Our Community

Our Community
Forum Lingkar Pena Depok

Our Event

Our Event
Depok Dalam Puisi

Our Training Program

Our Training Program
BATRE

Our Family

Our Family
Want to be one of us?

Mau Daftar? Klik Gambar Ini!

Chairil dalam Sajak Aku

Rabu, 27 Januari 2010

Esai Hafi Zha
SAJAK “Aku” pernah mengalami perubahan. Dalam Kerikil Tajam judulnya “Semangat” kemudian judul “Aku” dipakai dalam Deru Campur Debu. Kata-kata dalam sajak “Aku” pun ada yang mengalami perubahan, yaitu kata “ku tahu” pada baris kedua bait pertama, diganti “ku mau”. Mengapakah Chairil Anwar mengganti kata-kata itu? Ada beberapa alasan, di antaranya dalam kata “semangat” itu terkandung arti perasaan yang menyala-nyala, terasa ada sifat propagandis atau perasaan yang bombastis (berlebih-lebihan). Sedangkan dalam kata “aku” terkandung perasaan yang menunjukkan kepribadian penyair dan semangat individualistisnya. Ditinjau dari sudut ini, kata “aku” lebih tepat daripada “semangat” untuk judulnya. Selain itu, puisi-puisi Chairil yang bersifat individualis sulit lolos sensor di masa Jepang. Untuk itu, Chairil memakai judul “Semangat” untuk mengelabui sensor. Sedangkan kata “ku tahu” menunjukkan perasaan pesimis dan rasa keterpencilan. Bila sajak itu dideklamasikan maka nadanya rendah dan melankolik. Hal ini tidak sesuai dengan bait-bait berikutnya yang penuh semangat. Karena itu, kata “ku tahu” tidak tepat dan diganti dengan kata “ku mau” yang lebih menunjukkan kemauan pribadi yang kuat. Sajak “Aku” menceritakan jika meninggal, si aku ingin tak ada seorang pun yang bersedih (“merayu”). Si aku ini binatang jalang yang lepas bebas, yang terbuang dari kelompoknya: ia merdeka tak mau terikat oleh aturan-aturan yang mengikat, bahkan meskipun ia ditembak peluru menembus kulitnya, si aku tetap berang dan memberontak terhadap aturan­aturan yang mengikat tersebut. Si aku mau hidup seribu tahun lagi sebuah kiasan yang bermakna bahwa yang hidup seribu tahun lagi adalah semangat, pikiran, dan karya­karyanya. Si aku, Chairil Anwar, adalah manusia yang terasing. Keterasingannya ini memang disengaja sebagai pertanggungjawaban pribadi: Ku mau tak seorang kan merayu/ Tidak juga kau. Hal ini karena si aku adalah manusia bebas yang tidak mau terikat kepada orang lain: Aku ini binatang jalang/ Dari kumpulannya terbuang. Dan si aku ini menentukan “nasibnya” sendiri, tidak mau terikat oleh kekuasaan lain: Aku mau hidup seribu tahun lagi. Pengakuan dirinya sebagai binatang jalang dan penentuan nasib sendiri: Aku mau hidup seribu tahun lagi merupakan sikap revolusioner terhadap paham dan sikap atau pandangan para penyair yang mendahuluinya (Pujangga Baru) (Pradopo, 1987: 171). Dalam sajak ini intensitas pernyataan dinyatakan dengan sarana retorika berupa hiperbola, dikombinasi dengan ulangan, serta diperkuat oleh ulangan bunyi vokal /a/ dan /u/. Hiperbola tersebut: Aku ini binatang jalang Dari kumpulannya terbuang Biar peluru menembus kulitku Aku tetap meradang menerjang Aku mau hidup seribu tahun lagi Gaya tersebut disertai dengan ulangan bunyi /i/ yang lebih menambah intensitas: Luka dan bisa kubawa berlari. Berlari Hingga hilang pedih peri ... peduli ... lagi Dengan hiperbola tersebut penonjolan pribadi tampak nyata. Menurut Pradopo (1987: 173), sajak “Aku” menimbulkan banyak tafsir, bersifat ambigu. Hal ini karena ketidaklangsungan ucapan dengan cara bermacam-macam. Chairil memang ingin menarik perhatian dan untuk menimbulkan pemikiran. Dalan sajak “Aku” dipergunakan penyimpangan arti (distorsing) (Riffaterre dalam Pradopo, 1987: 173): kalau sampai waktuku dapat berarti kalau aku mati; tidak perlu sedu sedan itu dapat berarti tak ada gunanya kesedihan itu; tidak juga kau dapat berarti tidak juga engkau anakku, istriku, atau kekasihku. Ambiguitas arti memperkaya makna. Dalam sajak ini juga banyak digunakan metafora penuh dan implisit. Metafora penuh seperti: Aku ini binatang jalang, maksudnya si aku seperti binatang jalang yang bebas lepas tidak terikat oleh ikatan apapun (Pradopo, 1987: 172). Metafora implisit di sini: peluru, luka dan bisa, pedih peri. “Peluru” untuk mengiaskan serangan, siksaan, halangan ataupun rintangan. Meskipun si aku tertembus peluru: mendapat siksaan, rintangan, serangan, ataupun halangan­-halangan, ia tetap akan meradang menerjang: melawan dengan keras, berbuat nekat demi kebenarannya. “luka dan bisa” untuk mengiaskan penderitaan yang didapat. “Pedih peri” mengiaskan kesakitan, kesedihan, atau penderitaan akibat tembusan peluru di kulit si aku (halangan, rintangan, serangan, ataupun siksaan). Untuk menyatakan semangat menyala-nyala digunakan kiasan: “Aku mau hidup seribu tahun lagi”. Jadi, di sini kelihatan gambaran bahwa si aku penuh vitalitas. Dalam sajak ini dikemukakan ide kepribadian bahwa orang itu harus bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri: Ku mau tak seorang kan merayu (bersedih). Orang lain hendaknya jangan campur tangan terhadap nasib si aku, baik dalam suka maupun duka, maka Tak perlu sedu sedan itu. Dari analisis di atas, pembaca dapat menyimpulkan bahwa Aku dalam sajak tersebut adalah Chairil. Menurut Asrul Sani (dalam Ismail, 1999: 8), sajak Aku merupakan sebuah pamitan yang getir oleh Chairil kepada ayahnya yang mencoba membujuknya kembali ke Medan. Memang secara tak langsung sajak Aku menggambarkan seorang Chairil yang berpendirian teguh, yang menolak bujukan dari ayahnya sendiri. Tidak salahlah jika dalam , sajak Aku, tersimpan semangat Chairil Anwar yang penuh vitalitas, menyala-nyala dan membara. Sumber: Majalah Sabili No.14 Th.XIV 25 Januari 2007/6 Muharam 1428

0 komentar:

Posting Komentar

Video Pelatihan