamu sudah selesai masak segera menyusul ke sawah..”

Olo, Umak. ”

Lalu, mereka berlalu meninggalkan Limbayung. Mereka menenteng cangkul di pundaknya. Saat ini adalah bulan sipaha sada (April). Bulan mulai berhembusnya angin yang membawa awan butir-butir hujan sebagai tanda waktu menggarap sawah tiba. Bagi sebagian penduduk kampung, mereka biasanya bertanya kepada datu(4) untuk meminta pertimbangan dalam menentukan parhalaan, perhitungan mengenai hari baik dan buruk untuk melakukan suatu pekerjaan. Seperti mendirikan rumah, pesta adat, termasuk waktu mulai menggarap sawah.

Sementara abang Limbayung, Pandapotan, sedang membelah kayu bakar di samping rumah. Biasanya ia pergi ke kebun untuk mangguris (menderes). Namun, karena sekarang lagi musim tanam padi, hari ini ia harus pergi ke sawah.

Setelah selesai menjemur, Limbayung menaruh ember di dapur dan bergegas pergi ke kebun. Ia memetik bulung gadung (daun singkong), untuk dimasak menjadi gule bulung gadung. Sayur yang menjadi kesukaan ayah dan abangnya, apalagi kalau ditambah ikan asin yang disambalin sebagai lauknya. Ayahnya pasti akan tambah nasi, bahkan sampai dua kali.

Limbayung menyiangi daun singkong itu, mencucinya dan menumbuk bersama rimbang (tekokak) dan arias (batang muda siala) sampai lumat memakai alu dan lesung kayu. Satu atau dua batang sangge-sangge (sereh) dipukul sampai retak dan pipih. Santan dipanaskan, setelah mendidih ia memasukkan daun singkong. Disusul kemudian garam secukupnya, cabe merah, renca berupa aso-aso (ikan kembung gepeng) dan ikan salai sebagai pengharum.

Orang Mandailing sangat suka mengkonsumsi gule bulung gadung. Kebanyakan, mereka memakan sayur ini dengan kerak nasi, apalagi kerak nasi itu tipis dan garing biasanya menjadi rebutan di dalam keluarga ketika makan bersama. Sehingga, sampai-sampai ada ungkapan na nipagodang ni bulung gadung (yang dibesarkan oleh daun singkong).

Sementara adik Limbayung, Masra dan Mardhatillah masih kecil. Mereka sedang sibuk mengisi balangka dengan air yang terletak di kolong rumah. Ayam dan itik ramai mengerubungi balangka itu, setelah mereka kenyang menyantap makanan sebelumnya. Setelah Limbayung selesai memasak, mereka akan ikut ke sawah.

***

“Abang, mangan jolo(6)!” kata Siti Aminah kepada suaminya ketika melihat Limbayung sudah menapaki pematang sawah yang menuju ke arahnya.

Sesampainya di sopo saba(7) , Limbayung meletakkan tentengan yang dibawanya. Lalu ia membuka tempat itu. Mengeluarkan piring, sayur dan lauknya. Ketika hidangan sudah siap disantap, ayah dan umaknya telah selesai membersihkan diri untuk menikmati makan siang.

Lalu mereka bertiga menikmati masakan Limbayung yang memang pandai memasak. Selain enak, bumbunya terasa pas. Umaknya merasa bangga dan sering memujinya. Makan sayur bulung gadung dipadu dengan sambal ikan asin di sawah sungguh nikmat. Apalagi ditambah hawa segar alam yang semakin menambah selera. Ayah Limbayung kelihatan lahap sekali makan siang itu.

”Sudah, jangan terlalu banyak makan. Nanti malah tidak bisa bekerja!” kata umak kepada ayah.

”Habis masakan Limbayung sangat enak, apalagi aku sudah lapar sekali!”

Selesai makan, mereka beristirahat dulu sejenak sebelum kembali bekerja sembari menikmati pemandangan alam yang begitu indah dan mempesona. Seperti biasa, Masra dan Mardha sudah menceburkan diri di rawa-rawa, mereka memangkap ikan-ikan kecil untuk dibawa pulang sebagai mainan. Saking gembiranya, mereka tidak memperdulikan lagi pakaian mereka yang basah dan kotor terkena lumpur. Betapa senang dan bahagianya mereka.

Pada waktu itu, di sekitar areal persawahan masih banyak rawa-rawa yang terdapat ikan-ikan beraneka rupa yang hidup secara alami. Ada ikan gabus, gurame, limbat, mas, sidat dan udang kecil. Hampir setiap ke sawah, Pandapotan pasti tak lupa membawa pancing. Saking banyaknya ikan liar di rawa-rawa itu, biasanya Pandapotan dengan mudah memancing ikan-ikan itu. Ia hanya menempatkan pancing-pancing itu di pagi hari, dan sorenya ketika akan pulang tinggal mengambilnya saja.

Limbayung menatap ke arah sebelah timur, Gunung Sorik Marapi tampak tegak menjulang tinggi dan semakin memesona oleh awan tipis berarak yang menyelimutinya. Gugusan Bukit Barisan yang mengelilingi lembah Mandailing Godang terlihat begitu kokoh dan anggun, seakan memancarkan aura magis dan pesona alam yang penuh misteri.

Sedangkan di sebelah utara dan barat, hamparan sawah yang luas laksana permadani berwarna hijau kekuning-kuningan. Di setiap pematang tumbuhlah pohon kelapa, tebu, singkong atau enau. Di sebelah selatan, ada sungai kecil tempat keluarga Limbayung membersihkan diri untuk mandi atau mengambil wudlu ketika kotu luhur tiba. Air mengalir dengan derasnya di setiap jengkal tanah, dan akan terus mengalir hingga para petani lelah mengayunkan cangkul mereka. Setiap ranting pohon yang jatuh, akan bertunas seketika. Dan setiap benih yang jatuh, bersemilah ia hingga menghasilkan buah-buahan yang membuat sedap setiap mata yang memandang.

Para laki-laki dan perempuan sibuk mengurus sawah mereka. Air yang mengalir di setiap jengkal tanah sangat memudahkan mereka untuk mencangkul sawah mereka. Bahkan, bagi mereka yang memiliki bayi, biasanya membawa serta bayi mereka ke sawah. Tak jauh dari keluarga Limbayung beristriahat, tampak seorang ibu sedang marbue-bue (menidurkan bayi) bayinya. Ia membuat anggunan (Ayunan) di sopo dengan mengikat kedua ujung kain pada tiang sopo. Sayup-sayup terdengar ibu itu berdendang. Nada yang merdu dan lambat dilantunkan sang ibu dengan penuh penghayatan.

Urro! Modom ma inang modom! Aha dope anso laing rimas? Anso na marilu na lomlom! Ngada ho nian manguas Ngada ro marsak ni roa tu anggunan Ulang be robak ilumu song ‘udan(8) (Urro! Tidur nak, tidur! Mengapa masih gelisah? Mengapa berurai air mata si hitam sayang? Engkau tak haus Tak datang keresahan ke ayunan Jangan lagi bercucur air mata bagaikan hujan)

Ketika hari sudah sore, sebelum pulang Pandapotan memeriksa pancing yang telah dipasang di rawa-rawa dan parit kecil sejak pagi sebelum bekerja di sawah. Ternyata hari ini ia mendapat ikan yang lumayan banyak. Ada ikan mas, ikan gabus, tikkalang dan limbat. Sebagian ikan-ikan itu malamnya dimasak gulai bersama daun singkong, atau dimasak sale (diasap) dan dimakan bersama raum-rauman(9). Sebagian lagi akan dijual ke pasar oleh Siti Aminah.

Catatan

1) sungai tempat mandi

2) Tabung-tabung yang terbuat dari bambu besar satu ruas

3) Ya, Bu.

4) Semacam orang pintar, dukun, tabib.

5) Tempat minum ayam dan itik, terbuat dari 1-2 ruas bambu besar yang dibelah.

6) Makan dulu

7) Gubuk kecil terbuat dari kayu dan bambu, biasanya bertingkat. Lantai atas untuk beristirahat dan shalat, sedangkan di bawahnya tempat untuk memasak air atau menaruh alat-alat pertanian/barang.

8) Syair Olo-olo (Willem Iskandar)

9) Rebusan dari bermacam-macam sayuran

Video Pelatihan